MUA Buruk Rupa

MUA Buruk Rupa
Ardi Dan Celli 2


__ADS_3

Dengan langkah ragu, Julian berjalan masuk ke ruang rawat Caca. Ruang VVIP yang dipesan khusus untuk kakak iparnya. Sekilas dilihatnya, Caca yang berada dalam pelukan Jared. Mata sembab dengan tatapan kosong.


Sungguh pemandangan yang mampu membuat hati Julian terusik. Dia begitu merutuki kebodohannya. Tidak memperhitungkan kalau fans-nya bisa menyerang Caca.


"Kak..." panggil Julian lirih.


Rasanya Julian tidak sanggup menghadapi wajah sedih kakaknya. Kehilangan dan kesedihan jelas terpancar dari wajah mereka.


"Kak..aku minta maaf...."


Kalimat Julian serasa tercekat di tenggorokan. Dia tidak bisa meneruskan ucapannya. Sementara tangis Caca mulai pecah. Mendengar permintaan maaf Julian justru membuat Caca kembali teringat dengan kehilangannya.


"Mas..."Lirih Caca dalam dekapan sang suami.


"Sssttt tidak apa-apa. Jangan bersedih lagi," bujuk Jared.


Meski Jared tahu. Ucapannya hanyalah bohong. Siapa yang tidak akan bersedih. Kehilangan calon anak. Yang sangat ditunggu kehadirannya.


"Pergilah dulu Lian, kita bicara lagi nanti. Biarkan Caca istirahat dulu," pinta Jared bicara sambil menatap wajah Julian penuh harap. Berharap sang adik akan mengerti keadaan sang istri.


Julian menarik nafasnya dalam. Dia cukup paham dengan situasinya.


"Baik aku akan kembali nanti. Aku minta maaf. Benar-benar minta maaf. Aku pergi dulu," Julian lantas undur diri dari hadapan kakaknya. Cukup paham dengan situasinya.


"Bagaimana?" tanya Jonghyun yang ternyata masih setia menanti didepan pintu.


"Masih belum mau bicara. Aku paham situasinya. Baiklah aku akan kembali nanti."


Jonghyun manggut-manggut mendengar ucapan Julian.


"Aku pergi dulu ya. Sampai jumpa minggu depan. Itu jika masih sesuai shcedule. Atau bisa aku perpanjang lagi."


"Iya..iya. Terserah. Kan elu bosnya," Jonghyun terkekeh.


"Mau kemana Lian?" tanya sang mama yang bertemu dengannya di lorong rumah sakit.


"Julian mau sembunyi dulu.Jaga kak Caca ya. Sayang Mama," pamit Julian sambil mencium pipi sang mama.


Lantas berlalu dari hadapan sang mama. Memakai kacamata hitam. Juga maskernya. Pria itu beŕjalan menuju basement rumah sakit. Tak berapa lama. Sebuah Audi meluncur dengan tenang. Keluar dari rumah sakit itu. Melandas ke arah barat. Dimana Julian memutuskan untuk menghabiskan waktunya disana.


***


Celli langsung bersorak senang. Setelah bisa membeli ponsel impiannya. Ponsel dengar warna ungu itu langsung diciumnya berulang-ulang.


"Busyet dah. Sampai gitu amat. Hape aja diciumin. Itu belum ketemu si empunya suara," Ardi menatap heran.


"Kalau ketemu yang punya suara mungkin malah nggak bisa teriak. Celli paling hanya bisa melongo. Speechless, ngeliat mereka saking gantengnya."


Ardi hanya bisa memutar matanya jengah. Adiknya itu benar-benar ampun kalau menyangkut idolnya itu.


"Aku heran deh Cell. Masak iya kamu nggak oleng. Ngeliat muka Julian yang boleh dibilang tampan juga tajir. Cuma sayang dia nggak bisa nyanyi. Masak nggak tergoda gitu?" Tanya Ardi ketika mereka masuk ke sebuah restauran.


Kali ini Celli ikut saja keinginan sang kakak. Sebuah restauran Italia.


"Kadang oleng juga sih," jawab Celli ambigu. Masih sibuk dengan ponsel barunya.


"Nggak ada rasa gitu?"


"Nggak tahu deh," jawab Celli setelah berpikir sejenak.


"Isshhh aku serius Cell."


"Kenapa sih Kak? Kakak kayaknya pengen banget Celli sama Julian?"


"Ya nggak harus dengan Julian. Yang penting punya pacar atau teman pria. Biar nggak ngehaluu aja soal Juki ma Ncim sama sohib-sohibnya itu. Syukur-syukur mau nikah. Happy banget deh kakak rasanya. Kamu sudah 24 tahun...."


"Bilang aja Celli sudah tua," cibir Celli.


"Nggak gitu juga sih. Tapi kalau merasa ya baguslah."

__ADS_1


Celli langsung mendelik mendengar ucapan sang kakak yang dengan santainya menyantap Aglio Olio-nya.


"Kakak menyebalkan!"


"Kenyataan, nggak usah marah."


Celli manyun.


"Kenapa?"


"Bosen. Celli libur satu minggu. Bos naga lagi berhibernasi."


"Maksudnya?"


"Dia liburan. Itu kata om Jonghyun."


"Terus. Gosipnya gimana?"


"Biarkan saja. Mau diapain. Orang yang bersangkutan ngilang kok."


"Tambah parah atau bagaimana?"


"Ya gitu deh biasa ada yang pro. Ada yang kontra. Alah mereka tidak tahu yang sebenarnya."


"Memang kamu tahu?"


"Tidak juga sih."


