
"Bagaimana dia?" tanya papa Julian.
"Dia baik. Seperti biasa." Jawab May pada kakak iparnya.
"Lalu gadis itu?"
"Maksudmu Celli? MUA Julian yang baru."
Papa Julian mengangguk. Keduanya berada di ruang tengah kediaman Argantara.
"Dia gadis yang baik. Aku mengenalnya sejak dia masih kuliah."
"Apa kamu berpikir untuk menjodohkan dia dengan Julian."
"Itu tergantung mereka. Kalau sekarang mereka masih sebatas atasan dan bawahan. Tapi Celli tipe berani. Julian tidak akan mudah menindasnya. Lagipula aku mengikat Celli untuk satu tahun ke depan."
"Kau licik May..."
"Adik ipar siapa dulu dong."
"Kau menganggapku licik juga."
"Menurutmu?" May balik bertanya.
Papa Julian mendengus kesal.
"Apa kau yakin kalau dia gadis baik? Jelas asal usulnya. Bukan seperti yang morotin Julian itu."
"Kau lihatlah ini. Apa kali ini aku salah pilih?" ucap May. Mengulurkan Ipadnya pada kakak iparnya.
Sejenak pria itu membaca Ipad dari May. Sejak pertama dia langsung membulatkan matanya.
"Ini benar kan May. Kau tidak sedang menipuku?"
"Ini valid kakak ipar. Mana berani aku menipumu. Aku bisa jadi gelandangan kalau aku berani menipumu." Gelak May.
"Kau jangan membuat drama. Kau pikir aku tidak tahu kekayaan suamimu apa. Pria Korea itu...."
"Jonghyun kakak ipar. Lee Jonghyun." May menegaskan siapa suaminya.
"Iya dialah. Dia cukup kaya untuk mencukupi gaya hidup royalmu itu"
"Aku tidak royal, ya hanya sedikit membelanjakan duit suami."
"Sama sajalah itu."
"Oh ya ngomong-ngomong soal membelanjakan duit suami. Dimana kakakku?"
"Jangan kau ajak dia belanja." Papa Julian mengalihkan perhatiannya dari Ipad May yang berisi data diri Celli.
__ADS_1
"Kenapa? Kalau kamu tidak memberinya uang. Dia tinggal minta pada Julian. Dan putra kesayanganmu itu pasti akan memberikan sebanyak yang mamanya mau." Cibir May.
"Kau ini sama saja dengan Lian. Kalau datang pasti membuat kepalaku puyeng." Gerutu Papa Julian.
Sedang May hanya nyengir sambil berlalu dari hadapan papa Julian.
***
"Bagaimana kabar adikmu?"
"Dia baik." Jawab Ardi singkat.
"Apa dia makan dengan baik? Dia punya asam lambung."
"Kalau kalian khawatir ya temui Celli kan gampang. Sudahlah lagian apa salahnya sih dengan jadi MUA. Kerjaan halal juga. Nggak nyolong. Nggak nipu." Cerocos Ardi tanpa henti.
Dia cukup kesal dengan papa dan mamanya. Hanya karena Celli punya passion dibidang make up dan ingin jadi MUA yang mumpuni, sang papa marah. Hingga bersitegang dengan Celli yang tipe keras kepala. Hingga akhirnya Celli memutuskan untuk tinggal sendiri. Membuktikan kalau dirinya bisa sukses menjadi MUA.
"Aku selesai. Naik dulu. Mau istirahat capek." Ucap Ardi lantas berlalu dari hadapan kedua orang tuanya.
Sebagai kakak Ardi merasa bersalah. Dia diizinkan kuliah kedokteran. Diizinkan menjadi dokter sambil belajar soal perusahaan. Namun sang adik, apa karena dia perempuan. Sang papa jadi membedakan dirinya dan Celli.
Karena itu ketika Celli memutuskan untuk tinggal terpisah. Ardi mendukungnya seratus persen. Ardilah tempat Celli berkeluh kesah. Celli tidak punya teman sebaya. Hanya beberapa teman yang dia punya, itu pun tidak dekat.
Setelah Ardi naik ke kamarnya di lantai dua. Papa dan Mama Celli saling pandang. Ada rasa bersalah dalam tatapan papa Celli. Mereka memang merindukan putri bungsu mereka. Tapi papa Celli terlalu gengsi untuk minta maaf. Ataupun sekedar menghubungi Celli. Bertanya soal kabar.
***
Julian melepas paksa ciuman Irene. Mereka baru saja menghabiskan makan malam mereka. Dan seperti biasa, keduanya akan mengobrol di ruang tengah. Tapi malam ini Irene cukup berbeda dari biasanya. Dia agak agresif malam ini. Ditambah dress yang sedikit seksi. Cukup menantang naluri kelelakian Julian.
"Lian...aku rindu padamu. Kamu tahu kan selain kamu tidak ada yang datang kemari." Rengek Irene. Kali ini Irene minta untuk didudukkan di sofa disamping Julian.
