MUA Buruk Rupa

MUA Buruk Rupa
Apa Itu Bisa Disebut Cinta


__ADS_3

Ungkapan perasaan Julian terus terngiang di telinga Celli. Saat mengatakan itu bisa Celli rasakan kesungguhan dan ketulusan Julian di sana. Tapi entah mengapa Celli seolah membentengi dirinya untuk tidak jatuh pada pesona Julian.


Bagi Celli, Julian terlalu tinggi untuk diraih. Menjadi MUA-nya saja sudah menjadi pencapaian tertinggi dalam kariernya. Dalam waktu singkat tawaran kerja langsung mengalir padanya. Beberapa manager langsung mengirim DM padanya. Secara pribadi meminta Celli agar mau menjadi make up artistnya.


Celli sampai heran dibuatnya. Tanpa dia tahu, ternyata Julian selalu mentag akun-nya tiap kali pria itu mengunggah foto dirinya ke medsos miliknya. Saat update daily activity-nya.


Soal malam itu, baik Julian maupun Celli tidak pernah mengungkitnya lagi. Pria itu rupanya hanya main-main dengan tindakannya. Meski sempat mencicipi sedikit dada Celli namun pada akhirnya Julian hanya melabuhkan ciuman panasnya pada Celli. Tanpa berani berbuat lebih seperti ucapannya.


Namun Julian tetap menginginkan Celli untuk memikirkannya ucapannya. Bahwa dia benar-benar serius dengan perasaannya.


"Aku selalu serius soal hati, Cell. Diusiaku yang sekarang apa aku masih perlu bermain-main. Tidak bukan? Pikirkan ucapanku. Ini benar-benar tulus dari hatiku."


Celli menarik nafasnya panjang. Untuk kesekian kalinya ucapan Julian terngiang di benaknya.


Tiga minggu itu berlalu begitu cepat. Bak rollercoaster yang di berangkat dari lintasannya. Tahu-tahu sudah sampai diakhir perjalanan. Menyisakan rasa lelah luar biasa.


Bayangkan mereka benar-benar maraton melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lain. Kebanyakan menggunakan pesawat. Kadang dengan kereta. Begitu sampai mereka akan langsung menuju set. Make up artist, hair do, stylist semua bekerja dengan kecepatan penuh. Begitu siap pemotretan atau shooting pun akan segera di mulai.


"Apa kalian terbiasa melakukan ini?" tanya Celli pada Wei Ning. MUA Liu.


Yah Julian dan Liu sering satu frame. Tidak tahu padahal agensi mereka berbeda.


"Aku sudah terbiasa. Ini kali kedua aku maraton seperti ini," jawab Wei Ning. Sambil meminum kopinya.


"Kopi?" tanya Wei Ning.


"Aku punya asam lambung." Jawab Celli menunjukkan bobanya.


"Ooo...kau sama dengan tuanmu. Suka boba." Balas Wei Ning. Celli nyengir mendengar ucapan Wei Ning.


"Sudah lama ikut bosmu?"


"Hampir 5 bulan."


"Sama dong."


"Enak tidak kerja dengan Julian."


"Dia okey. Cuma kadang suka menyebalkan. Tahu kan maksudku. Minta ini itu..maklum bos."


"Sama kalau begitu. Dia juga kadang menyebalkan " bisik Wei Ning.


"Kau lihat...dua orang itu pasti lagi ngomongin kita. Aku jamin," bisik Julian pada Liu di tengah shooting iklan mereka.


"Nggak heran. Kita kan tampan," sahut Liu narsis.


"Itu saja yang ada di kepalamu."


"Apa lagi. Memang kenyataannya begitu." Lagi Liu menjawab. Julian hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban sahabatnya itu.


"Makan yuk habis ini. Pesawat masih tiga jam lagi. Cukuplah buat hang out sebentar. Si Daniel sudah booking tempat bagus di tepi danau," ajak Liu sambil mengganti pakaiannya.


"Boleh juga tu. Last day...besok sudah balik ke ibukota," sahut Julian dari kamar ganti sebelah.


Celli dan Wei Ning saling lirik sambil menarik nafas. Heran, padahal mereka tahu apa yang model mereka makan. Tapi bingung dengan stamina mereka. Ini hampir sore hari dan mereka sudah melakukan photoshoot dari pagi buta. Karena ada yang mengambil setting sunrise.


Mereka bekerja nonstop. Dan sekarang masih berpikir untuk hang out.


"Kalau aku memilih tepar di kasur," bisik Wei Ning.


"Aku juga. Beuuhh badan sudah capek bener. Masih naik pesawat dua jam," keluh Celli setengah berbisik.


"Ngomongin apa?" tanya Julian sambil menyerahkan baju lamanya.

__ADS_1


"Iihh ngagetin aja. Ngomongin habis ini mau tidur," jawab Celli cepat.


"Nggak ikut makan sama kita. Hari terakhir. Besok sudah pulang. Jarang bisa bareng lagi." Liu menyahut sambil merapikan kemejanya.


Wei Ning langsung menerima baju Liu. Melipatnya. Lalu memasukkan ke paperbag khusus pakaian kotor.


"Capeekk Bos." Keluh Wei Ning.


"Makanya olahraga. Habis makan terus tidur ya begitu," ledek Julian.


Celli langsung membulatkan matanya. Siap menjawab namun urung dia lakukan.


"Sudah ikut saja. Tempatnya bagus kok. Nanti tidurnya di pesawat saja," seloroh Liu.


