
Sore menjelang. Julian masuk ke ruang kerja kakaknya. Dimana kedua kakaknya sudah menunggu. Begitu keduanya pulang dan beristirahat sejenak. Julian langsung berinisiatif menemui keduanya.
"Kamu sudah datang?" tanya Jared.
Wajahnya keduanya terlihat kebih baik dari terakhir kali Julian melihatnya.
"Aku datang siang tadi?" jawab Julian mengambil tempat duduk di depan kedua kakaknya.
"Dengan pacarmu?" tanya Caca.
Julian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Dia belum mau menerimaku."
"Yang benar? Ada ya bisa menolak pesona Julian Argantara," ledek Caca.
"Kamu saja dulu nggak ngelirik aku," cibir Julian.
"Ya bagaimana ya. Aku lebih suka sama kakakmu. So..sorry," jawab Caca.
"Jadi nggak marah nih ceritanya kalau aku dulu naksir kamu?"
"Nggaklah. Dulu kan masih bebas. Nah kalau sekarang, tak hajar jika berani ada rasa ke aku," jawab Caca tegas.
"Sekarang gak bakalan aku ada rasa ke kamu." Julian juga menegaskan perasaannya pada Caca.
"Bagus kalau begitu. Jadi sudah mentokkah sama yang ini?" tanya Jared.
"Aku sih iya. Dia? Masih sibuk ngehaluu sama idolnya. Padahal sudah 24 tahun lo dia itu."
Jared ngakak. Mendengar keluhan adiknya soal gebetan.
"Ketawain aja terus."
Ketiganya lantas tertawa bersama. Hingga kemudian tawa itu berganti menjadi keheningan.
"Aku minta maaf soal anak kalian. Aku sungguh tidak menyangka jika akan begini kejadiannya." Julian berucap sambil menundukkan kepalanya.
Membuat Jared dan Caca saling pandang. Lalu keduanya tersenyum.
"Sebelumnya kami memang bersedih dengan apa yang terjadi. Tapi belakangan kami menyadari. Ini yang terbaik untuknya."
"Maksudnya?"
"Kehamilan Caca sejak awal bermasalah. Ada kelainan genetik yang terdeteksi seminggu sebelum kejadian itu." Jared mulai bercerita.
"Dokter sudah menyarankan untuk menggugurkannya. Mumpung masih tujuh minggu waktu itu. Tapi aku menolak. Bagaimanapun dia anak kami. Jadi kami berusaha untuk menerima apapun resiko yang akan terjadi jika kami bersikeras mempertahankan janin ini." Caca menjeda ucapannya. Ada pedih yang dia rasa kala bercerita.
"Resiko?" Julian bertanya.
"Dengan kelainan genetik ada resiko janin tidak akan bisa berkembang sempurna. Dan akan gugur dengan sendirinya. Jika memang begitu kami tidak masalah. Atau janin itu akan mengalami kecacatan jika berhasil bertahan." Jared menahan sesak didadanya. Mengingat empat tahun mereka menunggu untuk memberi adik pada Seina.
"Jadi kami akan berusaha berbesar hati untuk menerimanya," putus Caca pada akhirnya.
"Aku tidak tahu harus bagaimana. Harus merasa senang atau apa. Tapi tetap saja aku merasa bersalah." Julian berujar.
"Sudahlah kamu sendiri juga tidak tahu jika akhirnya akan seperti itu. Anggap saja kami diberi waktu untuk lebih memperhatikan Siena. Kamu tahu kan dia selalu mengeluh tidak diperhatikan."
"Lagian kau ini Kak...punya suami tajir kok masih sibuk ngeyel kerja. Tinggal duduk saja di rumah kenapa," protes Julian.
__ADS_1
"Aku kan juga suntuk kalau dirumah terus," alasan Caca.
"Tidak apa-apa. Sebab sebelum menikah aku memang sudah berjanji untuk tidak mengekangnya soal pekerjaan. Jadi jika bukan keinginannya sendiri untuk berhenti. Aku tidak bisa memaksa."
"Lalu anak kalian yang jadi korban? Kan kamu bisa ngantor dari rumah to. Designer nggak harus ke butik untuk bekerja."
"Ya memang sih. Tapi aku kan punya klien yang harus aku temui."
"Kau ngantornya kalau ada urusan saja. Lain work from home," putus Julian.
Caca melipat tangannya.
"Apa?" Ketus Julian.
"Kau pandai sekali bicara. Aku mau lihat bagaimana besok kamu menghandle istri kamu, jika kau jadi dengan yang ini. Dia suka jadi MUA kan?"
"Celli...Aracelli Anjani."
"Apa nama belakangnya Bagaskara?" tanya Jared sambil menyeringai.
"Aku tidak tahu. Belum mencari tahu."
"Apa kakaknya bernama Ardi?"
"Iya. Darimana kau tahu?"
