MUA Buruk Rupa

MUA Buruk Rupa
Di Kediaman Argantara


__ADS_3

"Minta maaf ya Mang kalau selama ini Celli banyak salah." Pamit Celli sendu pada si ojek pribadi.


"Sama-sama ya Mbak. Kok tiba-tiba sih pindahnya. Kalau gitu kan mbak Celli nggak bisa ketemu sama yang nyewa apartementnya Mbak. Orangnya baru besok datangnya."


Semalam, setelah Celli kalah telak saat bernegosiasi dengan Julian, si playboy cap naga. Julukannya tambah aneh aja. Ya jelas Celli kalah negosiasinya, wong Julian main cium Celli. Ya Celli auto iya aja disuruh pindah apartement.


Celli langsung berpikir untuk menyewakan apartementnya. Dia langsung menghubungi Mang Udin untuk minta tolong. Dicarikan penyewa untuk apartementnya.


Dan kebetulan ada keponakan mang Udin dari kampung yang mau kuliah disini dan sedang mencari tempat tinggal. Semua serba kebetulan...


sengaja dibuat ma authornya 🤭🤭🤭


"Nggak apa-apa. Kan yang nyewa ponakannya mang Udin sendiri. Saya percaya."


"Mbak Celli kok pakai acara pindah sih. Kan nanti kita jadi kangen. Biar mbak Celli kayak hantu. Kadang kelihatan kadang enggak." Seloroh mbak Lastri. Mengulurkan nasi uduk satu kresek besar.


"Hantu selain indigo gak ada yang bisa lihat mbak." Koreksi Celli.


"Oh apa iya. Dijawab dong pertanyaan saya. Nanti kalau fansmu pada nanya kemana gebetannya pergi. Saya bisa njawab."


Celli tertawa mendengar celotehan si tukang nasi uduk. Ya, Celli memang punya beberapa fans alias yang naksir dirinya.


"Saya pindah ke apartement dekat kantor. Sebab bos saya kerjaannya lagi banyak. Jadi lebih mudah saya pergi ke sananya." Jelas Celli.


"Iya e kantore mbak Celli itu jauh. Apalagi rumah e bos e mbak Celli yang sekarang." Seloroh Mang Udin.


"Emang iya Mang Udin?"


"Iya tapi kantor sama rumah e bosnya mbak Celli yang sekarang bagus...mewah apartementnya." Puji mang Udin.


"He he sekarang aku juga tinggal disitu Mang. Apartemen wah harga murah." Batin Celli.


Begitu ia menyerah pada keinginan Julian. Celli langsung menghubungi kak May. Dia mau tinggal di sana. Asal bayar. Dan setelah berdebat lama. Akhirnya May mengalah. Menyuruh Celli membayar sewa seharga sewa apartement lamanya. Meski sempat membantah. Namun akhirnya Celli mengaku kalah. Dua orang itu benar-benar menghancurkan reputasi Celli sebagai biang negosiasi paling hebat seantero kawasan apartement lama Celli.


"Sudah semua ini Cell?" tanya Roy.


Semua melongo melihat Roy yang memang tampannya kelas menengah ke atas. Tapi tidak dengan mang Udin.


"Oo sama pak asisten to?" seloroh mang Udin.


"Iya Pak. Mumpung lagi libur. Besok sudah mulai lagi." Jawab Roy.


"Dia siapa?" Senggol mbak Lastri.


"Asisten e bos e mbak Celli." Bisik mang Udin.


"Cabut yuk kalau sudah. Katanya mau mampir supermarket juga." Ajak Roy.


"Bentar tak pamit." Ucap Celli dan Roy berlalu menuju mobilnya setelah mengangguk pada mang Udin dan mbak Lastri.


"Widiihh asisten e aja wis cetar membahana, gimana bosnya..apa gak cetar menggelegar." Seloroh mbak Lastri.


"Mbak Lastri bisa aja. Sudah saya pamit dulu. Telepon, telepon kalau sempat." Pamit Celli melambaikan tangan ke arah kedua orang itu.


"Kalau sela main ke sini. Kita nongki bareng di cape nya nyak Udin." Teriak mbak Lastri. Dan Celli langsung memberi kode oke dengan tangannya.

__ADS_1


"Bosnya kayak apa ya? Asistene wae nggantengnya begitu."


"Bos e mbak Celli model. Tapi belum pernah lihat kalau saya ke sana nganter atau jemput mbak Celli. Ketemunya ya sama mas yang tadi. Paling kalau lama nunģgu ngobrol sama supir van mbak Celli." Jelas mang Udin.


***


"Pagi Ma." Sapa Julian. Mencium pipi sang Mama begitu masuk ke kediaman Argantara.


"Sudah siang Lian...aduh anak mama yang ganteng. Ingat rumah juga kamu." Cerocos May Lee sang mama yang asli Cina. Makanya Julian mukanya oriental banget. Jatah gen Julian didominasi sang mama mungkin saat diadon.


Berbeda dengan sang kakak yang dominan ke papanya. Kearifan lokal di campur bule USA sedikit.


Julian langsung memutar matanya malas. Sang mama memang suka mendramatisir keadaan.


"Siena mana Ma?" tanya Julian.


"Isshh kok Siena sih yang ditanyain. Mama nggak ditanyain kabarnya." Gerutu sang mama.


