MUA Buruk Rupa

MUA Buruk Rupa
Julian Yang Aneh


__ADS_3

"Cobalah untuk bertahan selama dua minggu ini. Jika kamu berhasil tanpa telat satu kalipun. Aku tidak akan menyuruhmu untuk pindah apartemen. Tapi kalau itu terjadi...kau harus ikut perintahku."


Satu kalimat panjang penuh tekanan Celli terima dari Julian. Setelah mereka mengakhiri sesi photoshoot hari itu. Celli langsung mengangguk yakin. Dia pasti bisa melakukannya.


Namun baru dua detik keyakinan itu tertanam di hati Celli. Pada detik ketiga, keyakinan itu langsung melarikan diri entah kemana. Begitu Celli menerima dua lembar kertas yang berisi schedule pria tampan itu.


Jadwalnya begitu padat merayap seperti antrian kendaraan mau masuk tol kalau musim mudik tiba.


"Ini serius Kak?" Tanya Celli tidak percaya.


"Dua kali rius malah." Roy menjawab. Sambil membaca kertasnya sendiri.


"Dia nggak lagi kejar setoran buat nikah kan? Gila ini semua kerjaan dia embat. Model lain bisa-bisa nggak kebagian job nih."


Batin Celli terus membaca schedule Julian dengan teliti.


"Ya ampun ini buat bernafas aja kayak nggak ada waktu." Kembali Celli mengeluh.


Pada akhirnya gadis itu hanya bisa menyandarkan tubuhnya di kursi. Menutup wajahnya dengan kertas schedule Julian. Sedang Julian yang sedang melakukan pose di set langsung menarik sudut bibirnya.


"Kita lihat saja nona. Berapa lama kamu bertahan sebelum mengiyakan perintahku untuk pindah apartement." Batin Julian menatap pada Celli yang jelas frustrasi.


"Oke. Good. See you tomorrow, guys." Sang photografer berucap.


Dan keesokan harinya dimulailah hari kalang kabut Celli. Gadis itu sudah seperti pekerja rodi. Pergi pagi sekali. Pulang hampir tengah malam. Dan selama itu mang Udinlah yang setia menjadi ojek pribadinya. Mengantarkannya pagi sekali. Dan menjemputnya saat malam sudah sangat larut.


Celli benar-benar harus membagi waktunya. Kadang dia menumpang mandi di venue sebelum pulang. Sambil menunggu Julian menyelesaikan sesi photoshoot terakhirnya. Atau dia harus curi-curi waktu untuk makan.


Untung saja selama periode itu, Celli tidak ribet dengan urusan make up. Dan kabar baiknya, jerawatnya mulai membaik. Satu hal yang membuat Celli mulai bisa tersenyum. Pun dengan Julian yang pada akhirnya mulai bisa melihat wajah cantik Celli.


Sering pria itu terus saja menatap wajah MUA-nya itu saat merias dirinya. Wajah alami tanpa polesan make up sama sekali. Namun justru disitu letak daya tarik Celli. Mata bulat tanpa tambahan polesan agar terlihat lebar. Alis tipis namun terlihat cantik saat memayungi mata bulat gadis itu. Bulu mata lentik tanpa tambahan bulu mata palsu ataupun ekstention. Hidung mancung alami tanpa shading.


Dan yang paling menggoda Julian adalah bibir ranum berwarna pink alami milik Celli. Sungguh terkadang Julian berpikir, kalau dia bisa hilang kendali lalu ******* bibir seksi itu. Menyesapnya tanpa henti bahkan mungkin dia bisa mengajak Celli untuk melakukan french kiss, barangkali.


"Oke, siap." Ucap Celli setelah menyapukan lip gloss pada bibir Julian. Lalu membiarkan modelnya itu meratakan lip gloss itu sendiri. Kembali Julian tersenyum.


"Pilihan May memang tidak pernah salah." Batin Julian sambil menatap Celli yang sedang mencarikan baju untuknya. Pria itu lantas berdiri. Melepas kaosnya dengan hati-hati. Lalu mendekat ke arah Celli.


Hari ini hari terakhir dari dua minggu yang dijanjikan oleh Julian. Dua minggu ini Celli benar-benar tidak telat satu kalipun. Dia pikir, dia pasti menang. Dan Julian sudah berjanji tidak akan mengungkit soal apartemen lagi.


"Konsepnya...."


"Kasual." Sahut Julian tepat di belakang Celli.


Membuat gadis itu reflek membalikkan badannya. Dan uupppss, bibir Celli langsung mencium dada bidang polos milik Julian. Mata Celli membulat karena terkejut. Reflek kembali memundurkan tubuhnya. Namun Julian langsung menarik tubuh Celli karena jika tidak, dipastikan Celli akan merubuhkan gantungan penuh baju di belakangnya.


Karena tindakan tiba-tiba itu. Bibir Celli kembali berlabuh di dada bidang Julian.


"Sorry...sorry tidak sengaja." Ucap Celli cepat seketika membalikkan badannya. Menyembunyikan rona merah diwajahnya yang terlanjur dilihat Julian. Membuat pria itu langsung menarik sudut bibirnya. Menyentuh pelan dadanya yang tadi dicium Celli.


"Tidak masalah." Jawab Julian lirih. Entah Celli dengar atau tidak.


"Argghhh."


"Kau kenapa?" Tanya Julian ketika mendengar Celli sedikit meringis.


"Tidak apa-apa." Jawab Celli. Mengulurkan kemeja untuk pria itu. Yang malah mematung menatap dirinya. Baru Julian sadari jika wajah Celli pucat.


