MUA Buruk Rupa

MUA Buruk Rupa
Lamaran Antimainstream


__ADS_3

"Celli apa kau sudah siap?" tanya Mela yang naik bersama Shania ke kamar Celli. Tepat ketika Celli selesai memakai heels 7 sentinya.


"Astaga, kau benar-benar maniak ungu. Apa Julian nggak sakit mata ini," seloroh Shania.


"Dia bisa protes apa?" Celli bertanya sembari merapikan rambut dan make up-nya. Menyemprotkan parfum sebagai sentuhan terakhirnya.


"Sekarang memang nggak. Tapi nanti setelah kalian nikah. Kau lihat saja dominasinya. Btw itu kan parfum cowok."


"Tapi wanginya lembut banget. Soft."


"Memang seleramu aneh kok," celetuk Shania.


"Tapi gue normal kok."


"Iya, nyatanya kamu masih bisa lihat cowok ganteng sekelas Julian. Nggak haluin mereka mulu."


Celli nyengir mendengar hal itu.


"Ayo turun," Mela memanggil.


Celli dan Shania berjalan keluar kamar.


"Pakai lift aja," usul Mela.


Ketiganya berjalan menuju lift. Menekan tombol 1. Begitu terbuka, ketiganya langsung melangkah ke ruang tamu. Shania langsung mengulurkan tangannya. Menyediakan tumpuan bagi Celli karena mereka tetap melewati sedikit anak tangga saat masuk ke ruang tamu.


Julian jelas terpesona melihat penampilan Celli. Memakai gaun berwarna magenta dengan model sabrina. Gadis itu terlihat begitu cantik di mata Julian. Rambutnya disanggul simple. Semakin menampilkan sisi feminimnya.



Kredit Pinterest.com


Bahkan ketika Celli sudah duduk di samping Julian. Pria itu masih saja speechless. Hingga deheman Ardi mengembalikan suara Julian.


"Adik gue memang cantik. Baru nyadar elu," goda Ardi.


"Baru kelihatan sekarang cantiknya," balas Julian.


"Kemarin-kemarin kemana aja elu?"


"Kemarin pingsan, Bro." Balas Julian yang langsung mendapat pelototan dari sang Papa. Jonathan Argantara.


Dan acara pun dimulai. Dengan acara pembukaan. Dibuka dengan beberapa patah kata dari Jonathan Argantara. Mengenai maksud kedatangan mereka. Hingga mereka sampai di inti acara. Dimana Julian sendiri yang akan melamar Celli.


Pria itu menarik nafasnya sejenak. Sebelum berdiri di hadapan semua orang.


"Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih, kepada keluarga Bagaskara yang sudi menerima kedatangan kami sekeluarga. Yang cukup mendadak. Sebab saya tidak bisa menunggu lagi. Untuk menikahi putri bapak."


"Jujur amat elu," seloroh Jared. Perkataan Jared sontak membuat semua yang hadir langsung terbahak.


"Biarin, dari pada bohong. Tapi tenang Om, saya nikahin Celli karena saya beneran cinta sama putri Om. Jangan ditanya sejak kapan. Sebab saya sendiri juga tidak tahu."


"Peyang lu!" kali ini Ardi yang bersuara.


"Yee, elu tahu gue ketemu adik elu waktu dia lagi jerawatan parah," balas Julian.


Celli hanya tersenyum. Gadis itu teringat Julian sama sekali tidak menjauhi dirinya, ketika wajahnya sangat mengerikan saat itu, menjadi buruk rupa untuk beberapa waktu.


"Tapi sekarang dia Aunty cantik!" celetuk Seina.

__ADS_1


"Ya, sekarang dia cantik. Sangat cantik. Sampai Uncle jatuh cinta pada Aunty cantik itu. Jatuh cinta sampai Uncle tidak bisa tidur jika tidak ada Aunty cantik," kata Julian.


Hening sejenak. Semua tampak menunggu perkataan Julian.


"Karena itu malam ini, di hadapan keluargamu juga keluargaku. Aku Julian Dawson Argantara, memintamu Aracelli Anjani Bagaskara...maukah kamu menerima lamaranku dan menikah denganku. Menemaniku sampai maut memisahkan. Melalui hidup bersama denganku. Baik susah dan senang. Aku tidak berjanji hidup kita akan mulus seperti jalan tol. Tapi satu hal yang aku janjikan padamu. Cinta dan kesetiaanku tidak akan berubah untukmu..."


Airmata Celli perlahan turun di sudut matanya. Julian, bos naganya, yang ucapannya terkadang seperti bara api yang sangat panas membara. Selengekan. Sesuka hati kalau bertindak. Tapi malam ini, pria itu berubah menjadi pria yang begitu romantis.


"Jadi apa keputusanmu sayang?" Gilang membuyarkan lamunan Celli.


Gadis itu mendadak gugup. Menatap pada Julian yang balik menatapnya lembut dengan senyum manisnya.


"Apa kau mencintainya?" potong Ardi.


"Ardi...," Desis Gilang.


"Itu penting, Pa," tukas Ardi.


Celli tersenyum. Dia juga berpikir harus mengungkapkan perasaannya. Agar Julian tidak dituduh bertepuk sebelah tangan.


"Nggak apa-apa Pa. Celli rasa, Celli juga perlu mengatakan apa yang Celli rasa."


