Musuh Tapi Sayang

Musuh Tapi Sayang
Kaget


__ADS_3

Galih kembali turun ke lantai satu dan saat ia melangkah keluar dari dalam lift, dia langsung mendorong dada Doni dan berkata, "Kau tidak boleh naik ke atas"


"Lho, bukankah aku harus membacakan peraturan yang kau buat di depan Alma? Aku sudah buat peraturan kamu di atas kertas bermeterai yang sudah Alma tanda tangani kemarin. Aku hanya perlu membacakannya, kan?"


Galih merangkul Doni dan sambil memutar badan Doni untuk menghadap ke depan, dia berkata, "Peraturan itu tidak berlaku. Aku akan buat peraturan baru setelah ini"


"What?! Kau gila?! Aku bangun di jam empat pagi untuk mengetik semua peraturan kamu dan bergegas kemari. Lalu, seenaknya kamu bilang tidak berlaku dan mau bikin peraturan baru lagi?"


Alih-alih merespons semburan protesnya Doni, Galih mengajak Galih berjalan ke depan sambil berkata, "Temani aku ke kantor polisi"


"Hah?! Untuk apa ke kantor polisi"


"Melihat lebih detail apa yang tidak terlihat selama ini" Sahut Galih sambil terus mengajak Doni melangkah ke depan.


Doni tidak bisa berkutik karena Galih merangkul erat bahunya. Asisten pribadinya Galih yang juga sekaligus sahabatnya Galih itu hanya bisa memasang wajah mewek dan menuruti kemauan sahabat yang sekaligus bosnya itu.


Saat memasang sabuk pengaman, Galih bertanya, "Kau sudah telpon pemilik butik Ratu?"


"Sudah"


"Bagus"


"Tapi, kenapa tidak kita suruh salah satu pelayan kamu untuk mengambil bajunya Alma yang ada di rumahnya Alma? Kenapa kau belikan baju baru lengkap sampai ke aksesorisnya segala? Bukankah kau sangat benci Alma? Lalu, kenapa kau ......"


"Diam! Aku mau tidur sekarang" Galih langsung menyandarkan kepalanya di jok mobil dan tidur.


Doni hanya bisa menghela napas panjang sepanjang-panjangnya.


Sementara itu, Alma tengah dibingungkan dengan pertanyaan pemilik butik Ratu yang tengah memasukkan rak baju dengan berbagai macam gaya dan kebutuhan acara ke dalam ruang ganti baju, "Kamu siapanya Tuan Pengacara?"


"Sa....saya, emm, teman SMA-nya" Sahut Alma dengan senyum canggung.


"Hanya teman SMA dan Tuan Pengacara sebaik ini sama kamu?" Tanya pemilik butik Ratu.


Orang ini cocok banget jadi wanita paruh baya. Dia kepo dan ceriwis banget. Batin Alma.

__ADS_1


"Oh, teman SMA dulu. Kalau sekaran Teman Tapi Mesra alias TTM, ya?" Pemilik butik Ratu menoel dagu Alma dengan tawa ceria.


Alma hanya mengulas senyum lebar di wajah cantiknya lalu menghela napas panjang.


"Oke, cantik, aku sudah memasukkan semua baju, sepatu, aksesoris, pakaian dalam ke ruang ganti baju ini. Kamu bisa melihat-lihat sekarang. Kalau ada yang kurang, kamu bisa bilang dan aku akan langsung menghubungi orangku yang ada di butik untuk langsung membawanya ke sini. Emm, selera Tuan Pengacara memang oke bingit" Pemilik butik Ratu itu tersenyum lebar menatap tubuh Alma dari belakang.


Wanita ini bukan hanya cantik tapi juga memiliki postur tubuh yang sangat sempurna. Baru kali ini aku dibiarkan sama Tuan Pengacara melihat secara langsung wanitanya. Batin si pemilik Butik Ratu.


Alma menoleh ke pemilik butik Ratu untuk berkata, "Terima kasih, Miss......."


"Oh, namaku Celine. Mises Celline. Bukan Miss. Aku udah berumur lima puluh lima tahun, lho. Apa masih pantas dipanggil, Miss, Hihihihihi" Pemilik butik Ratu langsung terkikik malu dipanggil Miss oleh Alma.


