
Gorden di bilik 9 yang ada di dalam kamar rawat inap kelas tiga terbuka pelan dan asisten pribadinya Eros Jacob, yang bernama Pramono, langsung berkata dengan suara lirih karena ia tidak ingin mengganggu kelima pasien lain yang juga berada di dalam kamar rawat inap kelas tiga itu. "Saya sarankan Anda menemui pengacara terkenal lulusan Amerika yang memiliki julukan Lawless lawyer. Dia pasti bisa membantu Anda memenangkan kasus perebutan pangsa pasar atau market share antara JJ Grup dan Baskoro Grup"
"Lalu, kapan saya bisa menemui pengacara dengan julukan aneh itu?" Alma bangkit berdiri dan mendekap dada Leon.
"Sore ini jam tujuh. Dia bersedia menyediakan waktu sibuknya yang berharga untuk Anda, Non. Anda beruntung" Sahut Pramono.
Alma melihat jam tangannya lalu berkata, "Ini sudah jam setengah enam. Papa masih belum Sadan dan Leon.........."
"Saya akan menjaga Tuan Eros dan Tuan muda. Anda temui saja pengacara itu" Sahut Pramono.
"Baiklah. Terima kasih banyak, Pak Pram"
"Sama-sama, Non. semoga berhasil"
__ADS_1
"Terima kasih. Saya pergi dulu menemui pengacara dengan julukan aneh itu"
"Baik. Kalau Tuan Eros bangun saya akan langsung mengabari Anda, Non"
"Terima kasih banyak, Pak Pram"
...*****...
Galih kemudian menyeringai lalu mengangkat wajah tampannya untuk menatap Doni, "Dia belum datang?"
Doni melihat jam tangannya lalu menatap Galih dan berkata, "Belum. Masih setengah tujuh. Aku juga nggak sabar pengen segera bertemu dengan Alma Jacob, teman SMA kita. Secantik apa dia sekarang. Pas jaman SMA saja dia udah cantik banget dan ........"
"Diam! Bisa diam tidak, hah?! Jangan puji wanita iblis itu cantik di depanku, cih!" Galih langsung melemparkan pulpen yang dia pegang ke dada Doni dengan sorot mata penuh amarah dan dendam.
__ADS_1
Doni membungkuk untuk mengambil pulpen yang jatuh di atas lantai lalu meletakan pulpen itu di atas meja sambil bergumam, "Alma, kan, memang cantik"
"Keluar!!!!!!" Galih langsung berteriak kencang.
Doni bangkit berdiri sambil menghela napas panjang lalu pemuda ganteng yang memiliki wajah dan kulit khas orang Indonesia itu langsung berputar badan dengan pelan untuk melangkah keluar dari dalam ruang kerjanya Galih.
Alma yang mengucir asal-asalan rambut hitam panjang indahnya saat ia masih duduk di dalam bus umum, menghela napas panjang lalu bergumam lirih, "Semoga saja pengacara dengan julukan aneh itu bersedia membantu aku dan aku akan membayarnya dengan gelang berlian peninggalan almarhum Mama, karena hanya gelang berlian peninggalan almarhum Mama ini, satu-satunya harta berharga yang masih kami miliki"
Sejak perusahaannya bangkrut dan hotelnya berada di ujung tanduk, Eros menjual semua aset berharga berupa tanah, sawah, dan koleksi mobil mewahnya. Hanya tersisa rumah mewah yang ia tinggali dan gelang berlian yang masih disimpan dengan sangat baik oleh Alma.
Alma mengelus dadanya dan bergumam, "Kenapa aku deg-degan? Hufftttt! Tenang Alma, pengacara itu pasti ramah dan baik seperti yang ada di film-film yang pernah kamu lihat" Alma berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Alma turun dari dalam bus umum dengan pelan-pelan. Setelah kedua kakinya menapak jalan beraspal, Alma memutar badan lalu melangkah ke arah timur, ke firma hukum 'Lawless Lawyer' Langkah Alma tampak mantap meskipun jantungnya terus berdegup abnormal.
__ADS_1