
Celli melongo melihat bagaimana Julian berpose didepan kamera. Benar-benar membuat mata siapapun tidak berkedip. Termasuk Celli, bagaimana tampan dan mempesonanya si naga penyembur api begitu kamera on.
"Gila...gila....pantes aja yang diluaran sana pada jejeritan kalau lihat hasil photoshoot ni orang." Batin Celli.
Sambil buru-buru menutup mulutnya. Karena dia sedang makan saat ini.
Kredit Pinterest.com
Apalagi ketika pria itu melepas jasnya, lantas menggulung lengan kemejanya..beuuhhh macho abis. Celli bergegas menghabiskan makanannya. Karena lima menit lagi mereka akan mengambil break sebentar. Pindah tempat.
"Itu punyaku!" Protes Celli ketika Julian main minum boba miliknya.
"Salah sendiri tidak membelikanku juga." Sahut Julian ketus. Celli langsung mendengus kesal.
"Jadi ini wajah buruk rupanya." Batin Julian karena Celli melepas maskernya untuk makan dan minum.
Pria itu hanya bisa menghela nafasnya. Ingin sekali menghajar pelakunya. Tapi sayang pelakunya wanita. Jika tidak, bisa dipastikan orang itu babak belur dihajarnya. Bisa-bisanya sengaja membuat wajah orang lain alergi. Nah lo...nah lo kenapa aku jadi begitu peduli pada Celli. Julian langsung menggelengkan kepalanya.
"Berapa lama break-nya?" tanya Celli memakai kembali maskernya.
"10 menit." Jawab Julian singkat.
"Sini." Pinta Celli, lantas men-touch up make up Julian. Bersamaan dengan Liu yang datang mendekat.
"Halo..kamu MUA Julian yang baru ya." Sapa Liu ramah.
Kredit Google.com
Kenalkan Liu, sohibnya Julian..
"Apa sih?" Ketus Julian menabok paha Liu. Karena pria itu main duduk disampingnya.
"Mau kenalanlah. Sama kak May kan nggak mungkin digebet. Siapa tahu yang ini mau jadi gebetan aku," Cerocos Liu.
"Sembarangan kalau ngomong." Sahut Julian.
"Diam dulu!" Julian langsung kicep mendengar protes Celli.
"Jangan suka sama saya. Wajah saya jelek banyak jerawatnya." Jawab Celli cepat.
"Masa sih?" tanya Liu tidak percaya.
Celli hanya memutar matanya malas. Dia paling ogah ditanya soal wajahnya. Iya...iya itu salahnya sendiri. Tidak membaca dulu komposisi krim malam yang ia pakai. Main oles saja. Dan lihatlah hasil kecerobohannya.
"Kalau kamu jerawatan kok si Julian mau terima kamu jadi MUA-nya, dia selalu mengutamakan wajah yang sedap dipandang....aduuuuhhh Lian sakit!" Pekik Liu karena Julian mencubit pahanya. Sedang Julian langsung melotot mendengar perkataan Liu.
"Bisa diam nggak kamu!" bentak Julian.
"Gak papa yang dikatakan dia benar. Wajah sedap dipandang itu penting." Jawab Celli berusaha tersenyum.
"Jangan dengarkan dia Cell." Perintah Julian.
"Tapi kan sudah terlanjur diomongin. Dan saya kebetulan dengar. Oke siap." Celli berkata setelah menyapukan lip gloss pada bibir Julian.
__ADS_1
"Istirahat saja di mobil. Sebentar lagi aku selesai."
"Tapi....."
"Jangan membantah!" tegas Julian.
Celli langsung memanyunkan bibirnya di balik masker.
"Iya...iya aku pergi. Jangan sewot napa. Aku yang dikatain jelek aja santai." Seloroh Celli menjauh dari Julian dan Liu.
"Kau kalau ngomong bisa nggak sih pakai filter." Marah Julian.
"Sorry. Aku cuma heran saja denganmu. Kalau dia jelek ngapain kamu mau dia jadi MUA-mu."
"Dia jelek cuma sementara. Nanti kalau si itik sudah berubah jadi angsa baru ngeces kamu dibuatnya." Ledek Julian.
"Apa aslinya dia cantik?"
"Bolehlah." Jawab Julian sambil berjalan menuju spot photoshoot selanjutnya dengan Liu mengekor di belakangnya.
"Lalu kenapa sekarang dia jadi itik?"
"Temannya sengaja mengerjainya."
"Ha? Ada ya model begitu."
"Adalah, tidak ingat kasus Mike dan Fabian?"
Liu mengangguk.
