MUA Buruk Rupa

MUA Buruk Rupa
Pasangan Aneh


__ADS_3

"Sudah siap?" tanya Celli.


Menarik nafasnya sejenak, lantas Julian mengangguk perlahan. Pria itu tampak begitu tenang begitu dia selesai menarik nafasnya. Hingga siaran langsung mereka dimulai.


Menuruti saran Celli pada akhirnya Julian setuju untuk mengklarifikasi semua gosip yang sudah tersebar. Setelah berunding dengan Roy dan Jonghyun tentunya. Karena Celli beranggapan. Julian perlu meluruskan semua pemberitaan yang kadung beredar di luar sana.


"Kau bilang tidak peduli denganreputasi dan sebagainya. Kalau begitu akui saja kebenarannya dan sangkal berita yang tidak benar."


"Aku memang tidak peduli dengan semua itu. Aku hanya peduli pada keluargaku juga orang-orang di sekitarku. Terlebih kamu. Kamu prioritasku saat ini. Perasaanmu diatas segalanya untukku."


Blushh,


Meleleh gak hati elu Cell. Dapat gombalan maut dari Julian.


Wajah Celli memerah mendengar ucapan dari Julian. Entah itu nyata àtau hanya sekedar bualan tapi yang jelas mampu membuat hati Celli berbunga-bunga.


Yang paling penting dari klarifikasi Julian adalah meluruskan soal dia yang dianggap mencintai kakak iparnya sendiri. Karena Julian ingin semua beres, tanpa ada ganjalan ketika dia mulai serius dengan perasaannya pada Celli.


Celli tampak cemas selama siaran langsung melalui akun pribadi Julian itu. Mengikuti menggunakan ponselnya sendiri. Sambil sesekali menggigit bibir bawah saking gugupnya.


Membaca beberapa komentar yang masuk membuat Celli cukup lega. Karena banyak yang mendukung Julian meski pria itu sudah menunjukkan wajah aslinya di depan publik.


"Saya tidak bermaksud menipu kalian semua dengan wajah saya yang selalu ditutupi make up. Tapi saya hanya berusaha membuat diri saya lebih percaya dengan menutupi bekas luka saya. Yang saya yakin kalian semua pasti pernah mengalaminya. Bahkan ketika itu hanyalah satu bekas jerawat saja...."


Roy terkekeh mendengar klarifiksi Julian soal bekas lukanya. Ya, kita akui. Kadang satu bekas jerawat saja, kita sudah pusing tujuh keliling mencari cara bagaimana mendempulnya agar dia tidak ikut go publik.


Celli akui public speaking Julian sangat bagus. Tentu saja karena dia artis. Sering menghadapi serbuan dan kekepoan paparazzi yang terkadang diatas rata-rata levelnya.


Klarifikasi via online selesai ketika hari mulai larut. Julian sedikit menjawab beberapa komentar yang masuk saat live.


"Ini bahkan lebih parah presscon langsung," gerutu Julian.


"Tapi ini lebih cepat, praktis dan tepat sasaran." Sahut Celli hampir menutup matanya.


"Iya, tahu begini kan kita buat dari kemarin-kemarin."


"Nggak seru kalau langsung diklarifikasi," celetuk Celli.


"Naik sana kalau ngantuk," pinta Julian melihat Celli yang sudah meringkuk di sudut sofa panjang mereka.


"Kita nggak pulang Kak?" tanya Celli pada Roy yang sibuk dengan ponselnya.


"Nginep aja deh. Sudah malam ini. Lagian aku ngantuk banget. Di kampung begadang terus."


"Ya...bisa habis gue sama kakak gue kalau nggak segera laporan." Celli buru-buru meraih ponselnya. Bersamaan dengan ponselnya yang berbunyi.


"Mati aku. Satpam gue sudah telepon."


"Ya..Kak...."


".."


"Aa itu Celli ...."


"Dia nginep di villaku" Potong Julian cepat. Merebut ponsel Celli lalu bicara dengan Ardi.


"..."


"Nggak. Gue bakal nikahin adik elu kalau gue apa-apain."


"..."

__ADS_1


"Iya."


"Sembarangan aja sih kalau ngomong. Siapa juga yang mau nikah sama situ," Celli berucap kesal. Merebut ponselnya.


"Kamulah. Kan semua masalah sudah beres. Sudah clear. Jadi bisa dong kita ngomong soal married alias nikah," ucap Julian sambil menaikkan satu alisnya.


"Belum kelar."


"Apalagi sekarang?"


Roy memutar matanya jengah mendengar perdebatan dua orang itu. Yang satu nguber aja. Yang satu sibuk mencari seribu satu cara untuk melarikan diri.


"Bisa nggak sih kalian itu mesra aja sebentar."


"Bisa!"


"Nggak!"


Celli dan Julian langsung saling menatap. Mendengar jawaban masing-masing.


"Kompak amat jawabnya," ledek Roy.


"Sudah ah aku mau tidur. Bela-belain nggak bisa tidur ehh yang dipikirin ternyata begitu menikmati acara menyembunyikan dirinya," gerutu Celli.


