
"Lama sekali," gerutu Ardi yang melihat mobil Julian masuk ke halaman rumahnya.
Julian sendiri sedikit terkejut melihat rumah mewah keluarga Celli.
"Aku tahu Bagaskara Grup cukup kaya tapi tidak menyangka jika rumah mereka sangat mewah," batin Julian.
Kredit Pinterest.com
"Lama amiir," ucap Ardi judes.
"Lupa jalan pulang Kak," cengir Celli.
"Baru juga 6 bulan nggak pulang. Sudah lupa jalan aja," gerutu Ardi.
"Selamat malam," sapa Julian di belakang Celli.
"Terima kasih sudah nganterin dia pulang," kata Ardi.
"Eehh kalian sudah saling kenal?"
"Dia kakak kelasku," jelas Ardi.
"Oooo," Celli ber-ooo ria.
"Sedikit oleh-oleh," tukas Julian mengulurkan empat paperbag kepada Ardi.
"Ehhh, anak orang kaya masih tahu adab juga." Ejek Ardi.
"Ngeledek kan," balas Julian.
"Nggak ah. Ayo masuk. Hakim ketua sudah nunggu," ajak Ardi masuk ke rumah sambil berteriak memanggil sang Mama.
Celli langsung menoleh ke arah Julian yang langsung tersenyum. Meyakinkan Celli kalau semua baik-baik saja.
"Mana mereka?" tanya Mela setelah menerima paperbag dari Julian.
"Mama jangan pingsan ya lihat calon mantu mama," Ardi berucap penuh seringai jahil.
"Maksudmu?"
"Tu....."
Mata Mela langsung membulat melihat siapa yang ikut masuk bersama sang putri.
"Ju..Julian Argantara," bisik Mela shock, sampai memundurkan langkahnya. Sedang sang Papa langsung menatap tajam pada Julian yang berani menggenggam tangan putri kesayangannya.
***
Kelimanya duduk dalam diam. Saling memandang satu sama lain. Tadinya Mela yang akan berbicara tapi sekarang dia malah kicep seketika. Melihat Julian yang duduk di sebelah Celli. Pria itu terlihat tampan luar biasa di mata Mela. Memakai kemeja putih dengan celana hitam. Sederhana tapi damage-nya luar biasa.
"Jadi maksudmu ikut datang kemari apa?" tanya Gilang tajam. Yang langsung mendapat tatapan tajam dari Celli, Ardi dan Mella.
Julian tersenyum. Teringat ucapan Jared soal ayah Celli yang mungkin akan membuat drama untuknya.
"Papa...," desis Celli.
"Saya mengantarnya pulang. Sekaligus memperkenalkan diri sebagai kekasih putri Anda. Dan mungkin calon suami Celli," jawab Julian santai.
"Calon suami? Siapa kamu?" tanya Gilang.
"Mama mah payah. Tadi katanya dia yang mau ngomong. Papa yang disuruh diam. Eh ini dia malah cengo nggak bisa ngomong," gerutu Gilang dalam hati.
"Saya Julian Argantara."
__ADS_1
"Pekerjaan...."
"Sekarang model."
"Model? Bagaimana seorang model bisa menghidupi Celli?" tanya Gilang ragu.
"Papa jangan salah. Model pun asetnya nggak kalah dengan Papa," sahut Ardi cepat.
Julian tersenyum menatap ke arah Ardi. Berterima kasih karena adik kelasnya itu mendukung dirinya.
"Tapi bukankah pekerjaaan itu beresiko."
"Pa...Julian ini bosnya Celli, Celli kemana-mana selalu ikut. Kecuali kamar mandi dan kamar ganti," jawab Celli enteng. Semua langsung mendelik mendengar jawaban Celli.
"Berarti kamar dia kamu sering masuk?"
"Seringlah. Orang kalau make up sering di kamar."
Gubrak!!
Mela dan Gilang saling pandang.
"Cuma make up doang kok Om, Tante nggak lebih," Julian menegaskan.
"Cuma sesekali berciuman dan kadang suka tidur bareng." Batin Julian dan Celli bersamaan ketika keduanya saling menatap.
"Bohong lu berdua. Sekelas Julian pacaran tanpa ciuman. Impossible," batin Ardi.
"Beneran? Anak saya masih utuh?" Mela bersuara kali ini.
"Beneran Tante. Kalau nggak percaya bisa dicek masih perawan atau nggak."
Dan satu keplakan langsung mendarat di lengan Julian.
"Sembarang kalau ngomong," desis Celli.
"Oke-oke kita bicarakan itu nanti. Makan dulu saja. Nanti kita lanjut lagi," ajak Gilang.
"Syukur deh ada yang tahu aku kelaparan," batin Julian.
"Celli naik mau ganti baju. Sama reunian sama Juki."
