Musuh Tapi Sayang

Musuh Tapi Sayang
Menikah


__ADS_3

"Iya. Aku beri kamu waktu untuk berpikir selama........." Galih mengangkat tangan kanan untuk melihat jam tangannya, lalu ia menatap Alma yang masih menatapnya dengan sorot mata kebingungan, "Aku beri kamu waktu lima belas menit untuk berpikir. Kalau kamu tidak mau, maka aku akan kembalikan gelang berlian kamu dan silakan melangkah keluar dari ruangan ini"


"Ke.....kenapa Anda memberikan waktu berpikir yang sangat pendek. Ini soal pernikahan. Saya belum menikah sebelumnya dan kita baru bertemu beberapa menit yang lalu Kita belum saling kenal" Alma langsung menghela napas panjang lalu mengambil botol air mineral berukuran kecil yang dia simpan di dalam tas untuk ia tenggak sampai habis.


"Kau yakin kita tidak saling kenal?" Gumam Galih sambil menegakkan badannya dan bersedekap.


Alma memasukkan botol air mineral yang telah kosong ke dalam tas lalu menatap Galih dan bertanya, "Maaf, apa yang Anda ucapkan barusan?"


"Aku hanya menguap tadi" Galih menatap Alma masih dengan tatapan datar dan dingin.


"Oke. Kenapa hanya lima belas menit?" Alma menatap Galih dengan sangat serius ada kilatan amarah di kedua bola mata Alma yang berwarna kehijauan.


Sial! Kapan Alma memiliki bola mata hijau secantik itu? Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Batin Galih.


Galih kemudian berdeham untuk mengusir fantasi liar tentang Alma sebelum fantasi liar itu menari-nari indah di benaknya dan Galih bergegas berkata, "Karena hanya aku yang bisa menolong kamu saat ini, Nona. Aku tahu kalau Pramono sudah berkeliling ke banyak pengacara dan semua pengacara itu menolaknya. Lima belas menit untuk katakan iya atau kau dan keluarga kamu akan berakhir di jalanan" Galih menyeringai tipis dengan masih bersedekap.


Alma menatap lekat bola mata abu-abunya pengacara tampan yang ada di depannya, lalu ia menghela napas panjang dan bertanya, "Untuk berapa lama pernikahan kontrak kita?"


"Oh, kamu salah, Nona!" Galih memajukan wajahnya lalu berkata, "Aku tidak menyebutkan pernikahan kontrak tadi karena aku, menginginkan pernikahan selamanya. Sampai maut memisahkan kita" Galian memberikan penekanan keras di kata maut.


Glek! Alma sontak kesulitan menelan air liurnya.

__ADS_1


Galih melihat arloji mahalnya kembali sambil berkata, "Sepuluh menit lagi"


Alma langsung berdoa di dalam hatinya, Tuhan lindungi dan berkati keputusanku ini. Aku melakukannya demi Papa, Leon, Pak Pramono, dan semua karyawan di JJ grup, amin.


"Lima menit lagi" Galih kembali berkata dengan seringai tipis.


Alma menghela napas panjang lalu berkata, "Oke. Toh, aku juga sudah mengorbankan gelang berlian peninggalan dari almarhum Mamaku satu-satunya. Aku rasa, well, aku bisa berkorban sekali lagi. Aku akan menikah denganmu"


"Untuk selamanya sampai maut memisahkan kita" Galih kembali memberikan penekanan di kata maut.


"Yeeeahhhh, selama-lamanya sampai maut memisahkan kita"


Galih langsung bertepuk tangan sekali dengan cukup keras sambil berteriak puas, "Bagus! Aku akan panggil Doni ke sini untuk membawa berkas perjanjian yang harus kita tandatangani kemudian kita menikah"


Wangi rambutnya Alma menusuk hidung Galih dan untuk sesaat pria tampan itu memejamkan untuk menghirup wangi itu.


Galih membuka matanya saat ia mendengar Alma kembali bertanya, "Apakah Anda serius ingin menikah dengan saya di sini?"


Galih menyeringai mengejek lalu berkata dengan nada sinis, "Lalu, apa yang kau harapkan? Pesta mewah di gedung megah, gaun pengantin dari desainer ternama dan sajian makanan lezat yang terhampar luas di depan kamu? Cih! Lupakan semua itu. Kita menikah dadakan dan hanya untuk kepentingan bisnis"


"Aku juga tidak menginginkan semua itu. Cuma aneh saja. Kalau hanya untuk kepentingan bisnis kenapa menikah untuk selamanya sampai maut memisahkan kita?" Alma menautkan kedua alisnya cukup dalam.

__ADS_1


"Karena aku tidak suka aturan. Aku suka bertindak semau Gue. Puas?" Sahut Galih dengan sorot mata dingin sedingin es.


Doni kemudian masuk dan meletakkan empat lembar kertas putih yang masih polos. Di bagian kanan bawah kertas putih polos itu hanya ada tulisan, kota, tanggal, tahun, dan meterai dan nama lengkap Alma.


"Kenapa kertas ini masih belum ada isinya?apa peraturannya? Kenapa hanya ada namaku di sini?" Karena bingung, lelah, dan kesal, Alma melupakan bahasa formal.


"Tanda tangan semua kertas putih polos bermeterai itu. Peraturan akan muncul di depan kamu nanti setelah kita menikah dan bertemu dengan pimpinan grup Baskoro" Sahut Galih.


Karena rasa kesalnya sudah sampai di ubun-ubun kepalanya, Alma dengan cepat menandatangani semua kertas bermeterai itu.


Lalu, masuklah tiga orang laki-laki ke dalam ruang kerjanya pengacara aneh itu.


"Mereka petugas dari pencatatan sipil dan mereka yang akan menikahkan kita. Setelah kita menikah, kita akan menemui pimpinan grup Baskoro" Sahut Galih sambil bangkit berdiri.


Alma ikut bangkit berdiri lalu mengekor langkah Galih sedangkan Doni hanya bisa diam seribu bahasa dan sesekali Doni menghela napas panjang dengan pelan.


Satu jam kemudian, Galih menyerahkan buku nikah ke Alma sambil berkata, "Simpan baik-baik buku nikah kita karena sekarang aku akan mengajak kamu menemui pimpinan grup Baskoro"


Alma memasukkan dua buah buku nikah ke dalam tasnya lalu ia bangkit berdiri untuk mengekor langkahnya pengacara aneh yang hanya di dalam hitungan jam sudah resmi menjadi suaminya yang sah secara hukum.


Alma menatap punggung pengacara aneh itu dengan helaan napas panjang lalu bergumam di dalam hatinya, dia adalah suamiku. Aku sudah menjadi seorang Istri tanpa restu dari Papa. Maafkan aku, Pa, Ma, aku menikah tanpa restu dari kalian.

__ADS_1


Sedangkan Galih melangkah mantap di depan Alma dengan seringai puas dan bergumam di dalam hatinya, sebentar lagi aku akan membuat hidup kamu seperti di neraka, Alma Jacob.


__ADS_2