
Suara ayam jantan berkokok lantang, membangunkan seluruh mahluk di desa itu.
" Ar tangi ndok, Iki wes rino " Ara menggeliat
" Heh kebo itu di bangunin bunda !"
Angga lebih dulu bangun karena dia tidur di sofa kamar jadi tubuhnya merasa pegal-pegal.
" Apaan si bang lima menit lagi ah !" Kembali tidur terbungkus selimut
Tanpa basa-basi lagi Angga langsung menyeret kaki Ara, sehingga tubuhnya merosot sampai ke bawah.
" Itu namanya kdrt ya bang, bisa gue laporin ke polisi loh ! " Omelnya
" Terserah" berjalan keluar
Angga sudah sampai di meja makan berkumpul dengan keluarga yang lain.
" Istri mu ndi ?" Tanya si ayah yang melihat Angga berjalan sendiri
" Baru siap-siap yah !"
Tak lama Ara pun keluar masih mengenakan piyama pendek dan rambut masih awut-awutan.
Semua yang melihat pun menahan tawa termasuk Angga terkecuali ayah.
" Kowe Iki kulino, aduso disek ! Lagi makan " ucap ayah
Ara merengek menatap bunda berharap ada pertolongan dari bunda, namun nyatanya nihil saat dia menatap Angga, Angga malah sebaliknya dia pura-pura tidak tahu.
" Iya Ara mandi !" Menghentakkan kaki ketanah dan berjalan malas kembali ke kamar.
" Opo nek nok omah yo ngono kui ga ?"
( Apa kalau di rumah ya begitu ga ?)
Angga mengangguk dan tersenyum sedangkan ayah menggeleng kepala mendengar Jawaban menantunya.
Sembari menunggu Ara mereka mengobrol, ayah selalu senang membicarakan soal bisnis bersama Angga sedangkan bunda sedang membuat kan cemilan bersama Lina dan Nanda.
10 menit berlalu akhirnya Ara keluar, dengan penampilan super berbeda dari yang tadi.
" Ara sudah siap mari makan !" Ucapnya bersorak senang menuju meja makan.
" Kak Ara lama banget kita udah laper tau !!''
Semua orang kembali tertawa " maaf kan kakak ya sayang, sekarang ayo kita makan !!"
Saat akan mengambil nasi tangan nya dipegang oleh bunda '' kenapa Bun?"
" Wes ono bojo koe nek makan, bojone di ladeni disek ! " ( sudah ada suami, kalau makan suaminya di dulukan !)
__ADS_1
Ucap bunda
" Dia punya tangan bisa ngambil sendiri bund "
" Ara " tegur ayah
" Iya " Ara langsung menurut dan mengambilkan makanan di piring Angga
Angga yang melihat hanya tersenyum memperhatikan gerak-gerik istrinya.
Sarapan pagi pun berjalan lancar meski tadi harus ada sedikit perdebatan.
Angga dan ayah sudah berada di kebun teh milik Bastian " kebon Iki wes tak serahke karo bojomu, ayah wes ngomong Karo bocae, Saiki ayah minta tolong..! Bantu Ara ngelola kebon Iki ya le..!! ( hari ini ayah serahkan kebun ini ke Ara, ayah Sudah bilang ke anaknya.. sekarang ayah cuma minta ke kamu, bantu Ara untuk mengelola kebun ini ya nak ,!" )
Lagi-lagi Angga hanya mengangguk dan tersenyum.
.
Sedangkan di rumah Ara sudah bermanja-manja dengan sang bunda sedangkan Lina dan Nanda mereka bermain di luar rumah.
" Jadi kapan bunda di kasih momongan hmm ? Ucap bunda sambil mengelus kepala Ara
Spontan Ara beralih posisi dari yang tadi memeluk bunda sekarang duduk tegak menghadap bunda.
" Kok nanya nya gitu ?" Muka kaget
" Bunda salah ?" Tanya balik bunda
" Ara masih sekolah bunda !!" Sekarang bersandar di sofa ruang tamu
" Ara belum siap punya anak bunda ! Lagian juga Angga belum siap juga punya anak '' protesnya
" Siapa bilang.! bunda tenang aja secepatnya Angga akan kasih bunda cucu yang banyak !!'' ucap Angga yang tiba-tiba datang dan merangkul pundak Ara.
