MUA Buruk Rupa

MUA Buruk Rupa
Lamaran Ala Ardi


__ADS_3

Celli perlahan membuka mata. Dia terbangun di kamar gadis itu. Celli langsung tersenyum. Kamar ungu kesayangannya.



Kredit Pinterest.com


Menoleh ke arah kirinya. Kembali Celli langsung tersenyum. Menatap foto seukuran manusia sebenaranya.


"Jukiii I miss you so much," ucapnya lirih.


Tapi senyum itu langsung pudar. Kok dia tidak ingat kapan berjalan kembali ke kamarnya. Hingga kemudian dia teringat. Lantas menepuk jidatnya pelan. Dia ketiduran waktu ngobrol dengan Julian dan kakaknya. Lalu yang membawanya ke kamar siapa ya?


Ahh... besok akan Celli tanyakan pada sang kakak. Gadis itu memiringkan tubuhnya ke kanan. Kembali senyum tersungging di bibirnya.


"Malam Ncim. Malam Teter Markutet."


Kata Celli sambil memejamkan mata. Kembali melanjutkan tidurnya.


***


Pagi menjelang..


"Gimana acaranya semalam?" tanya Roy. Dia dan Julian sedang turun ke lantai bawah.


"Lancar. Nggak ada masalah," jawab Julian.


"Beneran? Ayahnya Celli nggak buat drama gitu?" Roy bertanya tidak percaya.


"Nggak tu. Lihat dulu dong siapa yang melamar anaknya. Julian Argantara," sombong pria itu.


"Sombong amat lu," ledek Roy.


"Eh kenyataannya begitu. Bahkan dia tidak menolak kalau aku melamar Celli minggu depan."


"What?? Kamu bercanda kan?"


"Of course not, Roy. Dan kau juga harus ikut minggu depan. Kosongkan jadwal kencanmu. Oh kamu boleh bawa Wei Ning. Biar dia pengen cepet ketularan dilamar," kata Julian sambil menarik pipi Roy.


"Dia mulai gila apa?" gumam Roy sambil mengusap pipinya yang panas akibat ulah bosnya.


"Eehhh terus ini gimana ceritanya? Jemput Celli apa dia yang ke sini"


"Dia yang kesini," balas Julian cepat.


Tak berapa lama. Sebuah motor Kawasaki berhenti tepat di pintu lobi hotel. Celli tampak melompat turun dari motor sang kakak. Gadis itu melepas helmnya. Memberikannya kepada Ardi.


"Dijemput nggak?" tanya Ardi.


"Nggak usah. Nanti tak antar saja," sahut Julian cepat.


"Kata Papa kalau selesainya malam banget kamu boleh nginep di sini. Tapi awas jangan nyicil ya," warning Ardi.


"Yang mau nyicil juga siapa? Enak juga langsung cash," seloroh Julian.


"Awas ya. Gue titip adik gue," pesan Ardi sebelum melajukan motornya kembali.


Sementara Celli sudah sibuk ngoceh sama mang Dadang.


"Dia kakaknya?" tanya Roy.


"Iya...penerus BK Group sukanya naik motor," info Julian.


"Dia sama sepertimu. Belum menunjukkan taringnya," balas Roy.


"Happy bener yang pulang kerumah," ejek Julian.


"Jelas dong. Bisa ngelonin mereka lagi," cengir Celli.


"Lihat saja. Setelah aku resmi masuk kamarmu. Habis itu semua," ancam Julian.


"Memang tahu siapa yang Celli omongin."


"Taulah. Foto segede gaban di kiri sama kanan ranjangmu."


"Hai..kapan kamu masuk ke kamarku?" heran Celli.


"Kamu lupa. Semalam dengan sopannya tidur di lenganku. Ketika semua orang sibuk ngobrol. Dia sibuk merangkai mimpi," cibir Julian.


"Terus yang ngangkut ke kamar?"


"Ya akulah siapa lagi."


Celli nyengir.


"Habis lengannya senderable banget sih," ucap Celli sambil mengusap lengan Julian.

