
Ardi berjalan sedikit malas. Memasuki gedung olahraga di sebuah komplek perbelanjaan. Kenapa juga dia harus mengiyakan permintaan konyol dari pasiennya. Padahal dia yang salah, kenapa juga Ardi harus repot-repot patuh pada permintaan gadis itu.
Toh meski dengan pangkat AKBP, gadis itu tetap tidak akan bisa menang melawannya kalaupun sampai naik ke ranah hukum. Dia hanya mengobati pasien. Intinya itu saja.
Begitu masuk dia langsung disambut lemparan seragam taekwondo.
"Pakai itu!" Satu suara memerintahnya tegas dan tanpa bantahan.
Sejenak Ardi tertegun. Menatap Shania yang sudah memakai baju taekwondonya. Dengan rambut dikuncir tinggi. Menampilkan leher jenjang putih miliknya.
"Oh sial! Apa ini?" maki Ardi dalam hati.
Padahal dia tidak tergoda sama sekali saat melihat Mia dengan leher jenjangnya.
"Dia serius apa ya?" batin Ardi lagi.
"Cepetan!" ulang Shania.
"Kamu bisa sabaran dikit nggak sih," kata Shane.
"Nggak sabar pengen ngehajar dia Kak," seloroh Shania sambil melempar pandangan mengejek pada Ardi.
"Jangan meremehkan orang, Nia. Itu pelajaran pertama yang harus selalu diingat," Shane memperingatkan. Namun Shania hanya memutar matanya malas.
Melihat hal itu, jiwa Ardi terbakar. Dia tentu saja merasa tidak terima diremehkan begitu saja oleh seorang wanita. Apalagi dia pasiennya dulu.
Segera berlalu ke ruang ganti. Sepuluh menit kemudian dia keluar. Dan membuat Shania melongo. Penampilan Ardi jelas berbeda dengan saat menjadi dokter. Yang sekarang lebih macho dan maskulin. Shania seketika menggigit bibir bawahnya.
"Kita mulai," ucap Ardi menerima tantangan Shania.
"Akhirnya kau menerima tantanganku."
"Aku begitu tertarik dengan apa yang akan kuminta darimu. Karena jujur saja. Aku belum memikirkannya."
"Kau meremehkanku." Shania berteriak.
"Shania!" Shane berteriak.
"2 x 10 menit. Siapa yang lebih dulu bisa menjatuhkan lawan di akhir waktu, itu pemenangnya," Shane memberitahu rule permainannya.
"2 x 10 menit. Berarti aku harus straight mengalahkan dia terus," Ardi membatin sambil menatap Shania yang sudah bersiap dengan kuda-kudanya.
"Lady's first," tukas Ardi.
"Kau menyebalkan!" geram Shania melayangkan sebuah pukulan ke arah Ardi yang sigap menghindar.
Begitu seterusnya. Beberapa pukulan dan tendangan dari Shania berhasil di hindari oleh Ardi. Membuat gadis itu geram.
"Serang aku. Jangan jadi pengecut!" Shania berteriak marah.
Ardi menarik satu sudut bibirnya.
__ADS_1
"Show time."
Detik berikutnya, begitu Shania menyerang, pria itu juga dengan gesit ikut menyerang. Satu dua kali pukulan dan tendangan mereka beradu membuat Shania tergugu. Ardi tidaklah sepolos yang dia kira.
Dalam keterkejutannya itu. Ardi menjegal kaki Shani. Membuat gadis itu terjatuh. Bersamà an dengan peluit yang Shane tiup menandakan 10 menit pertama sudah berakhir.
"Aargghhhh," Shania meringis. Mengusap-usap bo**kongnya yang sakit.
"Kau curang," Shania protes.
"Kewaspadaanmu, Nona. 1-0." Ucap Ardi dengan seringai jahat di bibirnya.
Shania mendengus kesal.
"Jangan meremehkannya. Ingat itu," bisik Shane. Shania semakin geram saja. Mendengar ucapan sang kakak.
Dua orang itu mulai bersiap lagi setelah meminum air mineral yang Shane berikan.
"Ronde kedua....mulai," Shane berucap sambil meniup peluitnya.
"Kenapa kau begitu marah padaku?" tanya Ardi ketika pria itu menahan pukulan Shania.
"Kau melecehkanku," jawab Shania balik menahan pukulan dari Ardi.
"Melecehkan dimananya. Aku ini dokter. Salah sendiri luka kok di payu****," teriak Ardi.
"Brengsek!" Shania balas menyerang Ardi dengan pukulan dan tendangan bertubi-tubi. Namun semua itu sia-sia. Karena Ardi sepertinya bisa membaca setiap serangan dari Shania.
"Bagaimana caranya kau akan bertanggungjawab?"
