MUA Buruk Rupa

MUA Buruk Rupa
Apa Aku Jatuh Cinta?


__ADS_3

"Dimana dia?" tanya Julian, sambil menghela nafasnya berat. Lelah jelas terlihat di wajah tampannya.


Roy yang berada disampingnya hanya terdiam.


"Kok diam. Dia dimana?" ulang Julian lagi.


"Dia? Yang mana? Siapa?" Roy balik bertanya. Wajahnya jelas blank tidak tahu siapa yang bosnya tanyakan.


"Celli-lah. Bodo amat dengan Irene." Jawab Julian dingin.


Roy bukannya menjawab malah ber-oo ria. Pria itu sedang menunggu Julian mengganti bajunya. Tugas yang yang paling enggan Celli lakukan. Ya iyalah. Wong kadang Julian seenaknya sendiri melepas celana di depan Celli. Atau dengan santainya berganti baju didepan gadis itu.


Oh please deh ah. Celli juga normal kali. Sering disuguhi pemandangan indah begitu. Lama-lama membuat otak Celli tidak lagi polos. Melainkan sudah terkontaminasi oleh bayang-bayang tubuh Julian.


Celli akui bekerja dengan Julian benar-benar sering membuat dirinya spot jantung. Padahal dia dulu sering bekerja dengan banyak artis pria. Namun jantungnya tidak pernah berdisko ria. Seperti saat bersama Julian.


Pria itu memiliki pesona yang sulit ditolak oleh wanita manapun yang melihatnya. Apalagi Celli yang sering berinteraksi langsung dengan pria itu.


Pantas saja fans pria itu bejibun di luar sana. Meski tidak pernah terlihat saat pria itu melakukan pemotretan atau shooting iklan. Tapi hidden fans Julian benar-benar banyak. Lihat saja follower dia di medsos-nya berapa.


"Oh Celli sudah ada di van. Kata bos kalau sudah selesai. Suruh dia menunggu di van saja." Seloroh Roy mengulurkan sebuah kaos kepada Julian.


Hari benar-benar sudah larut ketika mereka keluar dari gedung tempat pemotretan mereka hari itu. Sedikit melongo ketika mendapati Celli sudah tidur saat Julian membuka pintu van-nya.


"Dia sudah makan belum ya?" tanya Julian pada sang supir.


"Belum mau, Tuan. Katanya mau makan mi yang ada didepan apartement. Bilangnya enak." Pak supir menjawab.


Julian menghela nafas. Menyuruh supirnya mulai membawanya pulang.


"Bagaimana soal Irene?"


"Seperti biasa. Dia hanya cari perhatian. Lihat saja beritanya di media online."


"Malas!" jawab Julian singkat.


"Palingan yang ribut Tuan Besar." Celetuk Roy.


"Ah kau benar."


"Bagaimana dia datang kemari tadi?"


"Mau menebak?"


"Bersama si kutu kupret itu?"


"Yoi, aku jadi curiga. Apa kau kena tipu lagi."


"Aku tahu."


"Kau tahu?"


Julian mengangguk. Tiga bulan lalu, sehari sebelum Celli menjadi MUA-nya. Julian membuat kunjungan mendadak ke rumah Irene. Dan dia menemukan kemeja Mike di sofa ruang tamu. Dia kenal kemeja itu karena Julian dan Mike satu frame hari itu. Dan dia mengenal pasti aroma parfum Mike.


Sejak saat itu Julian mulai mencurigai Irene kembali berbuat curang di belakangnya.


"Hei...bangun katanya mau makan mie." Ucap Julian membangunkan Celli.


Celli masih belum mau membuka matanya.

__ADS_1


"Buka matamu. Aku tahu kamu sudah bangun." Ulang Julian.


Celli bergeming.


"Celli... bangun atau mau kucium lagi?"


Celli langsung membuka matanya begitu mendengar ancaman Julian. Bibirnya langsung manyun lima senti.


"Main ngancam saja!" gerutu Celli.


"Kau ini kalau tidak diancam tidak bakalan nurut. Kecuali kau mau kucium lagi?" tanya Julian sambil mendekatkan tubuhnya ke arah Celli.


Celli reflek menahan dada Julian dengan tangannya.


"Jangan coba-coba lagi," Celli memberikan peringatan.


"Aku tidak coba-coba. Aku serius," sahut Julian.


"Bullshit! Bohong!" kata Celli turun dari mobil van. Meninggalkan Julian yang melongo dikatai bullshit.


"Ehh maksudnya apa ngatain aku bullshit?" Julian menahan Celli yang hampir masuk ke tempat makan mi mereka. Roy sudah memesan lebih dulu.


"Nggak paham?" tanya Celli.


Julian menggeleng.


"Nggak paham ya sudah," Celli berlalu setelah menepis tangan Julian.


"Wooo minta diterkam kamu ya," gerutu Julian kesal.


"Wiiihhh enaknya." Seru Celli melihat mie yang sudah terhidang di meja. Masih mengepulkan asap. Pasti fresh from kompor he... he..


"Yah Kak, kok pergi sih," teriak Celli.


"Aku sudah makan Non. Plus aku ngantuk banget. Kamu sudah nyicil tidur, aku belum. Lagian kan ada si bos," ucap Roy.


