
Celli menarik nafasnya dalam. Menatap wajahnya di pantulan cermin kamar mandinya.
"Kok malah tambah parah ya." Gumannya pelan. Menatap horor ke arah wajahnya. Pagi sekali tadi dia cepat-cepat pulang ke rumahnya. Mencari baju ganti. Sejak kemarin pagi, dia tidak mengganti underwearnya, itu yang membuat dia risih.
Biasanya kalau lembab sedikit saja dia selalu mengganti **********.
"Apa aku hubungi dokter Darwis saja ya?" Guman Celli lagi. Soalnya dokter teman kakaknya itu memberinya nomor ponselnya. Jika tiba-tiba ada hal yang ingin Celli tanyakan.
Gadis itu cepat-cepat mandi. Lantas mengganti bajunya. Masih style sama dengan yang kemarin. Hanya kali ini atasanya dia memakai kaos dengan aksen pita lucu di kedua lengan 7/8-nya. Biar nggak terkesan tomboi-tomboi amat.
"Kayaknya aku harus bawa serep underwear deh." Batin Celli.
Dia benar-benar tipe yang susah soal pakaian dalam. Sering ganti jika sudah tidak merasa nyaman. Gadis itu lantas menyiapkan beberapa pasang underwearnya. Memasukkannya ke dalam ransel bersama dengan obat dari dokter Darwis. Dan obat asam lambungnya.
"Widih udah kaya orang mau minggat aja." Celotehnya seorang diri.
Schedule Julian pagi ini adalah jam 8 tapi masalahnya lokasinya yang berada dipantai. 2 jam dari sini. Jadi dia harus berangkat sebelum itu. Melirik jam di pergelangan tangannya. Masih jam 5 pagi. Dokter Darwis pasti belum bangun.
Berangkat dulu ke tempat Julian aja kali ya. Sambil nyari sarapan. Perutnya harus segera diisi. Jika tidak, akan mendatangkan masalah untuknya.
"Nasi uduknya mbak Lastri pasti sudah buka." Ucapnya sambil keluar dari kamar. Setelah menghubungi petugas laundry apartemen kalau ada tumpukan baju kotor di kamar mandinya.
"Mbak Lastri nasi uduknya....tiga." Ucap Celli berdiri di depan stand penjual nasi uduk di depan apartementnya.
"Pagi bener udah rapi. Kerja dimana sekarang?" tanya mbak penjualnya.
"Jadi MUA model." Jawab Celli mulai mengulik ponselnya. Naik ojeknya mang Udin aja biar cepat...pikir Celli. Mang Udin langganan ojek konvensionalnya. Selalu siap mengantarkannya kemana saja dan kapan saja. Tarif boleh nego...wk wk wk sudah kayak iklan di tv aja 🤣🤣
"Ini mbak, tiga ya." Celli menerima satu kresek berisi tiga sterofoam berisi nasi uduk komplit. Setelah membayar dan pamit pada penjualnya, Celli langsung menyeberang jalan. Pangkalan mang Udin ada di seberang jalan. Meski sudah dipastikan kalau pria paruh baya itu belum bangun.
Menunggu lampu merah. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dahinya mengerut melihat nama Roy tertera di sana.
"Ya pagi Kak, ada apa ya?"
"Van ada didepan apartement kamu. Cepetan turun." Pinta Roy singkat.
Celli cukup terkejut. Melirik ke kanan dan kiri akhirnya dilihatnya van milik Julian berhenti tidak jauh darinya.
"Kok sudah disini." Kata Celli membuat Roy terlonjak di kursinya.
"Ampun ngagetin orang aja." Gerutu Roy.
Celli hanya nyengir sambil menggaruk kepalanya.
"Sorry...."
"Masuk gih. Kirain masih tidur."
"Nggak yo...ehh..."
Ucapan Celli terpotong begitu membuka pintu. Dilihatnya Julian yang kembali masih tidur. Duduk di kursinya.
"Kapan kalian datang?" Tanya Celli melepas ranselnya lalu meletakkan di bagian belakang van. Dekat kulkas mini Julian.
__ADS_1
"Baru saja. Tak pikir masih harus nunggu kamu. Ternyata sudah stand by."
"Aku disiplin yo. Siap beli sarapan lagi. Mau?" Tanya Celli menunjukkan kresek nasi uduknya.
"Waahh kebetulan nih. Lapar. Apa itu?"
"Nasi uduk. Nih..." Celli mengangsurkan satu sterofoam berisi nasi uduk komplit.
"Lah kok kurang satu." Celli lupa dengan pak supirnya.
"Saya sudah sarapan Mbak. Tiap mau keluar saya sudah harus makan." Jawab supir mereka.
"Maaf ya Pak. Celli lupa." Ucap Celli tampak bersalah.
"Nggak apa-apa Mbak. Lagian saya dibawain bekal sama istri. Takut nggak bisa keluar cari makan." Si supir menjawab.
