
"Bagaimana bisa? Dia malah semakin populer setelah gosip itu!" Mike hampir melempar ponselnya. Melihat berita terbaru mengenai dunia showbiz. Yang isinya mengulas tentang klarifikasi Julian soal rumor yang beredar beberapa hari lalu.
Mike berpikir pamor Julian akan semakin merosot. Tapi ini malah sebaliknya. Ditambah dengan keberanian Julian untuk menunjukkan wajah no make up nya. Mengakui kalau dia memang punya bekas luka yang dia sembunyikan.
Juga pengakuannya yang mengakui kalau dia pernah menyukai kakak iparnya dulu. Karena mereka berdua memang teman kuliah. Namun pria itu menegaskan kalau sekarang dia tidak punya perasaan apa-apa lagi. Kecuali rasa hormat dan sayang karena dia adalah istri dari kakak yang sangat dia cintai.
Pernyataan Julian itu justru membuat banyak komentar positif bermunculan. Menganggap jika Julian juga hanya manusia biasa. Yang punya kekurangan juga kelemahan.
Mike benar-benar kesal. Karena rencananya gagal untuk membuat Julian bergeser dari popularitasnya. Dia yang justru sekarang sedang kesusahan. Karena beberapa kontraknya tidak diperpanjang. Tanpa tahu sebab pastinya.
"Sial!" Maki Mike sekali lagi. Sambil berjalan keluar dari apartemennya. Sebab dia masih ada schedule pemotretan yang harus dia jalani.
****
Celli menatap Julian yang balik menatapnya sambil tersenyum.
"Beuuhhh orang itu kalau senyum bisa buat es di kutub utara mencair nih. Bahaya, bisa menenggelamkan hati dan raga sampai sedalam-dalamnya," batin Celli.
"Makan dulu ya. Habis itu istirahat," bujuk May Lee.
"Yang lain mana?" tanya Julian.
"Kakakmu masih mengantar kontrol Caca."
"Seina..."
"Seina? Siapa itu?" tanya Celli dalam hati.
"Tadi sih di belakang main sama Tari, naahh itu dia," May Lee menunjuk ke arah belakang mereka. Dimana seorang gadis kecil dengan rambut panjang terurai berjalan mendekat.
"Uncle...."
Teriak Seina begitu melihat Julian. Dan pria itu langsung merentangkan kedua tangannya. Menyambut Seina untuk masuk ke dalam pelukannya.
"Anak Uncle okay?" tanya Julian.
Celli seketika melongo melihat bos naganya berubah menjadi bapakable begitu bersama Seina.
"Seina okay. Tapi Mama not okay. Dia sedih. Adik kecil pergi ke tempat yang jauh tidak jadi main sama Seina." Julian langsung tercekat. Semua itu kesalahannya.
Dari situ Celli tahu Seina anak kakak Julian. Anak Caca. Ketika Julian berkutat dengan rasa bersalah yang kembali menerpa. Seina justru terpaku pada Celli. Yang tengah menatap Julian yang setengah melamun.
"Ehh Aunty cantik siapa ya? Temen tidurnya Uncle."
Gubrak...
Ucapan Seina langsung membuat ketiga orang dewasa itu saling menatap.
"Siapa yang bilang seperti itu Seina?" Julian bertanya.
"Mama...mama bilang nanti kalau ada aunty cantik datang ke rumah bareng Uncle. Itu berarti dia teman tidurnya Uncle. Biar bisa buat adik bayi."
"Uhuuukkk"
Celli langsung tersedak teh yang tengah dia minum.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Julian.
"Keseleklah masih nanya."
"Baju Aunty basah," seru Seina menunjuk ke dada Celli yang basah.
"Ah tidak apa-apa. Nanti juga kering." Jawab Celli mengusap lembut kepala Seina sambil tersenyum.
__ADS_1
"Aunty cantik," Seina berucap membuat Celli merona wajahnya.
"Giliran Seina yang muji aja klepek-klepek. Tapi kalau aku yang bilang situ cantik bawaannya tidak percaya."
"Eh Uncle...anak kecil itu jujur, nggak kayak kamu yang penuh modus dan trik." Balas Celli cepat menirukan panggilan Seina untuk Julian.
"Busyet dah gitu amat jawabnya," protes Julian.
May Lee hampir tertawa mendengar perdebatan Julian dan Celli. Sosok Celli berbeda di mata May Lee. Julian terlihat begitu santai dan lepas saat bersama Celli. Tidak seperti saat bersama Irene.
Irene terlalu mengatur Julian dalam segala hal. Ini tidak boleh. Itu tidak boleh.
"Sudah-sudah. Malah jadi ribut to."
Sebenarnya tidak ribut dalam arti bertengkar. Tapi keduanya berdebat dengan Seina yang ikut nimbrung dalam perdebatan mereka.
"Aunty cantik ganti baju dulu aja. Nanti masuk angin, kasihan Uncle kalau harus ngerokin Aunty."
"What??!!!"
Mata Celli membulat mendengar ucapan Seina.
"Kerokan?"
"Iya...mama Seina sering kerokan sama Papa. Jadi kadang lehernya suka merah-merah kalo Seina bangun tidur. Katanya kedinginan terus masuk angin."
"Alamak!!"
Gedubrak!!