"Yah kok ditinggal beneran sih. Kak...Kak Roy..."


Roy hanya melambaikan tangan. Lantas masuk ke lobi apartemen mereka. Meninggalkan Celli yang langsung cemberut wajahnya. Celli sendiri agak canggung ketika harus berduaan dengan Julian. Setelah dua kali ciuman juga kehadiran Irene yang mengaku pacar Julian.


"Eh Non, kenapa juga elu harus pakai gimana-gimana gitu sama kehadiran Irene. Apalagi cemburu. Elu kan hanya MUA-nya Julian, nggak lebih."


"Iya ya. Kenapa juga gue harus cemburu sama Irene. Masa bodoh dengan hubungan mereka."


"Malah diam. Katanya mau makan mi." Ujar Julian. Akhirnya mengalah membuka obrolan lebih dulu.


"Udah nggak selera!" Celli berucap lantas meletakkan kepalanya di atas meja.


"Makan....nanti asam lambungmu naik lagi. Seneng bener masuk UGD."


"Siapa juga yang seneng masuk UGD. Nggak enak tahu diinfus sama di oksigen itu. Sakit sama sumpek," keluh Celli.


"Nah tu tahu nggak enak. Makanya makan kalau nggak mau masuk sana lagi," tutur Julian mulai menyantap mie miliknya. Sejenak Celli hanya menatap Julian yang tengah menyantap makan malam super terlambatnya.


Tiba-tiba saja. Fokus Celli terpusat pada bibir Julian. Celli tidak bisa memungkiri. Julian memiliki wajah tampan sempurna. Dari semua artis pria yang pernah ia make up. Wajah Julian adalah yang paling mudah dirias.


Semuanya sudah sesuai porsinya. Jadi dia tidak banyak membuat shading atau tambahan lainnya. Cukup menambahkan sedikit sentuhan dan wajah Julian akan terlihat sempurna.


Apalagi bibir pria itu. Merah alami. Hingga terkadang Celli lebih suka menambahkan lip gloss ataupun lip balm. Padahal dia pernah melihat Julian merokok lo. Tapi bibirnya tetap terlihat merah dan eerrrr....seksi.

__ADS_1


Celli seketika menggigit bibir bawahnya. Mengingat bibir itu sudah dua kali mencium bibirnya.


"Haishhh otakku langsung blank kalau ingat ciumannya." Batin Celli sambil mengacak rambutnya sendiri.


"Kenapa?" tanya Julian.


"Ahh tidak ada." Celli langsung merutuki kebodohannya.


"Mau makan tidak?" tanya Julian. Celli menggeleng.


"Kau ini merepotkan!" gerutu Julian. Memanggil pelayan meminta untuk membungkuskan bagian Celli lantas membayarnya.


"Ayo naik. Aku ingin bicara," ajak Julian tegas.


"Bi...bicara apa?" Celli tergagap mendengar ucapan Julian.


"Adalah, penting dan serius."


Mau tak mau Celli mengikuti langkah bosnya itu. Dan disinilah Celli berada. Ruang tengah apartement Julian. Julian menolak untuk pergi ke apartement Celli.


"Minum ini. Ini bagus untuk lambung." Julian memberikan sebotol susu.


"Astaga kau mengagetkanku." Celli hampir melompat saking terkejutnya. Melihat Julian yang sudah membersihkan make upnya. Hingga bekas lukanya terlihat jelas.


"Kau takut?"


"Tentu saja tidak. Aku hanya terkejut."


"Apa yang membuatmu terkejut?" tanya Julian tajam.


"Bagaimana bisa kau memiliki luka itu?"


Julian menarik nafasnya dalam.


"Kecelakaan itu. Kecelakàan itu meninggalkan luka ini diwajahku. Apa terlihat buruk?"


"Tidak juga. Setiap orang memiliki kekurangan masing-masing. Aku pikir kau sempurna dalam segala hal. Ternyata kau juga punya kekurangan," balas Celli.


"Kau hanya menghiburku," cebik Julian kesal.


"Kalau aku cuma menghiburmu. Kau tidak akan percaya padaku. Dan menunjukkan wajah aslimu padaku," sahut Celli santai.


Julian mendelik mendengar Celli seolah tahu isi kepalanya. Julian percaya pada Celli.


"Bagaimana kalau aku tidak seperti yang ada di kepalamu?" Ceĺli bertanya sambil melipat tangannya.


Julian memicingkan matanya.


"Maka kau akan kuikat selamanya. Tidak akan kubiarkan kau pergi dari sisiku. Agar kau tidak bisa membocorkan rahasiaku," Julian bertutur ambigu.


"Mak...maksud ucapanmu apa?" tanya Celli gugup.


Sementara Julian hanya menyeringai mendengar pertanyaan Celli.


"Aahh, aku pikir aku kualat pada papaku. Yang dipikirkan Papa sepertinya benar adanya. Akan ada lamaran dadakan."


Julian baru sadar jika jantungnya berdebar kencang saat mencium Celli tadi siang. Juga tadi waktu mereka hanya berdua di van. Bahkan sekarang jantungnya seolah sedang berdisko ria di dalam sana. Padahal dia hanya duduk berhadapan dengan Celli.


"Oh my God. Apa aku jatuh cinta padanya?" batin Julian.

__ADS_1


***


__ADS_2