"Cepatlah menikah kalau begitu. Biar aku bisa merger dengan salah satu rumah sakit mereka." Jared berucap antusias.
"Kau mau memanfaatkan pernikahanku?"
"Bukan begitu hanya saja peluang merger terbuka lebar jika kita sudah jadi keluarga," cengir Jared.
"Nepotisme saling menguntungkan kan tidak apa-apa."
"Tetap saja apa-apa. Oh ya kau pernah bertemu ayahnya Celli?"
"Belum. Kenapa?"
"Dia galak. Tegas. Kaku. Keras kepala?"
"Ampun deh. Kayak besi gitu ya," komentar Julian soal ayah Celli.
Jared ngakak melihat reaksi sang adik.
"Lian...Lian..nggak ada seorang ayah yang akan melepas anak perempuannya di lamar pria dengan mudah. Ada aja dramanya."
"Masa sih?"
"Sekarang aku nanya.Kalau kamu punya anak perempuan, terus ada yang mau ngelamar anakmu. Reaksimu bagaimana?"
"Ya aku harus pastiin dong kalau dia benar-benar layak untuk dapatin anakku."
"Nah tu tahu. Makanya kamu nikmatin aja nanti drama apa yang papanya Celli suguhkan padamu," Caca ikut nimbrung.
"Memang papamu buat drama apa ke kakakku?" tanya Julian ke Caca.
"Ada deh. Kamu siap-siap saja"
" Masalahnya selesai jangan diungkit-ungkit lagi. Kita akan berusaha untuk buat lagi. Agar adiknya Siena segera otewe. Siapa tahu kamu segera nyusul. Bisa hamil bareng kan seru," Caca berseloroh.
__ADS_1
"Ya diusahakan."
"Semoga sukses. Ayo makan. Lapar. Sekalian pengen kenalan sama pacarmu."
"Tadi sih main sama Siena."
"Masak?"
"Oh ya, kalian kalau buat bekas kerokan mbok ya jangan sampai kelihatan Siena. Dia ngomong kemana-mana tu."
"Ha?" Caca melongo.
Jared tertawa ngakak.
"Kamu sih Mas. Sudah dibilang jangan buat dileher. Kalau pakai bathrope kan Siena lihat."
"Aduh Sayang, yang begituan nggak bisa dikontrol. Begitu lihat langsung hap."
"Woi...woi...ada yang belum punya lawan nih. Kalian tanggung jawab kalau dia bangun." Julian memprotes pembicaraan intim pasangan uwu itu.
"Tinggal bawa ke kamar mandi aja kok susah," seloroh Caca.
"Kamu ya, kakak ipar au ah gelap. Njerumusin adik ke jalan sesat."
"Adik segedhe gaban gini. Tinggi aja gue kalah," ledek Caca.
"Dasar kakak ipar durjana!"
"Biarin!" Balas Caca sambil menjulurkan lidahnya.
Mereka sampai di ruang makan. Bersamaan dengan tawa Siena yang meledak dari ruang tengah. Membuat ketiga orang itu saling menatap. Lantas saling mengedikkan bahu, tanda tidak tahu.
"Ngapain sih?" tanya Julian.
"Aunty cantik tukang lawak," Ucap Siena sambil memegangi perutnya dengan tawa terus terdengar.
"Memang aunty cantik cerita apa?" Suara lembut Caca membuat tawa Celli hilang seketika. Menatap terpana pada sosok Caca yang tengah duduk disamping SienĂ .
"Cantik benar, pantas saja si naga dulu tergila-gila sama kakak iparnya." Batin Celli merasa insecure dengan dirinya sendiri.
"Cerita soal naga yang suka marah-marah. Sampai bisa nyemburin api dari mulutnya," cerita Siena.
"Apanya yang lucu?" tanya Julian kepo.
"Luculah...mana ada naga suka dandan terus pakai bedak tebal amat," tambah Siena.
Julian langsung melayangkan tatapan tajam ke arah Celli, yang langsung nyengir sambil membentuk tanda peace dengan jarinya. Seolah tahu siapa yang jadi bahan candaan mereka.
"Awas kau ya. Tunggu harinya, akan kubuat kau minta ampun pada nagaku." Batin Julian.
Celli langsung kicep mendapat tatapan tajam dari Julian. Bahkan ketika makan malam pun. Gadis itu hanya bisa diam. Duduk disamping Julian.
Meski makan malam itu terasa menyenangkan. Ayah Julian jelas merasa senang dengan kehadiran Celli. Dan hal itu membuat Julian curiga.
"Kenapa Papa begitu welcome dengan Celli. Padahal dulu dengan Irene ampun deh. Bujuknya susah benar. Tapi ini..sekali ketemu saja langsung deal..oke..no problem."
Batin Julian curiga pada Jonathan sang Papa. Menatap pada papanya yang tengah mengobrol riang dengan Siena.
***
__ADS_1