MUA Buruk Rupa

MUA Buruk Rupa
Calon Mantu Idaman


__ADS_3

"Sorry jika harus melibatkanmu," Shania berucap sambil membenarkan ear piece-nya.


"Tidak masalah. Aku justru senang bisa membantu. Lagipula rumah itu memang atas namaku. Dan kebetulan aku sedang mencari bukti kuat untuk membuka kedok Irene."


"Irene untukmu. Mike untuk kami," kata Shania.


"Berapa lama kalian mengintainya?"


"Hampir lima bulan ini. Dan dia selalu berhasil lolos. Ternyata dia punya tempat persembunyian yang rapi sekali."


"Sebenarnya aku sudah memasang CCTV disana. Hanya saja malam ini aku ingin menangkapnya dengan mata kepalaku sendiri.


"Plus shock terapy untuk mereka," tambah Shania.


Julian tersenyum.


"Semua siap?" tanya Shania melalui ear piece.


"Temanmu sudah siap?" Shania bertanya pada Julian. Pria itu mengangguk.


Tak berapa lama. Dari kejauhan terlihat sebuah mobil masuk ke dalam rumah Irene.


"Tunggu sekitar 15 menit," Shania memberi perintah.


"Akan kusambungkan CCTV-nya." Julian berucap sambil membuka akses CCTV rumahnya ke laptop salah seorang petugas.


"Dia menipumu?" Shania berkata dengan wajah tidak percaya.


"Ya begitulah," jawab Julian melihat Irene yang terlihat berlari menyambut Mike.


"Apa ada kemungkinan dia juga berselingkuh darimu?" Kembali Shania bertanya.


"Jangan mengungkitnya," ketus Julian.


"Oo berarti iya."


"Sialan!!!" maki Julian.


"Mereka naik ke lantai dua," lapor anak buah Shania.


"Kau tidak memasang CCTV di lantai dua?"


Julian menggeleng.


"Kupikir itu area pribadi."


"Kau terlalu baik, Julian," kesal Shania.


"Tapi tidak malam ini. Aku akan mengakhirinya malam ini juga. Karena besok adalah awal yang baru untuk hidupku," ujar Julian keluar dari mobil Shania.


Melambai ke arah mobil di ujung sana. Dan berikutnya tiga orang dengan tiga kamera langsung keluar mengikuti langkah Julian.

__ADS_1


"Semua siap pada posisi masing-masing." Perintah Shania dan langsung dijawab "siap" oleh semua anak buahnya.


Julian santai membuka pintu gerbang rumahnya. Tanpa kunci, karena rumahnya dia buat berbasis digital. Password dan finger scan menjadi kuncinya. Irene sendiri tidak tahu sistem itu.


"Waahh tangkapan besar malam ini. Skandal Irene juga Mike. Juga penangkapan Mike. Wahh gak sabar lihat beritanya meledak besok," celetuk seorang paparazi.


"Kenapa tunggu besok. Dini hari nanti atau malah midnight nanti bisa langsung trending," timpal yang lain.


"Begitu gambar kau kirim. Editor lolos. Naik...boooom...," tambah yang lain.


Mereka sudah masuk ke ruang tamu. Beberapa gambar mulai mereka ambil.


"Naik lantai dua," Julian memberi tahu lewat ear piece-nya.


Beberapa anggota kepolisian mulai menyisir rumah Julian yang diduga dijadikan gudang narkoba oleh Mike. Jelas satu berita yang bakalan booming dengan segera.


Naik ke lantai dua suasana terlihat sunyi. Tapi tidak dengan satu kamar.


"Wah bos....ini benar-benar skandal!" bisik seorang wartawan di belakang Julian. Mereka terlihat begitu bersemangat menyiapkan kamera mereka.


"Mau langsung atau ada sedikit suara mengganggu," tawar Julian.


"Yang pakai backsound dong, Bos. Biar lebih eeerrrrhhh," jawab mereka.


Pelan Julian membuka pintu kamar Irene. Suasana temaram. Membuat dua orang di dalam kamar yang tengah asyik memadu gairah itu. Tidak menyadari kehadiran Julian dan tiga wartawan dengan kamera on merekam kegiatan panas mereka.


Dari siluetnya, terlihat jika mereka sedang melalukan gaya women on top. Julian berdiri di samping pintu dengan tangan berada di tombol pintu. Memberi waktu pada rekan wartawannya untuk sedikit merekam kegiatan panas dua sejoli itu.


Byaaaarrrrr,


Lampu dihidupkan. Dua orang di atas ranjang itu langsung terkejut. Menghentikan kegiatan gila mereka. Langsung menoleh ke arah pintu. Dan dua pasang mata mereka langsung melotot. Melihat Julian dengan santainya berdiri disana.


"What a hot night hah?" ucap pria itu santai. Lantas berlalu keluar dari sana.


