
Malam itu hujan mengguyur langit ibu kota. Menambah sedih rasa di hati Ardi, yang sejak tadi siang sudah mendung. Sebenarnya rasa sedihnya tidak seberapa. Yang lebih dominan adalah rasa kecewa.
Ardi tengah menatap langit malam yang sesekali berkilat akibat kilatan petir yang menyambar. Empat tahun menjalin kasih. Dan ketika dirinya mulai serius dengan hubungannya. Mia malah menghancurkannya. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Celli. Dia terlalu lambat bergerak. Memberi kepastian pada hubungan mereka. Atau mungkin juga, yang Mia katakan hanyalah alasan yang dia buat untuk mengakhiri hubungan mereka. Entahlah.
Tapi apapun itu. Ardi merasa lega. Meski sakit, tapi setidaknya dia belum terlambat. Belum masuk ke jenjang yang lebih serius.
"Ya halo."
"...."
"Dokter Miko kan ada."
"..."
"Baik aku berangkat.15 menit. Siapkan rekam medis terakhir. Juga ruang operasi jika perlu."
Ardi menarik nafasnya dalam.
"Celli...Cell." Ardi mengetuk pintu kamar Celli. Pelan memakai jaketnya.
"Ya, Kak."
"Kakak pergi dulu. Ada pasien darurat. Miko sedang ada operasi."
"Iya, hati-hati. Hujan, jangan ngebut bawa si Saki."
Saki adalah motor kesayangan sang Kakak. Ardi lebih suka naik motor Ninja-nya untuk pulang pergi ke rumah sakit, bahkan ke perusahaan mereka juga lebih suka motor. Kecuali nebeng sang Papa.
"Iya. Kamu di rumah saja. Jangan keluar. Nanti dikepoin paparazzi, yahook kamu."
"Beres Bos. Mau ikutan Vlive bentar lagi," cengir Celli.
"Hape baru tu," ledek sang kakak sebelum hilang dibalik pintu.
***
"Kenapa berisik sekali?" tanya Ardi begitu masuk ke ruang UGD.
"Dia menolak dianastesi."
"Ha? Katamu luka tembak di dada," Ardi bertanya penuh keheranan. Semakin mendekat ke arah brangkar dia semakin heran.
"Dia perempuan?" tanya Ardi.
"Iya, Dok," jawab asistennya.
Begitu berada di samping brangkar, Ardi terkejut. Dilihatnya seorang perempuan dengan baju kemeja yang sudah berlumur darah. Terus bergerak. Menolak siapapun untuk mendekat kearahnya.
"Kalian jangan mendekat. Jika hanya ingin membiusku," teriak wanita itu.
"Tapi kau perlu itu. Agar kau tidak kesakitan saat pelurunya kami keluarkan," Ardi menyahut cepat. Melihat wajah wanita itu mulai memucat. Bisa dipastikan jika dia mulai lemas. Kekurangan darah.
"Sudah berapa lama dia seperti itu?"
"Sejak 30 menit yang lalu."
"Siapa kau?"
"Aku dokter bedahnya. Aku yang akan mengeluarkan pelurunya."
"Kau? Apa rumah sakit ini tidak punya dokter bedah perempuan?" tanya wanita itu. Sedetik kemudian dia meringis.
Ardi sigap mendekat.
"Ini darurat. Kau tidak bisa memilih dokter sekarang ini," kata Ardi mulai menahan tangan wanita itu.
"Kau... apa yang kau lakukan? Kau melanggar wilayah pribadiku. Aku tidak mau ditangani olehmu!" Wanita itu masih sanggup berteriak.
__ADS_1
"Ini darurat. Kau harus segera ditangani. Jika tidak kau bisa mati kehilangan banyak darah. Lakukan sekarang!" Ardi meminta obat anastesi untuk disuntikkan. Sementara pria itu terus menahan tangan dan tubuh wanita itu.
"Kau dokter kurang ajar. Akan kuhajar kau. Aarrgghhh.!
"Iya, akan aku layani acara ajar menghajarmu itu nanti. Setelah lukamu sembuh. Oh ya aku minta maaf harus merobek kemejamu. Mungkin juga...pakaian dalammu." Bisik Ardi santai di telinga wanita itu.
"Kau...kau....benar-benar...Akan aku hajar kau. Dokter mesum!" Suara wanita itu mulai melemah. Seiring obat biusnya mulai bekerja.
"Buka bajunya," perintah Ardi. Sementara dia mulai memakai sarung tangan sterilnya. Dua perawat mulai bergerak, membuka kemeja wanita itu.
"Dok..lukanya tepat di atas breast-nya (dadanya)." Ardi seketika tertegun. Melihat luka tembak itu tepat berada di atas benda kenyal itu. Sejenak menarik nafasnya.
"Kita mulai," perintah Ardi.
***
"Dia siapa sih sebenarnya?" tanya Ardi begitu keluar dari UGD.
"Dia anggota kepolisian," bisik sang perawat.
"Ooo pantas saja bisa tertembak."
"Menurut bisik-bisik yang mengantarnya. Mereka baru ada operasi gitu. Terus dia tertembak karena berusaha melindungi bawahannya."
"Memang pangkatnya apa?"
