MUA Buruk Rupa

MUA Buruk Rupa
Jelang The Wedding


__ADS_3

Mia langsung menggigit bibirnya. Melihat Ardi yang berpelukan dengan Miko dan Darwis. Hari ini hari terakhir pria itu bertugas di rumah sakit. Kemarin, keluarga Bagaskara dan Argantara mengadakan presscon bersama-sama.


Mengumumkan pernikahan antara Julian dan Celli yang akan dihelat sebulan lagi. Juga satu pengumuman yang membuat semua orang terkejut. Tidak terkecuali Mia. Keluarga Bagaskara resmi mengumumkan kalau Ardi dan Celli adalah penerus sekaligus pewaris dari Bagaskara Group.


Pucuk pimpinan akan diserahkan kepada Ardi. Mia seperti ditenggelamkan ke dasar bumi. Mengetahui kenyataan itu. Persis seperti omongan pacar Ardi waktu itu. Dia membuang berlian di tangannya demi batu kerikil di jalanan.


Menyesal? Sudah jelas. Sebab keluarga kekasihnya yang sekarang kalah jauh dibanding Ardi.


"Jadi dokter itu hanya kedoknya," batin Mia.


Hati Mia semakin sakit ketika melihat Shania yang tampak menunggu Ardi di depan ruangannya. Menunggu pria itu selesai berpamitan dengan rekan sejawatnya. Mia sendiri juga tidak bisa berbuat apa-apa sekarang.


Apalagi setelah tahu siapa Shania. Kapolres Kota dengan pangkat AKBP (Ajun Komisaris Besar Polisi). Jangankan berbuat masalah. Senggol sedikit saja. Mia sudah takut akan dipenjarakan oleh wanita itu.


Akhirnya Mia hanya bisa melepas kepergian Ardi dan Shania yang terlihat begitu bahagia. Rasa sesalnya tidak akan terganti. Semua hanya karena materi lebih yang ingin dia raih.


"Menyesal sekarang?" suara Darwis terdengar dari arah belakang, setengah mengejek Mia.


Mia hanya bisa memejamkan mata. Menahan diri agar amarahnya tidak meledak disana. Di rumah sakit yang 30 persen sahamnya adalah milik Ardi. Dia bahkan makan dari uang Ardi selama ini.


"Kalimat jodoh itu sepadan. Ternyata ada benarnya juga ya. Meski tidak semua. Berlian tetap akan bersama berlian. Blackcard akan tetap bertemu blackcard. Meski ada berlian yang bersedia dan bisa hidup bersama kerikil. Juga blackcard yang rela menghidupi ATM."


Seloroh Darwis sambil lalu. Membuat hati Mia semakin pedih karena kebodohannya sendiri. Sekarang mau tidak mau dia harus menghadapi pilihannya sendiri.


***


Sebulan itu berlalu dengan cepat. Karena baik Celli dan Julian disibukkan dengan pekerjaan mereka. Maraton, hingga setelah hari pernikahan mereka. Keduanya bisa mengambil istirahat sejenak. Ya boleh dibilang bulan madu kecil-kecilan begitu.


"Oke, last one...last one buat calon pengantin kita," seloroh sang photografer. Melirik ke arah Julian dan Celli yang masing-masing langsung mengembangkan senyumnya.


Hari ini, schedule terakhir Julian sebelum lusa adalah hari pernikahannya dengan Celli. Pria itu masih bersikap biasa saja dihadapan semua orang. Hanya tingkat keposesifannya yang meningkat drastis. Namun Celli sendiri pribadi yang introvert, jadi dia juga tidak banyak bergaul.


Ruang lingkup pertemanan Celli ya hanya sebatas teman-teman MUA-nya. Hanya satu yang berubah sejak pernikahannya dengan Julian diumumkan. Juga siapa dirinya dipublikasikan. Lebih banyak orang mengenal dirinya. Meski itu tetap tidak mengubah pribadinya yang low profile.


"Kita nggak nyangka lo kalau selama ini berteman sama holang kaya," seloroh Pinky. Hair do-nya para artis dan model.


"Iya, elu pinter banget nyembunyiin siapa elu yang sebenarnya," timpal yang lain.

__ADS_1


"Yang kaya bokap gue. Gue cuma numpang hidup sama dia," jawab Celli, sambil menyuapkan satu potong dimsun ke dalam mulutnya.


"Lah kan sama aja to nek," seloroh si Weni.


"Ya beda to yu. Yang kerja kan bokap gue, jadi tu duit ya duitnya ndiri. Beda kalau sudah dikasih ke gue."


"Lah kan sudah dikasih ke situ."


"Kapan?"


"Waktu diumumin hari itu bareng sama nikahannya elu ame si Julian. Beuuhhh pantes si Julian kepincut sama elu. Elu diam-diam nelen emas."