Hening, masing-masing sibuk dengan makanannya. Hingga tiba-tiba pandangan Ardi tertuju pada pintu yang terbuka.


"Mia..." Ucap Ardi lirih. Celli langsung mengikuti arah pandangan Ardi. Dua bola matanya langsung membulat. Melihat Mia, kekasih kakaknya tampak menggandeng mesra seorang pria.


"Kak...."


"Tunggu sebentar."


Ardi bangkit tapi dicekal oleh Celli.


"Nggak. Kakak nggak akan emosi. Tenang saja." Jawab Ardi sambil tersenyum.


Celli menatap ragu pada kakaknya. Namun Celli hanya bergeming saat kakaknya melangkah menjauh. Menuju meja Mia. Yang langsung membuat Mia berdiri saking terkejutnya.


***


"Are you okay?"


Tanya Celli pada Ardi. Pria itu baru saja menenggak satu botol air mineral. Tandas dalam sekali teguk. Sepertinya sang kakak ingin memadamkan bara api yang masih menyala dalam dirinya.


Ardi terlihat tenang. Tapi Celli tahu. Di dalamnya ada amarah yang siap meledak jika dipicu.


"Kakak baik-baik saja," Ardi mengangguk.


"Kakak yakin?"


Ardi kembali mengangguk. Lantas duduk di sofa apartemen Celli.


"Kakak sepertinya tidak terkejut dengan semua ini." Ardi menghela nafasnya mendengar ucapan Celli.


"Kakak sebenarnya sudah mendengar banyak selentingan yang kurang sedap soal Mia. Soal dia yang sering jalan dengan pria lain. Banyak rekan sejawat kakak yang memberitahu kakak. Bahkan Darwis ngadu ke kakak, dua kali melihat Mia jalan dengan pria yang sama."


Ardi menghela nafasnya.


"Jadi kakak sudah tahu lama..."


"Kakak menunggu moment melihatnya dengan mata kepala sendiri. Dan hari ini kakak membuktikannya sendiri."


"Apa dia benar-benar seperti yang diucapkannya. Gaji kakak tidak akan cukup untuk menghidupinya. Matre sekali dia," gerutu Celli.


"Ya begitulah...sebab pria yang jalan dengannya tadi orang kaya."

__ADS_1


"Dia belum tahu siapa kakak. Keponakan dari pemilik rumah sakit. Punya saham 30 persen. Pewaris tunggal Bagaskara Group. Pingsan dia kalau tahu siapa kakak," kata Celli kesal.


"Apa aku sekeren itu?"


"Kakak bukan hanya keren. Tapi kakak terbaik," puji Celli.


"Alah nyatanya aku masih kalah sama mas ganteng," cibir Ardi.


"Yang itu lain cerita," kilah Celli. Membuat Ardi berdecak kesal.


"Sudahlah jangan patah hati. Cari wanita lain," saran Celli.


"Jangan khawatir," balas Ardi santai.


"Sudah punya gebetan baru nih," ledek Celli.


"Adalah...."


"Jangan lama-lama sedihnya."


"Jangan lama-lama jomblonya."


"Kayak dia enggak aja."


"Kakak sementara saja. Lah kamu, pacaran saja belum pernah."


"Itu kan karena kakak yang terlalu ketat sama Celli."


"Ya ampun Celli. Lihat juga dong yang kamu bawa ke depan kakak sebagai kandidat pacar. Semua nggak bermutu," cibir Ardi.


"Yaelah Kak. Itu kan karena Kakak belum kenal orangnya. Don't jugde the book by it's cover. Jangan menilai orang dari penampilannya luarnya. Kayak si Mia. Dia nggak tahu kakakku punya Chiron di rumah."


"Yang itu jangan keras-keras. Bonyok belum tahu. Nanti muka kakak bonyok beneran kalau mereka tahu."


"Cemen. Kalah sama Celli."


Ardi membulatkan matanya mendengar ledekan sang adik.


"Back to basic. Gimana kakak mau ACC kamu pacaran. Yang kamu bawa ke rumah beradalan yang entah kamu ambil dimana. Preman..tatoan...antingan..."


"Eh si Juki itu semua....


"Eh kamu kenal Juki baru kemarin. Kejadian itu sudah dua tahun lalu. Hayo ngaku!"


Celli nyengir mendengar perkataan Ardi.


"He eh itu Celli nemu di pangkalan ojek. Kan keren to Kak. Julian aja sering pakai anting. Bahkan kemarin dia baru beli anting Cartier baru."


"Terus kamu ikutan beli itu. Itu mahal tahu." Jawab Ardi melirik ke arah pergelangan tangan Celli. Dimana gelang bermotif kupu-kupu itu melingkar manis disana.


"Oohh ini hadiah. Gila aja Celli buang duit buat beli ginian. Mending duitnya ditabung buat nonton konser mereka di sana."


"Hadiah? Dari siapa?" Ardi kepo. Pasalnya Ardi tahu model itu hanya dijual di tempat yang memiliki patennya. Frank and Co. Dan jelas itu mahal.


"Ini...."


"Dari Julian?" Tebak Ardi.


"Bagaimana kakak tahu?"


"Berarti itu benar dari dia."


Celli mengangguk. Ardi menatap tajam pada sang adik.


"Apa kalian punya hubungan lebih selain MUA dan artisnya?"


"Ah itu...."


"Jawab pertanyaanku Celli!"

__ADS_1


"Kalau iya. Setidaknya Julian dari keluarga baik-baik." Batin Ardi menatap tajam pada Celli.


***


__ADS_2