Celli melongo. May Lee sampai menganga mulutnya. Julian hampir tersedak ludahnya sendiri.
"Astaga...tu bapak sama ibuk bener-bener deh." Guman May Lee.
Sedang Celli langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Salah tingkah.
***
"Jangan dipikirkan omongannya Seina," kata Julian. Menunggu Celli yang tengah mengganti bajunya di kamar Julian.
"Yang mana?" jawab Celli. Setelahnya perkataan Julian sama sekali tidak didengarnya.
"Bener-bener kamar pangeran vampir."
Gumam Celli yang malah sibuk touring di walk in closetnya Julian. Bukannya segera mengganti bajunya. Gadis itu sudah membuka kancing kemejanya. Sedikit menampilkan dadanya. Hendak mengganti bajunya ketika dia teringat ucapan Mama Julian.
"Jangan kaget kalau masuk kamar dia. Kamarnya kayak kamar pangeran vampir."
Jadi Celli penasaranlah. Hingga dia malah sibuk berputar-putar di walk in closet Julian. Melihat koleksi jam tangan pria itu. Hal yang paling menarik dari seorang pria adalah koleksi jam tangannya. Itu menurut Celli.
"Malah main-main bukannya cepetan ganti baju." Gerutu Julian sambil menyandarkan tubuhnya di pintu walk in closet.
Celli hanya menoleh sambil nyengir.
"Lihat jam. Kayak kak Ardi pecinta Rolex sama Phillip Patek."
"Cell, kamu sengaja mancing aku lagi ya." Ucap Julian begitu melihat kemeja Celli yang terbuka.
Seolah ingat dengan kemejanya. Celli dengan cepat menutupi dadanya.
"Iisshh apa sih. Keluar sana aku mau ganti baju" Usir Celli. Namun pria itu malah mendekat. Alarm peringatan kebakaran langsung menyala di otak Celli.
"Mau apa?"
__ADS_1
"Cari makanan pembuka."
"Makanan di dapur nggak ada disini."
"Ada, tu...." Ucap Julian sambil menunjuk dada Celli.
"Ini bukan makanan. Tidak untuk dimakan. Not for eat."
"Tapi bisa dinikmati." Sejurus kemudian pria itu sudah mencekal dua tangan Celli diatas kepala gadis itu. Menghimpitnya di almari walk in closet. Bibir Julian dengan gesit langsung mencium bibir Celli.
Menikmatinya dengan lembut, sebelum akhirnya turun ke leher jenjang Celli. Terus hingga ke dada Celli. Membuat Celli dengan cepat berontak.
"Stop...stop... jangan diterusin. Nanti jadi nanggung malahan. Nggak enak."
"What??!!!"
Wah sejak kapan Celli jadi tahu apa yang Julian rasakan. Nanggung...gak enak....bikin pusing kepala.
"Kalau begitu kita buat versi fullnya." Ucap Julian sambil menyeringai.
"Nggak. Belum sah...nanti dosa."
"Kalau begitu besok kita nikah. Malam ini aku melamarmu." Julian berujar cepat.
"Jangan ngaco kamu ya," Celli melepaskan diri dari cekalan Julian. Meraih dress yang diberikan Julian sekaligus dengan perlengkapan lainnya. Tidak tahu darimana pria itu mendapatkan.
"Celli...come on. Tega sekali kamu menyiksaku," rengek Julian. Menunggu Celli benar-benar mengganti bajunya.
"Salah kamu sendiri!" teriak Celli.
Julian mendengus kesal.
"Makanya punya pusaka jangan terlalu sensitif." Bisik Celli di telinga Julian.
"Hei, nanti kalau tidak sensi kamu yang bingung," goda Julian. Berjalan menuju rak sepatu. Sejenak melihat koleksi sepatunya. Dia teringat pernah dihadiahi flat shoes dari brand Prada.
"Got it."
Berjalan kembali ke arah Celli yang tengah melihat penampilan dirinya di kaca full body milik Julian.
"Ini benar-benar ukuranku. Pakaian dalamnya juga. Sangat pas dipakai." Batin Celli, tanpa sadar Julian sudah berjongkok di hadapannya.
"Pakai ini," ucapan Julian membuat Celli menunduk.
Reflek memundurkan dirinya. Sebab gaun selutut yang dia pakai memungkinkan seseorang bisa melihat ********** karena dia tidak memakai hot pants.
"Takut bener kelihatan. Lagian aku tahu warnanya." Kata Julian memakaikan flat shoes di kaki Celli.
"Iyalah tahu. Yang beli kan kamu."
"Eh tidak ya. Itu semua hadiah. Aku punya banyak hadiah barang perempuan. Di lemari itu."
"Kenapa gak suruh Mamamu pakai atau mantan cinta pertamamu."
"Diungkit lagi. Mama dan Caca tidak muat. Semua sudah melar karena ulah papa dan kak Jared. Tapi punyamu kan masih orisinil. Masih ukuran asli." Seringai Julian.
Celli hanya bisa menarik nafasnya. Baru tahu jika bosnya yang juga mengaku calon suaminya itu, punya pikiran yang benar-benar mesum.
"Dia berubah nggak ya kalau sudah menikah. Atau malah tambah parah?"
"Menikah? Julian menikah dengan siapa? Dirinya? Apa iya?"
Celli terdiam sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
***