
Braakkkk,
Suara pintu yang dibanting keras. Membuat Irene terlonjak. Hampir melompat dari kursi rodanya. Namun dia segera berdiri. Begitu tahu siapa yang datang.
"Sial!" maki Mike.
"Ada apa? Bukannya kamu harusnya senang. Pasti sekarang banyak kontrak yang datang padamu."
"Banyak apanya? Mereka tidak memperpanjang kontrakku. Sial!"
"Kok bisa. Harusnya setelah berita menghebohkan itu banyak produsen yang akan berpikir ulang untuk memakai jasa Julian. Namanya sedang menurun sekarang ini. Bahkan mungkin hancur," Irene berucap.
"Harusnya begitu. Tapi sementara mereka hanya menunda schedule pemotretan untuk Julian. Untuk yang urgent mereka memakai Liu."
"Liu...sohibnya Julian?"
"Iya siapa lagi. Kesal sekali aku!" gerutu Mike.
Irene terdiam. Harusnya impact dari berita itu luar biasa. Bisa menurunkan pamor Julian atau bahkan menghancurkannya. Tapi kenapa tidak seperti yang diharapkannya. Ditatapnya wajah kesal Mike.
Jika dibanding Julian. Wajah Mike tidaklah setampan Julian. Tapi Irene sudah terlanjur mabuk kepayang dengan permainan ranjang Mike. Yang tidak pernah dia dapat dari Julian selama menjadi pacarnya dulu.
"Jangan dipikirkan. Santai besok masih ada waktu," hibur Irene.
"Tapi aku ingin terkenal. Mengalahkan wajah cantik itu. Apa sih kurangnya aku. Aku tampan, macho juga seksi..."
"Iya..kamu tampan..macho juga seksi. Apalagi ketika sedang mandi keringat...naked..di atas tubuhku," bisik Irene sensual di telinga Mike.
Bisikan Irene langsung menguapkan amarah Mike. Berganti dengan percikan api gairah yang mulai membara. Apalagi ketika Irene mulai menjilati telinga Mike. Pria itu langsung memejamkan mata. Menikmati sentuhan jari Irene yang mulai masuk ke celana panjangnya. Mengusap lembut pusaka milik Mike yang langsung merespon sentuhan Irene.
"Kau sendiri yang memancingnya, sayang. Jadi jangan harap aku akan melepaskanmu sampai aku puas." Ucap Mike sebelum meraup bibir tebal Irene. Menciumnya dengan na*** yang membara.
Irene tak tinggal diam. Perempuan itu langsung naik ke pangkuan Mike. Membalas setiap pagutan pria yang menjadi partner ranjangnya selama ini. Memulai permainan panas mereka.
***
"Kau mau kemana?" Tanya Julian. Melihat Roy yang berjalan menuju kamar tamu.
"Tidur. Kau pasti ingin berduaan dengan pacarmu kan. Hati-hati jangan kebablasan. Bisa jadi skandal. Atau kamu bisa dihajar kakak Celi." Seloroh Roy sambil lalu.
"Alah kaya dia lebih pengalaman saja," cibir Julian.
"Teori aku pintar Bos."
"Praktek nool gedhe," ledek Julian. Roy hanya melambaikan tangan menanggapi ledekan Julian.
Kredit Google.com
Kenalkan Roy, asisten Julian plus sohibnya plus penasehat cinta plus bodyguard Julian,
Banyak amat plus-nya 😁😁
"Kemana dia? Pamit mandi kok nggak keluar-keluar," gumam Julian. Berjalan menuju lantai dua dimana kamar Celli berada.
"Cell...Celli kamu sudah selesai belum mandinya" Julian berucap sambil membuka pintu perlahan. Takut jika Celli setengah naked kan bahaya. Bahaya bagi Julian yang langsung bisa menerkamnya.
__ADS_1
"Astaga...."
Julian berucap begitu Celli yang malah asyik merekam video menggunakan ponselnya dari balkon kamar itu.
"Hape baru tu kelihatannya," ledek Julian.
Celli menjulurkan lidahnya. Mengakhiri sesi merekam videonya.
"Jadi kau benar-benar fans berat mereka?"tanya Julian menatap ponsel Celli.
"Nggak juga. Cuma senang mendengarkan lagu mereka," jawab Celli santai.
"La itu sampai bela-belain beli hape edisi khusus mereka."
"Oohh, ini memenuhi halunya author kita. Kepengen hape ini tapi nggak kesampaian. Jadi dia beliin aku."
"Ada-ada aja author kita ni."
"Lah lihat, dia ketawa sendiri. Dia yang pengen aku yang punya."
"Terus yang lama dikemanain?"
"Simpan buat kenangan. Itu hape dari kak Ardi. Pertama kali dia dapat gaji. So sweet gak sih."
