MUA Buruk Rupa

MUA Buruk Rupa
Pagi Yang Berantakan


__ADS_3

Celli nampak berguling-guling di kasur empuk di kamarnya. Kamar bernuansa cream dan putih.



Kredit Pinterest.com


Dia masih terngiang-ngiang ucapan Julian. Juga cerita pria itu tentang kecelakaan yang menimpanya. Tentang hubungannya dengan Irene. Tentang semuanya. Seolah Julian mau dirinya tidak salah paham padanya.


Tapi untuk apa? Kenapa dia menceritakan semuanya padanya. Lama Celli berpikir. Tidak mungkin kan jika pria itu serius dengan ucapannya.


"Dia hanya ingin aku jadi kucing yang menurut padanya. Agar aku tidak membocorkan rahasianya," guman Celli pada akhirnya.


Padahal Celli tidak pernah ingin memberitahukan hal itu pada orang lain. Setiap orang punya rahasia yang ingin disimpan rapat-rapat. Termasuk Julian. Dan itu haknya. Kalaupun dirinya tidak sengaja mengetahuinya. Itu bukan haknya untuk memberitahu pada orang lain.


Jika dilihat dari ceritanya. Playboy naga itu sepertinya memang menceritakan hal yang benar padanya. Sebab ceritanya sama dengan Roy. Hanya saja Roy tidak menceritakan tentang kecelakaan Julian.


"Aahh pusing," Celli berteriak frustrasi. Lantas perlahan mencoba memejamkan matanya.


Sementara di lantai atas. Julian masih termenung di ruang tengah apartemennya. Yang bernuansa abu-abu putih.



Kredit Pinterest.com


Pria itu justru bingung pada perasaannya sendiri. Sambil menopang dagunya dia masih memikirkan perkataan sang ayah waktu itu.


"Apa iya aku punya perasaan pada Celli?" gumannya pelan.


Lama Julian termenung hingga akhirnya dia memutuskan untuk beristirahat. Masuk ke dalam kamarnya.


Pagi menjelang,


"Apa sih?" Celli menjawab teleponnya dengan suara serak. Dia baru saja membuka matanya.


"Lima menit, naiklah ke atas." Satu perintah langsung terdengar di telinga Celli. Siapa lagi kalau bukan bos naganya.


"Aku masih ngantuk."


"Cepat naik. Kau bisa menyambung tidurmu nanti. Jangan lupa pakai baju."


"Ha?"


Celli langsung melongo. Lantas melirik dirinya yang hanya memakai tank top dan underwear saja. Beeuuh, Celli makin ke sini, makin rusuh aja ya readers 🤣🤣


"Tidak mungkin kan dia tahu kebiasaanku?"


Setengah menendang selimutnya. Lantas melakukan jurus andalannya. Cuci muka, gosok gigi. Mandi belakangan. Lalu setelahnya melesat naik satu lantai diatasnya. Setelah mengganti pakaiannya tentunya.


"Apa maksudmu dengan aku harus....alamak..."


Celli langsung membalikkan tubuhnya. Begitu Julian membuka pintu. Menelan kembali pertanyaan, yang siap dia semburkan ke bos naganya.


"Bisa tidak sih kau pakai baju. Kau sengaja ya memperlihatkannya padaku?" sungut Celli.


Paginya yang berantakan semakin bertambah tidak karuan, ketika melihat Julian yang hanya memakai bokser saja.


"Memang kau mau melihatnya?" goda Julian.


"Idih ogah! Cepat pakai baju."


"Sudah," jawab Julian santai. Celli berbalik. Dilihatnya pria sedang mengikat bathrope-nya.


"Baju Tuan, itu bathrope," ujar Celli setengah mendesis menahan amarah.


"Yang penting kan aku tidak telanjang."


Celli memutar matanya jengah.


"Aku pikir kau malahan yang akan naked waktu kesini."

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Kau kan suka naked kalau sendirian di rumah."


"Darimana kau tahu?" salak Celli kepo.


"Waktu aku ke apartemen lamamu waktu itu. Ingat? Kau cuma pakai bathrope saja tanpa dalaman....aaahhh sakit Cell...."


Julian memekik. Karena Celli mencubit pinggangnya.


"Rasakan! Dirumah ya dirumah. Jangan diungkit."


"Gila sakit banget, Non. Kalau begitu ya jangan protes. Aku kan di rumahku sendiri."


"Tapi kan ada aku."


"Kan aku tidak peduli."


Celli mendengus geram.


"Lakukan hair do untukku," perintah Julian.


"Biasanya kau bisa sendiri," tolak Celli.


"Itu yang biasa. Buatkan aku seperti yang Pinky buat."


Celli menatap Julian dari cermin besar di kamar pria itu. Julian tampak tidak peduli. Karena dia tengah memakai concealar untuk menutupi bekas lukanya.


"Cepatlah. Nanti terus sarapan." Pinta Julian sambil menatap Celli dari kaca didepannya.


Pada akhirnya sambil menahan kesal. Celli mengambil hair styling milik Julian juga hairspraynya tak lupa.


"Aahh sakit. Kau sengaja ya?"


"Sorry, kejenggit," Celli tidak sengaja menarik rambut Julian. Ketika dia teringat tubuh sempurna milik Julian yang tertutup bathropenya. Dia sudah 24 tahun, cukup umur untuk disebut dewasa. Tapi semua yang bisa dilakukan oleh orang dewasa. Celli belum pernah melakukannya. Kecuali berciuman. Eh salah, dicium, wong dia tidak merespon.