Iya ya..pak supir harus selalu stand by di van ini. Dan kalau sudah masuk parkiran, apalagi basement susah buat keluar lagi.
"Sudah pada sarapan dulu. Saya sudah kok."
Akhirnya Celli pun memulai sarapannya. Sedang Roy sudah separuh jalan memakan nasi uduknya.
"Enak ini Cell, beli dimana?"
"Depan apartement." Jawab Celli mulai mengunyah nasi uduknya.
"Makan apa sih?" Suara serak khas bangun tidur terdengar dari samping Celli.
"Testing dulu." Jawab Julian langsung mengambil sendok milik Celli. Dan menyuapkannya ke mulut sendiri. Celli jelas melongo.
"Ni orang punya kebiasaan buat nyerobot makanan sama minuman orang lain apa." Gerutu Celli.
"Enak. Ada lagi nggak?" tanya Julian.
"Ni makan sendiri!" ketus Celli lama-lama sebal juga dengan kelakuan Julian yang seenaknya sendiri.
"Schedule kita cuma ini kan Roy." Tanya Julian sambil menyantap nasi uduknya. Tidak peduli tatapan kesal dari Celli.
"Iya, cuma tidak tahu jam berapa selesainya."
"Aku ada urusan setelahnya." Julian berucap, menatap penuh kode pada bodyguard merangkap asistennya itu.
"Tidak masalah nanti aku siapkan mobilmu."
"Aku balik dulu ke apartement. Aku berangkat dari sana." Jawab Julian sambil melirik ke arah Celli yang nampaknya tidak peduli dengan percakapan antara dirinya dan Roy.
Celli memang tipe yang tidak suka ikut campur jika dirinya tidak dijawil duluan. Bukannya tidak peduli dengan keadaan sekitar. Tapi menurut Celli tiap orang punya ranah pribadi yang mungkin saja tidak ingin orang lain mencampurinya.
"Oh ya...iisshhh kenapa tambah parah begitu?" Tanya Julian.
Celli buru-buru memakai maskernya. Takut orang illfeel dengan wajahnya.
"Bukannya ngeledek. Sudah tanya Darwis belum. Perasaan kemarin nggak gitu-gitu amat."
__ADS_1
"Baru mau" Jawab Celli malu setengah mati.
"Sini aku teleponin." Kata Julian.
"Emang punya nomornya?"
Pertanyaan dijawab tatapan penuh ledekan dari Julian.
"Pagi Bro. Dah melek belum?"
Satu umpatan terdengar dari ujung sana.
"Ini si Celli...kok jerawatnya tambah parah ya."
"...."
"Iya dia kerja denganku." Jawab Julian sambil melirik Celli.
"...."
"Sembarangan kalau ngomong. Sudah cepetan jawab pertanyaanku!" ketus Julian.
"...."
Hening sejenak. Terlihat Julian yang serius mendengarkan ucapan Darwis dari ujung sana.
"Kata Darwis memang seperti itu. Beberapa hari ini akan memburuk tapi setelahnya akan mengering lalu sembuh. Tinggal ngilangin bekasnya." Jelas Julian setelah diam beberapa saat.
"Kamu nggak bohong kan?" tanya Celli. Dia sendiri cukup tertekan dengan wajahnya yang menciptakan horor tersendiri baginya.
"Buat apa coba aku bohongin kamu." Jawab Julian judes.
"Maunya apa sih. Dibaikin salah. Dikerjai marah. Diledekin takut tersinggung...beeuuuhhh." Julian mengatupkan rahangnya rapat-rapat.
Julian tipe yang mudah tersulut emosinya. Dan dia jarang memberi perhatian pada orang lain. Apalagi lawan jenis. Jadi sekali perhatiannya diragukan ya begitulah, emosi melanda.
Melihat raut wajah emosi Julian. Celli merasa bersalah.
"Maaf deh, maaf." Ucap Celli akhirnya.
Melihat tindakan Julian tadi. Celli akui jika bosnya itu tidak buruk-buruk amat. Meski ya itu tadi, kalau sudah tersinggung sedikit, wujud naganya akan keluar siap menyemburkan api padanya.
Akibat kejadian pagi itu, Julian terus manyun pada Celli. Bahkan ketika gadis itu sudah siap merias Julian, pria yang hanya memakai bathrope itu terus saja mengacuhkan dirinya.
"Yaelah gini amat punya bos bayi besar."
Dalam hati Celli mengakui kebenaran julukan yang Jonghyun berikan untuk Julian. Bayi besar dan anak manja. Dua-duanya sama-sama menyusahkan.
"Begini aja fans fanatik di luar sana bejibun. Nggak tahu apa ya yang diidolakan sifatnya kayak bayi. Salah dikit pakai acara ngambek."
Celli terus saja menggerutu dalam hati. Selama merias wajah Julian yang ditekuk sepuluh. Padahal selama Celli meriasnya. Mata Julian tidak lepas dari mata Celli. Menatap dalam pada manik mata berwarna coklat yang tengah serius merias dirinya.
***
__ADS_1