"Kalau Mama masih bisa teriak...Lian, Mama mau tas kulit buaya paling baru....itu berarti Mama masih sehat wal andong." Canda Julian.


May Lee mencebik kesal. Melihat ekspresi manyun mamanya. Julian tersenyum. Lantas memeluk sang mama sayang. Yang membuat bibir May Lee langsung tertarik ke atas.


"So....Siena mana?" tanya Julian.


"Siena lagi..mbok ya punya sendiri. Anak kakaknya digangguin lagi."


"Kan wajar kalau Julian gangguin Siena. Emang Mama mau Julian gangguin kak Caca?"


"Mau tak hajar kamu?" Satu suara terdengar dari ruang dalam. Seorang pria berparas separuh lokal, separuh bule, tapi bukan jadi-jadian, mendekat ke arah Julian dan May Lee.


"Iisshhh, jangan manja gitu dong manggilnya. Geli kupingku. 28 tahun tingkah sama kaya Siena yang 4 tahun. Buruan kewong makanya."


"Alah... bilang aja insecure kak Caca tak godain." Cengir Julian. Tak lama satu jeweran mendarat di telinga Julian.


"Aduuhhh ampun...ampun...."


"Bilang apa barusan?" Tanya satu suara lembut tapi terdengar penuh intimidasi. Suara Caca, sang kakak ipar.


"Bercanda kak...bercanda...aduh anting Cartier gue yang baru...ampuuunnn" teriak Julian memelas.


"Makanya kalau punya mulut tu di sekolahin." Ledek Jared sang kakak.


"Baru juga bercanda sedikit eh sudah kena jewer...aduuh panas." Keluh Julian mengusap telinganya yang memerah akibat ulah sang kakak ipar.


"Uncle..." Teriak satu suara imut dari arah luar. Seorang anak perempuan dengan wajah lucu menggemaskan masuk sambil berlari. Rambut panjangnya yang dikuncir dua tampak bergoyang ke sana ke mari. Ketika gadis itu berlari ke arah Julian.


"Ooooi, anaknya Uncle." Celetuk Julian.


"Enak aja! Kita yang ngadon, dia yang ngaku-ngaku anak." Cebik Jared melirik ke arah Caca yang duduk disampingnya.


"Jealous aja lu. Anak elu akrab ma gue." Ledek Julian.


Jared memutar matanya malas.


"So...anak Uncle dari mana?" tanya Julian memangku Siena.

__ADS_1


"Jalan-jalan sama Kakek."Jawab Siena sedikit cedal.


"Terus Kakeknya mana?" Tanya Julian lagi mencium gemas pipi chubby Siena.


"Masih diluar. Markirin sepeda Siena"


"Oooo...o iya, Uncle ada hadiah buat Siena." Julian mengambil paperbag cukup besar lalu menyerahkannya pada gadis kecil itu.


"Horeee....Teddy bear warna biru." Sorak Siena bahagia.


"Suka?"


"Banget."


Semua tersenyum melihat interaksi Julian dan Siena. Jarang-jarang mereka bisa berkumpul seperti ini. Semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Hanya ketika hari libur, mereka bisa meluangkan waktu untuk sekedar berbaur di ruang tengah kediaman Argantara.


Apalagi Julian, dalam sebulan belum tentu pria tampan itu bisa pulang ke kediaman Argantara. Julian jarang mengambil istirahat kecuali jika baru saja mengambil job maraton seperti kemarin.


"Siena sayang mandi dulu ya...Bau acem." Caca membujuk Siena.


"Mandi dulu ya. Nanti main lagi." Julian berucap dan gadis kecil itu langsung mengangguk.


"Mandi dulu Uncle." Pamit Siena.


Julian menurunkan Siena dari pangkuannya. Gadis kecil itu lalu berlari ke arah sang Mama. Julian menatap Caca yang menggandeng Siena naik ke lantai dua. Menuju kamar gadis kecil itu.


"So... belum bisa move on?" tanya Jared.


"Tentu saja sudah." Jawab Julian percaya diri. Teringat wajah cantik Celli. Ahh, kenapa aku jadi merindukan dia.


"Baguslah kalau begitu."


"Aku tidak akan mengganggunya, jangan khawatir."


"Apa kau tidak percaya pada adikmu, Jared?" Sang Mama buka suara setelah sejak tadi hanya jadi pendengar saja.


"Aku percaya, Ma."


"Jangan khawatir sebentar dia akan bucin pada seorang gadis." Bisik May Lee pada putra sulungnya. Setelah Julian keluar untuk menghubungi Roy.


Roy apa Roy? Eheemmm 🤭🤭


"Siapa? Irene? Wanita tukang morotin Julian itu. Idih ogah, punya ipar dia." Protes Jared.


"Iisshh Mama juga alergi punya mantu dia. Ini masih gadis. Dijamin masih segelan. Cantik. Masih 24 tahun. Dari keluarga baik-baik." Promosi May Lee.


"Wiiihh promonya gencar amat. Bukan barang diskonan kan?.. Astaga Mama sakit!" Jared berteriak ketika sang Mama mengeplak lengan Jared.


"Sembarangan!"


"Pada ngomongin apa sih? Serius amat"


"Uupppssss."


Ucap Jared dan May Lee bersamaan. Takut ketahuan.

__ADS_1


***


__ADS_2