Hening sejenak. Celli masih menatap Julian. Hingga dua pasang itu saling memandang.


"Aku sendiri tidak tahu harus berucap apa," kata Celli sambil menggaruk tengkuknya.


Gubrak!


Sumpah demi apapun. Semua langsung terbahak-bahak. Julian sampai memegang perutnya yang mungkin kram karena ulah kocak Celli.


"Kamu ini bisa nggak sih serius sedikit!" Ardi sedikit menaikkan oktaf suaranya sambil tertahan.


"Lalu sekarang perasaan kamu ke dia gimana?" Jared bertanya gemas ke calon adik iparnya.


"Perasaannya...cinta banget," seru Celli happy, kembali membuat tawa meledak di ruangan itu.


"Calon mantumu yang ini bisa ngilangin stres kita," seloroh Mey Lee.


Jonathan langsung mengangguk setuju. Menatap ke arah Jonghyun dan May yang masih terbahak-bahak. Dua orang itu hanya mengacungkan dua jempolnya.


Mendengar ungkapan perasaan Celli. Julian jelas bahagia sekali. Dia memang lama sekali menanti saat ini. Dimana dia ingin mendengar Celli mengatakan kalau dia mencintai dirinya.


"Jadi kamu mau menikah denganku?"


Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Sambil mengulum senyumnya. Kembali semua terdiam.


"Ya...Celli mau menikah denganmu..Julian siapa? Ahh pokoknya aku mau nikah sama kamu."


"Yessss!!!" Julian langsung berteriak penuh kemenangan.


"Asall...."


Semua langsung diam.


"Asal apa?" tanya Julian.


"Jangan suruh Celli masak."


"Tidak masalah"

__ADS_1


Celli langsung mengembangkan senyumnya. Membiarkan Julian memeluk dirinya. Sedang yang lain langsung melongo. Mendengar syarat antik Celli.


"Aku mencintaimu, Celli," bisik Julian sambil mencium puncak kepala Celli.


"Aku juga mencintaimu, Lian," balas Celli cepat.


Tak berapa lama. Sebuah cincin cantik melingkar di jari manis tangan kanan Celli.


"Selamat ya, Non," Wei Ning memeluk erat Celli. Dua sahabat itu berpelukan cukup lama. Sengaja menunggu sesi pelukan paling akhir. Agar mereka bisa bicara agak lama dan bebas.


"Sama-sama. Kamu cepetan nyusul. Nanti bisa kerja bareng lagi."


"Doakan ya," pinta Wei Ning melirik ke arah Roy.


"Tentu saja."


"Dapat salam dari Liu. Turut berbahagia katanya."


"Ha ha..salam balik. Suruh nyusul juga. Biar ramekan kita kalau jalan-jalan."


Keduanya tertawa sambil menikmati prasmanan di ruang makan.


"Julian....," Gilang sengaja memanggil calon menantunya itu.


"Iya Om,"


"Bisa bicara sebentar?"


"Tentu."


Dua pria itu lalu duduk di sofa ruang tengah.


"Papa tahu kamu ingin segera menikahi Celli. Tapi boleh minta waktu sebulan lagi. Kamu tahu kan hubungan kami baru membaik akhir-akhir ini."


Julian mengangguk. Dia pun mengakui kalau dirinya memang sedikit memaksakan kehendaknya.


"Berikan Om waktu satu bulan untuk menghabiskan waktu dengannya. Sebelum kalian menikah," pinta Gilang sendu.


Julian tersenyum. Dia cukup memahami perasaan calon ayah mertuanya. Ini juga masih mending disuruh nunggu sebulan. Bukan seperti drama aneh bin ajaib yang sering tayang di TV.


"Jangan khawatir Om. Nanti, meski kami sudah menikah. Kami akan sering nginap di sini. Numpang makan. Om kan tahu schedule Julian masih penuh sampai akhir tahun. Jadi kami masih akan bekerja sama sampai kerjaan Julian habis. Baru Julian masuk kantor Papa," jelas Julian sambil nyengir.


"Jadi kamu mau berhenti dari modeling?" tanya Gilang sedikit lega.


"Itu perjanjian saya dengan Papa. Jika saya menikah. Saya akan berhenti dari modeling dan mulai membantu Papa dan Kak Jared di kantor. Tapi saya akan lebih menghandle AG Entertainment"


"Bagus kalau begitu. Bantulah Ardi juga jika luang," pinta Gilang.


"Ardi juga?"


"Besok bersamaan dengan pengumuman pernikahan kalian. Om akan mengumumkan kalau Ardi dan Celli adalah penerus Om. Juga pengunduran diri Ardi dari kedokteran. Mulai terjun ke perusahaan."


"Wahhh besok akan ada banyak kejutan sepertinya."


Kedua orang itu saling melempar senyum. Menatap pada semua orang yang terlihat begitu bahagia.


"Terima kasih sudah mencintai putri Om. Om, Papa yang kurang peka pada keinginannya. Tapi kamu, bisa menerimanya dengan lapang dada. Mencintainya dengan setulus hati. Jaga putri Om. Bahagiakan dia. Buat dia tersenyum selalu."


Satu kalimat panjang dari Gilang membuat Julian bertekad untuk memberikan yang terbaik untuk Celli.

__ADS_1


****


__ADS_2