
"Emang bener ya Kak, kalau dia nyuruh aku buat pindah apartement?" Tanya Celli pada Roy ketika mereka sedang menunggu Julian, yang masih berbicara dengan Jonghyun di ruangannya.
"Iya dari kemarin dia nyuruhnya. Tapi aku belum sempat ngomong ke kamu. Kok kamu tahu?"
"Semalam dia sendiri yang nyuruh."
Semalam? Bukannya semalam dia ke tempatnya Irene, kok jadinya sama Celli. Pikir Roy heran.
"Terus kamu mau enggak?"
"Ya nggaklah. Disitu doang apartement murah fasilitas wah. Siap dengan layanan antar jemput plus catering 24 jam."
"Kok bisa? Emang ada?" tanya Roy lagi-lagi heran.
"Iyalah ada. Ada mang Udin yang siap antar jemput aku kemana aja. Catering mulai dari nasi uduk, soto, bakso, mi ayam. Ayam penyet dan semua temannya. Semua ada disana siap 24 jam. Gimana aku bisa berpaling."
"Eh non itu apartemen, kayak cowok aja bahasanya nggak bisa berpaling."
"Ya begitulah nasib jomblo sejati. Selain dia, siapa lagi tempatku pulang."
"Busyet dah bahasanya." Roy ngakak mendengar ucapan sok puitis dan romantis, tapi jadinya sadis plus ngenes dari partner kerjanya yang baru itu.
"Malah ngakak."
"Terus dia bagaimana?"
"Ya marahlah. Apalagi." Jawab Celli sendu.
"Ya iyalah. Dia itu paling gak suka dibantah."
"Mau gimana lagi. Semua kan butuh...." Celli membuat kode uang dengan jarinya.
"Benar juga. Tidak semua orang banjir duit seperti bos. Padahal dia udah kaya badan amal aja. Tiap bulan kasih jatah buat si Irene. Cuma-cuma. Tanpa imbal balik. Padahal dia yang salah. Bos yang kena tulah." Batin Roy.
"Dicurhatin malah bengong.." Gerutu Celli.
"Aha..sorry deh sorry."
"Jadi nanti tolong bantuin ngomong ya. Dia pasti GTM lagi ma aku." Mohon Celli.
"Ha? GTM? Apa itu?"
"Gerakan tutup mulut alias marah alias ngambek alias nesu atau angry bahasa internasionalnya."
Kali ini tawa Roy langsung pecah. Pria tinggi besar itu bahkan sampai memegangi perutnya yang sakit.
"Ah mbaknya ini ada-ada aja ngelawaknya." Sahut si supir dari dalam mobil van mereka.
"Iiihh si bapak dengar lagi."
"Dengarlah wong ngomongnya kenceng gitu. Se eRTe juga dengar Mbak."
"Astaga." Celli langsung menutup mulutnya. Dan Roy semakin ngakak.
"Wuih bahagia amat elu Roy." Satu suara menyapa.
"Ehh kak May. Lama nggak ketemu." Sahut Roy kikuk.
"Kakak...."
Celli langsung sumringah melihat May.
__ADS_1
"Pada ngapain?"
"Nungguin boslah. Lagi ngobrol sama misua-nya kakak." Jawab Celli.
"Masih lama?"
"Nggak tahu."
"Duduk aja dulu yuk. Lama nggak nggibah kita."
"Yah niatnya sudah nggibah." Seloroh Roy.
"Habis mau apalagi sih Roy kalau nggak nggibah ngomongin bosmu."
Roy memutar matanya mendengar jawaban mantan partner kerjanya itu.
"Gimana kerjaannya? Dia rewel nggak?" Tanya May begitu mereka duduk di ruang tunggu kantor Jonghyun.
"Parah Kak. Baru berapa hari kerja sudah dua kali dia ngambek diamin Celli."
"Masalahnya?"
"Memang salah Celli. Tapi Celli kan sudah minta maaf."
"Soal apa dulu?"
"Yang kemarin soal Celli yang tidak percaya kalau dia beneran teleponin dokter Darwis buat nanyain jerawatnya Celli yang makin horor ini." Celli menunjuk wajahnya sendiri.
"Terus yang semalem. Dia marah karena Celli nggak mau pindah apartemen supaya lebih dekat ke sini atau ke apartemen dia."
Celli menarik nafasnya usai bercerita. May yang mendengarkan cerita Celli langsung mengulum senyumnya.
"Belum sebulan dan si bayi besar sudah mulai perhatian sama si buruk rupa. Oh dia jerawatan aja, Julian sudah kasih perhatian. Gimana kalau wajahnya sudah mulus kayak kemarin-kemarin, bisa bucin abis tu anak manja. Wahh sepertinya rencanaku akan berhasil."
"Malah bengong juga kaya kak Roy."
"Upps sorry kakak lagi mikir. Begini soal dokter Darwis kan sudah selesai ya intinya. Kamu sudah minta maaf kan?"
Tanya May dan Celli mengangguk.
