
Galih kemudian berdeham dan berbalik badan.
Alma bergegas mengekor langkah Galih sambil ngedumel, "Kenapa dia suka banget mengambil langkah dadakan? Apa dia tidak lihat kalau aku pakai sepatu tumit tinggi saat ini?"
Galih bisa mendengarnya dan pria itu langsung mengulas senyum geli di wajah tampannya.
Doni yang berdiri di depan pintu mobil jok depan sontak bertanya , "Kenapa kau senyum-senyum?"
"Nggak ada senyum-senyum" Geram Galih sambil masuk ke dalam mobil menyusul Alma.
Alma menoleh kaget, "Kenapa kau masuk ke sini? Kenapa tidak duduk di depan?"
"Ini mobil siapa?"
"Mobil kamu"
"Jadi, suka-suka aku, kan, mau duduk di mana" Sahut Galih dengan santainya.
Alma hanya bisa menghela napas panjang lalu mengalihkan pandanganya ke jendela mobil.
Galih melirik Alma dan berbisik di dalam hatinya, astaga! Kenapa kau tercipta sesempurna ini, Alma? Sampai kapan aku bisa menahan diriku terus?
"Dasar gila, aneh, arca baru, menyebalkan!" Gumam Alma.
Galih menarik tangan Alma dan mendelik, "Aku dengar semuanya"
"Lalu?" Alma mendelik ke Galih.
"Maka aku akan ingatkan kamu kalau kamu pagi tadi tidak membantuku mandi, tidak memberikan kecupan tiga kali di bibir, dan ridak memandikan aku di sore hari"
"Itu bukan salahku. Kamu bangun tergesa-gesa dan pergi juga tergesa-gesa. Lalu, di sore hari kamu mendatangkan perias dan perias itu merias aku selama berjam-jam"
__ADS_1
"Menurut kamu aku salah atau tidak, Don?" Galih bertanya ke Doni tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah cantiknya Alma Jacob.
"Kenapa aku dibawa-bawa?" Doni mendengus kesal.
"Katakan!" Seperti bisanya Galih tidak mau menerima protes.
"Tidak" Sahut Doni.
"Berarti Alma tetap harus memberikan kecupan di bibirku sebanyak tiga kali kalau tetap menginginkan uangnya, kan?"
"Iya" Sahut Doni asal. Doni mencari akan karena ia tidak ingin Galih memotong bonusnya.
Alma mendengus kesal dan dengan sangat terpaksa demi uang karena ia ingin bisa secepatnya melunasi hutangnya, ia mengecup tiga kali bibirnya Galih Baskoro.
"Masih kurang"
"Kok bisa?" Alma mendelik kaget.
"Hah?! Don! Menurut kamu ini masuk akal tidak?" Alma berteiak ke Doni.
Doni langsung menyahut, "Doni tidak ada di sini!"
Alma mendengus kesal dan dengan sangat terpaksa ia memberikan kecupan enam kali di bibir Galih.
Setelah berhasil mendapatkan sembilan kaki kecupan di bibir, Galih langsung mengalihkan pandangannya ke jendela dan ia tersenyum senang. Sangat senang.
Sedangkan Alma mengalihkan pandanganya ke jendela sambil mengelus dadanya dan bergumam di dalam hati, kenapa kau berdebar saat ini wahai jantungku? Harusnya kamu kesal tapi kenapa kamu malah berdebar seperti ini?
Setelah adegan kecup mengecup itu, suasana di dalam mobil menjadi hening. Doni mengeja napas panjang dan bergumam di dalam hatinya, semoga saja kalian bisa segera akur, maka aku bisa hidup damai dan tentram.
Beberapa jam kemudian, Doni memarkirkan mobil mewahnya Galih di dekat pondok di tengah Padang rumput.
__ADS_1
Galih turun dari dalam mobil lalu menahan pintu mobil tetap terbuka lebar dan Alma turun dengan sedikit mengangkat gaun sehingga gaun mahal itu tidak tersangkut dan robek.
Galih kemudian mengitari kap mesin dan tanpa Galih sadari Alma mencuri pandang dan bergumam di dalam hati, betapa gagah Galih dengan tuksedo.
Galih kemudian melihat Alma, jelas melihat kesulitan wanita itu berjalan di tengah ladang dengan sepatu tumit tinggi dan gaun pesta yang panjang. Alma sudah hampir membungkuk ingin melepaskan sepatu, tetapi sebelum Alma melakukannya Galih mengangkat tubuh Alma tanpa susah payah dan pria tampan itu berjalan dengan langkah panjang menuju ke keberadaan helikopternya, tempat pilot berdiri menunggu di depan pintu helikopter yang masih terbuka lebar.
Sayup-sayup Alma mendengar suara deru mesin, tapi dia masih belum bisa memastikan suara deru apa itu. Alma berpegang erat pada leher Galih dengan napas tercekat, menyadari dada Galih yang keras dan lengan Galih yang kokoh menopang tubuhnya.
Galih tiba-tiba menurunkan wajahnya dan kening Galih bersentuhan dengan kening Alma. Untuk sepersekian detik Alma dan Galih bersitatap dengan canggung.
Alma kemudian tersadar dari kebodohannya sesaat mengagumi pesona Galih dan wanita itu sontak berteriak, "Turunkan aku!"
Galih kemudian menurunkan Alma dengan perlahan di atas tanah yang keras dan aman untuk dilewati sepasang sepatu tumit tinggi.
Alma menyeberangi halaman mengikuti langkah lebarnya Galih dengan sepatu tumit tinggi dan berdoa semoga mata kakinya tidak terkilir.
Setelah berjalan cukup lama, Alma tersentak kaget saat ia mendengar suara helikopter dan melihat ada helikopter tidak jauh di depannya. "Kita akan naik helikopter?"
Galih menatap Alma dan berteriak untuk melawan suara deru helikopter, "Tempatnya cukup jauh dan acara dimulai satu jam lagi"
Galih mengangkat tubuh Alma dan menurunkan Alma ke kursi dengan ekspresi muram lalu pria tampan itu memasangkan dan mengencangkan sabuk pengaman sebelum wanita itu memprotes. Tangan Galih menggesek kulitnya sedikit ketika pria itu menyesuaikan posisi sabuknya dan darah Alma seketika itu mendidih.
Alma menghela napas lega ketika Galih dudin di depan di samping pilot karena dia tidak ingin duduk bersebelahan dengan Galih dan pria itu bisa membaca pikirannya.
Galih bersikap tenang karena ia menyadari Alma adalah wanita yang harus ia hadapi dengan penuh kesabaran.
Ketika mereka mengenakan headphone, Galih menoleh ke belakang, "Oke?"
Alma mengangguk cepat-cepat dan memaksakan senyuman lebar.
Mereka pun lepas landas. Meskipun Alma sangat membenci Galih saat ini, namun tetap saja di beberapa situasi tidak terduga, jantung Alma berdebar keras dan darahnya mendidih.
__ADS_1