Sambil menata rambut Julian. Celli sesekali memperhatikan Julian yang masih sibuk dengan bekas lukanya.


"Kau tahu?" Julian menunjukkan botol concealarnya.


"Tahu...pendempul paling ampuh. Jarang yang pakai. Harganya mahal. Juga harus dipesan khusus. Kak May yang mencarikan?"


"Kau tahu banyak rupanya."


Celli tersenyum mendengar ucapan Julian. Seperti pujian untuknya.


"Kenapa tidak dioplas saja?"


"Tidak bisa dan tidak mau!" jawab Julian tegas.


"Kenapa?"


"Tidak bisa karena terlalu dekat dengan saraf mata. Terlalu beresiko untuk dioplas. Takut terjadi sesuatu."


"Kenapa tidak mau? Itu kan untuk menyembuhkan. Menutupi luka. Tidak mengubah wajah aslimu."


Julian terdiam.


"Tidak mau ah!"


Celli menarik nafasnya. Lalu meneruskan men-styling rambut Julian.


"Itu sudah cukup. Kau seperti pakai topeng tahu disebelah situ."


"Kalau begitu pakaikan," perintah Julian karena Celli sudah selesai dengan rambutnya.


"Modus aja kau!"


"Kan tugas bos."

__ADS_1


Celli mendengus kesal. Menarik satu kursi lalu duduk dihadapan Julian. Pria itu tersenyum karena Celli duduk di sebuah kursi diantara dua kakinya yang terbuka.


Gadis itu tampak berkonsentrasi penuh saat memakaikan concealar pada bekas luka Julian. Setelah dia menghapus yang lama. Sedikit meraba bekas luka itu.


"Ini cukup dalam," bisik Celli.


"Satu potong kaca tertancap di situ."


Wajah Celli langsung menunjukkan ekspresi ngeri.


"Papa, Mama dan kak Jared bahkan sempat berpikir kalau aku akan buta sebelah. Mengingat kaca itu bisa saja melukai saaraf penting dimataku. Tapi untungnya tidak. Karena itulah aku tidak ingin oplas. Biar saja seperti ini. Selama masih bisa ditutupi ya aku tutupi."


"Kalau suatu hari ada yang membocorkannya pada publik?"


"Ya berarti tersangkanya termasuk kamu. Hanya beberapa orang di luar keluargaku yang tahu bekas lukaku."


"Aku kan sudah berjanji akan menjaga rahasiamu."


"Tapi aku tidak yakin dengan janjimu. Kau kan ceroboh."


"Aku memang ceroboh tapi bukan orang yang suka buka aib orang."


"Benarkah?"


Tanya Julian sambil memiringkan wajahnya. Tanpa Celli sadari. Posisi mereka semakin intim saja.


"Ini apa terus dimake up saja?" tanya Celli minta pendapat Julian.


"Terserah kamu."


"Nanti eyeshadow dan lipsticknya belakangan. Lihat konsep juga bajunya."


"Hari ini konsepnya swimming pool. So.... topless, nggak pakai baju." Bisik Julian di telinga Celli. Nafas hangat Julian yang menerpa telinga Celli langsung membuat gadis itu merinding.


"Ehhh ini apa-apaan sih?" Kesal Celli karena tahu-tahu pria itu sudah mengurung tubuhnya dengan dua lengan kekarnya. Plus lututnya yang menyentuh pangkal paha Julian.


"Kau bahkan tidak sadar jika dari tadi kita seperti ini?" tanya Julian menatap dalam mata Celli.


"Kau..kau...kau mau apa?"


"Katakan padaku. Apa yang kemarin itu ciuman pertamamu?" tanya Julian.


Celli langsung membuang wajahnya karena malu. Sebab itulah kenyataannya.


"Tidak mau menjawab? Berarti iya?" tegas Julian sambil mengulum senyumnya. Merasa puas karena dialah yang menjadi pertama untuk gadis itu.


"Iisshh jangan menggangguku!" balas Celli kesal. Berusaha melepaskan diri dari kurungan lengan Julian.


"Mau kemana sih?"


"Pergi dari sini. Kau membuat pagiku berantakan!"


Julian menyeringai mendengar ucapan Celli.


"Mau kubantu membuatnya lebih baik?" tanya Julian.


"Caranya?"


"Caranya seperti ini...." Sejurus kemudian bibir Julian kembali bertaut dengan bibir Celli, membuat gadis itu kembali terkejut.


"Kau bukannya membuat lebih baik. Kau malah memperburuk pagiku," gerutu Celli.


"Maka balaslah. Dan moodmu akan membaik," goda Julian.


"Membalasnya?" Guman Celli penasaran. Ya, dia pernah menonton film dengan scene ciuman yang membuat tubuhnya panas dingin. Sekelebat bayangan itu terlintas di kepalanya. Membuat Celli melamun.


Dan kesempatan itu tidak disia-siakan Julian. Pria itu kembali mencium bibir Celli yang beraroma pasta gigi dengan tube berwarna hijau itu. Bukan rasa cherry atau strawberry seperti rasa lip gloss yang lagi in pada masa itu.


Dan bodohnya Celli seolah sedang praktek adegan ciuman yang tengah terlintas di kepalanya. Celli secara naluriah membalas setiap pagutan yang Julian berikan padanya.

__ADS_1


Hingga pagi Celli bukan lagi pagi yang berantakan, tapi pagi dengan pengalaman pertamanya berciuman dengan Julian, bos naganya. Juga model populer saat ini.


****


__ADS_2