MUA Buruk Rupa

MUA Buruk Rupa
Ardi Dan Celli


__ADS_3

"Kak Ardi..."


Celli berteriak begitu melihat sang kakak di lobi apartementnya. Dia baru saja kembali dari acara pindahannya. Juga acara belanjanya.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Ardi dengan senyum di bibirnya.


"Kemarin sempat drop." Cengir Celli.


"Kok bisa?"


"Biasa. Telat makan."


"Cell, Kakak kan sudah bilang. Jangan bekerja keras-keras. Kamu sebenarnya nggak kekurangan duit. Bekerja semampu badan kamu aja. Jangan buat kakak khawatir." Ucap Ardi sambil mengusap lembut kepala sang adik.


Celli tersenyum mendengar omelan sang kakak. Jujur dia merindukan itu. Sebab dia tahu jika sang kakak sangat memperhatikannya. Juga menyayanginya.


"Diomelin kok malah senyum-senyum." Gerutu Ardi yang melihat adiknya malah cengar cengir saat dimarahinya.


"Aku malah seneng diomelin sama kak Ardi." Balas Celli sambil memeluk sang kakak.


"Ck dasar aneh. Oh iya kok pindah ke sini? Kan kamu punya satu yang seperti ini di blok sana."


"Nggak mau. Itu punya Papa. Ini terpaksa. Schedule-nya Julian sudah kayak orang kejar setoran pengen kawin. Semua kerjaan diambil. Jadi dia nyuruh aku buat pindah deketan sama kantor atau apartement dia."


"Dia tinggal disini?"


"Satu lantai diatasku. Yang aku tempati punya kak May. Kosong dari kapan tahu." Celli menjelaskan.


Ardi ber-ooo ria.


"Makan yuk? Kakak belum makan." Ajak Ardi.


"Ayook. Lama nggak ngerampok kakak tersayang." Seloroh Ceĺli.


Ardi hanya tersenyum mendengar ucapan sang adik.


Tak berapa lama, keduanya sudah duduk di sebuah restoran Korea yang ada di sekitar apartement Julian.


"Nggak ada tempat lain apa? Tiap makan pasti ngajaknya kesini." Gerutu Ardi.


Sang adik hanya tertawa mendengar gerutuan sang kakak.


"Yaelah Kak. Bukannya tiap hari juga ke sininya. Buat ngobatin kangen ma tu...."


Celli melirik ke sebuah poster sebesar ukuran asli seorang idol Korea.


"Yah si Juki lagi. Kalau nggak si Tetet Markutet. Kalau nggak si Ncim atau siapa lagi tu. Kakak nggak hafal." Gerutu sang kakak lagi. Sedang Celli langsung meledakkan tawanya.


"Lah itu malah sudah hafal."


"Gimana nggak hafal. Tiap hari dicekokin kaya begituan sama kamu. Apalagi kalau masuk kamar kamu. Kakak kayak jadi fanboy-nya mereka."

__ADS_1


Celli semakin ngakak. Hingga makanan mereka datang. Makanan khas Korea. Tteobokki, Jjajangmyeong. Juga Spicy Chicken Wing khas negara ginseng itu.


"Kenapa nggak beli yang nge-grill daging sendiri itu."


"Kemarin habis ditraktir begituan sama kak Roy." Jawab Celli.


"Oooo...apa mereka baik sama kamu?"


"Mereka baik. Meski si naga kerjaannya nyemburin api mulu. Tapi okelah. Ini dia yang maksa aku pindah ke sini." Cerita Celli.


Ardi langsung memicingkan matanya. Sedikit curiga dengan Julian setelah mendengar cerita Celli.


"Jerawatnya udah mula oke itu?" Ardi berkomentar sambil mengunyah chicken wing-nya.


"Ehe...tinggal ngilangin bekasnya. Kalau bekas jerawatnya mah Celli nggak takut. Takutnya sama jerawatnya itu sendiri."


Ardi tertawa. Kulit Celli jenis yang unik. Alergi sama coconut oil alias minyak kelapa. Kena sedikit langsung ngambek dengan cara ngeluarin jerawat. Dan kulit Celli kalau sudah nongol jerawatnya lama sembuhnya tidak tahu kenapa. Tapi kalau sudah kering sempurna. Bekas jerawatnya akan lenyap bagai ditelan bumi begitu ketemu madu. Aneh bin ajaib bukan?


"Makanya Kakak ke sini bawain kamu madu sama stock obat asam lambungmu." Ucap Ardi sambil menyerahkan satu paperbag yang sejak tadi dibawanya.


"Oo thank you oppa-ku tersayang, mas ganteng lewat kalau begini caranya."


Ardi mencebik kesal.


