MUA Buruk Rupa

MUA Buruk Rupa
Langganan Spot Jantung


__ADS_3

"Bagaimana bisa tahu soal diriku?" tanya Ardi sambil berjalan keluar dari butik LV.


Dan pemandangan itu tidak sengaja dilihat Mia, yang baru keluar dari outlet sepatu Jimmy Choo di seberangnya. Jiwa keponya seketika meronta.


"Soal apa?" Shania balik bertanya.


"Aku punya profesi lain."


"Memangnya itu benar?"


"Maksudmu?"


"Aku hanya mengarang cerita untuk membalas mantan menyebalkanmu itu," sahut Shania.


"Aku kira kau tahu siapa aku," Ardi membalas.


"Memangnya siapa dirimu. Yang aku tahu kau dokter bedah umum."


"Kamu tidak malu punya pacar seperti aku?"


"Malu? Pacar ganteng. Tinggi. Punya kerjaan jelas kok harus malu."


"Kan aku cuma dokter bedah."


"Dokter bedah sekolahnya biayanya banyak. Lebih banyak dari pendidikan secapaku yang gratis tis, tis," seloroh Shania.


"Beneran nggak malu?"


"Nggaklah. Nggak percaya amat."


Ardi tersenyum mendengar jawaban Shania. Dia pikir kali ini tidak salah memilih wanita.


"Celli telepon katanya ada di toko perhiasan di lantai 5. Mau ikut melihat-lihat ke sana?" tanya Ardi.


"Memang boleh?"


"Boleh. Beli juga boleh," sahut Ardi manis.


Entah kenapa dalam sekejab hubungan keduanya berubah menjadi romantis dan manis. Bahkan Shania tidak lagi ragu untuk bergelayut manja di lengan kekar Ardi.


"Oh ya, basic bela dirimu apa?" tanya Shania masih penasaran dengan kekalahannya waktu itu.


"Kenapa? Masih kepo kenapa bisa kalah dariku?" Ardi bertanya. Menatap Shania yang baginya terlihat cantik dengan mengikat sebagian rambutnya dan membiarkan yang lainnya tergerai.


"Iya. Biasanya aku tidak pernah kalah."


"Itu karena mereka yang mengalah. Tapi aku tidak mau mengalah. Apalagi padamu. Sudah ditolong kok masih ngajak duel."


"Itu..itu...."


"Kau ini Sarjana Hukum. Kau tahu benar tindakanku diperbolehkan dalam kondisi darurat. Dan kondisimu darurat. Kau tahu itu. Kau hanya tidak terima aku menyentuh asetmu. Betul tidak?"


Glek,


Shania tidak bisa mengelak lagi karena yang diucapkan Ardi benar semua.


"Mengaku?" todong Ardi melihat sang kekasih hanya diam. Tidak mampu menjawab.


"Iya..iya"


"Iya, yang mana?" desak Ardi.


"Itu semua," Shania manyun seketika.

__ADS_1


"Semualah. Ihh menyebalkan," Shania berlari meninggalkan Ardi yang tertawa. Melihat Shania yang tidak berkutik menjawab pertanyaannya.


***


Mia melongo, melihat rumah yang berada di alamat bio milik Ardi, yang dia minta dari bagian administrasi. Rumah itu terlihat megah dan mewah. Sungguh dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


Dulu dia tidak pernah mau diajak Ardi untuk berkunjung ke rumahnya. Sebab Mia yakin, rumah Ardi pasti hanyalah apartemen biasa. Tapi jika Ardi benar tinggal disini. Berarti dia salah besar selama ini.


Dan lamunan Mia buyar ketika sebuah mobil masuk ke dalam rumah itu. Mobil yang dikendarai oleh Ardi sendiri. Sekilas dilihatnya Ardi dan Celli turun dari mobil itu. Membuat perasaan Mia semakin tidak karuan. Siapa sebenarnya Ardi dan Celli.


Bahkan berita kedekatan dua orang ini dengan pasangan masing-masing, mulai hangat diperbincangkan di media sosial. Mia semakin dibuat semakin kesal saja. Sama dengan Irene yang hampir saja membanting ponselnya.


"Sial! Bagaimana bisa dia justru akan menikah dengan MUA buruk rupa itu?" Irene berteriak sambil membanting semua barang yang ada di dalam kamarnya.


"Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Aku tidak mau hidup susah. Julian harus menikahiku. Bukan wanita lain!" tekad Irene.


"Kita lihat saja besok. Apa kau masih punya nyali untuk mengumumkan pernikahan kalian ke media," kata Irene penuh percaya diri.


***


"Bos..bos...tornado datang!" Roy berteriak dari arah pintu.


Membuat Celli yang tengah merapikan rambut Julian, tanpa sengaja menarik rambut pria itu.


"Celli...," desis Julian.


"Sorry kejenggit lagi. Habisnya Kak Roy ngagetin sih," jawab Celli santai tanpa rasa bersalah.


"Ada apa sih Roy?"


"Tornado datang."


"Dimana memangnya dia?" Julian bertanya santai.


"Masih di parkiran."


"Siap Bos."


"Siapa sih tornado sebenarnya?" guman Celli lirih.


"Nanti kamu juga tahu."


