MUA Buruk Rupa

MUA Buruk Rupa
Akhir Cerita Cinta


__ADS_3

"Sudah siap?" tanya Ardi. Melangkah masuk ke ruang make up sang adik.


"Sudah Tuan," jawab Nika.


Ardi menatap sang adik yang terlihat cantik sekali.


"Cantiknya adik Kakak," kata Ardi sambil mencium kening Celli.


"Terima kasih," jawab Celli malu-malu.


"Ayo, dia sudah menunggu. Sudah waktunya juga," ajak Ardi.


Celli meraih lengan Ardi lantas berjalan keluar kamar menuju lift. Dengan Nika mengikutinya.


Begitu lift terbuka. Terlihat Shania dan Wei Ning yang menunggu mereka. Keduanya tersenyum menyambut Celli.


"Wah cantiknya kamu," puji Shania menatap Celli.


"Terima kasih."


Mereka berjalan menuju ball room. Berhenti di sebuah pintu besar yang masih tertutup.


"Jangan gugup," pinta Ardi.


Celli menarik nafasnya dalam. Berusaha mengusir rasa gugup yang sejak tadi menyerangnya.


Ardi mengangguk dan dua orang berpakaian hitam langsung membuka pintu besar itu. Begitu pintu terbuka. Hal pertama yang Celli lihat adalah dekorasi pernikahan mewah bernuansa ungu dan biru.



Kredit Pinterest.com


Ardi perlahan membawa Celli memasuki ball room. Berjalan pelan menuju ke seorang pria berpakaian tuksedo dengan dominasi putih.



Kredit Pinterest.com


Celli jelas terpana pada ketampanan Julian. Pun dengan Julian yang terpesona pada kecantikan Celli.



Kredit Pinterest.com


Dua pasang mata itu bertemu pandang. Ada desir halus yang bergetar di dalamnya. Julian benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Celli yang masih tertutup veil. Namun di balik veil itu. Bisa dia lihat senyum Celli tidak pernah lekang dari bibirnya.


Perlahan jarak itu semakin dekat. Hingga tanpa terasa mereka hampir tiba diujung perjalanan. Celli melirik Ardi, sang kakak yang tersenyum padanya. Sungguh siapapun pasti akan merasa tidak rela. Menyerahkan adik tersayang kita, untuk menikah dengan pria pilihan mereka.


Tapi Ardi juga tidak punya pilihan selain melakukannya. Semua orang memiliki jalan hidupnya masing-masing. Dan takdir Celli baru saja akan dimulai. Itulah alasannya kenapa Gilang enggan melepas Celli pada Julian. Lebih memilih menyuruh Ardi untuk mengantarkan Celli pada calon suaminya.


"Berbahagialah."


Ucap Ardi pada Celli sambil kembali mencium hangat kening sang adik. Tidak peduli pada pelototan mata Julian.


"Dia selamanya tetap adik gue!" Ardi mengingatkan posisinya.


Julian hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Ardi. Sebelum menyambut hangat tangan Celli ke dalam genggamannya.


***


Suara tepukan tangan langsung terdengar membahana. Memenuhi venue pernikahan Julian dan Celli. Begitu mereka selesai bertukar cincin.


Celli menatap tak percaya pada cincin cantik yang kini melingkar di jari manis tangan kirinya.


__ADS_1


Kredit Pinterest.com


"Aku mencintaimu, Aracelli Anjani," ucap Julian sambil menatap penuh cinta pada sang istri.


"Aku juga mencintaimu, Julian Argantara," balas Celli seketika.


Julian membuka veil yang menutupi wajah istrinya. Ditatapnya dalam wajah itu. Julian belum pernah merasakan cinta sedalam ini pada wanita manapun sebelumnya.


Perlahan pria itu mendekatkan wajahnya pada wajah Celli. Diciumnya kening sang istri lama. Celli hanya bisa diam dengan perlahan memejamkan matanya. Menerima ciuman pertama dari suaminya. Semua orang bersorak melihat hal itu.


Awalnya, Celli pikir Julian hanya akan mencium keningnya. Namun dugaannya salah. Karena detik berikutnya, bibir Julian sudah mendarat lembut di bibirnya. Seketika Celli membuka matanya karena terkejut. Dia ingin protes, tapi sejurus kemudian urung dia lakukan. Melihat bagaimana Julian begitu menikmati bibirnya sambil memejamkan mata.