__ADS_1


"Itu baru lengan, belum bagian tubuhku yang lain. Bikin nagih lo," goda Julian dengan seringai jahil di wajahnya.


"Ada yang bikin ketagihan? Narkoba ya?"


"Bbeeuuuh lebih dahsyat dari narkoba," potong Julian cepat.


Roy dan mang Dadang tertawa terbahak-bahak.


"Elu polos amat sih Cell. Umur 24 tapi pengetahuan kayak anak TK," ledek Roy.


Celli melongo mendengar ejekan Roy.


"Ha? Maksudnya?"


"Nggak paham?" tanya Julian.


Ceĺli mengangguk.


"Nggak paham nggak apa-apa. Besok langsung praktek aja. Nggak usah pakai teori."


"Ini apa lagi sih?"


Dan ketiga pria itu langsung tertawa terbahak-bahak. Melihat kepolosan Celli.


"Ngomong-ngomong selamat buat kalian berdua. Nggak nyangka jika yang sekarang jodohnya pak bos. Semoga lancar sampai hari H," doa mang Dadang. Ucapan mang Dadang langsung diiyakan oleh Julian dan Celli.


"Mas Roy nggak kepengen segera nyusul?"


"Ya pengenlah. Masak enak-enak kok nggak pengen," jawab Roy cepat.


"Ya sudah sama non Wei Ning saja. Dia wanita baik juga," kata Mang Dadang.


"Yang itu kita lihat saja nanti," balas Roy ambigu. Membuat Julian menatap Roy penuh arti.


***


"Maaf aku terlambat," Shania berucap sambil ngos-ngosan.


"Kamu yang membuat janji. Kamu juga yang telat," jawab Ardi judes.


"Busyet dah galak bener," ceplos Shania tanpa basa basi.


"Iya, aku galak. Baru tahu ya?" balas Ardi tidak kalah.


"Lalu aku harus bagaimana? Permintaanmu semua aku turutin. Kau minta bertemu hari ini..oke. Di sini...oke. Kau tahu aku terpaksa meminta Miko menggantikan shcedule operasiku," judes Ardi.


"Sorry deh sorry. Ada pertemuan mendadak dengan pusat," jawab Shania terus terang.


Ardi akhirnya hanya bisa menghela nafasnya.


"Ada apa minta bertemu?" tanya Ardi to the point.


"Duh kalau nggak ingat calon suami. Sudah gue banting dah nih orang," gerutu Shania dalam hati.


"Jangan menggerutu," kata Ardi.


"**Dia tahu lag**i."


"Apa?"


"Aaa ini soal permintaanmu yang waktu itu." Shania menjawab ragu.


"Yang mana?" pancing Ardi.


"Dia ini pasti sengaja. Mau ngerjain aku."


"Yang mana?" ulang Ardi.


"Soal kamu meminta menikah denganku," jawab Shania sambil memalingkan wajahnya. Malu mengakui kekalahannya.


"Ooo...lalu jawabanmu?" tanya Ardi santai.


"Diihh santai amat ekspresinya. Nggak kepo atau pengen tahu banget gitu sama jawaban gue." Shania setengah down.


"Sooo your answer is..."


"Aku bersedia menikah denganmu."


Dua sudut bibir Ardi langsung tertarik sedikit. Namun hanya samar. Hingga Shania pun tidak sempat melihatnya.


"Bagus kalau begitu. Tapi kita tidak bisa menikah dalam waktu dekat ini. Karena adikku yang akan lebih dulu menikah." Balas Ardi datar.


"Itu bagus. Aku pikir kau akan langsung menikahiku."


"Jadi kau ingin aku segera menikahimu?"

__ADS_1


"Tentu saja tidak. Kita tidak saling mengenal. Jadi lebih baik kita pacaran dulu."


"Deal." Jawab Ardi dengan senyum mengembang sempurna. Wajah tersenyum Ardi langsung membuat Shania melongo.


"Dia benar-benar tampan."


"Dan kencan pertama kita dimulai sekarang." Kata Ardi langsung.


