
Hari berganti dan rutinitas Julian kembali seperti sedia kala. Schedule-nya tidak berubah sama sekali. Hanya dijadwalkan ulang karena semua pemotretan dan shooting iklan semua dia pending. Rumor yang kemarin beredar sama sekali tidak berimbas pada tawaran yang datang pada Julian.
"Panasnya," keluh Celli, sambil merendam kakinya di kolam yang berada di samping gedung pemotretan.
Dia baru saja mentouch up make up Julian. Pria itu akan menyelesaikan sesi terakhir pemotretan hari ini. Dan konsep hari ini adalah couple.
Bukan couple dengan Liu. Tapi dengan seorang model wanita. Mengiklankan desain terbaru untuk jaket musim dingin yang akan segera tiba.
"Sok kecentilan. Kecakepan," maki Celli melihat betapa menyebalkannya model yang menjadi partner Julian.Terlihat sekali jika model itu berusaha menarik perhatian Julian. Padahal Julian sudah memasang wajah datar sejak awal pemotretan.
Tiiiingg,
Satu pesan masuk,
^^^"Sibuk tidak?"^^^
"Baru mau selesai. Satu take lagi."
^^^"Jalan yuk. Gue bete."^^^
"Boleh. Gue juga lagi bete nih."
^^^"Oke. See you. Aku tunggu di tempat biasa."^^^
Celli langsung sumringah setelah berbalas pesan dengan Wei Ning.
"Chattingan sama siapa? Happy amat," tanya Julian tiba-tiba.
"Julian!" pekik Celli.
Pria itu sengaja mencipratkan air ke wajah Celli. Membuat Celli yang sudah badmood dengan Julian semakin bertambah jelek mood-nya. Mendengar teriakan Celli, Julian bukannya berhenti. Dia malah semakin getol menggoda Celli.
"Julian...stop!" teriak Celli untuk kesekian kalinya. Hingga akhirnya dengan memiringkan wajahnya sambil tersenyum. Pria itu menggunakan dua jarinya untuk menyentilkan air ke wajah Celli diiringi bunyi "pufffttt" khas suara orang menembak.
"Kenapa kau begitu menyebalkan hari ini?" Celli berucap sambil berdiri dari kolam. Tempat dia merendam kakinya, meninggalkan Julian yang buru-buru menyusul sambil menenteng flat shoes milik Celli.
"Mood swing amat hari ini. Lagi PMS ya," ledek Julian begitu masuk ke van mereka.
"Lagi pengen makan orang," jawab Celli ketus.
"Wwuuhiihh siapa tu yang bakal jadi korban Sumanto versi cewek," celetuk Roy yang duduk di depan Celli.
"Gue rela jadi korbannya kalau Sumantinya model begini," balas Julian.
"Sumanti?"
"Sumanto versi cewek katamu."
Dan tawa dua pria itu langsung meledak di van yang sudah melandas di jalan raya. Hanya Celli yang terlihat manyun.
"Ini langsung pulang atau kemana dulu ya?" tanya pak Dadang supir setia mereka.
Celli yang baru saja selesai membalas pesan Wei Ning. Meminta berhenti di kafe Blue Sky yang memang mereka lewati.
"Mau ngapain?" tanya Julian.
"Nongki ma cuci mata," jawab Celli masih memainkan ponselnya.
"Sama siapa?" tanya Roy.
"Rahasia," jawab Celli santai.
__ADS_1
Roy dan Julian saling pandang penuh kode.
"Terima kasih mang Dadang," pamit Celli pada supir vannya. Bukan pada Julian dan Roy.
"Dia ngafe sama siapa Pak?" tanya Roy.
Tidak bisa dipungkiri. Mang Dadanglah yang lebih banyak tahu soal Celli karena gadis itu malah sering bercerita ke mang Dadang sambil menunggu bosnya kelar pemotretan.
"Kayaknya sama Non Wei Ning. Dari kemarin chattingan berdua terus mereka."
Kembali Julian dan Roy saling pandang.
"Balik aja dulu."
Roy mengangguk.
***
"Blue Sky punya klub di lantai dua. Dan agak rawan di sana," info Roy ketika keduanya sudah mandi dan berganti pakaian.
"Kau sudah hubungi Bram?" tanya Julian.
"Sudah. Dia bilang belum melihat Celli dan Wei Ning masuk," jawab Roy sambil menekan pedal gas. Membuat Audi R8 milik Julian langsung melandas di jalan raya.
"Apa mereka sering ke klub?" Roy yang bertanya.
"Yang aku tahu mereka cuma ngemall sama nonton. Blue Sky memang sering mereka kunjungi tapi siang hari kan aman," jawab Julian sambil mengulik ponselnya.
Perlu beberapa menit untuk sampai ke Blue Sky. Bram sendiri yang menyambut keduanya.
