MUA Buruk Rupa

MUA Buruk Rupa
Kemenangan Julian


__ADS_3

"So?"


"Apa?"


Julian mendengus kesal mendengar ucapan Celli.


"Keputusanku sudah final kau akan tinggal disini!" Ucap Julian penuh tekanan sambil menatap tajam ke arah Celli.


"Tidak mau!" Jawab Celli cepat.


Julian langsung mengukir senyum tipisnya. Dia sudah menduga kalau MUA-nya ini akan menjawab seperti itu.


"Alasan?"


"Aku nyaman disana."


"Lain..."


"Murah...."


"Lagi..."


"Makanan banyak. Ada antar jemputnya." Celli menjawab dengan nafas memburu. Cukup emosi menghadapi bosnya yang satu ini.


"Seumur-umur baru kali ini punya bos yang ngatur banget kehidupan gue." Gerutu Celli.


"Kalau kau pindah ke sini kau juga akan dapat semua itu. Plus kamu bisa istirahat lebih awal."


"Ya nggak mungkin sama. Emangnya aku nggak tahu sewa apartement ini berapa."


"Ini nggak nyewa ya. Ini sudah punya kak May. Aku dan dia masing-masing punya dua unit disini."


"Busyet dah kaya bener ni orang." Batin Celli sambil membulatkan matanya.


"Ya ampun Celli...Celli...jangan udik banget gitu napa? Kaya elu nggak punya aja."


"Aku nggak punya. Yang punya papa gue."


Dua sisi diri Celli kembali bertarung di kepala gadis itu.


"Lalu?"


"Kak May mengizinkanmu tinggal disini. Tempat ini kosong lumayan lama. Kamu tahu kan kak May tinggal sama suaminya sekarang."


Celli mengangguk.


"Tapi aku nggak mungkin tinggal gratis dong."


"Aku tidak tahu. Kak May tadi bilangnya begitu." Jawab Julian mulai hilang kesabarannya. Tinggal bilang iya aja kok susah bener.


Celli diam menatap Julian.


"Tidak mau!"


"Astaga." Julian langsung memejamkan matanya. Kenapa susah sekali membujuk MUA buruk rupa ini. Ah tidak lagi. Dia sudah mulai sembuh. Sudah mulai terlihat cantik.

__ADS_1


"Kau benar tidak mau?" Tanya Julian sambil mendekat ke arah Celli. Kali ini Julian akan menggunakan pesonanya untuk bernegosiasi dengan MUA-nya ini.


"Kenapa kau mendekat?" Tanya Celli gugup karena Julian semakin memojokkan dirinya ke sudut sofa.


"Hanya sekedar testing saja." Jawab Julian santai terus menghimpit tubuh Celli.


"Wait...wait..tunggu...tunggu dulu...ini maksudnya apa?"


Julian tidak menjawab. Pria itu semakin menempelkan tubuhnya di tubuh Celli.


"Tes..tes...apa?" Tanya Celli mulai panik. Pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Celli.


"Tes..kalau begini kau masih menolak tawaranku tidak." Balas Julian menatap mata Celli, lantas menurunkan pandangannya ke bibir Celli. Bibir yang semalam ia curi disaat pemiliknya sedang terlelap. Tidak! Selanjutnya Julian tidak akan menjadi seorang pengecut lagi.


"Kau...kau...mau apa?" tanya Celli. Dua tangannya siap mendorong jauh dada Julian.


Julian tidak menjawab. Pria itu kini siap menyatukan bibirnya lagi ketika dia bisa mendengar jantung Celli yang berdebar saking kencangnya.


"Stop..stop...aku akan pindah. Aku akan pindah." Teriak Celli yang hampir saja tidak terdengar karena ia mengatakan itu ketika bibir Julian sudah menempel di bibirnya.


Julian menghentikan gerakannya. Seulas senyum tipis terukir di bibirnya.


"Tidak berubah pikiran lagi?" tanya Julian. Celli langsung mengangguk cepat. Ingin Julian cepat pergi dari atas tubuhnya.


"Oke aku pegang kata-katamu. Tapi karena ini sudah tanggung jadi diteruskan saja." Ujar Julian dan detik berikutnya pria itu sudah mendaratkan ciumannya di bibir Celli. Membuat gadis itu langsung membulatkan matanya.


Gerakan Julian yang tiba-tiba menciumnya, membuat otak Celli blank seketika. Hingga dia tidak menyadari jika Julian sudah memainkan bibirnya. ******* bibir Celli dengan lembut. Mata Julian bahkan sudah terpejam. Menikmati sensasi ciumannya yang kedua dengan Celli.


Celli yang baru pertama kali berciuman jelas cukup shock dengan kejadian itu. Hingga ketika Julian melepas tautan bibir mereka. Baru Celli tersadar.


Pertanyaan Julian langsung membuat Celli naik pitam. Didorongnya pria tampan yang baru saja mencuri ciuman pertamanya.


"Kau bos kurang ajar. Kau melecehkanku!" teriak Celli.


"Hei, aku tidak melecehkanmu ya. Ingat itu." Jawab Julian sambil menangkap tangan ramping Celli yang sejak tadi memukuli dadanya.