" Apaan si Lo ga " menyikut perut Angga
" Kenapa si kamu nggak mau punya anak ? Lucu tau liat Lina sama nanda lucu kan !!" Ucap Angga membuat kedua orang tua yang tadi nya diam sekarang jadi tertawa.
" Ngerjain gue ni anak, liat aja gue bales ntar " ucapnya dalam hati
" Sayang.. ayo kita bersepeda " ajak Ara
Angga mlongo menatap Ara " kenapa ? " Tanya Ara lagi
" Mampus Lo, gue tau Lo gak bisa kan naik sepeda!"
" Bunda, ayah kita jalan-jalan dulu y !"
Pamitnya yang sudah menggandeng setengah menarik tangan Angga
Kini Ara dan Angga sudah berada di gudang yang menyimpan sepeda yang dulu selalu di pakai oleh Ara.
__ADS_1
" Ra Lo becanda.. gue nggak bisa naik sepeda !! " Tutur Angga serius
" Suruh siapa lo bilang siap ngasih cucu tadi " ucap Ara lebih serius
" Ya kalau itu si gue emang siap Ra, kalau ini gue beneran nggak siap " mengangkat kedua tangan ke pinggang
" Masak naik gini aja nggak berani cemen "
" Bukanya gitu gue beneran takut ini "
" Ternyata ya Angga yang gue kenal tegas, dingin ternyata naik sepeda aja takut hu.. hu... hu.. " Ara terus mengecek berusaha membuat Angga menaiki sepeda nya, namun Angga tetap lah Angga yang selalu kukuh pada pendiriannya.
Namun Ara tidak patah semangat dia masih berusaha membuat Angga mau menaiki sepeda itu.
" Beneran nih nggak bisa..! Emang Cemen Lo ga.. baru tau gue. Angga cemen hu.. nggak berani naik sepeda Angga cemen.. hu..hu "
" Oke..oke gue trima tantangan Lo, awas aja Lo " ucap Angga pasrah
Ara tersenyum puas melihat Angga masuk jebakan nya
Ara telah memutus rem sepeda gunung yang akan di pakai oleh Angga, sedangkan dirinya menggunakan sepeda berbeda milik tukang kebun rumah nya.
Mereka pun menaiki sepeda mengelilingi desa, Ara sangat menikmati kegiatan bersepeda nya kali ini.
Pemandangan indah yang sudah lama tidak di lihatnya kini kembali dia rasakan, setiap perjalanan dia selalu menyapa semua orang yang bertemu dengan nya.
Berbeda dengan Ara yang sangat gembira, Angga tertekan dia tidak menikmati jalan-jalan pagi ini, dia takut bahkan keringat dingin mulai bercucuran dari kening jatuh ke bawah.
Di jalanan yang sedikit menurun Ara mulai melancarkan rencananya.
" Ayo ga kita balapan siapa yang lebih dulu sampai di gubuk itu dia yang menang " tanpa memandang Angga Ara sudah mulai meluncur menyusuri jalanan yang menurun sedikit curam itu.
Angga hanya mengikuti Ara tanpa mau menyalip, dia benar-benar takut menuruni jalan ini.
Ara terus melaju menuruni jalanan dengan lancar, sedang kan Angga dia mencoba mengerem namun laju sepeda nya tak bisa di hentikan.
Hingga akhirnya dia terjatuh karena rem sepeda yang di naiki rusak dan itu ulah Ara.
Ara yang sudah berada di persimpangan jalan di bawah sana, tertawa puas melihat Angga yang terjatuh di semak-semak jalanan.
Lama sekali Angga tak ada muncul, Ara jadi khawatir dan melihat keadaan Angga.
" Aga..aga " mencari keberadaan Angga dan ternyata Ke khawatiran nya benar. Angga menangis sesenggukan melipat kedua lutut nya.
Ara di buat bingung " Lo nggak apa-apa kan ga, apa ada yang luka..?" Tanya nya
Tak menjawab Angga langsung memeluk saat mendengar suara Ara." Gue takut Ra "
" Oke.. tenang ada gue disini " menepuk pelan punggung Angga
Setelah Angga tenang ahirnya mereka pulang.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Ara di marahi habis-habisan oleh sang ayah, namun dia tidak membantah karena memang ini salahnya.
Ara semakin bingung dengan keadaan ini " kenapa dengan Angga .. ? Ayah bilang trauma .. trauma apa ? " Ucap nya dalam hati