Hingga pada akhirnya dua gadis itu hanya bisa menarik nafasnya dalam. Tidak punya pilihan lain selain mengikuti perintah bos mereka.


***


Celli langsung melempar tubuhnya di atas kasur empuknya. Dia baru saja sampai di apartemennya.


"Ah nyamannya," guman gadis itu. Perlahan mulai memejamkan matanya. Masa bodoh dengan urusan lain. Dia mau tidur. Karena besok dia ada janji dengan kak Ardinya.


"Celli...Cellii...." Julian mengetuk pintu unit Celli. Sebuah paperbag kecil ada di tangan kirinya.


Tidak ada jawaban.


"Fix, dia pasti sudah tidur," gerutu Julian membuka pintu unit Celli.


"Padahal dia sudah merem dua jam penuh. Masih juga mengantuk."


Pria itu langsung berjalan menuju kamar Celli. Dan benar saja. Begitu kamar dibuka. Dilihatnya gadis itu sudah kembali tertidur dengan posisi miring memeluk guling berwarna ungu.


"Celli bangun. Masak tidur mulu," Julian berucap.


"Lah orang biasanya bilang lima menit lagi. Dia langsung minta satu jam," kekeh Julian.


"Sstt berisik!" guman Celli.


"Oh masih bisa menjawab. Bagaimana kalau aku menciummu. Apa kau akan menolak," tanya Julian.


"Apaan sih..."


"Wah kau menantangku lagi. Celli bangun...bangun..." Julian mencoba membangunkan Celli. Dia ingin mencium bibir gadis itu tapi tidak saat Celli sedang tertidur.


"Apa sih gangguin orang tidur?" teriak Celli kesal masih memejamkan mata.


Namun detik berikutnya mata bulat itu terbuka sempurna karena Julian sudah menciumnya. Tanpa ragu langsung **********.


"Kamu apa-apaan sih?" Celli mendorong tubuh Julian hingga tubuh pria itu jatuh terbaring di kasurnya.


"Makanya jangan tidur mulu. Habis kau ku cium," balas Julian. Meraih guling lalu ikut berbaring disana.


"Modus! Dasar mesum!"


"Aku modus dan mesum hanya padamu. Berikan tanganmu."


"Bohong!" sanggah Celli ikut berbaring di kasurnya juga.


Julian meraih tangan Celli.


"Apaan sih?"


"Diam dan menurutlah," ketus Julian. Membuka paperbag, mengeluarkan sebuah kotak. Membukanya, lantas memakaikan isinya di pergelangan tangan Celli.

__ADS_1


Ini apa?" Celli ingin melepasnya.


"Jangan dilepas!"


"Aku tidak mau!"


"Terima!"


"Apa ini?" Tanya Celli menatap gelang yang kini melingkar di pergelangan tangannya.


"Gelang. Masak tidak tahu," terang Julian.


"Iya tahu ini gelang, tapi buat apa." Celli kembali menjawab menatap gelang dengan motif kupu-kupu itu.



Kredit Google.com


"Hadiah untukmu." Jawab Julian lembut.


"Hadiah? Untuk apa?"


"Merayakan kita jadian," balas Julian iseng pada awalnya.


"Ja...jadian? Siapa yang jadian?" tanya Celli kelabakan.


"Kitalah. Siapa lagi."


"Aku tidak pernah bilang iya. Jadian dari mananya?" sangkal Celli. Sungguh jika Julian jadi serius dengan ucapannya.


"Apa kau ragu padaku?" tanya Julian mendudukkan dirinya.


"Tentu saja. Aku siapa. Kau siapa. Semua orang tahu itu. Kau dengan ribuan penggemar gilamu. Sedang aku cuma upik abu yang bekerja padamu. Kita tidak sebanding." Celli mengungkapkan ketakutannya.


"Lalu bagaimana jika aku tidak peduli pada semua itu?"


"Tapi aku peduli. Kariermu akan hancur jika kau menjalin cinta denganku. Mereka akan meninggalkanmu dan kau akan terpuruk."


"Aku tidak sampai memikirkan hal itu" Kata Julian sambil tersenyum.


"Seperhatiannyakah dirimu padaku? Aku bahkan tidak berpikir akan semua itu," batin Julian.


"Sudahlah kau jangan aneh-aneh.Hubungan ini mustahil untuk kita." Lagi Celli berucap. Berusaha untuk melepas gelang pemberian Julian. Tapi pria itu sigap menahannya.


"Tidak pernahkah kau merasa jatuh cinta padaku?" Tanya Julian, menatap dalam mata Celli.


Jantung Celli seketika berdebar kencang. Jatuh cinta? Entahlah...dia tidak tahu harus menjawab apa. Tapi satu hal yang pasti sejak Julian menciumnya kala itu. Hati dan pikirannya hanya terisi oleh wajah Julian.


No other. Bahkan ketika dia mencoba untuk melupakan Julian. Menģgantinya dengan wajah Juki atau mas ganteng lalu Ncim bahkan sekelas Tetet Markutet. Tetap saja wajah Julian yang menang.


"Apa itu bisa disebut cinta?"


Batin Celli menatap bingung pada Julian yang juga tengah menatapnya.


***


Sorry my bias untuk hari ini kalian semua harus mengalah sama mas Julian...demi merebut hati mbak Celli...



Bonus pict buat vitamin mata...😁🤣🤣


****

__ADS_1


__ADS_2