"Kita lanjut diatas nanti," bisik Julian begitu melepas ciumannya. Perlahan pria itu menģusap lembut bibir Celli yang basah akibat ulahnya. Celli seketika membulatkan matanya.


"Sabar Bro...tahan dulu," seloroh Jared yang datang mendekat memberi selamat. Bersama Caca juga Seina yang langsung menghambur memeluk Julian.


"Yeyyy Uncle sudah punya Aunty cantik. Cantiknya aunty Seina," Seina menatap takjup pada Celli.


"Benarkah?" tanya Celli yang ikut mencium Seina yang berada dalam gendongan Julian. Gadis kecil itu mengangguk antusias.


Semua tertawa mendengar ucapan Seina.


"Selamat ya. Bahagia selalu. Semoga cepat menyusul kami," kata Caca penuh kode.


Julian dan Celli saling pandang. Menatap penuh tanya pada Caca.


"Program kami berhasil. Seina otewe punya adik," ungkap Caca pada akhirnya.


"Benarkah?" tanya Julian antusias. Dan Caca mengangguk. Hilang sudah rasa bersalah di hati Julian.


"Baru 4 minggu. Kami baru tahu kemarin."


"Selamat ya Kak," ucap Celli sambil memeluk dan mencium kakak iparnya.


"Terima kasih. Makanya dikebut," jawab Caca kembali penuh kode.


Semua kembali tertawa terbahak-bahak. Semua orang terlihat sangat berbahagia malam itu.


***


Celli mendesah kesal. Hampir sepuluh menit dia berkutat dengan resleting gaun ungunya. Yang sejak tadi tidak sampai digapainya.



Kredit Pinterest.com


"Begini ni dramanya kalau buka gaun sendirian." Celli menggerutu sejak tadi. Mana Julian belum kembali ke kamar. Dia sedang bicara pada Roy yang besok akan langsung melamar Wei Ning.


Agar pernikahan mereka juga bisa segera dilaksanakan. Roy akan tetap menjadi asisten pribadi Julian baik sekarang sebagai model atau nanti ketika Julian sudah mengundurkan diri dari dunia modeling.


Lama menunggu. Akhirnya Celli meraih ponselnya. Dia sudah makan, mencuci muka juga kaki. Melempar heelsnya ke sembarang arah saking kesalnya. Mulai memainkan ponselnya. Hingga akhirnya dia terlelap tanpa sadar diatas kasur yang dipenuhi ratusan kelopak bunga mawar.


Celli menggeliat pelan ketika sesuatu yang lembut bergerak di atas bibirnya. Sesaat dia mengerjapkan matanya. Memastikan itu Julian.


"Sudah balik?" tanya Celli serak.


"Kenapa tidak mengganti baju?" Julian balik bertanya. Pria itu tampak segar dengan bathrope yang membalut tubuhnya. Pertanda pria itu sudah mandi.


"Aku tidak bisa membukanya," jawab Celli setengah sadar.


Julian tersenyum penuh arti.


"Nungguin aku yang buka?" Julian bertanya setengah menggoda. Celli mengangguk tanpa sadar.


"Tapi kalau aku yang buka, tidak cuma dibuka doang. Tapi ada kelanjutannya."

__ADS_1


"Apa sih?" sahut Celli setengah merem.


Julian tersenyum. Perlahan dia kembali mencium bibir Celli.


"Lian...," Celli merengek manja.


"Kamu ingat kita sudah menikah?" Julian memastikan. Gadis itu mengangguk tanpa sadar.


"Berarti kita boleh bercinta dong," ucap Julian frontal tanpa basa-basi.


Seketika Celli langsung membuka matanya. Dia lupa sudah menikah dengan Julian. Jadi sekarang tidak ada batas lagi antara mereka.


"Tapi tidak sekarang juga kan?" Celli bertanya sambil menggigit bibir bawahnya. Bisa dipastikan pria itu sudah tidak memakai apa-apa lagi di balik bathrope-nya.


"Masalahnya aku menginginkannya sekarang, Baby," Julian menjawab sambil menggigit daun telinga Celli.


