MUA Buruk Rupa

MUA Buruk Rupa
Badai Itu Mulai Datang


__ADS_3

"Apa kamu tidak pernah jatuh cinta padaku?"


Pertanyaan itu kembali dilontarkan Julian. Celli hanya bisa terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa.


"Cell...."


"Aku tidak tahu," jawab gadis itu lirih.


"Apa kamu tidak rindu padaku kalau kita tidak bertemu?"


"Rindu? Tiap hari bertemu. Kalau di rumah aku tinggal naik satu lantai langsung bisa ketemu kamu di unitmu."


Iya dirinya dan Celli adalah partner kerja. Hampir sebagian waktu mereka habiskan bersama. Jadi wajar saja jika rasa rindu tidak ada di hati Celli. Tapi Julian berbeda. Tiap kali dia tidak melihat Celli hatinya akan kebingungan. Keberadaan Celli memberi ketenangan tersendiri pada Julian.


"Aku tidak tahu yang kurasakan padaku. Di kepalaku kau ini bosku. Mana mungkin kau bisa...."


"Tentu saja bisa. Kenapa tidak bisa," potong Julian cepat.


"Tapi tidak ada rasa cinta dihatiku."


"Maka akan kutumbuhkan untukmu," kata Julian serius.


Sejenak dua pasang mata itu bertemu. Seolah saling menyelami rasa masing-masing.


"Kau tahu, aku bahkan tidak pernah merasakan yang seperti ini sebelumnya."


"Bahkan ketika kamu pacaran dengan Irene?"


"Irene hanya menipuku. Memanfaatkanku," sahut Julian mendadak kesal. Nama Irene membuat moodnya memburuk seketika.


"Tapi sekarang dia masih menganggap kamu kekasihnya." Balasan Celli langsung mendapat tatapan tajam dari Julian.


"Itu hanya cara untuk menarik perhatian publik. Apa kau tidak tahu yang seperti itu?" tanya Julian.


"Tidak. Makanya aku tidak cocok untuk menjadi pacarmu. Hidupmu terlalu banyak drama," cebik Celli kesal.


"Tapi denganmu tidak ada drama didalamnya. Yang ada realita. Kenyataan," tukas Julian sambil tersenyum.


"Jangan merayuku." Ucap Celli bangkit hendak turun dari ranjang. Tapi Julian menahan tangan Celli. Hingga gadis itu kembali jatuh di kasurnya.


"Apaan sih?" salak Celli galak. Karena Julian kembali menindih tubuhnya.


"Minta cium."


"Tadi kau sudah menciumku. Apa masih kurang?"


"Masihlah. Semalaman menciummu juga masih kurang. Apalagi jika disambung ber... sakit Celli."


Gadis itu menjewer telinga Julian.


"Ngomong jangan ngelantur!"


"Kau ini galak sekali. Nyubit. Nggigit. Njewer. Jadi penasaran kalau dikasur apa iya segalak itu."


"Malah makin ngawur aja ni orang omongannya," gerutu Celli.


"Makanya buruan cium aku."


"Nggak mau!"


"Kan kamu pacarku sekarang."


"Aku tidak terima status ini ya."


"Mau tidak mau kau harus menerimanya. Aku Julian Argantara. Aku selalu mendapat apa yang aku mau."


"Itu kan katamu. Kataku kan nggak! Minggir!" Celli mendorong kuat tubuh Julian. Hingga tubuh pria itu langsung jatuh terlentang disebelah Celli.


"What the...oh God. Cell...Celli beneran nggak mau nyium aku."


"Ogah! Orang sudah kebelet juga masih ditahan juga. Emang dia pengen lihat gue ngompol apa." Gerutu Celli menutup pintu kamar mandi.

__ADS_1


Selesai melakukan ritualnya. Celli melepas seluruh pakaiannya. Bermaksud menggantinya. Meski malas mandi. Karena masih dini hari.


"Astaga...ngapain kamu masih disini?" pekik Celli yang melihat Julian malah merem sambil memeluk gulingnya.


Mata Julian langsung terbuka sempurna.


"Kamu nggak pakai daleman kan?" tebak Julian.


"Mesum!"


Celli langsung masuk ke kamar mandi lagi setelah menyambar satu set underwear dari lemari di walk in closetnya. Meninggalkan Julian yang terbahak-bahak dikasurnya.


"Hisshh gadis itu benar-benar ceroboh. Sudah tahu ada orang lain juga main naked aja."


***


"Bagaimana?" tanya Julian santai.


"Seperti permintaanmu. Kau suruh biarkan ya kubiarkan saja," jawab Jonghyun. Mereka sudah berada di ruang kerja Jonghyun.


Pagi itu dunia media online dikejutkan oleh dua berita yang menghebohkan. Dua berita sekaligus muncul di beberapa situs pemberitaan online. Semua menyerang Julian.


"Ada yang merekam pembicaraan kita waktu itu," tebak Jonghyun.


"Aku tahu," lagi Julian bersikap santai.


"Kau tahu. Lalu sekarang?" Jonghyun melirik kiri dan kanannya. Takut ada yang merekam pembicaraan mereka lagi.


"Sekarang sudah tidak ada lagi."


"Bagaimana kau tahu?"


"Karena aku sendiri yang membuangnya." Info Julian. Meraih sesuatu di bawah meja Jonghyun. Sebuah recorder kecil yang Julian duga langsung terhubung ke perangkat receiver yang dia sendiri tidak tahu dimana. Tapi dia cukup tahu siapa pelakunya.


Julian langsung menginjak recorder itu dengan sneakers-nya sampai hancur berkeping-keping.


