MUA Buruk Rupa

MUA Buruk Rupa
Benar-Benar Pengecut


__ADS_3

"Nggak mau!" Tolak Celli ketika Julian membawanya ke unit May yang masih satu gedung dengan apartement miliknya. Hanya beda lantai.


"Nurut nggak kamu? Pengen pingsan lagi? Seneng masuk rumah sakit?" Julian berujar dengan nada tinggi.


"Enggaklah." Jawab Celli lirih.


"Kalau begitu mulai sekarang kamu tinggal disini." Putus Julian cepat.


"Ya, tapi gak bisa gini juga kali." Celli berusaha menolak.


"Tinggal di sini? Yang benar saja. Berapa duit ini sebulan? Habis buat bayar apartement doang nanti gajiku." Batin Celli.


"Lalu kamu lebih suka mondar mandir, sana sini. Sampai makanpun tidak punya waktu." Julian melipat tangannya. Menatap tajam pada Celli. Wajah Celli masih terlihat pucat. Mereka berada diluar pintu apartement milik May.


Celli menunduk. Ia ini semua lagi-lagi kesalahannya sendiri. Tidak memperhatikan dirinya dengan benar.


"Kamu apain dia Lian?" Tanya May yang tiba-tiba muncul.


Seketika tatapan nyalang May berikan pada Julian. Dia tahu keponakannya yang satu itu memang terkadang tidak bisa menunjukkan sisi baiknya.


"Aku hanya ingin dia tinggal disini." Jawab Julian lirih.


"Caranya ya nggak kasar gitu. Kamu buat dia takut malahan."


"Masuk dulu yuk." Ajak May lembut.


Dan kelembutan May, sontak membuat Celli berkaca-kaca. Dia teringat sang Mama. Mamanya akan selalu membuatkannya bubur hangat jika asam lambungnya kumat.


"Aku rindu Mama."


Satu bulir air mata jatuh menetes di pipi Celli. Namun Celli buru-buru mengusapnya. Dan Julian sempat melihat itu. Rasa bersalah mulai menghinggapi hatinya.


Celli perlahan masuk memasuki apartement milik May. Tidak ada rasa terkejut atau kagum. Karena sejatinya dia punya satu yang seperti ini.


"Masuklah. Istirahat dulu." Ucap May lembut.


Menurut saja. Celli melangkah masuk ke dalam kamar yang ditunjuk oleh May. Rasa kantuk mulai menyerangnya. Efek dari obat yang dia minum.


"Kamu itu jangan galak-galak sama Celli. Sudah tahu dia lagi sakit malah dimarahin."


"Habisnya kesal banget Tan. Sudah tahu punya asam lambung. Masih saja pola makannya berantakan."


"Itu kan karenamu juga. Menekannya soal pekerjaan agar dia menurut padamu."


"Aku tidak punya pilihan."


"Ada. Tapi kamu tidak mau menggunakannya."

__ADS_1


Tiba-tiba saja ponsel May berdering.


"Aku harus pergi. Jangan galak-galak padanya. Biarkan dia istirahat."


"Kan kita kebetulan libur dua hari." Jawab Julian.


"Bagus. Biarkan dia tinggal disini."


"Memang mauku begitu."


"Bersikaplah lembut sedikit padanya." Pesan May pada Julian ketika akan keluar dari pintu apartement miliknya. Julian hanya bisa menarik nafasnya pelan.


May mendengus geram. Lalu perlahan beranjak keluar. Begitu May keluar. Julian menarik nafasnya pelan. Menatap ke arah kamar dimana Celli berada. Dia hanya sendiri. Roy sudah kembali ke unitnya.


Pelan dia masuk ke kamar Celli. Dilihatnya gadis itu tidur masih menggunakan sepatu juga jaketnya.


"Dia ini seperti anak kecil." Gerutu Julian. Perlahan dilepaskannya flat shoes milik Celli. Lalu jaket yang membalut kemeja birunya.


Ketika dia selesai melepas jaket Celli. Matanya langasung membulat. Melihat dada Celli yang mulus mengintip dari sela-sela dua kancing kemejanya yang terbuka. Mungkin dokter perempuan itu lupa untuk mengancingkannya kembali ketika selesai memeriksa Celli.


Julian menelan salivanya pelan. Melihat bongkahan yang terlihat padat dan kenyal. Nampak begitu menggoda dibalik penutup dada berwarna hitam yang Celli pakai.


"Gila ternyata asetnya besar juga." Batin Julian menatap penuh penuh minat pada dada Celli.


Celli memang tipe Julian. Tubuh tinggi semampai bak model seperti dirinya. Meski tinggi Celli mungkin hanya dikisaran 168 cm. Tapi jika ditambah body langsing milik Celli. Keduanya menciptakan perpaduan yang sempurna di mata Julian.


"Mama..."


Satu gumaman lirih membuat Julian mengalihkan pikiran mesumnya. Pelan dia mengusap air mata yang keluar disudut mata Celli. Kali ini dia jelas melihat jerawat yang ada diwajah Celli sudah mengering seluruhnya.


