
Celli meletakkan kepalanya di meja. Lelah? Iya, itu yang dia rasakan. Hari ini ada 3 lokasi tempat pemotretan dan shooting iklan yang berbeda. Berada di jalanan seharian membuat tubuh Celli remuk redam.
Saat ini mereka berada di kantor Jonghyun. Menatap Julian, Celli hanya bisa menggelengkan kepala. Pria itu masih terlihat segar meski seharian bekerja. Wajah tampan itu tampak mengulas senyum menatap Celli yang sesekali memejamkan mata bulatnya.
Celli heran. Apa pria itu tidak merasa lelah. Jangan kira jadi model tidak lelah ya. Lelah banget malahan.
"Heran...orang itu makan apa ya? Kok dia masih bisa ketawa padahal seharian nggak berhenti berpose depan kamera," batin Celli heran.
"Apa lihat-lihat? Baru nyadar ya kalau aku tampan," todong Julian menatap Celli sambil menopang kepalanya menggunakan tangan kanannya.
Kredit Instagram @ xuzhibinbin1
"Iihh narsis!" desis Celli kesal, memalingkan wajahnya ke arah lain. Bersamaan dengan Jonghyun yang masuk ke ruangan itu.
"Malam semua," sapa Jonghyun.
"Selamat malam juga," sahut Celli dan Roy.
"Oke. Ini adalah schedule terbaru bos kalian." Melirik ke arah Julian yang menatap dirinya santai.
"Ini schedule rutin tiap tiga bulan. Maraton luar kota," info pria itu. Celli langsung menatap lembaran kertas di hadapannya.
Tiga minggu maraton photoshoot keluar kota. Dengan shcedule satu hari bisa dua kota. Celli menganga. Menatap ke arah Julian yang balik menatapnya sambil tersenyum.
"Yakin tidak ingin mengambil kontrak jangka panjang?" tanya Jonghyun sekali lagi. Tinggal mereka berdua di ruangan pria itu.
"Tidak. Kecuali mereka mau mengikuti scheduleku bila ada photoshoot ataupun shooting iklan."
"Apa kamu mulai serius dengan hidupmu?"
"Aku sedang mempertimbangkan ucapan papa. Dia ingin aku mulai masuk kantor akhir tahun ini. Juga mempertimbangkan Jared yang akan memiliki anak lagi. So...dia pasti akan tambah ribet lagi...."
"Bukan karena Celli?" potong Jonghyun cepat.
Sejenak Julian terdiam.
"Salah satunya," tukas Julian akhirnya.
"Kau serius dengannya?"
"Entahlah. Tapi aku rasa...aku tertarik dengannya," balas Julian dengan pikiran menerawang.
Jonghyun menghela nafasnya.
"Baguslah kalau begitu.Akhirnya ada juga yang nyangkut dihatimu," ujar Jonghyun lega.
"Aku masih normal kali. Masih doyan perempuan," gelak Julian.
"Wajahnya sudah sembuh. Sudah hampir pulih seperti dulu," sambung Jonghyun.
"Iya, dia juga sudah tahu soal bekas lukaku."
"Benarkah?"
Julian mengangguk.
"Lalu?"
"Dia biasa aja. Tidak gimana-gimana gitu. Dia sekarang yang meriasku dari nol. Juga sedikit memberiku treatment. Untuk menyamarkan bekas lukaku."
"Apa berhasil?"
"Masih belum terlihat. Tahu sendiri. Cara tradisional lebih lambat hasilnya."
"Back to your scar. Apa kau percaya padanya?"
"Aku percaya dia tidak akan memberitahu publik. Hanya saja, tidak selamanya kita bisa menyimpan sebuah rahasia kan. Akan tiba waktunya semua itu akan terbongkar. Dan aku selalu siap untuk hal itu."
"Jadi siapkan saja semuanya jika sewaktu-waktu berita itu booming," pinta Julian sambil berlalu keluar dari ruangan Jonghyun.
"Dimana dia?" tanya Julian pada Roy yang sudah siap didepan mobilnya.
"Tidur," sahut Roy menunjuk Celli yang meringkuk di sofa.
"Bangunkan," perintah Julian.
__ADS_1
Perlahan Roy membangunkan Celli. Tak lama, dengan mata setengah terpejam. Celli mengekor di belakang Roy.
"Masuk ke mobil. Kita pulang."
Perintah Julian. Membukakan pintu mobilnya untuk Celli. Yang langsung masuk tanpa protes. Duduk langsung memejamkan mata.
"Busyet dah. Gini amat ya." Menatap tidak percaya pada tingkah Celli. Sejenak memejamkan mata. Lalu memasangkan sabuk pengaman pada tubuh MUA-nya.
Mereka hanya berdua di mobil Julian. Roy mengendarai mobilnya sendiri. Sudah lebih dulu pergi entah kemana.
"Cell..."
"Hemm..."
"Masih nyahut...."
Celli terdiam.
"Apa kau tahu? Mungkin kalau aku orang lain. Kau pasti sudah habis, dibawa ke hotel, lalu ditiduri," kata Julian asal.
"Karena itu kau. Jadi aku bisa seenakku," tanpa Julian duga Celli merespon ucapannya.
"Jadi kau masih dengar. Memangnya kalau aku kenapa?"
"Kau tidak mungkin bawa aku ke hotel." Celli kembali menjawab meski matanya terpejam.
"Wooo, oke. Aku tidak akan membawamu ke hotel. Tapi pulang ke apartemenku. Kita tidur dikamarku."
Celli terdiam.
"Kau tidak akan berani," tiba-tiba Celli menyahut.
"Siapa takut."
Julian mulai melajukan mobilnya menuju apartemennya. Dia sungguh penasaran. Seberapa besar nyali gadis yang tengah meringkuk tertidur di sampingnya itu. Berani menantang dirinya.