***


Celli tampak memicingkan mata melihat beberapa foto yang berada di atas meja. Dia sedang berada di sebuah restoran bersama Irene. Wanita itu meminta untuk bicara berdua dengannya. Setelah kemarin, Irene dan Julian berbicara di dalam ruang make up untuk waktu yang lumayan lama. Dan berakhir dengan Irene yang keluar dengan wajah kesal.


"Apa kau percaya sekarang?" tanya Irene sambil tersenyum. Dia yakin kalau Celli hanyalah gadis kemarin sore yang mudah untuk ditipu dan di pengaruhi otaknya.


Irene tidak tahu saja. Pergaulan Celli dengan sesama MUA, memberinya banyak pengetahuan dan wawasan soal sisi gelap dunia hiburan. Mereka sering bertukar cerita soal kejadian yang terjadi di balik layar dunia hiburan. Tapi itu hanya untuk pengetahuan sendiri. Bukan untuk dipublikasikan. Yang dipublikasikan itu terserah.


Jadi ketika Irene mulai mengeluarkan bukti-bukti yang mengatakan kalau Julian dan Irene pernah tidur bersama. Otak Celli tidak langsung menerimanya.


"Soal apa?" tanya Celli balik. Gadis itu hanya melirik sekilas foto diatas meja tanpa minat.


"Aku dan Julian sering tidur bersama," sahut Irene percaya diri.


"Kapan ya?"


"Terakhir dua minggu yang lalu." Jawab Irene lancar.


"Yakin itu dengan Julian? Bukan dengan orang lain," ledek Celli.


"Kau...kau tidak lihat. Dia terlihat begitu menggoda disana," Irene mulai mempengaruhi Celli.

__ADS_1


"Iya dia menggoda. Sepertinya enak sekali," balas Celli.


"Tentu saja dia selalu ketagihan. Kau tahu kan. Dia selalu mau lagi dan lagi," bisik Irene.


"Huweekkk." Rasa hati Celli ingin muntah. Mendengar kalimat yang terdengar begitu menjijikkan di telinganya.


"Tapi sayangnya aku meragukan kemampuanmu di atas ranjang. Maksudku, dengan kakimu yang lumpuh apa kau mampu memuaskan Julian yang aku tahu bisa betah berjam-jam."


"Kau akan merasakannya sebentar lagi, Baby." Satu suara terdengar di telinga Celli.


"Kakiku boleh lumpuh. Tapi lain tidak." Irene berucap terbata. Dia hampir memberi clue kalau dia bisa berjalan.


"Atau kakimu tiba-tiba sembuh jika sudah berada di atas kasur, begitu?" jebak Celli.


"Mana ada?" Irene seketika gelagapan.


"Oh aku kira seperti itu. Tapi ngomong-ngomong terima kasih sudah diberitahu betapa brengseknya dia. Jika tidak aku mungkin aku tertipu olehnya."


Senyum Irene langsung mengembang. Dia sangat yakin jika Celli sudah masuk jebakannya.


"Jadi apa kau akan membatalkan pernikahan kalian." Irene bertanya penuh harap.


"Buat apa dibatalkan?"


"Kau bilang terima kasih sudah memberitahu betapa brengseknya dia."


"Dia yang kumaksud bukan Julian. Tapi pria yang tidur denganmu."


"Dia Julian. Jelas dia Julian."


"Mbaknya, kalau ngedit yang bener dong. Situ jadi pacar Julian berapa tahun. Nggak tahu apa kalau body Julian mulus. Nggak ada tattonya sama sekali" Celli menunjukkan satu foto dimana terlihat jelas, si pria yang full naked punya tatoo tengkorak cukup jelas di punggungnya.


"Ahh Mike sialan!" maki Irene sejadi-jadinya dalam hatinya.


Sementara diujung sana. Tiga orang pria langsung tertawa terbahak-bahak.


"Adikmu hebat sekali!" puji Roy.


"Itu yang ngedit muka gue jelek bener," keluh Julian. Harga dirinya terasa terinjak-injak.


Yang lain seolah tidak peduli dengan keluhan Julian.


"Hei...bu Kapolres boleh tidak aku melaporkan ini sebagai tindakan tidak menyenangkan dan meresahkan," tanya Julian sambil melempar pulpen ke depan Shania.


"Sopan dikit dong."


"Makanya dijawab."


"Bisa saja. Tapi buang-buang waktu saja. Ada cara menghukum yang lebih efektif dari jerat penjara."


"Apa itu?" tanya tiga pria itu bersamaan.


"Tunggu setelah malam ini," jawab Shania dengan seringai misterius.


"Ar...lama-lama calon istrimu menakutkan deh." Julian berucap.


"Tidak apa-apa. Menakutkan di luar. Tapi memabukkan di ranjang," seloroh Ardi yang hanya dijawab helaan nafas oleh Shania.


"Operasi malam ini siap?" tanya Shane yang tiba-tiba masuk.


"Siap Kapt!" jawab Shania tegas sambil memberi hormat pada sang kakak.


Ketiga pria itu kompak melongo. Hampir terlonjak bersamaan mendengar jawaban tegas Shania.

__ADS_1


"Busyet dah. Gini amat punya saudara militer. Langganan spot jantung kalau begini ceritanya." Batin Ardi, Julian dan Roy bersamaan.


****


__ADS_2