Masalahnya mungkin tinggal menghilangkan bekas jerawat di wajah Celli. Perhatian Julian kembali tertumpu pada bibir Celli. Dan kali ini. Tanpa berpikir dua kali. Pria itu langsung melabuhkan ciuman di bibir Celli. Sejenak terdiam menikmati betapa manis dan lembutnya bibir Celli.


"Yang aku tahu kau belum pernah berpacaran. Apa ini ciuman pertamamu?" Batin Julian.


Sedang dirinya sudah berulang kali bertukar saliva dengan Irene sewaktu mereka masih pacaran dulu. Ciuman yang selalu saja berakhir panas karena Irene selalu menggodanya dengan memainkan miliknya. Membuat pria itu beberapa kali hampir lepas kendali dan menerkam Irene. Untung saja pertahanan dirinya cukup kuat. Hingga sampai sekarang Julian belum pernah menyentuh Irene. Satu hal yang membuat Irene geram.


"Ini manis sekali." Bisik Julian ketika dia mulai memainkan bibirnya diatas bibir Celli. Sedikit **********. Memberikan beberapa sesapan yang membuat Julian semakin menggila.


Ciuman yang awalnya hanya iseng itu. Perlahan menjadi bumerang untuk dirinya. Celli sendiri bahkan tidak merespon karena pengaruh obat tidur yang dokter berikan.


"Gila, ini benar-benar gila." Ucap Julian lirih ketika dia melepaskan pagutannya. Mencegah sesuatu dibawah sana semakin tidak terkendali.


Entahlah, tapi rasa yang Celli berikan jelas berbeda dengan saat dirinya berciuman dengan Irene. Irene begitu agresif, hingga kemudian dia sadar kalau Irene sudah berpengalaman. Sebab kemudian dia tahu jika Irene sering memadu kasih dengan Mike.


"Menjijikkan!" Umpat Julian ketika dia teringat bagaimana dua insan itu mendesah saking nikmatnya ketika Julian menangkap basah keduanya sàat sedang bercinta.


Julian pelan bangkit dari tubuh Celli yang hampir sempurna ditindihnya. Bayangan perselingkuhan Irene membuat moodnya memburuk. Meski dia akui bibir Celli benar-benar memabukkan.

__ADS_1


Menempatkan tubuh Celli pada posisi ternyamannya. Lantas pelan menyelimuti tubuh gadis itu. Menarik nafasnya pelan. Lalu keluar dari kamar itu. Kamar yang mungkin akan menjadi kamar Celli seterusnya.


Malam mulai turun. Ketika Celli mulai membuka matanya. Perih langsung menghantam perutnya. Itulah rasa pertama yang dia rasa. Sejenak matanya memindai kamar itu. Kemudian dia teringat kalau dia berada di apartement kak May-nya.


"Aduh lapar."


Ucapnya lirih. Turun dari kasur empuk dan besar itu. Meraih gagang pintu. Lantas membukanya. Kalau diapartemen lamanya dia akan langsung turun dan bisa mendapatkan makanan disana. Tapi disini. Dia tidak tahu dimana dia harus mencari makanan.


"Aku order sajalah."


Perutnya harus segera diisi. Dan minum obat. Jika tidak asam lambungnya akan kembali naik. Celli baru saja meraih ponselnya. Ketika pintu terbuka. Dilihatnya Julian masuk membawa dua paperbag. Pria itu terlihat berbeda tanpa make up juga kaos dan celana pendek rumahannya.


"Mau ngapain?" Tanya Julian dingin.


"Pesan makanan."


"Makan ini lalu minum obatmu." Ucap Julian mengulurkan paperbagnya. Celli jelas melongo.


"Cepat ambil lalu makan. Malah bengong." Ucap Julian mulai keluar tanduk apinya.


"Nggak jadi muji deh." Batin Celli.


Tadinya dia mau memuji tumben si bos naganya perhatian.


"Sudah makan?" Tanya Celli basa basi.


Karena ternyata ada tiga box bubur ayam didalam paperbag itu. Julian sejenak hanya diam. Dia memang belum makan apa-apa sejak tadi siang.


"Makanlah. Nanti kalau kamu pingsan aku nggak kuat bawa tubuhmu. Berat." Cengir Celli.


Julian langsung membulatkan matanya.


"Siapa bilang aku berat. Tubuhku ideal." Potong Julian cepat.


"Memang kamu. Kecil begitu ternyata bikin engap juga waktu nggendong." Sindir Julian balik. Padahal bohong. Tubuh Celli cukup ringan baginya. Namun begitu dia heran karena Celli punya dada dan bo**kong yang padat dan sintal.


"Uhuk." Julian tersedak buburnya.


Celli yang baru mau membalas sindiran Julian tidak jadi melihat wajah memerah Julian karena tersedak. Buru-buru mencari air minum di kulkas lalu memberikannya pada Julian.


"Sial! Baru keingat asetnya dia sudah membuatku tersedak." Batin Julian menatap Celli yang kembali memakan buburnya.


Julian menarik nafasnya pelan. Menatap bibir Celli hanya membuatnya teringat akan ciuman yang dia curi dari gadis itu.


"Aku benar-benar pengecut. Berani menciumnya saat dia tertidur." Maki Julian pada dirinya sendiri.


***

__ADS_1


__ADS_2