
Celli melongo. Memasuki villa Julian. Mengikuti Roy menaiki anak tangga dari garasi yang ada di lantai dasar. Villa Julian benar-benar mewah.
Kredit Pinterest.com
"Ini villa pribadi dia, Kak?" Tanya Celli sambil bola matanya sibuk melirik ke kiri dan ke kanan. Memindai bangunan yang didominasi kaca sebagai dindingnya itu.
"Iya, ini villa pribadinya. Aku sendiri tidak tahu, keluarganya tahu apa tidak Julian punya properti di sini," jawab Roy.
Villa tiga lantai dengan balkon di tiap lantainya. Sungguh mewah dengan kesan elegan yang terlihat bersamaan.
Mata Celli kembali membulat begitu masuk ke ruang tamu yang sepertinya juga berfungsi sebagai ruang tengah itu. Dia bukannya tidak pernah melihat kemewahan tapi yang ini benar-benar wah.
Kredit Pinterest.com
"Siapa yang kau bawa Roy?" tanya Julian dari lantai dua. Pria itu berdiri di tengah tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua.
Menatap tajam pada Roy. Celli yang masuk belakangan tidak terlihat oleh Julian.
"Sama pacar kamulah. Siapa lagi yang berani aku bawa ke sini. Kecuali yang sudah kau ACC," jawab Roy santai. Mendudukkan diri di sofa panjang yang terlihat empuk.
"Mana dia?" tanya Julian.
"Masih kepoin rumah kamu."
"Kak...kak...Roy..." Suara Celli langsung terhenti melihat Julian yang berdiri diujung tangga.
"Teriak-teriak di rumah orang....." Ucap Julian judes.
Namun ucapan itu langsung menguap begitu saja. Karena detik berikutnya Celli langsung menghambur memeluk tubuh Julian. Pria tampan itu tentu saja terkejut. Dua hari tidak bertemu. Julian jelas merasa rindu. Tapi Celli, gadis itu justru menyangkal mentah-mentah ungkapan rasa rindunya.
Tapi sekarang lihatlah. Bagaimana eratnya pelukan Celli di tubuhnya.
"Roy, kau tidak membenturkan kepalanya ke tembok garasi kan?" Julian menatap bingung plus curiga pada asistennya.
"Hei aku masih waras tahu," Celli menjawab.
"Nah tu dia njawab sendiri," Roy berucap sambil memainkan ponselnya. Tanpa ingin melihat adegan romantis dihadapannya.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Julian cemas. Menatap pucuk kepala Celli yang masih setia memeluknya.
"Aku nggak apa-apa. Cuma...rindu...."
Blush,
Deg,
Deg,
Deg,
Wajah Julian langsung merona merah. Pun dengan jantungnya yang seolah berpacu dengan waktu.
"Kamu bilang apa tadi?" tanya Julian tidak percaya.
"Rindu Bos...rindu... kurang jelas apa Celli ngomongnya," Celli mencebik kesal.
"Dua hari ditinggal langsung mendapat pencerahan," Seloroh Roy.
"Iiisshh Kak Roy...."
Gerutu Celli sambil melepaskan diri dari pelukan Julian.
"Kok udahan sih meluknya," protes Julian.
"Capek. Lapar. Haus," keluh Celli.
__ADS_1
"Orang cuma meluk doang. Bagaimana bisa capek, lapar juga haus. Begitu kalau habis bercin...."
"Gue jomblo bos. Ingat itu," protes Roy yang merasa keberatan dengan ucapan bosnya itu.
"Siapa suruh sama Wei Ning nggak mau."
"Boossss."
"Kan yang kubilang benar. Wei Ning lumayan lo."
"Kak Roy naksir Wei Ning," tanya Celli.
"Masih tanda tanya. Soalnya Liu masih nggak rela Wei Ning sama Roy."
"La apa hubungannya?"
"Liu nggak mungkin naksir Wei Ning kan?"
"Ya enggaklah. Liu sudah punya pacar."
"Ooo, terus apa masalahnya kalau Wei Ning sama Kak Roy."
"Liu takut Wei Ning dimonopoli sama Roy. Terus dia takut Wei Ning mbongkar kebiasaan buruk Liu."
"Memang apa kebiasaan buruk Liu?" kepo Celli.
"Yang biasa dilakukan para pria," bisik Julian ke telinga Celli.
Celli langsung berpikiran yang tidak-tidak. Main perempuan. One Night Stand. Mabuk. Dan seabrek yang lainnya.
"Sudahlah kata lapar. Mau makan?" tanya Julian.
"Maulah. Dari pagi belum sarapan."
"Tu kan ceroboh. Kamu tuh punya asam lambung. Masih ngeyel aja kalau waktunya makan."
Gerutu Julian. Menarik Celli ke meja makan di sebelah ruang tengah itu.
"Akulah. Makan dulu," perintah Julian.
"Beneran kamu yang masak?"
"Kenapa tidak percaya. Aku ke sini ngumpet itu buat nyalurin hobi masak aku."
Celli ber-oooo ria.