"Cukup kau mematai-matai kami," geram Julian.


"Sekarang bagaimana? Soalnya mereka juga menyinggung Caca," Jonghyun terlihat cemas.


"Itu admin medsosku mungkin."


"Tutup kolom komentar. Non aktifkan akunnya sementara." Satu perintah meluncur dari bibir Julian.


"Itu yang dikelola admin. Milikmu pribadi?"


"Aku sudah menutup kolom komentarku sejak berita itu muncul."


"Ya, Roy..."


"...."


"Biarkan saja. Toh kita sedang libur dalam tiga hari ke depan. Kau nikmati saja waktu liburanmu."


"Dia liburan?"


"Adik sepupunya menikah."


"Pulang kampung?"


Julian mengangguk


****


Julian tampak berlari di sebuah lorong rumah sakit. Satu pesan dari sang Papa, membuat panik Julian.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Julian dengan nafas tersengal. Melihat Julian, sang Mama langsung memeluknya.


"Caca...Lian..Caca," kata May Lee sambil menangis.


Tangis May Lee membuat Julian semakin merasa khawatir saja.

__ADS_1


"Ini ada apa Pa?" Julian bertanya pada Papanya. Sejenak pria itu memejamkan mata sebelum akhirnya menjawab.


"Seorang fans fanatikmu mendorong Caca dari tangga. Dan dia mengalami pendarahan."


Deg...


Tubuh Julian lemas seketika. Tidak...dia tidak sampai berpikir kalau fans-nya akan menyerang Caca.


"Lalu keadaannya bagaimana?" Julian bertanya dengan bibir gemetar dan mata berkaca-kaca.


"Mereka sedang berusaha. Tapi tidak tahu bagaimana ...."


Bersamaan dengan itu. Pintu ruang operasi terbuka, bersamaan dengan keluarnya Jared yang dari wajahnya sudah bisa dibaca. Kabar apa yang dibawanya.


"Kak...."


"Dia pergi" Kalimat singkat itu serasa menghunjam dada ketiga orang itu. Terlebih Julian. Karena dirinya Caca kehilangan calon anaknya.


"Kak...maafkan aku...maafkan aku." Julian memeluk Jared yang hanya bisa berdiri mematung dengan air mata terus mengalir di pipinya.


"Aku bahkan belum sempat melihatnya. Tapi dia sudah pergi," lirih suara Jared. Namun kalimat itu sanggup mencabik-cabik hati Julian.


"Dia pergi Lian..." Suara Jared terdengar begitu pilu. Dan Julian sungguh tidak mampu berbuat apa-apa selain memeluk erat Jared dengan dirinya yang juga menangis. Merutuki kebodohannya.


Hal sama juga terjadi pada Jonathan dan May Lee. Keduanya juga hanya bisa saling berpelukan dan menangis. Calon cucu kedua mereka sudah pergi.


***


"Aku ingin pelakunya ditemukan. Lalu dipenjara!" pinta Julian pada Jonghyun. Pria itu pergi ke rumah sakit setelah menemani May sang istri yang menjaga Siena.


"Dia sudah tertangkap."


"Benarkah? Kalau begitu aku akan menemuinya. Aku akan menuntutnya," tekad Julian.


"Tunggu dulu. Kendalikan dirimu."


"Om, dia mendorong Caca hingga keguguran. Dia pembunuh." Julian berucap berapi-api.


"Iya aku tahu perasaanmu. Tapi tenangkan dirimu dulu. Dia perempuan. Dan menurut pengakuannya. Dia hanya disuruh."


Julian seketika terdiam.


"Maksud Om?"


"Sebelum kemari..Om sudah pergi ke kantor polisi. Om sudah bertemu dia. Dia mengatakan hanya disuruh seseorang. Dan dia tidak tahu kalau Caca sedang hamil. Orang yang menyuruhnya beralasan hanya memberikan prank kepada Caca."


"Apa dia sudah gila! Main mau saja disuruh mencelakai orang."


"Sudah kubilang dia mengatakan kalau itu untuk keperluan prank saja."


"Om membelanya?"


"Astaga Julian. Tidak! Kalau Om menemukan celah untuk memenjarakannya. Om akan menuntutnya." Jonghyun menenangkan Julian.


Sejenak Julian memejamkan matanya. Mencoba menata hati. Kesedihan Jared dan kedua orang tuanya jelas terlihat di mata mereka. Julian sungguh tidak sampai hati melihat wajah mereka.


"Semua ini jelas salahku," batin Julian.


Di lain sisi, tampak dua orang sedang berpesta merayakan kemenangan mereka. Begitulah menurut mereka. Dua orang itu tak lain Irene dan Mike. Pasangan serasi dalam segala hal. Bahkan dalam kelicikan pun mereka kompak.


"Kau lihat. Kolom komentarnya langsung ditutup. Akunnya langsung tidak aktif," teriak Irene senang.


"Dia terlalu takut dengan cibiran netizen," Mike menambahkan.


Keduanya kembali tertawa senang.


"Tapi soal bekas luka itu. Aku bahkan tidak tahu Julian memilikinya. Apakah parah?" tanya Irene.


"Mungkin saja. Alah itu tidak penting. Yang penting. Dia akan jatuh... wuuuushh... dan tak dapat bangkit lagi. Lalu aku yang akan naik. Saat itu kau tidak perlu takut susah lagi."


"Kau memang yang terbaik Mike."

__ADS_1


"Tentu saja." Jawab Mike sambil menyeringai dan sejurus kemudian, sebuah ciuman panas langsung bertaut di bibir Irene. Ciuman panas yang menjadi awal dari sesi panas mereka malam itu.


***


__ADS_2