"Long time no see, Bro," sapa pria berparas lokal itu.
"Siapa mereka?" tanya Bram. Menunjuk ke area dansa di bawah mereka. Mereka berada di ruang VVIP khusus dengan kaca dua arah sebagai dindingnya. Hingga bisa melihat langsung ke hampir 80 persen area klub malam itu.
"Calon istri masa depan," celetuk Roy menatap Julian yang tengah memindai Celli di tengah puluhan orang yang tengah bergoyang di lantai dansa.
"Aku mengawalnya di meja bartender tapi disana sorry aku tidak bisa," ucap Bram menunjuk ke lantai dansa.
"Ini Ardi bisa mencekikku, kalau tahu adiknya datang ke tempat beginian," kata Julian yang akhirnya menemukan Celli dan Wei Ning yang keluar dari lantai dansa. Kembali ke meja mereka.
"Dia adiknya Ardi?"
"Iya," Roy menjawab.
"Apa yang mereka minum?"
"Mocktail, 3 persen."
"Dia bisa ambruk Bram. Celli tidak pernah minum begituan."
"Celli namanya? Cantik," guman Bram yang langsung mendelik ke arah Julian.
"Muji doang Bro...gak berani gue nyentuh dia. Kecuali Irene...ah btw soal Irene. Kemarin ada kolegaku yang melihat dia having fun di Blue Night," info Bram.
"Serius?" tanya Roy.
"Iya gue bahkan minta rekaman CCTV-nya saking tidak percayanya. Masalahnya dia bisa jalan waktu itu," tambah Bram. Info dari Bram membuat Julian menatap Roy serius.
"Kirimkan salinannya," pinta Julian.
"Sure, tapi besok. Malam ini gue sibuk. Ada barang baru yang harus gue coba," Bram berucap sambil menyeringai penuh arti.
__ADS_1
"Sadar Bro..sadar. Sudah berapa tahun elu begini. Nggak kapok apa. Dihajar sama bokapmu waktu itu," Roy berujar.
"Habis nagih sih sob," Cengir Bram.
"Pilih satu bawa ke KUA habis cerita," potong Julian cepat.
"Nanti, kalau gue udah nemu yang klik," jawab Bram lagi.
"Sudahlah. Nasehatin elu memang susah," keluh Roy yang hanya dijawab senyuman oleh Bram.
"Thank's ya," ucap Bram.
"No problem," sahut Roy.
Tiba-tiba Julian melesat keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Bram dan Roy yang hanya menatapnya dari kaca di depan mereka.
"Aku turun dulu. Jangan lupa CCTV-nya. Thank's atas bantuannya," pamit Roy.
"Anytime, Brother," balas Bram.
Julian langsung menerobos kerumunan orang-orang yang berada di klub itu. Masker sudah menutup hampir separuh wajahya. Ditambah suasana klub yang remang-remang. Membuat orang sulit mengenali dirinya.
"Dia datang bersamaku," kata Julian tajam begitu sampai di meja Celli.
Membuat dua pria yang duduk di samping Celli dan Wei Ning langsung menoleh.
"Tapi dia bilang sendirian," kilah pria disamping Wei Ning.
"Astaga mereka sudah mabuk," batin Julian.
"Aku baru datang. Sekarang pergilah. Temanku juga sebentar lagi datang," usir Julian. Tak berapa lama Roy sudah berada di belakang Julian. Membuat dua pria itu langsung pergi dari tempat itu.
"Mabuk?" tanya Roy.
Julian menghela nafasnya. Sambil mengangguk.
"Cell...Celli," Julian memanggil.
"Kamu siapa? Pergi sana. Aku mau happy-happy bareng Wei Ning," usir Celli.
Menatap ke arah Wei Ning yang tampaknya lebih baik keadaannya.
"Kenapa kalian di sini?" tanya Wei Ning.
"Kau tahu siapa aku?" Roy balik bertanya.
"Kau Roy," bisik Wei Ning di telinga Roy.
"Dia masih sadar. Yang itu parah," ledek Roy ke arah Julian. Bisa dipastikan jika Julian akan kewalahan mengurus Celli yang mabuk.
"Hei...hei mau kemana?" tanya Julian melihat Celli yang berdiri lalu masuk kembali ke lantai joget.
"Ha ha...Celli suka lagu ini," celoteh Wei Ning setengah sadar.
Lagu milik Faouziah yang berjudul RIP Love tengah mengalun dengan mix dari sang DJ membuatnya lebih up beat.
"Haisshhh, kenapa dia menjadi menyusahkan begini," gerutu Julian. Ikut masuk ke lautan manusia yang tengah berjoget.
Iyalah. Biasanya kan kamu yang nyusahin Celli.
***
__ADS_1