Dua orang itu langsung kelabakan. Mereka segera melepas penyatuan keduanya. Apalagi ketika menyadari ada tiga wartawan yang tengah merekam kegiatan mereka.


"Julian....tunggu. Aku bisa menjelaskannya." Raung Irene merasa tidak terima dengan semua ini.


"Hentikan! Kalian brengsek! Berani merekam! Hentikan!" Mike berteriak. Berusaha menghentikan para wartawan itu untuk merekam tubuh mereka yang telan****.


Merasa belum putus asa. Irene meraih selimut lalu melilitkan ditubuh polosnya. Berlari keluar kamar. Namun langkahnya langsung terhenti melihat Julian yang tengah bicara pada Shania. Juga anak buah Shania yang sudah masuk ke rumah itu.


"Aku memberi kalian akses seluas-luasnya untuk penggeledahan. Silahkan." Kata- kata Julian terdengar jelas di telinga Irene.


Irene segera masuk kembali ke dalam kamar. Bersamaan dengan ketiga wartawan yang juga keluar dari dalam kamar. Wajah mereka terlihat puas sekali.


"Dapat video oye-oye nih." Ujar seorang wartawan itu. Sengaja memancing Irene agar bersuara. Namun kepanikan Irene sudah lebih dulu memenuhi hati wanita itu.


"Kenapa kembali lagi? Sana kejar Julian," pinta Mike yang sudah selesai berpakaian.


"Po...polisi. Ada polisi dibawah," kata Irene gugup.

__ADS_1


"Polisi maksudmu?"


"Julian membiarkan mereka menggeledah rumah ini," Irene hampir berteriak.


"Brengsek! Barang gue!" Mike berteriak cemas.


"Sebenarnya apa yang kau sembunyikan di rumah ini?" cecar Irene.


"Itu...."


Mike belum sempat menjawab. Shania dan tiga anggota kepolisian menerobos masuk ke kamar itu.


"Saudara Mike alias Miko alias Marco Anda kami tangkap atas tuduhan kepemilikan narkoba. Pengedar juga pemakai."


Irene lemas seketika mendengar semua perkataan dari anggota kepolisian itu. Sementara di luar sana. Mobil Julian sudah melaju meninggalkan rumah itu.


"Hancurkan dan bangun yang baru. Design menyusul." Perintah Julian melalui ponselnya.


****


Dan benar saja. Langit belum juga berganti warna menjadi terang. Ketika pemberitaan sudah ramai dengan celotehan dari warga netizen yang telah membaca berita terbaru dari berbagai kanal berita online.


Satu berita berjuta impactnya. Satu berita berjuta ceritanya. Dan satu berita berjuta rasanya 🤣🤣🤣


Tidak ada klarifikasi. Tidak ada penjelasan lebih rinci. Silahkan anda menebak-nebak sendiri. Begitulah sepertinya yang ingin disampaikan oleh para pembuat berita itu. Karena semua hanya berdasar pada tulisan si jurnalis yang hanya disahkan oleh editor terus dimuat naik ke kolom pemberitaan.


Hingga ketika siang menjelang. Berita itu masih terus menjadi trending. Dengan ribuan kicauan memenuhi kolom komentar di bawah berita itu.


Meski begitu hal itu tidak mengurangi kemeriahan di dua rumah yang berbeda. Di keluarga Julian, secara mengejutkan pria itu pulang ke rumah orang tuanya setelah acara penggerebekan semalam.


Dan disinilah dia. Duduk disana, di ruang tengah, masih dengan muka bantalnya padahal sudah lewat makan siang. Dia jelas belum mau bangun. Jika alarm bangun tidur paling efektif tidak membangunkannya. Caca, sang kakak ipar. Adalah hal yang paling enggan dia hadapi. Dan suara Caca-lah yang berhasil menyeret Julian keluar dari kamar vampirnya.


"Mandi sana!" perintah Caca.


"Ogah. Acaranya masih nanti malam." Tolak Julian.


Caca hanya bisa menghela nafasnya. Lalu kembali mengawasi orang-orang yang sedang membungkus barang-barang yang akan dijadikan seserahan kepada Celli.


"Cincinnya nggak lupa beli kan?" tanya Caca.


"Tidak, kakak ipar." Jawab Julian asal.


Caca hanya bisa memutar matanya jengah.


"Oh iya. Aku heran. Kok kamu bisa dengan mudah mendapat restu dari Papnya Celli. Bukannya tuan Bagaskara itu terkenal...."


"Galak?" potong Julian. Dan Caca mengangguk.


"Lihat dulu dong siapa yang melamar. Julian Argantara. Calon mantu idaman sejuta Emak-Emak," kekeh Julian.


Ucapan Julian membuat Caca hanya bisa memutar matanya malas. Melihat kenarsisan adik iparnya.

__ADS_1


***


__ADS_2