
Shania dan Ardi masuk ke dalam sebuah pusat perbelanjaan, yang terkenal di kota itu. Ketika masuk keduanya masih berjalan sendiri-sendiri. Tapi semakin lama. Ardi semakin memicingkan matanya.
"Kok ramenya luar biasa ya." Shania berujar. Karena semakin ke dalam, kian penuh sesak dengan lautan manusia.
"Ada apa ya?" tanya Ardi yang kemudian meraih tangan Shania untuk digandeng.
Shania langsung berdebar-debar. Sentuhan pertama dengan lawan jenis. Bahkan boleh dibilang Ardi adalah calon suaminya.
"Alamak...rasanya seperti ini ya orang pacaran. Kayak masuk ujian Secapa (sekolah calon perwira) bahkan lebih parah dag dig dugnya."
"Oohh, itu biang keroknya." Seloroh Ardi ketika melihat sekumpulan kru dan staf yang tengah mengadakan pemotretan di salah satu spot di sudut pusat perbelanjaan itu.
"Modelnya siapa?" tanya Shania.
"Tahu...tapi kayaknya aku kenal deh," jawab Ardi kemudian melangkah mendekat ke spot pemotretan.
"Nggak bilang kalau mangkal di sini," sapa Ardi sambil menepuk pelan pundak seorang gadis.
"Busyet dah. Dikiranya Celli tukang ojek apa. Mangkal," sungut gadis yang tak lain adalah Celli. Dia tadinya hampir ingin memukul orang yang menepuk punggungnya. Sebelum ia tahu itu adalah kakaknya.
"Ngapain ke sini. Tumben," kepo Celli sambil menatap Shania yang berdiri di samping sang kakak.
"Kencan."
"Sudah nggak jomblo lagi?" ledek Celli.
"Jomblo...apa itu. Nggak kenal aku."
Shania cukup penasaran dengan wajah Celli yang baginya seperti pernah melihat dimana gitu.
"Kenalin dong calon kakak ipar gue."
Ardi memutar matanya malas. Entah kenapa Celli lebih banyak benarnya ketika menyebut pacarnya. Sebab yang ini. Ardi telah bertekad untuk membawa ke kasurnya eh salah pelaminan dulu baru kasur 😁😁
"Shania Saraswati." Ardi mengucapkan nama Shania. Celli dengan cepat mengulurkan tangannya. Menjabat tangan Shania.
"Celli Kak..adiknya kak Ardi."
"Oalah foto yang di dashboard." Shania ingat, baru saja melihat foto Celli di mobil Ardi.
"Shania. Senang bertemu denganmu."
"Nice to meet you too. Kapan jadiannya? Kok Kakak tidak pernah cerita kalau sudah punya pacar....lagi."
"Kepo amat sih," gerutu Ardi, sibuk melihat Julian yang tengah mengambil pemotretan. Pria itu melambaikan tangan saat melihat Ardi yang dibalas lambaian tangan juga.
"Masih lama?" tanya Ardi.
"Dua take lagi. Kalian jalan-jalan saja. Kan lagi nge-date."
Shania dan Celli kembali sibuk mengobrol. Keduanya cepat sekali akrab. Satu hal yang membuat Ardi tersenyum. Shania pintar membawa diri dan membaur.
"Celli itu kamu ya." Satu suara mengejutkan Celli dan Ardi. Begitu mereka menoleh, dilihatnya Mia yang berjalan mendekat.
"Ada apa?" tanya Ceĺli berusaha menetralkan suaranya agar tidak terdengar sarat kemarahannya.
"Nggak apa-apa. Seneng aja ngelihat kamu. Kakakmu apa kabar?" Pertanyaan yang membuat Celli mengerutkan alisnya.
"Dasar menyebalkan. Bisa-bisanya bertanya setelah jelas-jelas membuang kakakku." Maki Celli dalam hati.
__ADS_1
"Kakakku...."
"Aku baik-baik saja. Kenapa?" Tanya Ardi yang muncul dari belakang Celli. Berdiri tepat di samping Shania. Sedikit menggenggam tangan gadis itu.
"Oh aku pikir kamu masih sedih dengan perpisahan kita." Jawab Mia tanpa malu dan ragu. Bahkan terlihat kalau dia begitu sombong. Seolah hanya dirinyalah yang berada di hati Ardi.
"Bersedih? Buat apa? Sebab setelah Celli menikah. Aku juga akan menikah," jawab Ardi.
"Menikah? Dengan siapa?" Pertanyaan Mia setengah mengejek.
"Dengannya," jawab Ardi sambil memeluk lengan Shania. Wanita itu kembali dibuat jantungan oleh tingkah Ardi.
"Wahh orang ini punya bakat buat nyebabin penyakit jantung," maki Shania dalam hati.
"Siapa dia?" Tanya Mia memindai penampilan Shania. Yang bagi Mia terlihat sangat sederhana sekali.
"Shania Saraswati," Shania mengulurkan tangannya. Namun Mia hanya mendiamkannya.
"Pasangan yang serasi. Setidaknya dia tidak perlu uang yang banyak untuk biaya hidup," kata Mia meremehkan.
Shania seketika membulatkan matanya.