"Tidak tahu. Ini rahasia ya Dok. Biasa."
"Siap Sus. Saya ganti baju dulu. Akan saya lihat keadaannya sebelum saya pulang."
"Baik Dok. Saya akan inform dengan perawat shift malam dulu. Malam, Dok."
Ardi mengangguk. Lantas masuk ke ruangannya. Menguncinya. Lalu masuk ke kamar mandi. Mandi juga mengganti baju. Ardi memang selalu berusaha sudah bersih jika pulang dari rumah sakit.
"Shania Saraswati."
Sedikit menyingkap selimut pasiennya. Sejenak melihat balutan kasa yang terlihat masih merah itu.
"Haiisshhh bagaimana bisa kau terluka di asetmu. Apa kau tidak pakai apa itu...rompi anti peluru. Pasti akan menimbulkan bekas. Tidak mulus lagi nanti." Batin Ardi dalam hati.
Sejenak melihat betapa mulusnya kulit dada pasiennya itu.
"Astaga dia itu pasienmu. Bisa-bisanya kau berpikiran mesum seperti itu." Batin Ardi lagi.
"Sus...saya pulang dulu. Saya tadi baru saja visit. Keadaannya stabil. Saya pulang dulu. Tapi kalau ada apa-apa hubungi saya. Saya nginep di apartement adik saya. Dekat dari sini."
Pesan Ardi pada perawat yang bertugas.
"Siap, Dokter."
***
Di sisi lain, Julian terus bergerak gelisah dalam tidurnya. Keadaan Caca yang paling membuatnya khawatir. Yang lain dia tidak terlalu mempedulikannya. Kecuali Celli mungkin. Tapi karena gadis itu sudah ada kakaknya yang menjaga. Pasti keadaannya baik-baik saja.
Kembali mendudukkan dirinya di kasur. Mengusak rambutnya frustrasi. Dia pikir apa yang harus dia lakukan sekarang. Kalau dia keluar. Dia malas berurusan dengan para pemburu berita itu.
Kalau dia tidak keluar. Dia merindukan Celli. Juga ingin menjenguk keadaan Caca. Tapi sepertinya keadaan belum mengizinkannya sekarang.
Apa dia perlu menghubungi Celli. Dia rindu gadis itu. Hingga akhirnya dia meraih ponselnya. Mencari nomor MUA buruk rupa. Lalu mendialnya.
"Apa sih ganggu?" suara dan wajah ketus Celli langsung terpampang di depan mata Julian.
"Astaga Celli!" pekik Julian. Melihat belahan dada gadis itu yang terlihat begitu menggoda.
"Apa sih? Aku sedang Vlive sama si Juki."
"Ha? Vlive? Juki? Siapa tu?"
__ADS_1
"Idol akulah. Sudah, ada apa?" ketus Celli.
"Rindu sama kamulah. Btw tutupin dulu dong itu," pinta Julian.
"Apa?" Celli langsung menunduk mengikuti pandangan Julian.
"Alamak...kau melihatnya?" tanya Celli menutupi dadanya dengan selimut"
"Lihatlah. Wong kamu pamerin ke aku," cengir Julian.
"Kau menyebalkan. Sudah katakan ada apa. Bukannya kau sedang sembunyi?"
"Aku rindu padamu. Kau dengar tidak? Lagipula aku tidak sembunyi ya. Lebih tepatnya menenangkan diri."
"Rindu? Kau bercanda kan? Sembunyi atau menenangkan diri itu sama saja. Tidak kelihatan di publik."
"Tidak sama. Ngomong-omong aku beneran rindu sama kamu Cell. Aku nggak bohong."
"Tapi aku enggak tuh."
"Bohong!"
"Nggak..beneran."
"Kau tega padaku Cell. Aku rindu setengah mati dan kamu cuekin aku," drama Julian.
"Jangan mulai deh dramanya. Aktingmu lumayan. Besok boleh tu terima tawaran akting."
"Ogah...nanti tubuhku dipegang-pegang orang lain."
"La emang sekarang tidak?"
"Kan sekarang cuma kamu yang ngemek-ngemek muka aku. Kalau drama kan kadang harus staf sana yang make up."
"Masak sih?"
"Ada yang seperti itu."
"Aku belum pernah ikut shooting drama."
"Itu kurang menyenangkan antrinya lama. Juga...."
Suara Julian menghilang. Berganti dengkuran halus yang terdengar. Pria itu tertidur dengan Celli yang masih berceloteh diujung sana.
"Tidurlah. Kau pasti frustrasi dengan semua ini," gumam Celli.
Perlahan disentuhnya bekas luka Julian. Sudah hampir memudar dengan sempurna. Sebentar lagi pria itu bisa terbebas dari ketergantungannya pada concealar mahal itu.
Pelan rasa kantuk mulai menyerang Celli. Hingga tak berapa matanyapun terpejam. Dengan ponsel masih menyala. Dua manusia beda gender itu, tertidur ditempat terpisah tapi dengan hati yang seolah sudah tertaut menjadi satu.
****
Visualnya Ardi,
Kredit Google.com
Visualnya Shania,
Kredit Pinterest.com
Barangkali ada yang kepo...
***
__ADS_1