MUA Buruk Rupa

MUA Buruk Rupa
Perasaan Celli


__ADS_3

"Kenapa, Mbak Celli mukanya kusut amat?" tanya mang Dadang. Ketika dilihatnya Celli yang seperti melamun.


"Rindu papa dan mama," jawab Celli apa adanya. Memang itulah yang dia rasakan.


"Ya tinggal temuin aja. Wong itu papa sama mamamu, Mbak," saran mang Dadang.


"Masalahnya...."


"Kalian ada masalah?" tebak mang Dadang dan Celli mengangguk.


"Apa sih masalahnya sampai mbak Celli ragu buat nemuin papa sama mamanya. Melihat mbak Celli yang kelihatannya rindu banget. Kemungkinan papa sama mamanya mbak Celli juga sama rindunya," lagi mang Dadang berucap. Seketika air mata Celli meleleh. 6 bulan dia tidak pulang. Dan rasanya itu sesak sekali di dada.


Perlahan Celli mulai terisak. Rindu yang dia rasa benar-benar menyiksa.


"Menangis saja jika itu bisa meringankan perasaan mbak. Tapi setelah ini cobalah untuk berdamai dengan keadaan. Apapun masalahnya. Selesaikan dengan segera. Agar semua terasa lebih baik, baik mbak maupun orang tua mbak," Mang Dadang mengakhiri ucapannya. Membiarkan Celli menangis sepuasnya. Sepertinya pria itu cukup tahu dilema apa yang dihadapai oleh Celli.


***


"Kenapa menghubungiku?" tanya Ardi dari seberang. Pria itu baru saja mandi masih menggunakan handuk sebatas pinggang. Hingga tubuh atletisnya terpampang sempurna.


"Memangnya tidak boleh menghubungi kakak sendir,i" gerutu Celli.


"Bukannya begitu. Hanya tumben saja kau mau menghubungiku. Biasanya aku yang harus menghubungimu," ledek Ardi.


"Kakak menyebalkan."


"Menyebalkan begini kau selalu merindukanku. Betul tidak?"


"Tidak juga...."


"Haisshhh kau ini...."


"Tidak salah...."


Ardi terkekeh mendengar lawakan garing sang adik.


"Ada apa?" tanya Ardi.


Hening sejenak.


"Cell...Cellii aku nggak ditinggal ngorok kan?" Ardi bertanya karena lama tidak mendengar jawaban dari sang adik.


"Ihh ya belumlah. Cuma mau nanya....apa keadaan di rumah baik-baik saja?" tanya Celli sambil menggigit bibirnya.


Ardi terdiam. Dia sepertinya tahu kemana arah pembicaraan sang adik.


"Pulanglah jika kau rindu. Mereka juga rindu. Tapi kau tahu kan gengsi papamu sangat tinggi," Ardi menyarankan.


"Tapi Kak...."


"Bukan salahmu jika kau ingin mempertahankan pendapatmu. Mungkin papa kurang mengerti dirimu. Pulanglah. Aku bosan curcol sama kamar ungumu itu," Ardi berucap membuat air mata Celli yang hampir luruh disudut matanya urung terjatuh. Berganti dengan tawa di ujung bibirnya.


"Jangan sentuh Juki sama Ncim."


"Makanya pulang. Sebelum dua orang itu habis tak emek-emek," Ardi memerintah.


"Jangan dong. Tapi...."


"Tapi apalagi?"


"Julian mau melamar Celli"


"What?!!!" Ardi berdiri tiba-tiba dari duduknya.


"Serius?"


"Dia berulangkali minta izin buat datang ke rumah. Mau melamar Celli."


"Lalu kamunya sendiri bagaimana? Cinta nggak sama dia?"


"Bagaimana ya?" Celli menerawang.


"Bagusan juga Julian daripada kamu ngehaluin Juki sama Ncim mulu. Saatnya menghadapi realita. Mereka itu jodohnya orang. Tinggal tunggu jodohnya mereka nongol baru elu patah hati."


"Idih gitu amat ngomongnya."


"Lah mau gimana lagi. Kenyataannya begitu hayoo."


"Iya juga sih. Diuber kayak apa juga gak bakal dapat."