"Ehh...ehh tunggu kamu bilang apa. Siapa yang nggak bisa tidur, mikiran siapa?" Julian menahan tangan Celli yang sudah separo jalan menaiki tangga


"Bukan siapa-siapa. Orang nggak penting," lagi Celli menjawab kesal.


"Ya...gelut aja terus." Kompor Roy berjalan menuju kamarnya sendiri.


"Kamu mikirin aku?" tanya Julian. Sedikit menarik tangan Celli. Hingga gadis itu tertarik ke belakang. Hampir jatuh jika saja Julian tidak menahan tubuh Celli.


"Aaarrgghhh."


Julian panik melihat kaki Celli. Bahkan Roy kembali lagi begitu mendengar teriakan Celli.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Julian cemas.


"Kenapa dia?" tanya Roy.


"Kakinya ketekuk"


"Keseleo?"


"Tidak tahu," Celli meringis.


"Coba ku lihat," Roy langsung berjongkok di depan Celli. Melihat pergelangan kaki rekan kerjanya itu.


"Bagaimana?" Julian bertanya.


"Fix keseleo. Harus segera diurut," jawab Roy.


"Nggak mau sakit!" Celli langsung menolak.


"Kakak e dokter bedah kok adiknya penakut," ledek Roy.


"Beda kasus Kak."


"Angkat dia. Tak ambilkan minyak. Diurut dulu sebentar."


"Nggak mau...sakit," Celli merengek. Bahkan dia hampir menangis ketika Julian menggendongnya kembali turun. Lalu mendudukkan dirinya di sofa.

__ADS_1


"Tahan sebentar," kata Roy.


"Nggak mau!" Celli menarik kakinya. Menaikkan ke atas sofa.


"Celli kalau tidak diurut nanti bengkak," Julian membujuk.


"Sakit..gak ada anastesi apa?"


"Kamu pikir rumah sakit ada anastesi. Siniin kakinya." Roy meraih pergelangan kaki Celli.


"Diurut atau nanti lama sembuhnya." Kembali Julian berucap.


Akhirnya Celli menjulurkan kakinya. Roy dengan cepat menaikkan sedikit celana jeans Celli.


"Pegangi dia. Siapa tahu dia reflek menendangku seperti kamu waktu itu," Ucap Roy membuat Julian nyengir. Memegangi kaki mulus Celli.


"Sorry. Nggak sengaja waktu itu," lirih Julian.


Roy mendengus geram.


"Tahan sebentar. Ini agak sakit," info Roy sambil membetulkan posisi kaki Celli diatas pahanya lagu sreett, Roy langsung menarik kaki Celli.


Satu teriakan langsung melengking di ruang tengah itu. Namun hanya sebentar karena Julian langsung membungkam teriakan Celli dengan bibirnya. Sejenak Julian menempelkan bibirnya di bibir Celli. Sampai Roy selesai mengurut kaki gadis itu.


"Anastesi alami." Ucap Julian menatap bola mata Celli.


"Dasar modus!" Celli mendorong jatuh tubuh Julian ke samping. Sejurus kemudian dia meringis. Sakit masih terasa karena Roy masih mengurut pelan kakinya. Berusaha untuk tidak terpengaruh dengan keuwuan bosnya itu.


"Kalian itu mbok ya toleransi sedikit dengan jomblo yang ada disekitar kalian," keluh Roy.


"Aku jomblo Kak."


"Nggak kamu pacar aku!"


Dua orang itu kembali menjawab bersamaan.


"Enak saja bilang jomblo. Seneng kamu disosor sama orang lain," tuduh Julian.


"Eh aku nggak semurahan itu ya. Situ doang yang suka sosorin bibir aku...uuppsss."


"Ngaku deh tu kalau ciumannya cuma sama si bos," seloroh Roy sambil menurunkan kami Celli dari pahanya.


"Maksudku nggak begitu."


"Tapi begono. Dahlah jangan bilang jomblo lagi wong tiap hari ada yang bawaannya pengen nyiumin kamu." Roy berucap.


"Itu mah pikirannya dia ke semua wanita."


"Aku nggak semurahan itu ya," Julian sigap menyangkal. Membalik kata-kata Celli.


"Skakmat. Kena kamu." Roy meledek Celli yang langsung cemberut.


"Kalian menyebalkan!" Gerutu Celli. Merebahkan tubuhnya di sofa.


"Naik ke kamarmu kalau mau tidur" Roy berucap. Sementara Julian nampak menjauh setelah menerima panggilan ponselnya.


"Nanti sebentar lagi." Celli meraih ponselnya. Memainkannya sejenak. Melihat hal itu Roy hanya mengedikkan bahunya. Lalu berjalan menuju kamarnya. Setelah berteriak, berpamitan pada Julian.


"Pasangan aneh." Gumam Roy setelah masuk ke kamarnya. Mengingat tingkah bos dan partner kerjanya.


***

__ADS_1


__ADS_2