Tangan Irene tidak berhenti bergerak ditubuh Julian. Meraba dada bidang pria itu. Lantas turun ke bawah ke perut sixpack Julian. Terang saja Julian gelagapan karena ulah Irene. Pria itu memang sudah lama tidak disentuh wanita. Jadi satu sentuhan saja, tubuh Julian langsung merespon.
"Bahaya ini, bahaya." Batin Julian.
Dia pikir kelumpuhan Irene akan sedikit mempengaruhi gairah wanita itu. Tapi ternyata dia salah. Namun dokter memang mengatakan kalau kelumpuhan Irene hanya di kakinya saja. Yang lain normal. Termasuk hasrat dan gairah serta keinginan untuk bercinta.
"Lian apa kamu menolakku? Aku begini karena salahmu!" Ucap Irene berusaha menyudutkan Julian. Biasanya cara itu akan ampuh untuk meluluhkan hati Julian.
"Iya itu semua memang salahku. Tapi apa setahun ini tidak cukup usahaku untuk menebus kesalahanku."
"Kau mengungkitnya?"
"Bukan begitu Irene. Tapi kita tidak bisa melakukan lebih dari itu."
"Kalau begitu nikahi aku." Bujuk Irene.
Julian langsung menatap tajam pada Irene. Bertanggung jawab atas kelumpuhan Irene...iya Julian lakukan. Dia membiayai hidup Irene. Menyediakan dokter dan perawat untuk memeriksa dan melakukan terapi.
__ADS_1
Tapi menikahi Irene...sepertinya Julian tidak bisa. Sebab dia tidak lagi mencintai wanita itu.
"Menikahimu? Aku sepertinya tidak bisa. Aku tidak mencintaimu Irene. Semua yang aku lakukan hanyalah untuk menebus kesalahanku padamu." Jawab Julian melembut.
"Jika bukan kamu yang menikahiku. Lalu siapa yang bersedia menikahiku. Tidak ada pria lain yang mau denganku. Aku memang lumpuh. Tapi aku masih bisa hamil anakmu"
Julian kembali membulatkan mata mendengar ucapan Irene.
"Irene ini bukan soal kau bisa hamil anakku atau tidak. Aku ingin menikah karena cinta bukan karena rasa bersalah. Rasa tanggung jawab atau yang lainnya."
"Di zaman sekarang mana ada wanita yang mau menikah karena cinta. Semua pasti ada embel-embelnya. Aku jamin semua wanita yang dekat denganmu hanya karena dirimu yang tampan dan kaya."
Julian tersenyum mendengar ocehan Irene.
"Kamu sepertinya sedang menggambarkan dirimu sendiri." Sindir Julian telak.
"Aku tidak seperti itu." Sangkal Irene kelabakan. Dalam hati mengumpat kebodohan dirinya sendiri.
"Iya kau tidak seperti itu. Jika tidak, kau pasti memilih untuk sabar menungguku. Tapi nyatanya kau malah bermain api dibelakangku dengan Mike." Lagi Julian menyindir Irene.
"Aku tidak seperti itu. Waktu itu Mike merayuku..."
"Dan kau menyambut rayuannya...hebat sekali kamu." Potong Julian.
"Julian...."
Irene hampir menangis mendengar ucapan Julian. Tidak disangkanya jika pria yang dulu begitu tunduk padanya sekarang berubah menjadi dingin dan tidak tersentuh
"Sudahlah. Aku balik dulu. Sudah malam. Beristirahatlah agar kakimu lekas sembuh." Ucap Julian setengah penuh sindiran.
"Nikahi aku Julian! Kau harus bertanggungjawab atas kelumpuhanku!" teriak Irene.
"Bertanggungjawab kan tidak harus menikahimu. Tenang saja aku akan membiayai kehidupanmu sampai kakimu sembuh." Jawab Julian sambil berlalu keluar dari rumah itu.
"Lihat saja! Akan kubuat kau menikahiku dalam waktu dekat ini." Tekad Irene sambil mengepalkan tangannya. Dia mendengar mobil Julian mulai meninggalkan rumahnya.
"Sudah kubilang kan kalau dia tidak seperti dulu. Dia banyak berubah. Apalagi yang aku dengar sekarang dia mengganti MUA-nya." Kata Mike yang muncul dari arah pintu belakang.
"Siapa MUA-nya? Bukankah MUA-nya Kak May, tantenya."
"Sudah bukan lagi. Yang aku tahu dia wanita dan wajahnya cantik." Mike mengompori Irene.
"Kurang ajar. Siapa dia?" tanya Irene emosi lantas berdiri dari duduknya. Mengepalkan kedua tangannya.
"Julian tidak boleh jatuh ke tangan wanita lain. Aku tidak bisa hidup tanpa uang darinya. Tidak...tidak...aku tidak mau hidup susah." Tekad Irene.
Itulah Irene yang sebenarnya. Dia memang mencintai Julian tapi dia lebih mencintai uang Julian. Perempuan bermuka dua mungkin julukan itu tepat untuk Irene.
***
__ADS_1