"Nah tu tahu. Sekarang yang penting kamu itu cinta nggak sama Julian."


Celli berpikir.


"Cinta nggak?"


"Nggak tahu?"


"Busyet dah. Kamu suka rindu nggak kalau sebentar nggak ketemu."


"Rindu," jawab Celli.

__ADS_1


"Suka berdebar nggak kalau dekat dia?"


Celli berpikir. Jantungnya benar-benar tidak bisa dikondisikan jika berada dekat Julian.


"Iya...."


"Kamu suka cemburu nggak kalau dia dekat sama cewek lain?"


"Cemburulah. Pokoknya isi kepalanya Celli tu dia semua," Jawab Celli menggebu-nggebu.


"Itu salah satu satu tanda kau cinta padanya. Dan kalau dia berniat untuk melamarmu berarti dia pria yang baik. Tidak ingin bermain-main. Tapi ingin serius denganmu. Di zaman sekarang jarang pria yang seperti itu Cell. Kau beruntung bisa mendapat pria seperti Julian."


Celli terdiam. Tanpa Celli sadari. Seorang pria tersenyum di balik pintu mendengar percakapan Celli dan kakaknya yang sengaja Celli loudspeaker.


"Ajaklah dia ke rumah. Bertemu papa dan mama. Agar papa tenang. Jangan khawatir papa itu cuma gedhe doang gengsinya."


"Nanti aku pikirkan lagi. Dan cari waktu yang tepat."


"Saran kakak. Kamu pulang dulu. Masak iya kamu pulang langsung bawa calon suami," Kekeh Ardi.


Celli tertegun memikirkan ucapan sang kakak.


***


"Belum tidur?"


"Alamak ngagetin orang aja," Celli berteriak melihat Julian yang tiba-tiba saja muncul dihadapannya. Duduk dengan santai didepannya.


"Bisa nggak sih. Nggak sembarangan masuk unit orang. Ketuk dulu kek," protes Celli yang hanya dibalas tatapan teduh dari mata Julian.


"Tu kan...tu kan....baru juga ditatap begitu jantungku auto mau lepas dari tempatnya." Batin Celli salah tingkah dengan tatapan Julian.


"Memangnya kenapa kalau aku main masuk ke sini?" Tanya Julian. Masih dengan tatapan teduhnya.


"Ya...ya..siapa tahu aku lagi ...."


"Lagi naked gitu? Wah rezeki aku dong. Nggak usah pakai acara buka-bukaan, bisa langsung terkam aja," goda Julian.


"Apa sih?" jawab Celli judes. Julian hanya tersenyum mendengar jawaban Celli.


"Kenapa belum tidur?" tanya Julian.


"Nungguin Vlive," jawab Celli santai.


"Nggak habis-habis dengan yang begituan. Nggak bosan apa?" Tanya Julian mulai jengah dengan kebiasaan Celli dan gilanya gadis itu soal idolanya.


"Nggak bakalan bosan tahu lihatin muka mereka."


"Ada hal yang lebih menarik bisa dikerjakan daripada melototin muka mereka," ucap Julian dengan seringai jahil di wajahnya.


"Menikah denganku. Dan aku jamin tiap malam kamu bakal lupain hape kamu itu," jawab Julian.


"Yeee itu sih maunya kamu?"


"Emang kamu nggak mau?"


"Eerrrrr....,"Celli tampak berpikir.


"Masak pakai acara mikir segala," goda Julian.


"Eehh masalah itu. Ada yang mau Celli omongin." Ucap Celli berubah serius.


"Soal apa?"


"Sebenarnya Celli tu ...."


"Kabur dari rumah to?" tebak Julian.


"Nggak kabur juga. Cuma tinggal terpisah."


"Lalu maunya kamu gimana? Kita kawin lari gitu?"


"Sembarangan! Ya enggaklah"


"Lalu?"


"Beri aku waktu untuk bicara dengan papaku." Ucap Celli sambil menunduk.


"Akan kuantar kamu pulang besok," putus Julian.


"Tapi...."


"Kamu takut?" tanya Julian.


Celli menggeleng.