"Minta maaf padanya." Pinta Julian.
"Lagipula kau tahu aku kan. Aku tidak menilai orang dari rupa fisiknya saja." Ucap Julian. Mulai berpose di depan kamera dengan Liu dan yang lainnya.
Liu mengangguk. Dia cukup paham sifat Julian. Mereka berdua sudah bersahabat sejak setahun terakhir. Karena keduanya sering berada dalam satu frame pemotretan. Mereka jadi akrab dan mulai berteman hingga sekarang.
Hampir pukul sepuluh ketika sang photografer menghentikan sesi photoshoot mereka. Mereka masuk ke ruang ganti dan mengganti baju mereka. Kali ini Roy yang menunggu Julian.
"Dia dimana?" tanya Julian yang masih bertelanjang dada. Menunggu kaos dari Roy.
"Menunggu di van." Jawab Roy sambil memberikan kaos pada bosnya. Julian lantas memakainya.
"Aku pergi dulu." Pamit Julian pada yang lain.
"Tidak makan dulu. Kita lama tidak makan bareng. Mumpung lagi komplit ini anggotanya." Teriak seorang teman Julian.
Julian sedikit berpikir.
"Cuma makan saja. Tidak ke klub kok. Restonya dekat apartementmu." Bujuk yang lain.
Julian menatap Roy. Dan bodyguard itu mengedikkan bahunya. Tidak tahu atau dia ikut saja.
"Kau tahu dia tinggal dimana?" tanya Julian.
"Apartement XX."
Julian mendengus kesal. Itu kebalikan dari arah apartemennya.
__ADS_1
"Nanti aku beritahu lagi." Jawab Julian.
Ketika pria itu membuka pintu van. Dilihatnya Celli yang tengah memejamkan matanya.
"Nggak bengep apa maskeran terus dari tadi." Gerutu Julian sambil mendudukkan diri dikursinya.
"Eh sudah selesai." Celli berucap tiba-tiba.
"Lepas saja maskermu. Nggak bengep apa?"
"Nanti kalian muntah lagi lihat wajah aku."
"Nggaklah."
"Ahh tidak perlu. Aku biasa pakai masker kok" Celli cukup tahu diri. Wajahnya bisa saja jadi polusi bagi orang lain, juga menganggu pemandangan.
"Terserahlah kalau begitu."
Mobil van mulai melaju meninggalkan mall tempat pemotretan.
"Kamu tidak masalah jika ikut acara makan-makan dengan yang lainnya." Tanya Julian.
"Aku mau pulang saja. Besok schedule-mu pagi sekali." Celli menjawab. Dia benar-benar tidak ingin mengganggu suasana disana dengan wajah buruknya.
"Tidak perlu mengantarku. Aku bisa naik taksi." Celli memberi solusi.
"Tapi apartementmu jauh." Roy yang menimpali.
"Tidak apa-apa. Jangan khawatir dengan wajah sepertiku siapa juga yang berminat menggoda." Celli menjawab rasional.
Hening sesaat.
"Roy nanti antarkan dia pulang. Turunkan aku didepan." Pinta Julian. Bagaimanapun Celli wanita. Julian tahu Celli punya tubuh yang seksi. Bisa saja mereka mengganggu Celli tanpa melihat wajahnya.
"Tapi...itu tidak perlu. Kamu lebih perlu Roy. Nanti kalau ada sesaeng fans gimana?"
"Wuuu, kebanyakan nonton idol Korea ni anak. Mana ada sesaeng fans disini. Yang ada fans fanatik." Balas Julian.
"Sama aja."
"Nah kalau gitu kamu ikut acara makan-makan kita oke?"
"Nggak mau. Aku capek mau mandi terus tidur" Celli beralasan.
"Ahh bos kita nginap saja disana. Bos kan punya member disana." Usul Roy.
"Ahh boleh juga itu. Aku pergi makan. Kau bukakan satu kamar untuknya."
"Hei...hei kalian ini main ambil keputusan seenaknya saja." Protes Celli.
"No protes!" Desis Julian.
"Dasar tukang paksa!" maki Celli dalam hati.
Namun pada akhirnya. Mata Celli lansung tertutup begitu bertemu kasur di kamar hotel yang Roy buka untuknya. Mengakhiri hari pertama yang begitu melelahkan untuk Celli.
Sedang Julian langsung menuju restauran di lantai tiga hotel itu. Sebelum berpesan pada Roy. Agar meminta Celli pindah apartement. Karena apartement Celli terlalu jauh dari pusat kota. Akan sedikit menghambat dalam pekerjaannya.
__ADS_1
****