"Habis kau malam ini," batin Julian sambil menyeringai.
"Bangun." Julian menggoyangkan tubuh Celli. Mereka sudah sampai di basement apartement mereka. Celli membuka matanya sedikit.
"Dimana?"
Celli membuka pintu mobil. Mengikuti langkah Julian menuju lift. Menurut saja ketika Julian menekan angka di pintu lift.
Tiiing,
"Kenapa ke sini?" Celli memicingkan matanya melihat dia berdiri dimana. Ruang tengah apartemen bos naganya.
"Kau yang mengekor padaku," jawab Julian judes.
"Kalau begitu numpang tidur sebentar. Nanti aku balik ke unitku," pinta Celli.
Berjalan sempoyongan menuju sofabed milik Julian. Merebahkan tubuhnya lantas langsung tertidur. Julian hanya terdiam memperhatikan tingkah Celli.
Beberapa waktu berlalu
Antara sadar dan tidak. Celli merasakan sesuatu bergerak di atas bibirnya. Lebih tepatnya mulai **********.
Ini apa sih? Pasti mimpi...tapi kalau mimpi kenapa tubuhnya susah bergerak. Seperti sesuatu yang berat tengah menindihnya. Hingga Celli setengah memaksa membuka matanya. Mata Celli membelalak. Mendapati tubuh Julian topless tengah berada tepat diatas tubuhnya.
Mata pria itu terpejam. Sedang menikmati bibirnya.
"Apa yang kau lakukan ha?!" bentak Celli. Julian sedikit terkejut.
"Kau bangun rupanya."
"Bangunlah! Kau menindihku. Berat!"
"Baru juga 70 kilo."
"Bangun! Apa yang kau lakukan diatas tubuhku?"
"Tidak mau. Aku ingin menjawab tantanganmu."
"Tantangan apa?" jawab Celli setelah sejenak berpikir. Tapi tidak menemukan jawabannya.
"Tidak ingat?"
__ADS_1
Celli menggeleng.
"Kau bilang aku tidak akan berani membawamu ke apartemenku untuk...."
"Untuk apa?"
"Untuk kutiduri...aduuuuhhhh..."
Julian langsung meringis ketika Celli menggigit lengannya.
"Siapa yang menantangmu seperti itu?"
"Kaulah..."
"Kapan?"
"Waktu kau tidur dimobilku."
"Ha mobilmu? Kapan aku naik mobilmu?"
"Kau ini amnesia atau apa sih. Kau tidak ingat bagaimana kau bisa sampai kesini?"
"Naik mobil. Tapi tidak tahu mobil siapa " jawab Celli lirih.
"Itu mobilku. Nah sekarang waktunya menjawab tantanganmu. Kau bilang padaku kalau aku tidak akan berani melakukan apapun padamu waktu kau tidur."
"Ha? Aku bilang begitu padamu. Kau pasti bohong."
"Well, sayangnya itu nyata." Julian mengambil ponselnya, membuat Celli langsung mendudukkan dirinya.
"Dengarkan ini."
Mata Celli langsung membulat mendengar suaranya sendiri. Yang dengan lantang menantang Julian.
"Aahh itu-itu..aku kan tidak sadar. Aku sedang tidur. Masak kau menganggapnya serius....
"Oo.... aku menganggapnya serius. Sangat serius. Kau merendahkan harga diriku, dengan mengatakan aku tidak akan berani menidurimu. Siapa bilang aku tidak berani. Aku lebih dari sekedar berani untuk mengobrak abrik milikmu," ancam Julian. Pria itu mendekat ke arah Celli yang langsung memundurkan dirinya. Hingga mentok ke pojok sofabed.
"Lian...aku tidak bermaksud seperti itu," Celli memohon.
"Baru sekarang kau mau memanggil namaku. Kemarin....."
"Aku kan manggil bos," potong Celli cepat.
"Tapi boleh juga kau memanggilku seperti itu. Terdengar....seksi dan menggoda di telingaku." Ucap Julian mulai mengungkung tubuh ramping Celli.
Julian mulai memciumi telinga Celli. Membuat gadis itu kembali merinding.
"Lian...." Tubuh Celli mulai tidak karuan ketika Julian mulai menciumi lehernya.
"Yes...baby," jawab Julian di sela aksinya menyesap leher putih Celli.
Hati Celli semakin berantakan ketika Julian memanggilnya baby.
"Stop Julian...stop." Celli akhirnya menemukan keberanian juga kekuatan dengan menahan dada bidang Julian. Mendorongnya menjauh.
"Kita tidak boleh melakukan ini."
"Sudah terlambat!" Julian berucap dan detik berikutnya pria itu mulai mencium bibir Celli penuh na*** seiring gairahnya yang meroket naik.
Tangan Celli coba mendorong tubuh Julian. Namun pria itu sigap menahannya. Mencekalnya menggunakan satu tangan. Menempatkannya diatas kepala Celli.
"Lian...hentikan. Lian...sadarlah...kita tidak boleh melakukan ini. Kita tidak punya hubungan..."
"Kita akan menikah setelah ini."
"Aku tidak mau..aku tidak mencintaimu."
"Tapi aku jatuh cinta padamu."
Deg,
Jantung Celli seolah berhenti berdetak. Sungguh demi apapun Celli tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.
"Dia pasti berbohong. Dia mengatakan itu hanya untuk mendapatkan tubuhku." Batin Celli menatap dalam bola mata Julian.
"Aku tidak tahu sejak kapan. Tapi aku yakin pada hatiku yang sudah berlabuh di hatimu." Batin Julian juga menatap dalam bola mata Celli.
__ADS_1
***