"Lalu itu tadi apa namanya. Kau...kau...brengsek! Aku mau berhenti. Aku tidak mau jadi MUA mu lagi!"


"Kau berhenti sekarang dan bayar dendamu 10 kali lipat dari gaji bulananmu." Jawab Julian tegas. Dia cukup terkejut ketika Celli berani mengatakan akan berhenti.


Mendengar ucapan Julian. Celli langsung menghentikan pukulannya pada dada bosnya itu.


"Kau gila ya?"


"Tidak! Aku serius. Berhenti sekarang dan hitung sendiri dendanya."


Hening sejenak. Tubuh Celli lemas seketika. Untungnya dua tangannya masih berada dalam cekalan tangan Julian. Hingga ketika tubuhnya hampir ambruk, Julian sigap menahan pinggang ramping gadis itu.


"Sepuluh kali lipat? Duit siapa yang akan dia gunakan untuk membayar denda. Tabungannya jelas tidak cukup. Minta kak Ardi jelas tidak mungkin." Celli cepat berpikir.


"Dengar Celli. Aku hanya ingin kau tinggal disini. Kau lebih dekat dengan kantor. Kau lebih denganku dan Roy. Scheduleku sering berubah seperti angin yang bertiup tidak jelas. Dengan begitu akan lebih mudah bagimu ketika aku memerlukan dirimu."


Jelas Julian sambil menatap dua bola mata Celli. Gadis itu terdiam.


"Kau membuat kami khawatir tiap kali membiarkanmu pulang ke apartemen lamamu."

__ADS_1


Lagi Celli terdiam. Membiarkan ucapan Julian menghujani dirinya seperti pencerahan yang datang pada gadis itu.


"Pindahlah ke sini. Dan jangan pikirkan omongan orang."


Ya, omongan orang menjadi salah satu pertimbangan Celli. Dia tidak ingin orang menganggap dirinya jual diri atau apalah. Karena bisa tinggal diapartemen mewah, satu gedung dengan model sekelas Julian hanya bekerja belum genap dua bulan dengan pria itu.


"Pindah ya...Oke?" bujuk Julian.


Entah sihir apa yang Julian pakai. Detik berikutnya Celli menganggukkan kepala. Senyum Julian langsung mengembang sempurna diwajahnya. Celli seketika terpesona. Senyum yang biasanya diperuntukkan untuk kamera dan jutaan orang di luar sana. Tapi kali ini. Celli bisa menikmati senyum itu sendiri. Seolah senyum itu hanya untuk dirinya.


"Juga ciuman tadi..aku tidak bermaksud melecehkanmu. Karena aku memang ingin menciummu." Bisik Julian di telinga Celli. Lantas melepas pegangan tangannya pada pinggang Celli.


Detik berikutnya Julian berlalu dari hadapan Celli. Setelah membisikkan sesuatu pada Celli.


"Pria brengsek! Kurang ajar! Mesum!" Teriak Celli.


Sementara Julian tersenyum tipis sambil mengusap bibirnya sendiri.


"Aku pikir mulai ketagihan pada bibirnya." Batin Julian tidak menghiraukan teriakan Celli.


"Oh iya..besok Roy akan mengantarmu mengambil baju di apartemen lamamu. Ingat bawa bajumu saja. Kalau aku yang mengantar nanti heboh." Pamit Julian sebelum menutup pintu.


"Sialan!"


Celli terus mengumpat tiada henti.


"Aku menyukai bibirmu. Rasanya manis dan lembut."


Blush, wajah Celli langsung merona merah. Mengingat bisikan Julian di telinganya.


"Dia pasti hanya sedang mempermainkanku. Dasar playboy cap naga." Maki Celli dalam hati.


Dia pikir kenapa juga Julian menciumnya. Jika bukan untuk membuat dirinya mengikuti perintahnya.


"Ahh pintar sekali dia menggunakan wajah dan tubuhnya. Bodohnya aku bisa tertipu olehnya."


Gerutu Celli sambil mengusap bibirnya kasar. Menghilangkan bekas ciuman Julian. Huweekkk, bekas bibir berapa wanita saja itu.


Sedang di lantai atas, setelah menghubungi Roy agar besok mengantar Celli mengambil baju. Julian langsung merebahkan diri di kasur king size miliknya. Bibirnya tidak henti menyunggingkan senyum.


Dia pikir kapan terakhir kali dia merasa begitu bahagia. Melirik ke arah kirinya. Dimana seluruh trophy kemenangannya terpajang di sana. Bahkan aku tidak sebahagia ini ketika aku menerima penghargaan sebagai model paling populer tiga tahun terakhir ini.


"Dia bahkan belum pulih sepenuhnya. Masih buruk rupa tapi begitu saja sudah membuatku bahagia." Batin Julian kembali menatap foto Celli di layar ponselnya.



"Ahh lama-lama dia bisa membuatku gila!"


Kembali satu senyum mengembang di bibir Julian.



Kredit Insagram @ xuzhibinbin1


***

__ADS_1


__ADS_2