MUA Buruk Rupa

MUA Buruk Rupa
Ke Rumah Julian


__ADS_3

Celli terbangun keesokan harinya. Dalam kamar bernuansa putih. Dia berpikir pasti Julian yang memindahkannya.



Kredit Pinterest.com


Dia terbaring telentang dengan kakinya yang keseleo diganjal bantal tinggi. Menoleh ke kanan dan kirinya. Melihat ponselnya berada diatas nakas. Dengan kabel panjang terhubung.


"Sedang dicharge," gumam Celli. Berusaha menggerakkan tubuhnya ketika pintu terbuka.


"Mau ngapain?" Julian bertanya.


"Lihat jam," jawab Celli.


"Jam delapan. Sarapan dulu," suruh Julian meletakkan sebuah nampan berisi sepiring sandiwch juga jus alpukat segar.


Pria itu lantas menekan tombol di sebelah lampu tidur. Seketika tirai tebal yang menutupi dinding kaca kamar itu terbuka. Meninggalkan tirai tipis. Menampilkan sekilas pemandangan pepohonan di luar sana.


"Buat villa kok bikin orang kepo aja," gerutu Celli.


"Kepo soal apa?" tanya Julian.


"Dindingnya kaca. Orang pasti penasaran dengan apa yang dilakukan pemiliknya," jawab Celli mulai meminum jus alpukatnya. Tanpa menunggu Julian menawarinya.


"Memangnya apa yang bisa dilakukan pemiliknya?" goda Julian.


"Ya kalau pemiliknya sudah menikah. Bisa saja mereka sedang...aaawww...."


Sepertinya Celli salah ngomong nih. Karena wajah Julian langsung berubah menjadi mode mesum.


"Sedang apa?" tanya Julian sensual.


"Sedang sarapan," cengir Celli.


"Sarapan yang model bagaimana itu?"


"Ya model makan sandwich beginilah. Mau model apalagi?"


"Sarapan model ini...Julian langsung mendorong tubuh Celli hingga gadis itu kembali terbaring di atas kasur empuknya. Dengan Julian diatas tubuhnya. Tersenyum penuh arti.


"Aaapa ini?"


"Sarapan model morning kiss atau kiss in the morning," bisik Julian di telinga Celli.


"Jangan ngawur pagi-pagi kamu," Celli berucap sambil menahan dada bidang Julian agar tidak menempel di dadanya.


"Aku serius, sayang," jawab Julian.


"Haiishh kau ini tidak bisa dipancing sedikit saja."


"Makanya jangan pancing aku. Aku ini sangat sensitif." Cup...sebuah ciuman melandas di bibir Celli. Membuat gadis itu membulatkan matanya.


"Morning kiss rasa keju," gelak Julian. Beranjak dari atas tubuh Celli.


"Brengsek!"


"Jangan mengumpat calon suami. Itu tidak baik," ujar Julian.


Celli langsung manyun mendengarnya. Namun sekaligus senang saat Julian menciumnya.


"Sepertinya aku mulai ketagihan bibirnya," gumam Celli dalam hati.


***


"Aa...aaa...ampuun Kak," teriak Shania.


Dan teriakan itu membuat Ardi yang memang punya jadwal visit ke ruangan Shania langsung menghambur masuk. Begitu masuk, dia langsung membulatkan matanya. Melihat Shania yang tengah dijewer oleh seorang pria berparas bule lokal.


Shania langsung melepaskan diri dan berlari. Bersembunyi di balik punggung Ardi.


"Dokter, tolong dia mau menganiaya saya," Shania berucap penuh drama.


"Ooo sontoloyo. Hayo berani ngadu sama orang lain. Bilang kakak mau menganiaya kamu. Sini!" hardik pria itu.


"Ya..drama keluarga to," seloroh Ardi enteng.


"Bantuin dong, Dok," pinta Shania.


"Dia kan kakakmu, masak iya mau nyakitin adiknya," balas Ardi setengah berbisik.

__ADS_1


Interaksi Ardi dan Shania membuat pria itu menatap curiga. Sang adik bukanlah perempuan yang mudah dekat dengan pria. Tapi dengan Ardi, Shania terlihat begitu terbuka.


"Iissh sekali menyebalkan tetap menyebalkan. Sudahlah, terserah kakak mau ngapain Nia." Pasrah Shania berjalan menuju brangkar.


"Ni...pengen jewer kamu sampai puas. Pangkat AKBP kelakuan kayak anak TK," cerocos pria itu.


"Eemm, maaf menyela pertengkaran keluarga kalian. Tapi saya tak melaksanakan tugas saya dulu. Tak periksa dulu luka mbaknya. Habis itu terserah kalau kalian mau gontok-gontokan yo monggo," Ardi berucap panjang lebar yang langsung mendapat tatapan dari Shania dan pria yang mengaku kakaknya itu.


"Sudah diperiksa dulu sana," suruh pria itu akhirnya.


Menjauh dari brangkar memberi ruang pada adiknya untuk diperiksa.


"Maaf ya tirainya tak tutup," Ardi meminta izin.


"Kok ditutup. Aku kan keluarganya," protes pria itu.


"Lalu mau mbaknya gimana?"


"Kak tutup dulu. Malu."


"Lah sama kakak kamu malu. Sama dia nggak malu. Kakak sudah biasa melihat punya mbakmu...."


"Kak Shane...."


"Iya...iya..tutup deh."


Shania mendengus geram.


***


"Pangkatnya AKBP. Hebat juga perempuan ini." Gumam Ardi.


"Pokoknya dokter masih hutang tak hajar lo." Shania mengingatkan kembali.


"Ya nggak maulah. Wong saya hanya menjalankan tugas kok." Tolak Ardi.


