
Celli baru saja berjalan keluar dari lobi apartementnya ketika puluhan lampu kamera menyorot pada dirinya. Dirinya jelas terkejut. Ini ada apa? Pikir Celli.
"Mbak yang bernama Celli...MUA Julian Argantara," tanya seorang wartawan.
"Iya, saya MUA-nya."
"Apa Anda tahu soal Julian yang memiliki bekas luka diwajahnya?"
Mata Celli langsung membulat. Akhirnya berita ini sampai ke publik juga. Tapi siapa yang menyebarkannya. Batin Celli penuh tanda tanya.
"Mbak, bisa menjawab pertanyaan kami?"
"Oh soal itu bukan kapasitas saya untuk menjawab. Permisi." Celli berusaha melewati puluhan orang itu. Tapi tidak bisa. Mereka masih terus mendesak dirinya soal bekas luka Julian.
"Aduuh gini amat ya kerja sama orang terkenal. Dia heboh aku juga ikutan kena imbasnya." Batin Celli berusahan menerobos kerumunan wartawan.
Hingga disatu sisi. Celli benar-benar terjepit tidak bisa menghindar.
"Tolong jawabannya mbak...tolong dijawab."
Celli sampai harus menutup telinganya. Mendengar suara yang bersahutan dari segala penjuru arah. Pusing dan pengap mulai menyergap. Hingga tiba-tiba satu tangan menarik tubuh Celli yang hampir tenggelam diantara puluhan pemburu berita yang semakin beringas tidak terkendali.
"Kalian ini bisa tidak pakai aturan. Dia cuma MUA-nya. Jika kalian ingin berita yang valid cari orang yang bersangkutan. Bukan orang lain." Teriak Ardi tenang namun dengan amarah yang siap meledak.
Para pemburu berita itu hanya bisa terdiam. Meski dari mereka tidak berhenti merekam.
"Ayo pergi." Ardi menarik tangan Celli pergi dari sana.
***
"Ha?"
Celli melongo melihat pemberitaan di media online. Dua berita yang menghebohkan hari itu.
"Julian Argantara ternyata mencintai kakak iparnya sendiri."
"Julian Argantara ternyata seorang penipu. Wajahnya hanyalah tipuan. Aslinya, wajahnya sangat mengerikan."
Celli hampir melempar ponselnya. Kesal? Jelas. Tapi dia lebih kesal pada pemberitaan yang pertama.
"Dia benar-benar brengsek," maki Celli. Baru semalam pria itu mengatakan cinta padanya. Tapi pagi ini ada berita yang menyebutkan Julian mencintai kakak iparnya sendiri.
"Jangan terlalu percaya dengan berita seperti itu. Belum tentu itu benar," Ardi tiba-tiba saja bicara.
"Tapi...."
"Kau kan termasuk dekat dengannya beberapa waktu ini. Kamu bisa menilai sendiri bosmu itu orang seperti apa." Kembali sang kakak menasehati.
Ceĺli terdiam.
"Kalau kamu peduli padanya. Hubungi dia. Siapa tahu dia perlu support. Itu kalau dia menghidupkan ponselnya. Biasanya jika keadaannya seperti ini. Orang lebih suka mematikan ponselnya."
Celli mencoba menghubungi nomor Julian, tapi seperti yang Ardi ucapkan. Tidak tersambung.
"Tidak aktif," gumam Celli.
"Percaya kan?"
"Kak Roy, dia pasti angkat teleponku," Ucap Celli bersemangat.
"Halo...kak Roy. Kak Roy dimana?" Cerocos Celli begitu Roy mengangkat teleponnya.
Namun sejurus kemudian wajah Celli langsung cemberut.
"Aku lupa. Kak Roy pulang kampung. Lusa baru pulang," kata Celli kecewa.
__ADS_1
"Sudahlah. Yakin dia baik-baik saja. Biasakan artist sering terkena berita yang tidak mengenakkan. Biasanya juga nanti akan reda dengan sendirinya. Kamu jangan khawatir."
Celli termenung. Mencerna semua ucapan Ardi. Ya, hal seperti ini kerap terjadi di dunia hiburan. Gosip dari orang-orang yang mungkin ingin mencari sensasi agar cepat populer.
"Sudah makan belum? Tak orderkan kalau belum. Atau jadi mau keluar. Beli ponsel impian kamu dengan casing si Juki ma si Tetet."
"Tambah Ncim...."
"Mas ganteng gak sekalian nanti mewek kurang satu biasnya."
"Nggak sekaliam semuanya," tanya Celli.
"Ya itu terserah kamu"
"Kalau keluar diserbu paparazzi nggak ya?"
"Ya mana kakak tahu. Kamu cuma MUA aja lagaknya sudah kayak selebriti aja. Takut sama paparazzi."
"Haisshh gak enak tahu dikeroyok pemburu berita."
"Yang bilang enak juga siapa? Sudah, jadi keluar tidak?"