"Iya, sweet kayak gula sampe disemutin."
Celli mendelik kesal mendengar ledekan Julian.
"Mau apa kemari?" tanya Celli judes.
Gadis itu tinggal memakai kemeja tiga perempatnya.
"Mau bicara soal gosip itu itu." Ucap Julian duduk di sebuah sofa di sudut kamar itu.
"Gosip...berarti itu tidak benar."
"Yang bekas luka kau tahu benar itu fakta."
"Tapi kulihat ini hampir pudar dengan sempurna. Ternyata kulitmu sama seperti kulitku. Cuma perlu madu untuk menghilangkan bekas luka." Kata Celli berjongkok di depan Julian. Menyentuh lembut bekas luka pria itu.
"Celli kau memancingku," ujar Julian menangkap tangan Celli yang tengah menyentuh wajahnya.
"Mancing apa sih?" tanya Celli.
"Kau ini benar-benar polos atau hanya berpura-pura. Jarak sedekat ini bisa membuat pria berpikiran untuk menciummu," info Julian. Sejurus kemudian, pria itu sudah mendaratkan bibirnya di bibir Celli. Sambil menahan tangan Celli. Tidak ingin gadis itu lari saat berciuman dengan dirinya.
"Kau ini benar-benar mesum. Aku tertipu oleh wajah innocent-mu."
"Hei, aku 28 tahun. Berciuman itu wajar bagiku. Bahkan jika kita ber..."
"Jangan mulai lagi," potong Celli cepat.
"Maka menikahlah denganku. Supaya...."
"Otak mesummu itu tersalurkan?" tebak Celli.
"Ya...salah satunya. Biar aku nggak travelling kemana-mana. Ya Celli please...."
__ADS_1
"Selesaikan dulu masalahmu setelah itu...."
"Kita nikah ya...ya...."
"Nikah mulu. Selesaikan dulu masalahmu baru kita bicarakan soal itu."
"Jadi kamu mau nikah sama aku?" tanya Julian girang bukan kepalang.
"Belum tahu." Tegas Celli membuat Julian cemberut.
Celli tersenyum melihat wajah cemberut Julian.
"Sekarang soal Caca. Ada penjelasan?"
Julian terdiam. Menatap wajah interogasi Celli.
"Sudah seperti suami ketahuan selingkuh saja." Gerutu Julian.
"Suami apanya? Belum jadi suami saja, rahasianya segudang."
"Bukan rahasia. Oke aku cerita. Dulu aku memang suka pada Caca."
"Sampai taraf mana? Level mana?" tanya Celli cepat.
"Sampai level....tergila-gila." Jawab Julian nyengir sambil menggaruk kepalanya.
Celli jelas langsung melotot mendengar pengakuan Julian.
"Kau gila ya. Istri kakakmu kau gilai." Celli memukuli lengan Julian.
"Hei...mereka waktu itu belum menikah. Lagipula sebenarnya aku duluan yang ketemu Caca. Dia teman kuliahku." Sangkal Julian sambil menahan tangan Celli memukuli lengannya.
"Cinta pertama?"
"Iya."
Celli langsung menghentikan pukulannya pada Julian. Cinta pertama akan sulit dihapus dan dilupakan. Apalagi ini tiap hari mereka bertemu. Rupa Caca saja dia belum pernah melihat. Tapi dia sudah patah semangat duluan.
"Kalau begitu aku mundur saja." Putus Celli.
"Kok mundur. Belum juga maju."
"Kamu pernah dengar cinta pertama akan selamanya dihati?"
"Iya...tapi...."
"Jelas kalau begitu aku kalah." Potong Celli lagi.
"Haisshh jangan dipotong terus ucapanku. Ya dia cinta pertamaku. Aku akui. Tapi sejak Caca memilih Jared kakakku, dan sejak mereka menikah. Aku sudah melupakan rasa cintaku padanya. Meski ya...aku sempat frustrasi saat mereka nikah lalu aku mabuk-mabukan waktu itu. Tapi sumpah Celli, tidak ada rasa apapun untuk Caca saat ini. Dia kakak ipar di hatiku sekarang." Jelas Julian panjang lebar.
Celli menatap mata Julian. Mencari kebohongan di sana. Namun setelah beberapa saat. Celli tidak juga menemukannya.
"Apakah ucapanmu benar? Aku perlu bukti bukan janji."
"Karena itu terima aku. Dan akan kubuktikan kalau aku tidak bohong padamu," pinta Julian.
Kembali Celli menatap wajah tampan Julian.
__ADS_1
"Tampan tapi kok isi kepalanya cuma begituan thok. Tampan plus mesum." Batin Celli sambil tersenyum.
****