"Alah sekarang saja muji-muji. Kemarin kakaknya orang yang dipuji mati-matian." Kembali sang kakak menggerutu.


Celli nyengir dibuatnya.


"Oh iya, kok nggak datang sama kak Mia?"


Ardi menghela nafasnya mendengar nama Mia, sang kekasih disebut.


"Kenapa lagi berantem? Makanya cepetan married, kalian kelamaan pacarannya."


"Nggak. Kakak nggak akan nikah sebelum kamu balik ke rumah."


Sekarang giliran Celli yang menarik nafasnya.


"Kak, kalau kakak mau nikah ya nikah aja. Nggak usah nungguin Celli pulang. Celli sendiri tidak tahu kapan Celli pulang. Kalau papa masih saja menentang passion Celli." Jawab gadis itu sendu.


Ardi seketika menggenggam tangan sang adik. Dia tahu betul. Celli bekerja sebagai MUA karena passionnya di situ. Juga karena dirinya ingin mengumpulkan modal untuk mempunyai salon sendiri sekaligus konsultan kecantikan. Dia juga ingin mendirikan sekolah tata rias untuk anak-anak yang kurang mampu. Tapi entah kenapa sang papa menganggap itu semua tidaklah penting. Hanya buang-buang uang. Melakukan hal yang tidak berguna.


"Tapi Cell..."


"Dengar Kak...Kak Mia gadis baik. Berapa lama kakak pacaran sama dia. Selama itu dia nggak ngeluh sekali kan soal status kalian yang cuma pacaran. Jadi wajar dong kalau dia sekarang menuntut kejelasan hubungan kalian."


Ardi menatap Celli. Adiknya memang polos tapi sikapnya menjadi lebih dewasa beberapa waktu terakhir ini. Dia saja tidak bisa berpikir sejauh itu.


"Jadi mulailah memikirkan kelanjutan hubungan kalian. Kalau kakak yakin dengan kak Mia ya segera ikat dia. Tapi kalau tidak. Lepaskan dia. Biarkan dia mencari kebahagiaan dia sendiri." Saran Celli lantas memasukkan potongan ttaebokki terakhir ke dalam mulutnya.


"Kenyangnya." Ucap Celli pelan. Sambil menepuk pelan perut ratanya. Sedang sang kakak tampak termenung memikirkan omongan sang adik.

__ADS_1


***


"Ini siapa?" Tanya Julian ketika dia menerima kiriman foto dari Roy.


Roy berniat memanas-manasi bosnya. Mengirimkan foto Celli dan seorang pria yang tengah dipeluknya. Di lobbi apartemen mereka.


Julian sedang merebahkan tubuhnya di kasur. Di kamar miliknya di lantai tiga kediaman Argantara. Setelah acara makan siang bersama.



Kamar yang didominasi warna abu-abu dan hitam. Terkesan gelap dan misterius. Membuat sang mama kadang jengah dengan kamar Julian.


"Kayak kamarnya pangeran vampir."


Begitu sang mama berkomentar. Tapi Julian masa bodoh. Kamar, kamarnya dia. Terserah dia dong mau bagaimana dan mau diapain.


"Dia siapa Roy?" Tanya Julian.


"Tidak tahu bos. Tadi nggak sengaja ngeliahat di lobi setelah habis nganterin belanja." Jawab Roy sedikit membumbui agar bosnya makin kalang kabut.


Julian terdiam. Dalam pikirannya masih berkutat dengan pertanyaan siapa pria itu. Setahu dia, Celli tidak punya pacar.


"Bos kalau penasaran tanya saja." Roy semakin mengompori.


"Iishh diam kau!"


Julian menutup teleponnya. Baru saja dia ingin menghubungi Celli. Sang mama masuk.


"Pangeran vampir dipanggil Raja vampir nooo."


"Kalau begitu mama ratu vampir dong." Ledek Julian.


"Iya ratu vampir. Yang bakalan gigit kamu kalau kamu gak segera nikah."


"Idih ogah digigit sama Mama. Nggak enak!"


"Tahu dari mana kamu? Jangan-jangan kamu pernah main gigit menggigit dengan si tukang morotin kamu!"


"Ya ampun Ma, belum pernah. Ini pangeran vampir masih perjaka."


"Nggak percaya. Masak ganteng-ganteng begini masih perjaka"


"Ha... ha...ha... thank you Ma sudah muji Julian tampan"


"Aseem ki! Kamu ngerjain Mama?"


"Nggak kok. Dahlah mau ketemu raja vampir."


Seloroh Julian keluar dari kamarnya. Menuju ruang kerja sang papa di lantai satu.


"Tumben nih orang ngajakin ngomong. Pasti ada apa-apanya." Guman Julian.

__ADS_1


***


__ADS_2