
"Apa sih senyum-senyum mulu dari tadi," gerutu Celli.
Gadis itu begitu sebal pada Julian yang tengah diriasnya. Pria itu sejak tadi hanya mengulum senyumnya. Juga memasang wajah manis padanya. Jangan lupakan tatapan mata Julian yang kini Celli rasakan benar-benar bisa menghipnotis dirinya.
"Aku sedang senang," bisik Julian lirih.
"Senang bisa nyita hapeku. Senang bisa nggagalin aku ikut Vlive. Nyebelin!"
"Lebih dari itu," kata pria itu lagi.
Celli memutar matanya jengah. Memutar badannya untuk mengambil eye shadow lalu berbalik lagi.
"Bajumu...," guman Celli.
Julian hanya diam memperhatikan Celli yang bekerja. Hair do sudah selesai. Celli tinggal merapikannya.
"Merem," perintah Celli. Namun pria itu malah tersenyum sambil menatapnya.
"Julian....," desis Celli.
"Iya-iya," Celli memajukan duduknya. Dia lebih suka duduk saat merias Julian. Tinggi Julian yang lumayan gap dengan tingginya, terkadang membuat lehernya sakit jika harus menunduk terlalu lama. Alhasil dia lebih senang duduk meski terkadang posisi mereka jadi begitu intim. Tapi bodo amatlah. Yang penting dia merasa nyaman.
"Siap," ucap Celli usai mengoleskan liptick matte pada bibir Julian. Celli langsung berdiri merapikan rambut Julian. Mengacaknya sedikit menimbulkan efek berantakan yang membuat tampilan Julian makin eehheemmm.
"Kau memang paling tahu yang aku mau," puji Julian.
Celli hanya tersenyum mendengar pujian Julian.
"Cepat ganti baju," pinta Celli. Kali ini tanpa banyak drama pria itu menurut.
"Coba tiap hari begini. Kan aku tidak darah tinggi dibuatnya," gumam Celli. Karena biasanya Julian akan membuat banyak drama untuknya. Inilah, itulah. Dan baru berhenti jika suara Celli sudah naik satu oktaf. Baru pria itu akan berhenti mengerjai Celli.
***
"La van-nya kemana? Rusak ya?" tanya Celli ketika mereka keluar dari venue pemotretan.
"Enak saja rusak. Tiap libur tu van difull service tahu sama mang Dadang," Roy berseloroh.
"La terus kita pulangnya naik apa? Naik bus?" tanya Celli.
"Enak aja. Keren-keren gini naik bis. Naik tu...," Roy menunjuk sebuah mobil Audi R8 milik Julian yang terparkir di satu sudut tempat parkir.
Kredit Pinterest.com
"Mau naik ini pulangnya?" tanya Celli melongo.
"Kamu yang pulang naik itu. Aku mah itu," Roy menunjuk sebuah TRD Sportivo disamping mobil Julian.
"Tumben pada naik mobil sendiri-sendiri. Biasanya juga naik van. Ada acara apa nih?" tanya Celli.
"Ayo pergi," ajak Julian dari arah belakang. Menerima kunci dari Roy.
"Pada mau kencan," jawab Julian lagi.
__ADS_1
"Kencan? Siapa yang mau kencan?" tanya Celli.
"Kitalah...," balas Roy.
"Bertiga? Yang bener aja," Celli berucap tidak percaya.
"Siapa juga yang mau gangguin acara kalian. Gue juga punya kencan sendiri tahu," seloroh Roy berjalan masuk ke mobilnya. Melambaikan tangannya saat mobilnya melintas di depan Celli.
"Semoga sukses acaranya," teriak Roy.
"Acara apa sih?" tanya Celli bingung.
"Ayo berangkat," ajak Julian.
"Kemana?"
"Pulanglah."
Celli ber-ooo ria. Lantas mengikuti langkah Julian. Masuk ke mobil pria itu. Lantas tanpa banyak kata. Mengikut kemana pria itu akan membawanya "pulang"
"Kau lupa mau pulang kemana?" tanya Julian. Ketika mobil mereka sudah melandas cukup lama.
"Apartement kan?" tanya Celli santai sambil memainkan ponselnya setelah berhasil memintanya kembali dari Julian.
"Roy kencan sama siapa?" Celli kepo.
"Wei Ning...."
"Apa? Kamu serius? Sejak kapan mereka jadian?"
"Nggak," Celli menjawab cepat. Sebab dia tidak ingin mengingat waktu itu yang dia nekat masuk ke tempat itu. Gara-gara cemburu.
"Nggak ingat? Perlu diingatkan?" goda Julian.
"Nggak..nggak perlu. Eehh ini jalan pulang...bukan ke apartement. Ini jalan pulang ke...Mau dibawa kemana aku?" tanya Celli.
"Pulang. Alamat tepatnya mana? Aku tidak tahu. Julian berkata lagi.
