
Julian masih saja menekuk wajahnya, bahkan ketika pria itu dua kali break dan Celli kembali mentouch up make up-nya.
"Terus-terusin aja marahnya. EGP, emang gue pikirin." Batin Celli cuek.
Benar-benar bayi besar. Digituin aja langsung ngambek. Padahal dia sudah minta maaf juga. Ketika makan siang tiba. Celli mengambil makan siangnya dan makan di tepi pantai. Menjauh dari semua orang. Di telinganya terselip ear phone.
"Mending juga dengerin lagunya si Juki yang baru." Batin Celli lantas memutar playlist di ponselnya yang kebanyakan berisi lagu dari boyband dengan light stick berwarna ungu itu.
Kepala Celli mulai bergerak-gerak mengikuti alunan lagu di telinganya.
"Mana MUA-mu?" tanya Liu.
"Tahu. Ngapain nanyain dia?"
"Busyet dah judes amat lu. Mau minta maaflah katanya kemarin suruh minta maaf. Sekarang pake nanya lagi."
"Nggak usah minta maaf. Orang diperhatikan kok gak paham. Bikin kesel."
"Nah yang merhatiin dia siapa? Elu?"
Julian menggangguk.
"Lian...Lian...kalo cara elu merhatiin dia pakai muke jutek elu, ya mana dia paham. Eitss tunggu...tunggu...elu bilang elu merhatiin dia. Nggak salah dengar gue?"
Upppss keceplosan Julian.
"Bukan...ceritanya begini. Aku cuma membantunya menghubungi Darwis. Bertanya kenapa jerawat dia hari ini malah tambah parah. Eh dia pikir aku bohong padanya," Jelas Julian.
Liu langsung mengerutkan dahinya.
"Kamu tidak sedang tertarik dengan si buruk rupa itu kan?"
"Ah... tentu saja tidak." Sangkal Julian gelagapan. Mendengar jawaban temannya. Liu justru tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Tertarik juga gak apa-apa. Kalian sama-sama single."
"Tapi Irene...."
"Elu tu gak cinta sama Irene. Sudah lama rasa cinta untuk Irene itu hilang dari hatimu. Yang elu lakuin ke Irene sekarang hanyalah sekedar tanggung jawab karena rasa bersalahmu. Cinta...no apalagi sejak elu tahu perselingkuhan Irene. Betul tidak?" tanya Liu.
Julian terdiam sejenak. Apa yang dikatakan Liu ada benarnya juga. Tiap kali bertemu Irene hatinya tidak lagi berdebar seperti dulu. Justru sekarang hatinya berdebar kala bersama MUA buruk rupanya. Apalagi tiap kali menatap wajah cantik Celli di sosial media miliknya. Meski statusnya "hiatus sementara".
Makan siang selesai. Julian dan Liu mengganti outfit mereka. Selesai memakai make up mereka, kembali melakukan photoshoot bareng. Kali ini benar-benar di pantainya.
Kredit Instagram @ xuzhibinbin1
Beberapa kali Celli kembali terpana dengan pesona seorang Julian yang tengah berpose di depan kamera.
"Tampan sih, tapi mudah tersinggung." Batin Celli lagi.
Pukul 7 ketika van Julian berhenti di depan apartement Celli. Selama perjalanan pulang itu. Julian lebih memilih tidur. Dia masih kesal dengan Celli. Gadis itu langsung turun. Setelah berpamitan pada Roy dan pak supir.
"Dia benar- benar membuatku tidak terlihat." Gerutu Celli sambil melangkahkan diri masuk ke dalam apartementnya.
"Ah bodo amatlah." Ucap Celli langsung menjatuhkan diri di sofa ruang tengah apartementnya. Lelah sekali rasanya. Bergegas masuk ke kamar mandi. Mandi adalah pilihan yang tepat untuk menghilangkan semua lelah juga semua kekesalan hatinya.
Setelah melucuti semua pakaiannya. Celli mulai mengguyur tubuh seksinya dibawah shower. Cukup lama. Kalau dirumah lamanya sudah dipastikan kalau dia akan menceburkan diri di bath upnya. Tapi sekarang ....yang ada sajalah.
Setelah puas mengguyur tubuhnya. Celli langsung meraih handuk kimononya. Tanpa memakai underwear. Itu kebiasaan Celli kalau dirumah. Keluar kamar langsung merebahkan tubuhnya di ranjang queen sizenya.
Beberapa waktu ini dia akan sedikit bertengkar dengan cermin. Tidak ingin menghiraukan benda itu. Lebih memilih mengacukannya. Tidak perlu waktu lama. Mata Celli mulai terpejam. Tanpa masker. Membuat wajah penuh jerawatnya terlihat jelas.