"Ah, maafkan aku, Mises Celine. Namaku Alma. Terima kasih banyak sudah berusaha payah menata semuanya di sini"


"Sama-sama, cantik. Kau tahu tidak, kau ini sangat cantik. Kau pantas menjadi model. Oh, Astaga! Apa pekerjaanmu memang model?" Pemilik butik Ratu itu kembali menoel dagu Alma dan Alma langsung menyahut, "Terima kasih atas pujiannya. Kamu juga cantik Mises Celine. Aku bukan model. Aku seorang terapis. Pekerjaanku menerapi anak-anak berkebutuhan khusus"


"Wah! Pekerjaan mulia itu. Kamu tidak hanya cantik tapi juga berhati mulia ternyata. Oke, aku pulang dulu, Cantik" Pemilik butik Ratu itu kemudian mengajak Alma saling mencium pipi kiri dan kanan.


Alma mengantarkan pemilik butik Ratu sampai ke depan lalu ia naik kembali ke atas untuk melihat-lihat lebih detail apa yang Galih beli untuknya.


Alma tersentak kaget dan langsung menutup rak lalu berlari ke ranjang saat ia mendengar telepon genggamnya berbunyi sangat nyaring, "Halo, ini siapa?"


"Kenapa tidak kau simpan nomerku, hah?!"


"Maaf, ini siapa? Kenapa nelpon langsung marah-marah?" Alma tanpa sadar meninggikan nada suaranya.


"Ini aku"


"Aku siapa? Yang jelas, dong! Kalau nggak jelas akan tutup teleponnya sekarang juga dan........"


"Kau gila, ya?! Ini aku Galih! Simpan nomerku setelah ini!"


"Oh, Galih, ada apa?" Tanya Alma dengan nada santai.


"Kamu sudah lihat semua barang yang aku beli untuk kamu?"

__ADS_1


"Sudah. Terima kasih banyak"


"Kau sedang apa saat ini?"


"Terima telepon" Sahut Alma dengan santainya.


"Wah, kau berani bercanda denganku, ya? Jangan bersantai saja di rumahku! Bersihkan rumah, nyapu, ngepel, bersihkan kamar mandi, dan bersihkan kolam renang juga!"


"Iya, baiklah. Tapi, setelah aku kerjakan semua tugasku, apa aku boleh pergi menemui muridku? Aku ada murid nanti siang jam dua sampai malam jam delapan. Emm, aku boleh kerja, kan?"


"Terserah kamu! Tapi kerjakan dulu semua yang aku perintahkan tadi!"


"Baiklah"


Galih menutup sambungan teleponnya dan menatap layar telepon genggamnya. Dia tengah kebingungan memilih nama untuk menyimpan nomer telepon genggamnya Alma. "Ah, kenapa aku jadi kayak orang tolol, sih? Simpan aja pakai nama Alma Jacob kenapa? Cih! Otak kamu mulai konslet Galih" Galih bergumam sembari mengetik nama Alma Jacob di layar telepon genggamnya.


Sementara itu Alma sontak menepuk jidatnya sendiri sambil berkata, "Sial! Aku lupa tanya ke orang aneh itu kenapa dia bisa tahu ukuran semua bajuku dan tahu ukuran sepatuku. Ah, nanti aja pas ketemu sama dia, aku bisa nanya langsung"


Doni yang masih menatap Galih sontak bertanya saat ia melihat Galih memasukkan telepon genggam ke dalam saku kaos, "Kenapa masih mempertahankan Alma di rumah kamu? Aku kira kamu meminta nomernya Alma tadi karena kamu ingin meminta maaf sama Alma karena kamu salah menuduh Alma yang telah menabrak lari mendiang Kak Ratna"


Galih sontak melotot, "Alma belum terbukti seratus persen kalau dia tidak bersalah. Memang ada titik buta dan ada mobil lain yang terlihat dari minimarket yang ada di sisi timur jalan di saat CCTV yang ada di sisi barat jalan tertutup Bus besar. Tapi, itu belum membuktikan kalau Alma tidak bersalah"


"Lalu, apalagi yang akan kamu lakukan sekarang ini?"


"Mencari lebih banyak bukti dan mencari pengemudi mobil lain itu" Sahut Galih.


Doni memasang sabuk pengaman dengan mendengus kesal lalu ia berkata sambil menjalankan mobil, "Mawar, wanita yang kau kontrak untuk kau jadikan teman bermain di ranjang kamu, yang sekarang kau suruh tinggal di apartemen kamu, dia ternyata seorang penipu"


"Kalau begitu, batalkan kontrakku dengannya" Sahut Galih dengan santainya. "Aku juga sudah tidak tertarik padanya lagi"


Doni sontak menoleh ke Galih dan menyemburkan kata, "Kau gila?! Kalau kau batalkan kontrak, maka kau harus bayar ganti rugi sangat banyak"


"Ya, bayar saja. Gitu aja,kok, repot" Sahut Galih sambil menyandarkan kepalanya di jok mobil, lalu tidur.


Doni kembali menghela napas panjang sepanjang-panjangnya.

__ADS_1


__ADS_2