"Eittss, di kamar kamu ada Juki?"
"Ada segede pintu," seloroh Ardi.
"Buang nggak!"
"Idih enggak!"
Celli langsung melesat naik ke arah lift.
"Mari nak Julian," ajak Mela.
"Santai saja bro. Ntar juga dibuang sendiri si Juki, kalau kalian sudah nikah"
"Siapa yang ACC pernikahan kalian?" Gilang menyela.
"Otewe Om, otewe," ucap Julian sambil nyengir. Membuat Gilang tersenyum.
"Percaya diri sekali kau ingin mendapatkan Celli."
Mereka sudah duduk di meja makan hampir sepuluh menit. Ketika Celli terburu-buru berlari ke arah meja makan.
"Elu ngapain dulu sama si Juki?"
__ADS_1
"Biasalah melepas rindu. Sama si Ncim juga."
"Padahal tiap malam juga melototin muka mereka," ledek Julian.
"Kamu tahu?"
Julian mengangguk.
"Sampai hape aku disita sama dia," gerutu Celli.
"Dan dia nurut?"
"Nggak nurut ya tak potong bonusnya. Bisa apa dia?" Seringai jahat muncul di wajah Julian.
"Benar dimana-mana bos itu pasti selalu menang."
"Sudah ayo makan dulu."
Celli menatap meja makan. Makan malam full menu. Sejenak lalu menatap Julian. Pria itu tersenyum. Menyiratkan tidak apa-apa. Celli tahu Julian tidak menyantap karbohidrat untuk makan malamnya. Tapi malam ini pria itu berujar tidak apa-apa.
Dan makan malam itu pun berlangsung khidmat. Namun suasana terasa berbeda. Ada tatapan penuh bahagia dalam mata Gilang dan Mela. Putri mereka pulang. Itu yang penting.
"Nggak apa-apa makan nasi?" bisik Celli.
"Ya, nanti harus ngegym. Atau kamu bisa membantu membakar kalorinya," goda Julian.
"Caranya"
"Berikan aku ciuman selama 10 menit dan kalori nasi tadi akan hilang."
"Itu mah modusmu."
"Tidak percaya? Bisa dicek di G**gle. Mau lebih cepat dengan bercin...ta," bisik Julian. Dan sebuah cubitan langsung mendarat di perut sickpack Julian.
"Busyet sakit, Non," rintih Julian.
"Makanya ngomong yang bener."
"Itu sudah bener banget, Baby," kaga Julian. Mengusakkan kepalanya ke lengan Celli yang memakai pakaian rumahan berupa dress panjang berwarna ungu.
Dan interaksi manis keduanya itu menarik perhatian Gilang dan Mela.
"Sepertinya dia bucin banget ke anakmu," ucap Mela.
"Tapi masak secepat itu dia mau nikah. Mana si itu sudah ngomong mau nikahin Celli lagi."
"Ya itulah kalau punya anak perempuan. Kemarin sibuk bertengkar. Sekarang anaknya mau diambil orang, baru mewek."
Gilang terdiam. Iya, kemarin-kemarin dia hanya sibuk bersitegang dengan Celli soal dirinya yang mau jadi MUA.
"Kerjaaannya Celli nggak sia-sia. Siapa yang nolak mendapat mantu model Julian Argantara. Tampan. Tajir," Mela tersenyum sumringah.
"Tapi Papa belum setuju dia sama si model itu."
"Belum ikhlas saja berpisah sama putri tercinta." Mela membenarkan ucapan Gilang.
Gilang terdiam.
"Papa nggak pernah lihat senyum Celli waktu sama Julian. Senyum lepas tanpa beban. Julian mampu membuat Celli menjadi dirinya sendiri. Juga bisa menerima Celli apa adanya. Itu yang penting. Juga yang Mama lihat Julian terlihat begitu mencintai Celli. Mata pria itu nggak bisa bohong"
Hening sejenak. Gilang mencoba meresapi semua perkataan sang istri. Sambil menatap pada Julian, Celli dan Ardi yang tampak bercanda di ruang tamu. Bisa dia lihat bagaimana manjanya sang putri pada Julian. Hal yang tidak pernah Gilang lihat. Karena baru kali ini Celli membawa pria pulang ke rumah. Yang langsung memperkenalkan diri sebagai calon suami Celli.
"Apa benar? Sudah waktunya aku melepas putriku kepada si model itu," batin Gilang dilema.
"Apapun itu.. Oh my God calon mantuku Julian Argantara. Model paling terkenal saat ini. Aaaaahhhhh," Mela berteriak lebay. Membuat Gilang memutar matanya malas. Melihat tingkah konyol sang istri.
__ADS_1
"Benar-benar. Satu orang ini impactnya sungguh luar biasa," batin Gilang.
***