"Hanya saja. Masak aku pulang langsung bawa calon suami," lirih Celli


"Akhirnya ngaku juga aku calon suami kamu," ledek Julian. Membuat Celli langsung memanyunkan bibirnya.


"Geer amat sih."

__ADS_1


"Ya habis gimana lagi. Kamu tu cewek yang susah banget didapetin. Kalau yang lain...."


"Kamu tidurin aja mereka nurut gitu. Gue nggak semudah itu ya kamu ajak ke kasurmu."


"Dan aku nggak seberengsek itu ya," sangkal Julian.


"Maaf deh, maaf ya,"


Julian melipat tangannya. Menatap tajam ke arah Celli.


"Kau sendiri gaya hidupku selama bekerja denganku. Apa itu tidak cukup bagimu untuk mengetahui seperti apa diriku ini. Apa kau pikir setelah pulang ke apartement. Aku masih keluyuran lagi begitu?" cecar Julian.


"Aku tidak berpikir seperti itu, jawab Celli lirih.


"Lalu?"


"Anggapan orang diluar sana kan seperti itu."


"Jangan memikirkan anggapan orang lain di luar sana. Percayai apa yang kamu lihat. Bukan yang orang lain katakan," potong Julian tegas.


Celli langsung kicep jika Julian sudah keluar mode seriusnya.


Hening sejenak...


Tiiinnggg,


Satu notifikasi masuk ke ponsel Celli.


"Sudah dimulai," teriaknya girang.


"Apanya?" Julian sigap merebut ponsel Celli.


"Julian....Si Juki yang Vlive," Celli bersiap merebut balik ponselnya.


"Bodo...mau si Juki kek, si Agus kek...gak ada Vlive selama kamu sama aku," Julian tegas melarang.


"Juliann....," Celli berteriak.


"Pokoknya enggak! Ayo tidur." Pria itu berucap sambil berjalan masuk ke kamar Celli.


"Pulang ke unitmu. Ngapain masuk ke kamarku," protes Celli.


"Iya aku balik ke unitku dan kamu ngelanjutin Vlive-mu. Kamu kira aku bodo apa?" lotong Julian. Kembali Celli diam seketika.


"Malah diam. Ayo tidur." ajak Julian.


"Tidur berdua gitu?" tanya Celli cengo.


"Iya. Aku bakal nungguin kamu sampai merem. No Vlive tonight."


"Juki....," Lirih Celli dramatis.


"Mikir apa lagi sih. Aku nggak bakal nyicil kalau kamu nggak mancing." Ucap Julian menebak isi pikiran Celli.


"Bukannya begitu....eehhhh...."


Celli menjerit karena Julian memanggul dirinya diatas bahunya. Membawanya masuk ke kamarnya. Lalu menghempaskannya di kasur.


"Julian sakit," protes Celli karena pria itu langsung menimpa tubuhnya dengan kakinya.


"Biar gak lari. Dan ini...aku simpan disini," Ucap Julian memasukkan ponsel Celli ke kantong celana pendeknya.


"Curang!!" Celli menjerit.


"Mau Vlive pakai ponselku?" tawar Julian.


"Ya nggak bisa. Harus ini, itu. Keburu habis live-nya," jawab Celli kesal.


"Ya nggak usah ikutan. Ayo tidur "


Celli hampir menangis mendengar ucapan Julian.


"Julian jahat." Bisik Celli.


"Jahat apanya."


"Tahu ah," jawab Celli manyun. Lantas memejamkan matanya.


Julian tersenyum melihat tingkah Celli. Benar-benar menguji kesabarannya. Tapi entah kenapa dia menyukainya. Susah diatur. Seenaknya sendiri.


Orang lain hanya perlu 5 menit untuk tertarik padanya. Tapi Celli perlu lebih dari 3 bulan untuk mengakui perasaannya pada Julian.


"Lian...kamu jahat sekali," guman Celli.


"Yaelah dendaman amat. Gitu aja dibawa ngelindur," ucap Julian lirih. Lantas ikut memejamkan matanya. Menyusul Celli ke alam mimpi.


****



Kredit Instagram @ xuzhibinbin1

__ADS_1


Mau juga dong ditemenin tidur....🤭🤭🤭


****


__ADS_2