MUA Buruk Rupa

MUA Buruk Rupa
Apa Kau Tidak Merasakannya?


__ADS_3

Shania langsung mengamuk keesokan paginya. Menyuruh anak buahnya untuk mencari dokter yang mengoperasinya semalam. Dia begitu marah. Karena dokter itu yang tak lain adalah Ardi lancang mengoperasi dirinya. Bahkan ketika dia sudah menolak.


Tak lama pria tampan dengan balutan jas dokter diatas kemeja hitamnya itu sudah berdiri di depan Shania.


Bukan minyak goreng lo ya readers 😁😁


"Ya, mbak Sania..ada yang bisa saya bantu," sapa Ardi sopan. Wajah pria itu terlihat santai. Tanpa rasa takut sedikitpun. Padahal Shania sudah menggebu-nggebu seperti ingin menelan Ardi bulat-bulat.


"Kenapa kau lancang mengoperasiku?" salak Shania.


"Jadi mbaknya pilih mati gitu? Kalau nggak mau dioperasi ya jangan dibawa ke sini. Geletakin aja pinggir jalan depan sana."


"Kau...berani ya."


"Mbaknya karena sudah masuk rumah sakit. Mau nggak mau, suka nggak suka, harus ditangani. Wong luka mbaknya masih bisa diobati meski hampir lewat, sebab mbaknya hampir kekurangan darah," jelas Ardi.


Shania mendelik mendengar ucapan Ardi yang terkesan agak frontal.


"Tapi kenapa tidak dicarikan dokter perempuan?" Teriak Shania untuk menutupi rasa malunya. Karena bisa dipastikan Ardi sudah melihat dadanya.


"Semalam darurat mbak. Dokter bedahnya kebetulan laki-laki semua. Ada perempuan dokter bedah orthopedi. Kan nggak nyambung ke luka mbak yang di itu...."


Shania menatap nyalang ke pada Ardi. Pria itu tengah menatap ke arah lukanya. Alias dadanya yang memang tidak tertutup baju pasien plus wanita itu tidak memakai penutup dada.


"Iiiisshh aku harus membuat perhitungan dengan para penjahat itu. Bisa-bisanya membuatku malu dengan menembakku di asetku," batin Shania malu.


"Jangan khawatir mbak. Kami para dokter sudah terbiasa melihat yang seperti itu," ucap Ardi ambigu.


Meski Ardi akui mengoperasi Shania sempat membuat jakun pria itu turun naik tidak karuan. Sebab aset Shania benar-benar menggoda. Besar, padat dan sintal. Pasti menyenangkan saat dire***.


"Astaga Ardi, kenapa pikiranmu jadi mesum begini. Apa karena kamu sekarang jomblo. Jadi otakmu kerjaannya traveling mulu," batin Ardi merutuki otak mesumnya yang malah bekerja disaat seperti ini.


"Seperti itu apa maksudmu?" Shania benar-benar pusing menghadapi Ardi yang tidak ada takut-takutnya dengan dirinya.


"Luka di tempat-tempat yang tidak terduga."


"Juga menggoda iman dan takwa," batin Ardi cekikikan.


"Kau...panggilkan perawat perempuan. Aku tidak mau kau yang memeriksaku!" perintah Shania.


"Iya...iya saya panggilkan tapi untuk memeriksanya tetap harus saya," tegas Ardi.


"Tidak mau!"


"Dokternya saya mbak. Dan aturannya begitu. Jangan khawatir. Saya cuma periksa. Nggak nyicil megang," kata Ardi sekalian saja dia ungkapkan apa yang ada di kepala pasien keras kepalanya ini.


"Mesuumm!"


"Nggaklah. Kalau saya mesum. Sudah habis mbaknya dari semalam," ujar Ardi bersiap memakai sarung tangan sterilnya.


"Mau ngapain?"


"Periksa lukamu. Sama ganti perban. Nggak lihat merah gitu. Lukamu pasti terbuka lagi," tegas Ardi mendekat ke arah Shania.


"Nggak mau. Biar mbak itu yang periksa lukaku."


"Aduh Mbak, itu nggak bisa. Prosedurnya begitu. Nanti saya dapat teguran lagi," tolak si perawat.

__ADS_1


"Sudah cepetan. Tiduran. saya periksa. Terus saya ganti perbannya."


"Tidak mau!" Shania menolak sambil mencengkeram baju pasien di bagian dadanya yang tidak berpenutup.


"Gila! Dadanya benar-benar buat otak travelling."


"Cepetan mbak. Jadwal visit saya masih banyak. Atau mbaknya mau tak bius paksa seperti semalam?" ancam Ardi.


Shania kembali membulatkan matanya. Tidak percaya jika Ardi berani melawannya. Namun akhirnya menurut. Merebahkan tubuhnya. Lalu membiarkan Ardi memeriksa lukanya. Selama itu Shania terus menatap Ardi.


Mengawasi bagaimana pria itu bekerja. Sedang Ardi berusaha untuk tidak peduli pada tatapan penuh kecurigaan Shania padanya.


"Sudah selesai," Ardi mengakhiri pekerjaan pertamanya pagi itu yang penuh dengan spot jantung. Selama memeriksa luka Shania. Jantungnya berdebar begitu kencang.


Shania langsung menutupi dadanya dengan selimut. Malu jelas tersirat di wajahnya.


"Jangan banyak bergerak dulu. Meski jahitannya tidak banyak. Tapi lukamu cukup dalam. Sudah selesai. Saya pergi dulu."