"Tunggu dulu..aku tidak bilang sekarang."
"Sekarang atau nanti sama saja Cell. Mending dihadapi saja. Langsung ketahuan hasilnya."
"Tapi...."
"Takut? Ada aku jangan khawatir. Setidaknya mereka tahu aku, jika mereka mengusirmu," kata Julian menenangkan.
"Tapi...."
"Jangan takut," bujuk Julian sambil menggenggam tangan Celli yang gemetar saking cemasnya. Juga tatapan Julian yang penuh keyakinan. Membuat Celli hanya bisa menarik nafasnya pelan. Lalu mengangguk.
"Jadi masih ingatkan jalan pulang?" tanya Julian.
Celli lagi-lagi mengangguk.
****
__ADS_1
"Siapa sih Ar yang mau datang?" Tanya Mela, ibu Ardi yang tak lain adalah ibu Celli juga.
"Anakmu pulang Ma...." balas Ardi.
Mela langsung terdiam. Mulutnya langsung tercekat.
"Kamu nggak bohong kan, Ar?" tanya Mela berkaca-kaca.
"Tentu saja enggak. Dia sudah otewe ke sini. Langsung dari kerjaaan. Sama seseorang yang spesial," bisik Ardi.
"Beneran?" tanya Mela lagi.
"Nggak percaya mulu perasaan. Nanti lihat saja sendiri. Terus jangan pingsan lihat siapa temannya Celli," pesan Ardi.
"Emang siapa temannya Celli. Anak berandalan lagi?"
"Enggaklah. Kalau berandalan nanti auto ditolak papa. Sudah ah...Papa mana?" tanya Ardi karena poin pentingnya adalah sang papa.
"Masih mandi. Oh ya ini makanannya ada yang kurang nggak. Apa perlu ditambahin apa gitu."
"Tambahain aja kopi siapa tahu ada yang darah tinggi," seloroh Ardi.
"Iishhh kamu ini ditanya betul-betul kok malah njawab sembarangan."
"Ini betulan Ma..tahu sendiri kan tu anak ma bapak sama-sama keras. Siapa tahu masih pada gengsian."
"Nggak kok Ar..papamu sudah ngalah jika Celli tetap ingin jadi apa itu..tukang ngerias orang."
"MUA Ma, MUA...jangan salah, ngerias orang model Celli bayarannya gedhe. Nggak kaya yang disalon-salon itu.Tarifnya beda."
"Terserahlah."
"Ya sudahlah. Aku mau ke depan. Siapa tahu sudah nyampai tu orang."
Ardi pergi ke depan rumah. Meninggalkan sang Mama yang tersenyum sendiri mengingat sang putri akan pulang.
"Ada apa?" tanya pak Gilang, ayah Celli. Heran melihat sang istri senyum-senyum sendiri di meja makan.
"Anakmu pulang hari ini," jawab Mela sumringah.
"Yang benar?" pak Gilang berkata tidak percaya.
"Iya. Ardi sendiri yang bilang. Masak dia bohong."
Gilang ikut tersenyum. Mendengar putri semata wayangnya akan pulang. Lenyap sudah rasa rindu yang selama enam bulan ini memenuhi relung hatinya.
"Pokoknya nanti bapak diam saja. Biar ibu yang bicara. Kalau bapak yang bicara nanti Celli kabur lagi." Mela memperingatkan sang suami.
"Iya...pokoknya bapak nanti akan diam." Jawab Gilang pasrah. Dia cukup tahu diri. Jika selama ini dia terlalu keras pada sang putri. Sering membedakan Celli dan Ardi. Tapi perkataan Ardi malam itu membuat mata Gilang terbuka.
"Kenapa Papa bisa mengizinkanku memenuhi passionku di dunia kedokteran tapi Celli tidak boleh. Apa karena kami laki-laki dan perempuan? Apa karena aku penerus perusahaan dan Celli tidak? Itu tidak adil untuk kami Pa...Aku kadang merasa bersalah pada Celli. Dia putri papa satu-satunya. Tapi dia hidup sendirian di luar sana. Papa mengambil semua fasilitas yang Celli punya. Apa Papa tidak keterlaluan?"
Satu kalimat panjang dari Ardi, sang putra sulung. Membuat Gilang membuka matanya. Betapa dia telah bersikap tidak adil pada putri tersayangnya. Gilang mengakui Celli-lah yang paling dia sayangi diantara dua anaknya. Tapi sikap keras kepala Celli, yang sebenarnya diturunkan langsung darinya membuat pria itu lupa. Bahwa Celli juga punya keinginan dan passion didalam dirinya.
"Papa berjanji akan membuatmu tersenyum Nak. Papa berjanji," tekad Gilang dalam hati. Apapun keinginan sang putri dia akan menurutinya.
__ADS_1
****