"Coba kutebak. Pasti kau tidak bisa masak."
"Memang iya. Emang kenapa?"
"Sudah kuduga. Sudah kelihatan dari wajahmu. Pasti tidak bisa masak."
"Wajahku? Memang kenapa dengan wajahku? Cantik kan? Dengan wajah begini aku tidak perlu pandai memasak karena suamiku pasti kaya. Jadi dia pasti mampu bayar ART di rumah kami besok," ucap Celli sambil mencomot udang goreng dari atas piring.
"Memang suami kamu siapa?" Goda Julian sambil memeluk Celli dari belakang.
"Belum tahu. Belum ada yang ngelamar ke rumah," jawab Celli santai.
"Kalau begitu. Besok aku akan melamar ke rumahmu."
"Uhuk...."
Celli langsung tersedak mendengar ucapan Julian.
"Siapa?"
"Akulah. Aku kaya. Lebih dari sekedar mampu untuk membayar berapapun ART yang kamu mau. Karena tugasmu hanyalah melayaniku." Bisik Julian di telinga Celli.
"Jangan ngaco deh." Celli melepaskan diri dari pelukan Julian. Mendudukkan dirinya di kursi. Menatap tajam pada Julian.
__ADS_1
"Aku serius, Cell."
"Lalu gosip itu bagaimana?" tanya Celli.
"Soal kakak iparku?"
Celli mengangguk.
"Aku tidak mau hidup dalam bayang-bayang perempuan lain. Baik itu Irene ataupun kakak iparmu"
"Berarti kau sudah ada rasa padaku?" tanya Julian.
"Tidak tahu."
"Lalu untuk apa kau bilang rindu? Kau bohong ya?"
"Yang itu beneran. Ingin melihatmu. Ingin bertemu."
Julian mengembangkan senyumnya.
"Makanlah dulu. Nanti aku jelaskan soal Caca."
"Caca?"
"Kakak iparku namanya Caca."
Celli kembali ber-ooo ria.
"Dimana dia?"
"Mandi."
"Bagaimana keadaan di sana," tanya Julian. Dia memang dari semalam tidak melihat ponselnya.
"Ada yang pro dan kontra. Seperti biasa," jawab Roy.
"Biarkan sajalah," putus Julian.
"Sudah bicara dengan kakak iparmu?"
"Dia belum mau bicara. Aku paham dengan keadaannya. Lagipula ini memang kesalahanku. Aku benar-benar tidak menyangka kalau ada yang akan menyerangnya."
"Itulah salah satu resikonya jadi publik figur. Karena itu kau harus mempertimbangkan ketika kau menjalin hubungan dengan Celli."
Julian terdiam.
"Aku bukannya tidak suka kau punya kekasih. Aku sangat bahagia malahan. Apalagi jika kau bisa sampai menikah. Tapi kau juga harus memikirkan soal pasanganmu kelak. Akan ada banyak hal yang mengganggu kehidupan kalian nantinya."
"Aku akan berhenti dari dunia modeling jika aku menikah nanti," potong Julian.
"Benarkah?" tanya Roy dengan mata berbinar.
"Itu janjiku pada Papa. Aku akan ikut mengurus perusahaan jika aku menikah nanti," Julian berucap.
"Bagus kalau begitu," Roy menjawab antusias.
"Dan batasnya akhir tahun ini. Papa secara khusus memintaku mundur dari modeling. Dia ingin istirahat. Menikmati masa-masa bersama Siena dan ...adiknya tadinya. Tapi...."
"Sudahlah. Semua sudah terjadi. Bukan salahmu juga kan."
"Tapi aku pemicunya. Gosip sialan itu yang membuat Caca kehilangan anaknya. Gara-gara aku." Julian berucap setengah frustrasi.
"Oh come on Julian. Kau tahu benar jika itu bagian dari takdir. Gosip itu hanya pemicunya. Misalnya saja jika gosip itu tidak ada, tapi Caca ditakdirkan kehilangan bayinya. Itu tetap akan terjadi," Roy menenangkan Julian yang mulai kalut.
Julian terdiam. Sudut matanya mulai basah. Dia ingat bagaimana pilunya tangis Jared dan Caca waktu itu.
"Ayolah. Jangan pesimis seperti itu. Kau adalah orang yang selalu optimis. Bahkan kau begitu yakin saat mengucapkan akan membuat Celli jatuh cinta padamu. Dan sekarang terbukti kan. Dia mulai membuka hatinya untukmu. Kau harus berpikir seperti itu juga. Pikirkanlah mungkin ada hikmah bagi Caca dibalik kegugurannya."
Roy kembali menenangkan hati Julian. Roy tahu bagaimana Julian. Meski galak di luar tapi Julian punya hati yang begitu sensitif. Satu kejadian bisa membuat hati Julian ragu. Namun jika pria itu sudah yakin. Maka tidak ada satupun yang mampu menggoyahkan pendirian Julian.
__ADS_1
"Seperti yang sudah-sudah. Aku tahu ini sulit. Tapi percayalah kau bisa melewatinya" Roy berucap sambil menatap mata Julian.
***