"Yakin tidak apa-apa?" Tanya Julian memastikan. Celli menggeleng sambil menggigit bibirnya. Menahan nyeri di ulu hatinya.

__ADS_1


"Asam lambungku pasti naik. Aku tidak sempat sarapan. Dan lupa minum obatku." Batin Celli.


"Kau bohong!" Pekik Julian.


Pria itu langsung menarik tangan Celli begitu dia selesai memakai kemejanya.


"Mau kemana?" Tanya Celli berjalan terseok-seok mengimbangi langkah lebar Julian.


"Pulang!"


"Tapi kerjaanmu masih satu sesi lagi."


"Bisa dilanjutkan besok." Jawab Julian tegas.


Celli baru saja akan menjawab. Ketika tiba-tiba seluruh pandangannya mengabur. Berganti dengan kegelapan yang mulai memerangkapnya.


"Lian...."


Celli berucap lirih. Dan untungnya Julian mendengarnya.


"Apa...Celli! Celli! Hey bangun!" Pekik Julian. Meraih tubuh lemah Celli. Memasukkannya dalam gendongannya.


"Roy...! Roy....!" Teriak Julian membahana. Membuat si empunya nama langsung terlonjak saking terkejutnya.


"Celli kenapa Bos?" Tanya Roy ikut panik. Mengikuti langkah lebar Julian menuju van mereka.


"Rumah sakit terdekat!"


Julian memberi perintah begitu duduk di kursinya. Sang supir menoleh sebentar. Lalu segera tancap gas. Seolah paham dengan situasinya.


***


"Asam lambungnya naik. Menyebabkan sesak nafas dan nyeri di ulu hati. Dia akan kami beri oksigen sebentar. Untuk mengurangi sesaknya."


Julian nampak tercengang. Tidak tahu jika Celli memiliki riwayat asam lambung.


"Apa itu parah?"


"Tidak terlalu serius. Sesak dan nyeri diulu hati yang membuatnya pingsan.


"Apa dia perlu dirawat?" Tanya Julian lagi.


"Hasil labnya sudah keluar. Selain asam lambung yang bermasalah. Tidak ada hal lain yang mengkhawatirkan. Dia bisa pulang setelah sadar atau kondisinya sedikit membaik. Biarkan infusnya habis dulu. Paling setengah jam lagi." Jelas dokter itu lagi.


Julian seketika menarik nafasnya lega.


"Apa kau tahu kalau dia punya asam lambung?" Tanya Julian pada Roy.


Pria itu menggelengkan kepalanya. Julian jelas merasa kecolongan.


"Halo Tan, bisa pinjam unit Tante yang ada di gedungku."


"..."


"Celli...dia pingsan. Asam lambungnya naik."


"..."


"Tidak perlu. Sebentar lagi kami pulang."

__ADS_1


"..."


"Iya, iya"


"Kak...."


Panggil Celli lirih.


"Kamu sudah bangun? Ada yang sakit?" Tanya Julian cemas. Menatap wajah pucat Celli.


Celli menggeleng. Julian sejenak menatap tajam wajah Celli.


"Jangan gitu. Nakutin tahu." Seloroh Celli membuat Julian berdecih kesal.


"Sudah sakit masih bisa bercanda." Judes Julian.


"Daripada jutek mulu." Ucap Celli sambil melepas masker oksigennya.


"Kenapa dilepas?" Tanya Roy yang sudah selesai mengurus administrasi Celli.


"Sudah nggak apa-apa. Biasa paling 15 menitan doang dioksigen kalau lagi kambuh." Ucap Celli santai.


"Kenapa kamu nggak bilang kalau punya asam lambung?"


"Sudah aku tulis di bio aku."


Julian mendelik. Berarti dia yang terlewat membacanya. Bertukar pandang penuh kode pada Roy.


"Sudah dibayar kan? Jadi boleh pulang to?" Tanya Celli lagi-lagi menanggapi keadaan dirinya dengan santai.


"Sudah tapi itu gak gratis."


"Iya aku tahu. Potong saja dari gajiku"


"Tentu saja. Ayo pulang" Ajak Julian berjalan mendahului Celli dan Roy.


"Masih pusing tidak?" Tanya Roy lirih berjalan di samping Celli.


"Nggak kok. Asam lambung langsung sembuh jika sudah ketemu oksigen sama obat." Cengir Celli.


Roy ber-ooo ria.


"Maaf sudah membuat khawatir juga menyusahkan." Ucap Celli penuh rasa bersalah.


"Tidak masalah. Tapi bos sepertinya khawatir banget sama kamu."


"Khawatirlah. Kan nggak ada yang disuruh beli boba sama ini itu."


"Sepertinya bukan yang seperti itu deh alasan si bos khawatir sama kamu. Kayaknya si bos ada rasa sama kamu. Apalagi sekarang kamu mulai kelihatan cantiknya." Batin Roy menatap Celli yang berjalan pelan disampingnya.


"Roy! Celli! Kalian ngapain sih? Lama amat jalannya!" Teriak Julian.


Roy dan Celli saling pandang. Sambil menarik nafas masing-masing. Sangat paham dengan sifat bos naga mereka.


"Jangan diambil hati." Bisik Roy.


"Nggak kok." Jawab Celli.


Celli mulai memahami sifat Julian. Meski seperti naga yang suka menyemburkan api. Julian sebenarnya orang baik. Mungkin pria itu hanya tidak tahu bagaimana menunjukkan sikap baiknya. Julian yang aneh.

__ADS_1


***


__ADS_2