"Pokoknya aku pengen hajar kamu," Shania bersikeras ingin menghajar Ardi.


"Ya jangan dihajar dong"


"Adu tanding gimana. Yang kalah boleh minta apapun. Sebagai ganti rugi," tantang Shania.


"Mbaknya rugi apa sih. Berkurang aja nggak."


Shania mendelik mendengar ucapan Ardi.


"Pokoknya tiga hari dari sekarang kita tanding. Yang kalah boleh minta apapun"


Hari ini gadis itu Ardi izinkan pulang. Dia terlalu berisik bagi Ardi. Membuat kepala pria itu puyeng.


"Dia lebih parah dari Celli. Padahal umur sama denganku," gumam Ardi.


***


"Beneran sudah bisa jalan?" tanya Julian pada Celli yang nampak masih kesusahan ketika berjalan.


"Sudah cuma masih ogah pakai sepatu. Enakan nyeker." Jawab Celli.


"Kak Roy pulang ya?" melihat Roy tidak ada Celli bertanya.


"Iya. Mengurus schedule baru sambil nunggu kaki kamu sembuh"


"Besok juga bisa jalan. Lagian aku kan bisa kerja sambil duduk. Asal kamu nunduk. Kamu kelebihan tingginya."


"Lusa paling baru mulai. Istirahat dulu. Kita pulang ke apartement."


Celli melongo. Kan masih ada si tukang kepo di depan apartement mereka.


"Memang sudah boleh pulang?"


"Yang nggak ngebolehin siapa? Ayo." Ajak Julian meraih jaketnya. Lalu berjalan keluar diikuti Celli yang melangkah keluar.


Julian berjalan lebih dulu. Mengambil mobil. Menunggu gadis itu masuk ke mobilnya.


"Ya..."


"..."


"Sekarang?" tanya Julian. Melirik ke arah Celli.

__ADS_1


"..."


"Ada masalah?" tanya Celli. Melihat wajah bingung Julian.


"Keberatan jika mampir rumahku?" Julian balik bertanya.


Celli mengerutkan dahinya.


"Untuk?"


"Papa mau bicara," jawab pria itu singkat.


"Aku tidak masalah tapi..."


"Jangan khawatir. Mereka nggak gigit kok. Anggap saja nyicil bertemu mertua," Cengir Julian.


"Ha..mertua?" Celli melongo di buatnya. Namun detik berikutnya rasa takut menghantuinya. Bagaimana jika papa dan Mama Julian tidak suka padanya.


Dan pikiran Celli semakin tidak karuan ketika mobil Julian mulai masuk ke sebuah rumah mewah. Lebih mewah dari rumahnya.



Kredit Pinterest.com


"Dia benar-benar anak orang kaya," batin Celli menggigit bibirnya.


"Jangan gugup." Julian berkata seolah tahu apa yang ada di pikiran Celli.


"Tapi..."


"Ayo turun jangan tapi-tapi."


Julian keluar, lantas berjalan memutari mobilnya. Membukakan pintu mobil yang baru saja akan Celli buka.


Mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu turun.


"Beneran bisa jalan. Atau kugendong?"


"Jangan modus deh."


Julian tersenyum mendengar perkataan Celli. Curigaan melulu bawaannya. Memasuki rumah Julian, perasaan Celli semakin tidak karuan. Apalagi penampilannya, jauh dari kata pantas untuk bertemu orang tua Julian. Kemeja yang digulung hingga siku. Celana jeans. Hingga kaki yang hanya memakai sandal rumah milik Julian. Plus dia berjalan terpincang-pincang dengan tangan Julian yang senantiasa menuntunnya.


"Ya ampun rupa begini mau ketemu camer eehhh camer," batin Celli tidak percaya mengakui orang tua Julian sebagai camer.


"Ma....Lian pulang," sapa Julian begitu memasuki rumah besarnya.


"Kamu pulang Lian?" sebuah suara lembut menjawab sapaan Julian. Seorang wanita berwajah keibuan, mirip Kak May terlihat berjalan mendekat ke arah mereka. Penampilannya sungguh elegan. Celli seketika ciut mentalnya.


"Aku pulang Ma. Papa katanya mau bicara." Jawab Julian. Memeluk dan mencium pipi sang Mama.


Celli sejenak terpaku. Dia teringat Mamanya. Rindu tiba-tiba datang menerpa.


"Apakah kalian juga merindukan Celli," batin Celli berkaca-kaca.


"Jadi ini. Gadis yang bikin kamu betah di luar sana." Tiba-tiba May Lee menatap ke arah Celli.


"Selamat siang Tante. Perkenalkan saya Celli...."


"Pacarnya Julian ya?" potong May Lee cepat.


"Eehhh."


"Cantik bener. Nah gini dong nyarinya," Cerocos May Lee sambil menggandeng tangan Celli sedikit menariknya. Hingga Celli hampir terjatuh.


"Ma...hati-hati. Kakinya keseleo " Julian berucap cepat. Jika tidak. Mamanya bisa menyeret Celli saking antusiasnya.


"Kok bisa...sudah diurut belum?" Mama Julian langsung berubah panik. Membawa Celli duduk di ruang tengah.


"Diurut Roy semalam." Jawab Julian.


May Lee langsung memicingkan matanya curiga.


"Hayo kamu apain dia? Sampai keseleo," Tuding May Lee pada sang putra.


Pertanyaan May Lee membuat Celli dan Julian saling pandang penuh tanya.


"Memangnya kita ngapain. Wong kita nggak ngapa-ngapain, eh belum." Balas Julian ambigu,


yang langsung dikeplak Celli.

__ADS_1


"Dasar Julian!" Batin Celli kesal.


***


__ADS_2