
"Haaahhh."
Julian menghela nafasnya kasar. Dia jelas kewalahan mengurus Celli yang mabuk. Setelah merebahkan tubuh Celli di kasurnya, pria itu hanya bisa menatap tubuh Celli yang terbaring tidak berdaya.
"Dasar kecentilan...sok kecakepan...."
Guman Celli samar. Namun Julian masih mampu mendengarnya.
"Dasar tukang caper. Elu pikir si naga bakal ngelirik elu apa...kagak....gue jamin kagakk...."
Julian semakin mengerutkan dahinya. Siapa sih yang dimaki Celli dari tadi. Perlahan Julian melepas jaket Celli yang ia pakaikan paksa tadi. Juga flat shoes gadis itu. Menatap tubuh langsing itu. Dia teringat bagaimana seksinya Celli waktu berjoget di lantai dansa tadi.
Pantas saja begitu Celli masuk ke lantai dansa. Para pria langsung mengerumuninya, membuat Julian jengkel setengah mati. Hal yang membuat Roy tertawa terbahak-bahak. Melihat bosnya kebakaran jenggot gara-gara perempuan.
"Pulang!" kata Julian di telinga Celli.
"Ogah!" jawab Celli tegas. Terus bergoyang. Meliuk-liukkan tubuhnya. Membuat Julian menelan salivanya susah payah.
Pria itu menarik tangan Celli. Membuatnya keluar dari kerumunan orang-orang setengah mabuk itu.
"Aku pulang dulu. Dia makin lama makin gila aja," pamit Julian meminta kunci pada Roy.
"Iya sana. Lihat dia beneran gila. Aku naik taksi saja pulangnya."
"Nggak mau pulang."
"Ayo pulang!" ajak Julian memakaikan paksa jaket Celli. Memeluk tubuh gadis itu sembari mengarahkannya ke pintu keluar.
"Nggak mau pulang!" rengek Celli.
"Pulang dulu. Nanti kalau mau joget bisa dikasur di rumah," jawab Julian penuh arti.
Celli langsung menegakkan tubuhnya tiba-tiba.
"Ada apa?" tanya Julian yang baru saja melepas jaketnya. Menyisakan kaos polo berwarna hitam.
"Muntah...."
Guman Celli lalu berlari menuju kamar mandi. Mungkin dia sadar itu kamarnya. Julian langsung memejamkan matanya. Setidaknya dia tidak muntah dibajunya seperti yang didrama-drama itu.
Terdengar Celli yang memuntahkan isi perutnya di wastafel. Pusing langsung terasa dikepalanya.
"Kapok enggak?" tanya Julian sambil memijat tengkuk Celli.
"Nggak lagi-lagi deh," jawab Celli sambil tersengal.
"Baru minum mocktail. Belum wine. Vodka. Doubleshoot. Klenger langsung kamu," ledek Julian.
"Alah kayak dia enggak aja," ejek Celli balik. Sambil mencuci mulutnya.
"Kapan?"
"Waktu elu ditinggal kawin ma Caca. Ngaku nggak?"
"Yaelah Cell itu kan dulu. Habis itu aku nggak pernah lagi minum sampai mabuk " sangkal Julian. Mengikuti Celli keluar kamar mandi dengan langkah sempoyongan.
"Duh rasanya gini amat yah mabuk. Udah gitu kok banyak yang patah hati larinya ke mabuk," gumam Celli sambil melemparkan diri ke kasurnya. Langsung memejamkan matanya.
"Makanya jangan diulangi lagi. Merepotkan tahu," gerutu Julian.
Tidak ada jawaban, menandakan gadis itu sudah tertidur. Julian menarik nafasnya. Lalu ikut naik ke kasur Celli. Tidur di belakang gadis itu. Hingga perlahan gadis itu mengubah posisi tidurnya. Menghadap Julian.
Perlahan di singkirkannya helaian rambut yang menutupi wajah cantik Celli.
"Cemburu bilang saja. Nggak usah masuk ke klub buat cari perhatian. Jadinya kamu yang caper," kekeh Julian memencet hidung mancung Celli, membuat gadis itu gelagapan sejenak. Perlahan diciumnya kening gadis itu.
"Tidurlah."
__ADS_1
***
"Sudah sampai." Ucap Roy.
"Sudah kubilang tidak perlu mengantarku pulang," Wei Ning berucap.
"Saja. Sudah lama tidak melihat rumahmu." Jawab Roy asal.
"Sudah turun sana. Atau mau ikut balik ke tempatku," goda Roy.
"Idih ogah. Aku pulang dulu."
"Itu kamu Ning...."
Tanya sebuah suara dari arah pintu rumah Wei Ning.
"Iya...Ma."
"Malam Tante. Maaf nganterin Wei Ningnya kemalaman."
"Nggak apa-apa. Pekerjaan kalian banyak. Mari masuk dulu."
"Eehh terimakasih Tante. Ini sudah malam. Saya pulang saja."
"Ya sudah. Lain kali tapi mau ya. Terima kasih sudah mengantar Wei Ning."
"Sama-sama Tante. Selamat malam. Aku pulang dulu," pamit Roy.
"Hati-hati," kata Wei Ning sambil tersenyum.
"Tentu," Roy berbalik masuk ke taksinya. Lalu melambaikan tangan.
"Dia pria baik," Ucap Mama Wei Ning.
"Karena itu Ning tidak cukup pantas untuk mendapatkannya," jawab Wei Ning sendu.
