
Setelah merebahkan Alma di atas kasur dengan perlahan, Galih langsung berlari keluar dan berhenti di di tengah pintu untuk berteriak sekencang-kencangnya, "Doni! kemari cepat!"
Doni yang tengah menyesap kopi di ruang tengah langsung meletakan cangkir kopi di meja lalu bangkit berdiri dan berlari ke kamarnya Galih. "Ada apa?" Tanya Doni dengan napas menderu karena ia berlari sangat kencang.
"Mana telepon genggamku?"
"Lho, bukannya di dalam tas kerja kamu"
"Sial! Kelamaan. Pakai telepon genggam kamu dan panggil dokter ke sini"
"Ada apa? Kau sakit apa?"
"Alma pingsan"
"Apa?! Kok, bisa?"
"Buruan telpon dokter, kok, malah nanya terus!" Galih mendelik kesal.
"Ah, iya, baik" Doni bergegas mengeluarkan telepon genggam dari dalam saku kemejanya dan langsung menelepon dokter langganan mereka yang ada di kota B.
Setelah selesai memanggil dokter dan memasukkan telepon genggam ke dalam saku kemejanya, Doni bertanya, "Kau apakan lagi dia?"
"Dia membuka laptopku tanpa permisi dan flashdisk yang biasa tertancap di laptop hilang. Maka aku geledah dia"
"Flashdisknya ada di saku celanaku" Doni menepuk celana kainnya. "Kenapa kau terus berprasangka buruk sama Alma. Kasihan Alma. Dia tidak pernah melakukan kesalahan apapun padamu, yeeeaahh, kecuali dia pernah mendekati kamu pas jaman SMA dulu dengan sedikit ekstrem, tapi selain itu dia tidak pernah melakukan kesalahan padamu. Lagipula pas jaman SMA aku rasa pendekatannya ke kamu masih terbilang wajar dan........."
"Ssstttttt!" Galih langsung menahan telunjuk ke bibir Doni.
Doni menepis jari telunjuk Galih dan kembali berkata, "Alma juga tidak bersalah dalam peristiwa tabrak lari yang mengakibatkan Kak Ratna meninggal dunia"
"Kau sudah dapat laporannya dari Brian?"
Brian adalah nama detektif pribadinya Galih yang sering Galih perintah untuk melakukan hal-hal di luar nalar dan ekstrem.
"Ya. Brian menemukan sebelum Alma melintasi jalan protokol itu, ada sebuah mobil sedan berwarna putih dan pengemudi mobil sedan putih itu adalah seorang mafia. Dia dikejar polisi untuk itulah ia mengebut dan menabrak Kak Ratna. Dia lari meninggalkan Kak Ratna karena ia dikejar oleh polisi tapi kalau toh ia tidak sedang dikejar polisi dia akan tetap lari karena dia orang yang sangat kejam dan dia seorang mafia"
"Siapa mafia brengsek itu?"
"The Legend of Gotti. Jack Gotti" Sahut Doni.
"Dia tidak pernah bisa disentuh oleh hukum" Sahut Galih.
"Kau benar. Oleh karena itu dia dijuluki The Legend of Gotti"
"Sial! Kenapa dia bisa ada di Indonesia saat itu?"
"Dia bisa ada di mana saja karena dia memiliki kuasa dan uang" Sahut Doni.
__ADS_1
"Brian sudah pastikan kalau Jack brengsek itu yang sudah menabrak Ratna dan calon anakku?"
"Iya"
Galih kemudian menoleh ke belakang dan seketika ia merasa bersalah.
"Nyesel kamu sekarang? Kalau kamu nyesel, maka lepaskan Alma setelah ia sadar.dan sembuh. Lalu, bantu dia memulihkan keuangan keluarganya"
Galih kembali menatap Doni dan menggelengkan kepala.
"Kenapa? Jangan bilang kalau kamu ingin menahannya di sisi kamu!" Doni mulai bersedekap dengan mengerutkan kening.
"Aku sudah menikah dengannya. Dengan kontrak selamanya sampai maut memisahkan. Aku tidak akan melepaskannya"
"Kau........"
"Aku akan membuatnya mencintai aku selama satu tahun ini"
"Kenapa begitu?"