Gadis itu meremang seketika. Perlahan Julian mulai mencium bibir Celli. Menciumnya dalam dan penuh cinta. Tangan Julian dengan cepat berlari ke balik punggung Celli. Mencari sumber dari kesulitannya malam ini.


"Sreeeetttt,"


Resleting itu berhasil Julian buka. Pelan pria itu mulai menurunkan gaun di bahu Celli. Celli yang mulai terhanyut dalam ciuman Julian tidak menyadari kalau dirinya otewe naked.


Hingga udara dingin yang menerpa kulitnya membuatnya sadar. Gaun ungunya sudah teronggok di lantai. Menyisakan tubuhnya yang hanya memakai underwear saja.Julian seketika menelan salivanya.


Tubuh seksi dan sempurna Celli terpampang nyata di depan mata. Api gairah langsung menyala dalam diri Julian. Tanpa basa-basi, pria itu langsung menyerang sang istri. Menjamah tubuh yang belum pernah tersentuh oleh siapapun. Tindakan Julian membuat Celli langsung melenguh tidak karuan.


Pertama kali dalam hidupnya mendapat sentuhan dari seorang pria.


"Lian...," suara Celli terdengar begitu merdu di telinga Julian. Gadis itu merasa hampir mencapai puncaknya.


"Yes, Baby," Julian tersenyum mendengar suara Celli. Dia tahu istrinya akan mencapai puncaknya untuk pertama kali. Hingga akhirnya pelepasan itu datang.


Julian perlahan bangkit lalu melepas bathrope-nya. Seketika tubuh sempurna Julian langsung terpampang di depan mata Celli.


"Kamu mau ngapain?" tanya Celli polos. Sesaat bergidik ngeri. Melihat naga Julian yang sudah siap menyerang.


"Sekarang giliranku, Baby," kata pria itu lantas tanpa jeda kembali mencium bibir Celli. Membawa istrinya kembali hanyut dalam permainannya. Dengan dibawah sana mulai merangsek mencari jalan masuk ke rumahnya.


Beberapa kali mencoba tapi gagal. Julian hampir frustrasi dibuatnya.


"Lian...sakit," keluh Celli sambil menangis. Sakit dan perih dia rasa di miliknya.


"Sebentar ya. Belum bisa masuk," ucap Julian. Pria itu kembali mencoba memasuki tubuh sang istri. Hingga satu jeritan dari Celli menjadi tanda kalau Julian berhasil membobol gawang milik Celli.


Pria itu tergugu. Terdiam. Menyaksikan Celli yang menangis tersedu-sedu.


"Sakit sekali kah?" tanya Julian dengan bodohnya.


"Nggak percaya? Rasain sendiri," kesal Celli di tengah isak tangisnya.


Padahal Julian sendiri juga merasakan sakit di punggungnya. Akibat kena cakar juga gigitan Celli di bahunya.


"La ini definisi Sumanti. Sumanto versi cewek," batin Julian.


Pria itu mulai bergerak di atas tubuh Celli begitu tangis sang istri mulai reda.


Malam itu keduanya menikmati sesi panas mereka untuk pertama kali. Percintaan yang menjadi akhir juga awal dari perjalanan cinta mereka. Bagaimana keduanya dipertemukan dalam keadaan yang tidak terduga. Celli yang masuk ke dalam hidup Julian saat berada dalam fase terendah dalam hidupnya.


Dia yang datang dalam keadaan buruk rupa. Tapi tidak membuat Julian menjauhinya. Justru keadaan itu mendekatkan keduanya. Julian yang sedang dalam pencarian cintanya. Menemukan Celli yang memandang dirinya sebagai dirinya sendiri tanpa embel-embel nama besar yang menaunginya.


Pelan keduanya semakin dekat. Hingga keduanya sadar akan cinta yang mulai bersemi di antara mereka. Dan perjalanan mereka mengantarkan mereka hingga bisa berada di atas ranjang yang sama. Dalam sebuah ikatan pernikahan. Awal dari perjalanan ronde kedua cinta mereka.


END


****

__ADS_1


Terima kasih atas dukungan kalian pada Celli dan Lian ya. Jumpa lagi di karya author yang lain.


****


__ADS_2