"Bukan salah Mama. Kalau saja waktu itu Ning bisa melawan. Mungkin nasib Ning tidak akan seperti sekarang," sesal Wei Ning.
"Semua salah Mama. Andai Mama tahu betapa brengseknya pria itu. Mama tidak akan sudi menikah dengannya. Maafkan Mama Ning. Maafkan orang tua ini."
"Sudahlah Ma. Dengan Mama lebih memilih Ning. Dan meninggalkan pria itu. Ning sudah cukup senang. Mama bahkan rela sendiri sampai sekarang."
"Mama tidak akan memikirkan kebahagiaan Mama sampai ada pria baik yang meminang dirimu."
"Tapi Ucle Gu sudah lama menunggu lama."
"Itu pilihan dia. Mama sudah bicara dengannya apa adanya."
"Tapi Ma...."
"Pikirkan dulu dirimu baru pikirkan orang lain."
Wei Ning terdiam. Dia merasa kacau soal urusan cinta. Soal pekerjaan, dia cukup senang Liu mau memperkerjakannya tanpa kontrak. Selama dia mau bekerja dengannya. Liu akan terus memakai jasa Wei Ning.
Wanita itu menarik nafasnya dalam. Lalu melangkah masuk ke kamarnya. Roy, pria itu telah lama menarik hatinya. Sejak dua tuannya bersahabat. Keduanya juga mulai dekat. Namun Roy tipe pria dingin dan cuek. Beda dengan Julian yang bisa kacau bila sudah kenal.
Lagipula Liu sudah memberinya peringatan untuk memberinya waktu untuk merestui hubungannya dengan Roy.
"Kenapa?"
"Aku tidak mau kau dimonopoli Roy."
"Kau kan ada Ling Ling."
"Ling Ling kan pacar. Kau kan baby sitter. Bahkan kebiasaanku tidur tanpa celana saja kau tahu. Belum lagi kebiasaanku yang lain yang super absurd."
"Baru nyadar situ super absurd?"
__ADS_1
"Ayolah Ning...beri aku waktu untuk menyiapkan mentalku."
"Kau otewe gila ya?"
"Iya kalau kau punya pacar sekarang. Apalagi kalau pacarnya Roy."
"Roy bahkan tidak tahu aku punya rasa sama dia."
"What? Tu orang batu ya, nggak bisa ngerasain perasaan orang."
"Sudahlah jangan lebay plus otewe gila. Jomblo abadi tetap jadi milikku."
"Jangan khawatir, biarpun elu jomblo. Gue siap kok jadi temen kondangan elu. Biar gak malu-maluin gue."
"Kok elu yang malu?"
"Iyalah. Entar dibilangnya masak MUA-nya Liu kondangan sendirian. Jadi gue temenin besok kalau elu ada kondangan."
"Nggak maulah. Nanti bukannya gue kondangan tapi malah jadi bodyguardnya elu."
"He he yang itu resiko punya bos ganteng," cengir Liu.
Wei Ning tertawa mengingat percakapannya dengan Liu terkait jomblonya dirinya.
***
Pagi menjelang,
Celli mengerjapkan matanya. Menyesuaikan dengan cahaya matahari yang masuk ke kamarnya melalui jendela.
Pusing..itulah rasa pertama yang dia rasakan.
"Pusing?" tanya sebuah suara tepat dihadapannya.
Celli langsung membulatkan matanya. Melihat Julian yang berbaring didepannya.
"Kamu ngapain disini?"
"Numpang tidurlah. Ngapain lagi?"
"Kan kamu bisa pulang ke unitmu," protes Celli mendudukkan dirinya dengan cepat.
"Ngantuk Non. Capek habis ngurusin kamu mabok," jawab Julian memejamkan matanya kembali.
Celli tertegun. Iya ya...semalam yang ngurusin dia kan bos naganya ini. Menatap ke arah Julian yang tidur masih dengan pakaian lengkapnya. Biasanya juga tidur naked...ehh gak tahu yang itu.
Namun perhatian Celli tertuju pada rambut coklat Julian.
"Kamu mewarnai rambutmu ya?" tanya Celli mengusak rambut Julian.
"Pengen ganti suasana. Jangan diacak-acak." ucap Julian masih memejamkan matanya. Bukannya berhenti. Celli malah semakin cepat mengacak-acak rambut Julian.
"Berhenti nggak?" ancam Julian. Dan tidak diindahkan oleh Celli. Hingga Julian menarik tangan Celli. Membuat gadis itu terjatuh tepat di atas tubuh pria itu. Sejurus kemudian, Julian menarik tengkuk Celli dan melabuhkan sebuah ciuman di bibir gadis itu.
"Main sosor aja."
"Morning kiss. Salah sendiri. Suruh berhenti nggak mau."
"Berapa kali kau sudah menciumku ha?"
Julian berpikir.
"Tidak ingat. Kan aku sudah berulangkali minta izin mau melamarmu. Tapi kamunya yang belum mau." Jawab Julian.
Celli tertegun. Ya...Julian sudah berulangkali ingin melamarnya. Tapi dia belum mengiyakan. Bukan dia tidak mau. Tapi masih punya ganjalan soal hubungannya dengan sang ayah yang agak bermasalah. Meski berulang kali Kak Ardinya berucap untuk memintanya pulang. Karena sejatinya Papa dan Mama mereka juga merindukan dirinya.
****
__ADS_1