Sementara Celli mulai masuk ke alam mimpi. Di sisi lain, Julian mulai melambatkan sedan mewahnya ketika mulai memasuki halaman sebuah rumah cukup mewah. Sedan berlogo Audi itu langsung berhenti dan tak lama keluarlah Julian dari dalamnya.
Kedatangan Julian membuat wanita yang sejak tadi memperhatikannya dari atas balkon tersenyum. Lantas berlari ke arah kursi rodanya. Duduk disana dengan manis. Sejenak merapikan rambut juga dress-nya yang sedikit.... seksi malam itu.
__ADS_1
Irene sudah bertekad malam ini Julian harus menjadi miliknya. Dia ingin segera memperoleh status yang jelas dari Julian. Media sudah menganggap Julian single. Karena sejak kecelakaan itu. Irene tidak lagi bisa muncul di media.
Karirnya sebagai model juga hancur seketika, karena kelumpuhan yang dia derita. Meski dia sudah sembuh tapi dia tidak berani memberitahu pada Julian. Selain untuk mengikat pria itu. Irene juga terlalu takut dengan kemarahan Julian.
Kecelakaan itu terjadi ketika Julian marah, karena melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana Irene bergelut panas dengan Mike, salah seorang rekan sesama model Julian. Berusaha menjelaskan kesalahpahaman itu. Irene nekad ikut masuk ke dalam mobil Julian. Dan pertengkaran itu terjadi. Perdebatan hebat itu membuat fokus menyetir Julian hilang. Juga sempat terjadi adegan rebutan kemudi mobil. Membuat mobil Julian oleng dan menabrak besi pembatas jalan.
Dalam kejadian itu. Kaki Irene terhimpit dashboard mobil yang ringsek. Sedangkan serpihan kaca langsung melukai hampir separuh wajah Julian. Dua bulan Julian menghabiskan waktu dirumah sakit. Memulihkan luka diwajahnya dengan serangkaian pengobatan. Namun pria itu menolak untuk melakukan operasi plastik.
Hasilnya wajah Julian pulih 90 persen. Menyisakan satu bekas luka cukup kentara tepat dibawah matanya. Itulah rahasia terbesar Julian. Karenanya sejak saat itu, dia hanya menggunakan Tantenya untuk menjadi MUA-nya. Orang yang dekat dengannya. Juga yang bisa menyimpan rapat rahasianya.
Sedang dengan Celli sekarang. Julian sudah memakai concealar khusus untuk dirinya guna menutupi bekas lukanya itu terlebih dahulu, sebelum Celli merias dirinya.
Julian berhasil sembuh, dia jelas merasa bahagia. Tapi kebahagiaannya tidak berlangsung lama. Ketika dia mengetahui kalau Irene lumpuh akibat kecelakaan itu. Hingga akhirnya satu keputusan terpaksa Julian ambil. Dia akan memenuhi semua kebutuhan hidup Irene demi menebus rasa bersalahnya.
Tanpa Julian sadari. Hampir enam bulan ini. Dia kembali ditipu oleh Irene. Wanita itu sudah bisa berjalan, tanpa memberi tahu Julian. Bahkan kembali menjalin hubungan dengan Mike.
"Kamu sudah datang?" Sapa Irene lemah lembut.
Julian mengangguk sambil tersenyum. Lantas mencium kening Irene. Itulah Julian. Pria yang mungkin akan dianggap kolot untuk zaman sekarang. Pria lempeng tanpa keinginan untuk berbuat lebih dari sekedar berciuman.
Bahkan dengan Irene dulu ketika keduanya masih berstatus pacaran. Pria itu selalu tegas menolak ketika Irene mulai merayu atau menggodanya.
"Bagaimana kabarmu?" Basa basi Julian. Dia sebenarnya malas untuk menemui Irene. Entah kenapa. Bahkan karena Irene lah. Julian dan papanya bersitegang hingga sekarang. Keluarga Julian tidak setuju sejak awal tentang hubungan Julian dan Irene.
"Seperti yang kau lihat" Jawab Irene sendu melihat ke arah kakinya.
Julian menarik nafasnya pelan. Rasa bersalah kembali memenuhi relung hatinya. Jika saja malam itu dia tidak membawa Irene dalam mobilnya mungkin kecelakaan itu tidak akan terjadi.
Ya...jika saja semua bisa diulang kembali. Dia akan memilih tutup mata dengan perselingkuhan Irene. Dan memutuskan hubungan mereka baik-baik. Tapi kenyataannya tidak. Dan kini hanya penyesalan yang tertinggal di hati Julian.
Menatap iba pada wanita yang ada dihadapannya. Karena dialah Irene kehilangan karier dan juga masa depan. Juga kebebasan dalam menikmati dunia. Sungguh ini adalah penyesalan terbesar Julian. Dalam satu malam, dia sudah menghancurkan kehidupan Irene. Wanita yang dulu pernah bertahta dihatinya dan sangat dia cintai.
***
__ADS_1