Celli berpikir sebentar. Lalu menggelengkan kepalanya.
"Order aja deh. Sekalian yang banyak. Buat stock sampai nanti malam. Tinggal dipanasin di microwave."
"Bilang aja minta traktiran. Padahal gaji gedean dia." Gerutu Ardi. yang membuat Celli nyengir.
"Tapi kan kaya an Kakak," balas Celli.
***
"Apa maksudmu mereka menyerang Celli?" Tanya Julian panik mendengar laporan dari Jonghyun.
"Bukan diserang tapi biasa, dikepoin wartawan."
Mereka masih berada di luar ruang rawat Caca. Menunggu keadaan wanita itu agar lebih stabil. Baru masuk dan bicara.
"Iya sih mereka hampir mengeroyok MUA-mu jika kakaknya tidak segera datang menyelamatkannya."
"Astaga...Ardi ada disana?"
"Dia datang kesana waktu itu."
"Apa dia masih ada di sana?"
"Mungkin..kenapa?"
"Dia bisa tinggal di sana sampai para wartawan itu pergi. Tahu sendiri terkadang ada paparazi yang nekad"
"Tapi penjagaan lantaimu dan lantai Celli sudah sangat ketat"
"Berjaga-jaga saja."
Julian mengambil ponselnya. Menghubungi nomor Ardi yang dia dapat dari Darwis.
"Ya, halo," sapa Ardi diseberang.
"Ini aku Julian."
"Ada apa? Dimana kau?"
"Aku sedang di luar. Kau tahu sembunyi atau semacamnya," jawab Julian sambil terkekeh.
Entah kenapa dia mudah akrab dengan Ardi.
__ADS_1
"Pengecut! Kau sembunyi dan biarkan Celli menjadi korban kejaran paparazi. Kau minta kuhajar ya?"
"Yang itu aku minta maaf. Aku tidak menyangka mereka bisa menerobos keamanan di lobi. Biasanya mereka hanya akan menunggu di luar."
Terdengar helaan nafas dari Ardi. Dia cukup tahu keamanan apartement Julian termasuk tingkat tinggi. Jadi pasti semuanya di luar kendali jika pada paparazi itu bisa menerobos masuk.
"Ada apa?" Tanya Ardi.
"Tinggalah disana sampai keadaan tenang," pinta Julian.
"Kau tidak kirim bodyguard saja?"
"Dan kau ingin orang lain mengawasi adikmu yang ceroboh itu."
Julian jelas tidak bisa memberitahukan alasannya, yang tidak ingin tubuh Celli menjadi tontonan orang lain. Mengingat cara berpakaian Celli kadang bisa membuat pria manapun akan menelan salivanya susah payah.
"Begini ini punya MUA standar model. Cantik, seksi, hot plus ceroboh." Batin Julian sejenak teringat tubuh seksi milik Celli.
Ardi sejenak berpikir. Benar juga. Celli begitu ceroboh. Juga cara berpakaian sang adik memang terkadang kelewat terbuka kalau sedang dirumah.
Ardi masih berpikir. Ketika Celli keluar dari kamarnya hanya memakai tank top dan celana pendeknya.
"Iya, aku akan disini sementara," ujar Ardi segera. Melihat baju Celli, Ardi langsung membulatkan matanya.
"Siapa?" Tanya Celli tanpa bersuara.
"Julian." Ardi melakukan hal yang sama.
"Celli ingin bicara," kata Ardi tiba-tiba.
"Eh tidak kok" Teriak Celli gugup. Mendelik ke arah sang kakak.
Di sisi lain. Pintu ruangan rawat Caca terbuka. Seorang dokter dan perawat keluar dari sana.
"Aku juga tidak bisa. Aku harus pergi sekarang. Ada sedikit urusan. Oh ya lihur diperpanjang sampai satu minggu. Aku mau liburan," Julian menutup teleponnya.
Ardi langsung melihat ponselnya.
"Dimatikan," gumam Ardi.
"Apa katanya?" tanya Celli kepo.
"Tadi suruh ngomong gak mau. Sekarang kepo," ledek Ardi.
"Iishhh kakak ini.
Ardi tergelak.
"Dia menyuruh kakak untuk stay disini sampai keadaan mandali. Aman terkendali."
Celli ber-oo ria.
"Dia juga bilang libur diperpanjang jadi satu minggu. Dia mau liburan katanya."
"Bagus. Aku bisa tidur seharian. Gitu ya artist kalau ada masalah malah ditinggal liburan."
"Ya itung-itung melarikan diri. Juga refreshing. Nanti balik liburan. Para netijen sudah pada lupa sama rumornya."
Ardi berucap yang diangguki Celli dengan antusias.
"Bisa dong beli ponselnya besok kalau kakak nggak lembur." Bujuk Celli.
"Bisa aja. Tapi kakak kadang ada panggilan darurat lo"
"Tidak masalah. Celli masih bisa mencari jalan keluar dan balik ke apartement." Jawab Celli santai.
__ADS_1
***