"Pantas saja. Kak Ardi bilang kalau mantannya itu dibuang aja ke laut. Lah mantannya model begini. Matre...ini sih masih bagus dibuang ke laut. Ini cocoknya di buang di saluran limbah. Biar jadi satu sama sampah masyarakat yang lain," maki Shania panjang lebar dalam hati.
"Apa maksudmu dengan aku tidak perlu biaya hidup banyak?" Tanya Shania sambil menatap tajam pada Mia. Sungguh dia tidak suka perempuan model begini.
"Kau kan sama dengan dia. Sama-sama irit," ledek Mia.
"Iya, kami memang sama iritnya. Saking iritnya tabungan kami bisa buat beli kantor bokap elu yang enggak seberapa duitnya itu," jawab Shania judes.
Ardi tersenyum. Sedang Celli melongo.
"That's my future wife."
Ardi memberi kode lalu membisikkan sesuatu kepada telinga sang adik.
"What? Kakak serius?" tanya Celli lagi terkejut. Dan Ardi mengangguk.
"Wah kau kena batunya. Kamia Adisti," seru Celli kembali memantau masa depan dan masa lalu sang kakak yang masih saja saling menyalahkan.
"Apa maksudmu?" salak Mia.
"Sudah jelas sekali kan. Masih bertanya," balas Shania. Dia yang biasa memberi intimidasi pada anak buahnya benar-benar mempunyai kemampuan itu di luar lingkungan kerjanya. Apalagi ini hanyalah warga sipil.
"Kau...."
"Apa? Masih tidak rela Kak Ardi mau nikah atau sudah punya pacar. Atau menyesal sudah membuang berlian demi kerikil di pinggir jalan." Tukas Shania melirik pria di belakang Mia. Yang sejak tadi hanya menonton perdebatan mereka. Merasa kalau Mia bisa memenangkan perdebatan mereka.
"Berlian? Dia cuma dokter umum biasa. Mana mungkin sebuah berlian."
"Kau yakin dia cuma dokter bedah biasa. Kau tidak lihat jamnya. Kau tidak lihat merk bajunya. Sepatunya. Kau tidak lihat motor yang sering dipakainya. Pikir pakai logika Bu....ada dokter bedah umum mampu membeli itu semua. Kecuali dia punya profesi lain."
Mia seketika tercekat. Dia tahu Ardi sering memakai Rolex atau Phillipe Patex. Juga kemeja dan pakaiannya semua brand terkenal. Tapi waktu itu dia pikir, kalau semua itu adalah barang KW. Tapi tidak mungkin juga pakai KW tiap saat.
"Bagaimana? Menyesal? Kalau begitu, terima kasih sudah menjaga jodoh saya." Skak matt. Shania benar-benar memukul telak mental Mia.
"Ayo Kak, kita belanja. Kalau Celli sama...."
"Calon suaminya," Ardi memotong cepat ucapan Shania.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Shania kepo.
"Tu....."
Ardi menunjuk Julian dengan dagunya.
"Calonnya Celli.... Julian Argantara!" Shania berteriak tidak percaya.
"Iya."
Dan hal itu masih bisa didengar oleh Mia. Dia langsung mengepalkan tangannya.
"Sial!" maki Mia. Merasa kesal. Bahkan Celli, gadis yang Mia anggap hanya gadis ingusan. Kini akan menikah dengan Julian Argantara. Model terkenal seantero negeri.
"Nggak rehat dulu," tanya Ardi ketika dilihatnya Julian hanya di-touch up Celli sejenak. Sudah bersiap untuk masuk set lagi.
"Biar cepat selesai. Nanti bisa nyusul kalian jalan-jalan," ujar Julian.
"Beneran?" tanya Celli.
"Iya..mau pesan cincin juga. Nggak sekalian?" Julian bertanya pada Ardi.
Ardi terdiam menatap Shania yang berdiri disampingnya.
"Eh lupa belum kenalan. Julian," sapa Julian sambil mengulurkan tangannya.
"Shania Saraswati."
"Prayogo?"
"Kok tahu?"
"Shanen Dimitri Prayogo. Tanyakan padanya apa kenal Jared Argantara. Aku adiknya."
"Astaga. Sempitnya dunia," Shania berseloroh.
Semua melongo mendengar itu semua.
"Jadi kalian saling kenal?" tanya Ardi sambil memilih kemeja di sebuah butik dengan brand LV.
"Seperti yang kau dengar. Kakakku yang kenal. Aku malah baru tahu sekarang," jawab Shania sambil melamun.
"Pilihlah gaun yang sesuai dengan kemejaku. Kita akan memakainya akhir minggu ini."
Shania sedikit tercekat.
"Kemana?"
"Acara lamaran Celli akhir minggu ini. Dan aku ingin memperkenalkan dirimu kepada papa dan mama. Setelah pernikahan Celli aku akan melamarmu."
Blushhh,
Wajah Shania langsung merona merah. Dia tidak menyangka jika Ardi benar-benar serius dengan ucapannya.
"Kakak benar-benar serius?"
"Tentu saja. Apa kau ingin membeli cincin pertunangannya sekarang? Seperti ucapan Julian."
"Shania ikut kakak saja," Shania menjawab lirih. Dia sudah terlalu bahagia dengan sikap Ardi yang benar-benar membuktikan ucapannya.
__ADS_1
"Aku tidak sedang bermimpi kan?" Batin Shania. Sungguh tidak percaya dengan nasib baik yang terjadi pada dirinya.
****