"Nah soal apartement. Kakak kira lebih baik kamu ikuti kemauan Julian deh."
"Lah Kak, sayang dong. Itu apartemen kalau ditinggalin cuma buat tiga atau empat bulan. Nanti Celli susah buat dapat yang kayak gitu lagi."
May menatap heran Celli.
"Kontraknya mana?" Tanya May.
"Sudah sama Om Jo. Tadi tak tanda tangani terus sekalian tak kasih ke Om Jo mumpung ke sini."
"Sudah dibaca semuanya?" Selidik May.
"Sebagian besar." Jawab Celli ragu.
May menarik nafasnya.
"Kamu pasti tidak membaca klausal yang mengatakan kalau kontrak itu berlaku satu tahun plus Julian bisa memperpanjang masa kontrakmu sesuai keinginan dia. Tanpa persetujuanmu." Jelas May.
"What??!!"
"Satu tahun? Bisa diperpanjang seenak jidat dia yang mulus dan mempesona."
__ADS_1
Celli langsung melongo dibuatnya.
"La..la aku harus gimana dong. Terlanjur tak tandatangani terus tak kasih Om Jo.Kan biasanya kontrak yang aku terima paling tiga atau empat bulan saja." Keluh Celli sendu.
"Ya kamu sih ceroboh lagi. Ada kontrak kok nggak dibaca benar-benar. Julian itu tidak suka gonta ganti staf untuk pekerjaan. Jadi dia pakai satu tahun itu buat mahamin kamu. Buat nilai kamu. Bisa nggak kamu ngikutin ritme kerja dia. Cara kerja dia. Kalau bisa, ya kamu kemungkinan akan kerja terus sama dia." Tambah May panjang lebar.
Celli langsung lemas seketika. Satu tahun kerja sama si naga api plus bisa diperpanjang seenak hati Julian.
"Oh my God ini mimpi paling buruk yang mana. Jerawat gue atau kerja bareng anak manja itu." Batin Celli nelangsa.
Celli nelangsa, May jelas bahagia. Dalam satu tahun ini. Jika Julian bisa jatuh cinta pada Celli. Bahkan kalau bisa keduanya menikah. Maka dia akan dapat hadiah yang besar dari kakak ipar.
Sebab sang kakak ipar alias papa Julian sudah membuat perjanjian dengan putra bungsunya itu. Jika Julian menikah maka pria itu akan mundur dari dunia modeling dan mulai mengurus perusahaan mereka. Argantara Group. Membantu sang kakak, Jared Argantara yang sudah lebih dulu terjun dan mengurus perusahaan mereka.
Namun dengan syarat wanita yang dinikahi Julian harus mendapat persetujuan dari keluarga Argantara. Maka waktu Julian menjalin hubungan dengan Irene. Papa Julian tidak menyetujui hubungan itu. Karena dia tahu Irene bukan wanita baik-baik.
Oleh sebab itu, Jonathan Argantara meminta bantuan pada adik iparnya. Untuk mencarikan wanita yang mungkin bisa membuat Julian jatuh cinta. Bahkan jika memungkinkan keduanya untuk menikah.
Dan pilihan May jatuh pada Aracelli Anjani. Gadis cantik yang sudah lama menjadi murid tidak resminya.
"Malah ngobrol di sini." Celetuk Julian tiba-tiba.
"Sudah selesai?" Tanya May dan Julian mengangguk.
"Ayo berangkat." Ketus Julian.
"Kak May...."
Ucap Celli dengan wajah memelas. Sedang kak May-nya langsung memberi kode untuk semangat dengan tangannya.
"Aracelli Anjani!" Teriak Julian.
"Iya...iya aku datang."
Celli menghembuskan nafasnya kasar. Melambaikan tangannya pada May yang tersenyum.
"Jangan teriak-teriak! Sudah kayak Tarzan di hutan aja. Aku belum budek." Ucap Celli tajam. Membuat Julian langsung mendelik mendengar protes MUA-nya itu.
"Kau berani padaku?" Desis Julian.
"Nggaklah. Situ kan bosnya. Aku cuma kulinya." Jawab Celli.
"Bagus. Nanti kalau sampai lokasi belikan aku minuman seperti semalam."
"Aku bukan pesuruhmu...."
Celli langsung protes.
"Katanya aku bosnya. Kamu kulinya. Tugas bos memerintah dan membayar gaji kulinya. Tugas kuli mematuhi semua perintah bosnya. Betul tidak? Jadi lakukan semua sesuai porsinya masing." Balas Julian penuh penekanan.
Celli langsung kicep seketika. Apalagi dia sadar. Sudah menandatangani kontrak kerja itu. Dengan kata lain, Julianlah pemilik dirinya sekarang dalam masalah pekerjaan.
"Tidak adakah cara lain untuk kabur dari si naga api ini" Batin Celli hampir menangis.
***
Kredit Instagram @xuxhibinbin1
Kalau naga apinya model begini, author rela disembur api tiap hari...nggantenge duda yang satu ini...
__ADS_1
***