Shania bertanya sambil melayangkan sebuah tendangan yang langsung ditahan dengan tangan oleh Ardi. Pria itu lanngsung mendorong kaki Shania. Membuat gadis itu terhuyung ke belakang. Dan sekali lagi Ardi menjegal kaki Shania. Kembali membuat gadis itu terjatuh.
Namun sebelum tubuh Shania menyentuh matras. Ardi sigap menarik tangan gadis itu. Hingga tubuh Shania terjatuh perlahan diatas matras. Dengan Ardi duduk disamping Shania.
"Menikahlah denganku."
Shania langsung membulatkan matanya mendengar ucapan Ardi.
***
"Bagaimana dia bisa mengalahkanku dalam 2 x 10 menit?" Shania berucap dengan deru nafas memburu saking marahnya.
"Sudah kubilang jangan meremehkannya. Apa kau tidak bisa menilai tubuhnya. Tubuhnya jelas tubuh doyan ngegym. Plus dia bisa taekwondo sama sepertimu bahkan mungkin ditambah seni bela diri yang lain." Shane mencecar sang adik.
Shania jelas langsung manyun mendengar ceramah sang kakak.
"Lalu aku sekarang harus bagaimana?" rengek Shania.
"Nah sekarang baru keluar anak manjanya. Mana Bu AKBP yang galak dan tegas," ledek Shane.
Shania lagi-lagi hanya bisa menarik nafasnya kesal.
__ADS_1
"Menikah dengannya? Yang benar saja," Shania bereaksi sambil melipat tangannya.
"Kenapa? Apa salahnya dengan dia?" tanya Shane.
"Dia cuma dokter bedah umum."
"Lihat kau meremehkannya lagi. Apa kau tidak bisa lihat di balik kesederhanaannya ada hal besar yang dia sembunyikan"
"Seperti? Dia seorang mafia...aduuhhh," Shania meringis karena sang kakak menyentil keningnya.
"AKBP kebanyakan baca novel online kamu ya."
"Ya habisnya hal besar apa yang bisa disembunyikan seorang dokter bedah. Apa dia seorang psyco...apa pembunuh berantai...."
"Malah makin ngaco ngehalunya. Sudahlah. Mending kamu pikirkan jawaban apa yang akan kamu berikan pada Ardi 1 minggu lagi," saran Shane tegas.
Shania semakin memanyunkan bibirnya.
"Ardiansyah Arjuna Bagaskara. 26 tahun. Dokter bedah umum di rumah sakit Karya Medika."
Itu hanya data luarnya saja. Begitu menguliknya lebih dalam. Shane langsung terperangah melihat siapa Ardi yang sebenarnya.
Ardi memiliki saham 30% di tempat dia bekerja sekarang. Yang tidak lain adalah rumah sakit milik sang paman. Juga saham di berbagai rumah sakit lainnya. Pria itu digadang-gadang akan menjadi pewaris dari Bagaskara Grup atau BK Grup. Yang usahanya meliputi rumah sakit juga perbankan.
"Kau kena batumu, Nia."
Shane menyeringai. Selama ini sang adik selalu bisa meloloskan diri dari acara perjodohan atau kencan buta yang diaturkan oleh orang tuanya. Sebab para kandidat itu sudah mengkeret duluan melihat Shania, yang Shane akui cantik tapi tingkahnya absurb plus bisa bikin illfeel para kandidat calon suami Shania.
Tapi sekarang, tanpa diminta Shania telah menyeleksi seorang pria. Dan tanpa diduga pria itu mampu memenuhi semua kriteria yang Shania inginkan. Mampu mengalahkannya di atas matras. Juga berani melamarnya langsung tanpa basa basi.
***
"Shania Saraswati Prayogo. Putri dari Jenderal Bima Prayoga. 26 tahun. Sekarang menjabat sebagai Kapolres Metro Kota."
Salah satu trah keturunan keluarga militer di negeri ini. Ardi pasti sudah gila berani melamar putri jenderal.
"Tapi sosoknya benar-benar menarik." Guman Ardi berbaring di kamar milik sang adik. Kamar bernuansa ungu. Warna light stick idola sang adik.
Menatap foto Shania yang terlihat begitu berwibawa dengan seragam dinas militarnya. Tapi didepannya, justru gadis itu berubah menjadi kucing yang begitu menggemaskan.
"Wong dipegang payu****nya buat dioperasi kok bilangnya pelecehan. Lagian aku selalu pakai sarung tangan. Sarjana Hukum kok kayak nggak tahu hukum."
Kembali Ardi berguman pelan. Seolah sedang curhat pada sang adik yang biasanya selalu mendengarkan curcolan recehnya.
"Ahh Celli, aku jadi rindu celotehanmu di rumah ini."
Ucap Ardi cukup jelas. Hingga pria yang ada di balik pintu itu bisa mendengar ocehan sang putra dengan jelas.
"Kami juga merindukannya, Di."
Batin pria itu yang tak lain adalah ayah Ardi dan Celli.
__ADS_1
***