Celli terbahak mendengar celotehan rekan kerjanya. Benar-benar menghibur dirinya yang tengah stres berat menghadapi pernikahannya dengan Julian. Juga perdebatan kecil diantara mereka yang memicu sedikit pertengkaran.


"Oke, aku kasih dekor ungu tapi gak dengan gaunnya. Titik!" Julian memberi final decision pada pertemuan mereka dengan WO tiga minggu lalu.


Celli langsung memanyunkan bibirnya lima senti. Impiannya full pulple wedding harus kandas. Sebab Julian tidak mau diduakan. Busyet sama warna aja cemburu apalagi sama orang ya.


"Emang aku nggak tahu yang ada di kepalamu. Ungu itu mereka. Mereka itu ungu. Pokoknya dekor doang yang ungu. Lain no way!"


Akhirnya dia hanya bisa ngadu ke Shania dan Caca.


"Nggak gitu juga Cell. Aku pribadi paham dengan Julian. Kamu nggak tahu ya kalau Julian itu cemburuan banget. Sama sekali tidak mau diduakan. Coba deh nanti setelah kamu nikah. Dirombak tu kamar ungu milikmu." Shania malah sibuk ngomporin Celli.


"Ahh, mbak Nia ni gak asyik." Gerutu Celli.


"Bukan itu Cell. Sini tak kasih tahu." Caca memberi kode pada Celli untuk mendekat. Gadis itu mendekat dan Caca membisikkan sesuatu ke telinga Celli.


"Ha? Masak sih?" tanya Celli tidak percaya.


"Tapi itu cuma mitos lo yo."


"Biarpun cuma mitos tapi kalau anggapan masyarakat begitu....Oke deh Celli pakai gaun putih yang itu. Tapi after party-nya boleh dong pakai yang lilac."


"Nah itu kamu rapatkan lagi dengan calon suamimu."


"Yaelah Kak. Tinggal besok. Pokoknya mau pakai yang itu buat after partynya," kekeuh Celli.

__ADS_1


Dua orang itu hanya bisa saling pandang. Lantas mengetik sesuatu di ponsel masing-masing.


***


Hari yang ditunggu tiba. Sebuah ballroom sudah disewa oleh kedua keluarga. Ballroom di hotel bintang lima dengan kemewahan yàng tidak perlu diragukan lagi. Dua keluarga itu benar-benar menginginkan sebuah grand wedding untuk putra dan putri mereka.


Di sebuah kamar di lantai 20. Celli sejak tadi sudah dirias oleh temannya.


"Tau elu yang gue rias. Gue minta bayaran tinggi." Gerutu Nika, salah seorang MUA temannya.


Celli terkekeh.


"Yang milih elu kan calon suami gue. Jadi elu minta dobel aja sono sama dia."


"Mana berani gue sama suami elu. Ada juga gue bertingkah. Habis nama gue besok pagi," balas Nika cepat.


"Kalau sudah tahu ya diam aja. Nikmati kerjaannya. Nikmati bayarannya. Bener nggak," tanya Celli.


"Iya sih. Seharusnya gue berterimakasih sama suami elu. Sudah mau milih gue dari ratusan MUA yang dia kenal buat merias teman gue sendiri, yang sebentar lagi bakal jadi nyonya Argantara, plus pemilik body aduhai seorang Julian Argantara. Cerita ya nek acara bobol gawangnya. Pasti milik doski bisa bikin elu merem melek," cerocos Nika tanpa henti.


"Wooi yang entu rahasia. Cuma milik gue. Elu dan yang lainnya gak boleh tahu."


"Iihh pelit amir sih nek."


"Biarin. Enak aja. Suami gue, elu haluin."


"Makanya situ juga jangan ngehaluin pria lain. Nggak enak kan rasanya." Seloroh Nika.


Celli langsung tercekat. Dia baru sadar dengan perasaan itu. Pantas saja, Julian selalu marah-marah kalau melihat kamarnya. Apalagi melihat poster segede gaban si Juki.


"Jadi rasanya seperti ini? Melihat orang yang kita cinta mikirin orang lain. Meski hanya setakat halu. Gue aja nggak rela jika Julian jadi bahan halunya cewek lain. Berarti Julian juga sama."


Celli terdiam tanpa menanggapi celotehan Nika. Yang terus meriasnya. Bahkan ketika dia sudah berganti dengan gaun pengantinnya. Juga dengan hair do. Tinggal memasang veil dan semua sudah siap.


"Pantas saja Julian termehek-mehek sama elu. Elu beneran cantik nek," puji Nika. Kali ini Celli tersenyum.


Celli menatap tampilan dirinya di cermin besar. Senyum terukir di bibir manisnya. Nika benar-benar pandai merias dirinya.

__ADS_1


***


__ADS_2