Ardi berlalu dari hadapan Shania setelah memberikan ACC pada rekam medis Shania. Melepas sarung tangan medisnya. Lantas berjalan menuju pintu keluar.


"Oh satu lagi. Jangan marah-marah. Tekanan darahmu agak tinggi."


"Brengsek!" Shania memaki Ardi.


"Tampan tapi menyebalkan." Guman Shania setelah Ardi benar-benar keluar dari kamarnya.


"Halo...bagaimana?"


"..."


"Pokoknya jangan sampai mereka tahu. Papaku bisa ngamuk kalau tahu aku terluka. Bilang saja aku sedang keluar kota."


"..."


"..."


"No..no...sangat membosankan di sini. Apalagi dokternya..."


Shania yang berdiri di tepi jendela seketika melihat Ardi yang lewat di koridor rumah sakit di depan sana. Sejenak berhenti ketika harus berbicara pada seorang dokter lainnya.


Cukup terpana ketika melihat Ardi tersenyum. Senyum yang membuat ketampanan Ardi meningkat berlipat-lipat. Berbeda saat bersama dirinya. Pria itu terasa sungguh menyebalkan.


"Ya? Apa yang kau katakan?"


"...."


"Lakukan seperti biasanya."


Shania menutup panggilannya. Melihat ke arah koridor. Dimana Ardi telah berjalan menjauh. Dengan langkah yang terlihat begitu manly dan gagah.


"Dia pria pertama yang melihat dan menyentuh tubuhku."


Ucap Shania lirih. Meraba dadanya yang semalam dan hari ini sudah disentuh oleh Ardi. Meski pria itu selalu memakai sarung tangan. Tapi tak dipungkiri. Ketika jemari Ardi tidak sengaja menyentuh kulitnya ada desiran aneh yang dia rasakan di dadanya.


"Apa itu? Apa aku tertarik padanya. Seorang dokter bedah umum."


***

__ADS_1


Di apartement Celli, gadis itu mulai bosan. Berjalan mondar mandir. Tidak tahu harus berbuat apa. Dia baru saja menghubungi Wei Ning, tapi ternyata teman satu profesinya itu baru ada pemotretan dengan Liu. Jadi tidak bisa diajak jalan.


Lagipula Wei Ning mengatakan jangan keluar dulu. Di luar para netijen masih sibuk dengan gosip bos Celli. Jadi mending kamu di rumah dulu. Nanti kita jalan jika sudah mandali. Begitu saran dari Wei Ning.


"Aku harus ngapain? Bosen."


Melirik ke arah ponselnya. Dia sudah bosan menonton reels yang ada di medsosnya. Vlive jangan segini juga belum ada. Si empunya vlog masih pada ngantor eh kerja.


Tiba-tiba dia teringat bos naganya. Rasa ingin bertemu sejurus menelusup masuk ke hatinya. Ingin melihat bagaimana keadaan pria itu. Ada rasa khawatir yang seketika menerpa. Apalagi dia baru saja dihubungi kak May.


Memberitahu mungkin keadaan Julian tidak baik-baik saja. Sangat terkejut ketika tahu kakak ipar Julian sampai keguguran karena ulah fans fanatik Julian. Celli dari tadi mencoba menghubungi Julian tapi tidak diangkat.


Aku ingin bertemu dengannya. Tapi bagaimana caranya? Dimana dia sekarang? Tanya Celli sambil berguman.


Hingga satu ide terlintas di kepala Celli.


Beberapa saat kemudian,


"Tidak apa-apa jika kita menyusul ke sana?" Tanya Celli sambil memakai seat beltnya.


"Ya kalau apa-apa ya tinggal dihadapi, kok susah. Lagian biar dia galak dan judes nggak mungkin mengusir kita dari sana."


"Sana? Memang dia sekarang di mana?" Tanya Celli melihat Roy mulai memacu mobilnya keluar dari basement apartement mereka. Cukup lega ketika sekumpulan paparazzi tidak mengenali mobil Roy.


"Mereka tidak tahu mobilmu?" tanya Celli.


"Ini bukan mobilku. Ini mobil bos. Tapi jarang banget dipakai. Jadi mereka tidak tahu soal mobil ini." Jawab Roy mulai melajukan mobilnya ke arah barat.


"Di mana dia sekarang?" tanya Celli lagi.


"Di villa pribadinya. Biasanya dia akan ngumpet di sana. Untuk menenangkan diri."


"Lalu soal rumor itu...apa kau tahu?" tanya Celli ragu.


"Kau penasaran dengan perasaan bos?"


Roy bertanya dan Celli reflek mengangguk antusias.


"Ahh bukan begitu. Hanya kepo...pengen tahu."


"Kau tanyakanlah padanya sendiri nanti."


"Gak mau ah. Gengsi dong."


"Kalau kamu masih pasang gengsi seperti itu. Ya hubungan kalian nggak akan berkembang."


"Hubungan apa?"


"Bos menyukaimu kan?"


"Aahh itu tidak benar. Dia itu bosku."


"Tapi bos tidak menganggapnya seperti itu. Bos itu susah dekat dengan perempuan. Bahkan dengan Irene dulu. Bos tidak seperti sekarang. Saat bersamamu."


"Maksudnya?"


"Dia sangat perhatian padamu. Sangat menjagamu. Sangat peduli padamu. Apa kamu tidak merasakannya?"

__ADS_1


Roy bertanya sambil menatap Celli. Mereka sedang berada di lampu merah.


***


__ADS_2