"Secepat itu?"


"Lalu maumu kapan? Tahun depan?"


"Ya...nggak gitu juga kali."


"Masak aku kencan setengah resmi begini."


Shania menatap dirinya yang memakai kemeja putih plus rok span hitam selutut. Persis anak magang.


"Kenapa ada masalah?" tanya Ardi.


Shania menggeleng.


"Ayo jalan. Atau mau makan dulu?"


"Nggak ah habis sarapan tadi pagi. Masih kenyang."


Pria itu berdiri. Diikuti Shania yang mengekor di belakangnya. Penampilan Ardi sederhana, tapi cukup banyak menarik perhatian para wanita. Hingga membuat Shania berdecak kesal. Menghadapi lirikan menggoda para calon pelakor.


"Iihh minta dicolok tu mata, lihatin calon laki gue hampir pada mau ngeces."


Shania mengomel sepanjang jalan menuju parkir. Untung hari ini dia berinisiatif membawa satu mobil miliknya. Kalau tidak, bisa dibayangkan membawa Shania yang ternyata seragam hariannya memakai rok span.


"Masuklah," Ardi memberi kode dengan kepalanya sambil membukakan pintu.


"Wah bisa romantis juga ni orang.


Gadis itu sedikit mengulum senyumnya. Memperhatikan Ardi yang dengan santainya melajukan mobilnya keluar dari area restoran tempatnya janjian dengan Shania.


"Mau kemana?" tanya Ardi.


"Ngemall yuk. Ada barang yang ingin kubeli dari kemarin," jawab Shania. Mulai mengulik ponselnya.


"Bagus. Aku juga ingin membeli barang."


"Eh tunggu dulu..katanya kamu tadi bilang ada shcedule operasi. Kenapa malah mengajakku kencan," todong Shania.


"Ohh aku libur sebenarnya tapi ada ...aaawwww....astaga Shania sakit," Ardi mengusap lengannya yang memerah bekas dicubit sang kekasih yang baru jadian 10 menit lalu.


"Kamu bohongin aku ya?" galak Shania.


"Nggak. Aku libur. Terus ada operasi darurat. Harusnya aku yang pergi. Tapi kamunya minta bertemu. Ya tak oper ke Miko, untung dia bisa. Duhh baru sepuluh menit, sudah KDRT aja," keluh Ardi.


"Itu tidak masuk pasal ya."


"Masuk aja. Segala hal yang menyakiti jiwa dan raga itu namanya KDRT meski cuma dicubit. Apalagi cubitanmu. Itu tangan apa gunting Neng," Ardi terus mengeluh sambil mengusap lengannya.


Shania tersenyum. Mendengar ucapan Ardi. Dia pikir Ardi adalah pria pendiam dan membosankan. Seperti kebanyakan pria yang disodorkan padanya. Tapi ternyata tidak. Ardi cukup banyak bicara setelah mengenalnya. Dan Shania suka cowok yang ramai. Tapi bukan cerewet.


"Ini mantanmu ya?" tanya Shania melihat sebuah foto di dashboard mobil Ardi.


"Ngapain majang foto mantan disitu. Mantan ya buang aja ke laut"


"Ih sadis amat Pak. Kayaknya kecewa banget ni sama mantan."


Ardi terdiam.


"Sorry bukan bermaksud menyinggung," Shania akhirnya meminta maaf. Tahu sudah sedikit keterlaluan.


"Sudahlah. Itu adikku."


"Oohh, cantik ya."


"Cantiklah."


"Dia yang mau nikah duluan?"


"He e. Mumpung jodohnya datang. Nanti ndak lari lagi," jawab Ardi.


Shania manggut-manggut mendengar ucapan Ardi. Membenarkan perkataan pria itu.


"Menikahlah dengannya. Aku menjamin dengan diriku. Dia adalah pria yang baik. Dan belum tentu akan kamu temui lagi di lain waktu"


Ucapan dari Shane membuat Shania semakin yakin untuk menerima lamaran absurd ala Ardi.


***

__ADS_1


__ADS_2