"Aku rasa aku jatuh cinta lagi untuk yang kedua kalinya. Ya, aku rasa aku mencintai Alma Jacob"
"Sial!" Doni sontak meraup wajah tampannya.
"Tapi, itu, entahlah! Tapi, tunggu! Emm, kalau Alma tidak juga mencintai kamu selama satu tahun ini, bagaimana?"
"Mungkin aku akan melepaskannya"
"Aku akan jaga Alma dan kau tunggu dokternya"
"Baiklah" Doni hanya bisa menghela napas panjang.
Doni dan Galih kemudian sama-sama berbalik badan. Doni melangkah ke ruang tengah dan Galih melangkah masuk ke dalam kamar.
Galih melangkah pelan mendekati ranjang lalu duduk di tepi ranjang. Dia merapikan menyibak sejumput rambut yang menutupi wajah Alma.
Maafkan aku. Aku salah paham padamu selama puluhan tahun dan menyimpan dendam padamu padahal kamu sama sekali tidak bersalah. Batin Galih sambil meraih lalu menggenggam tangan Alma.
Galih mengusap punggung tangan Alma dan bergumam lirih, "Kau sudah mengacak-acak pikiran dan perasaanku lebih dari Ratna. Kau tahu itu? Kau kucing liar yang sangat cantik" Galih tersenyum dan terus memandangi wajah bengkaknya Alma.
Galih kemudian mengulum bibir menahan geli dan bergumam kembali, "Bahkan dengan wajah bengkak seperti ini, kau tetap tampak cantik, pfftttt! Lucu, sih, kamu jadi mirip kayak ikan buntal, tapi aku serius menilai kamu cantik saat ini. Kmu cantik dalam kondisi apapun Alma dan kamu wanita yang tangguh. Kamu manja" Galih kemudian mencium punggung tangan Alma dengan lembut.
Galih bangkit berdiri saat dokter langganannya datang.
"Syukurlah kau datang cepat" Ujar Galih tanpa ekspresi.
"Iya, kau beruntung aku berada di sekitar sini mengadakan kunjungan pasien"
__ADS_1
"Buruan periksa!"
"Dia siapa?"
"Istriku"
"Hah?! Nikah,kok, nggak ngundang-ngundang".
"Buruan periksa!" Geram Galih dan dokter wanita bertubuh tambun itu langsung duduk di tepi ranjang dan memeriksa wanita yang terbaring tak sadarkan diri di ranjang.
Dokter bertumbuh tambun dan bernama Lastri itu kemudian bangkit berdiri setelah menyuntik Alma.
Doni dan Galih bertanya secara bersamaan, "Bagaimana kondisinya?"
"Dia kenapa?" Sambung Galih.
"Sudah selesai nanyanya?" Dokter Lastri menghela napas panjang.
"Sudah" Sahut Doni dan Galih hanya diam.
Dokter Lastri menatap Galih dan berkata, "Istri kamu hanya alergi. Dia terkena apa sebelumnya? Atau makan apa?"
"Dia,.emm, sebentar. Ah, hidungnya menyentuh bunga mawar di toilet dan langsung meler hidungnya lalu wajahnya bengkak dan pingsan"
Sahut Galih.
"Berarti dia alergi serbuk sari"
"Iya, benar. Dia alergi serbuk sari"
Galih menoleh tajam ke Doni, "Kalau kamu tahu kenapa kamu biarkan pengurus vila ini menaruh bunga mawar segera di kamar mandi?"
"Aku juga baru tahu beberapa jam yang lalu dan saat mau bilang ke kamu, ada telepon dari detektif Brian"
Galih mendengus kesal.
"Sudah aku suntik dan beberapa jam lagi dia akan sadar dengan sendirinya dan bengkak di wajahnya hilang. Aku tidak kasih resep karena obat yang aku masukkan lewat suntikan aja udah cukup"
"Hmm" Sahut Galih.
Doni lalu berkata, "Aku antarkan sampai ke depan, Dok"
"Makasih, Don" Sahut Dokter Lastri.
Galih melangkah ke ranjang dan kembali duduk di tepi ranjang. Dia kemudian memasukkan kedua tangan Alma ke dalam selimut dengan hati-hati. Lalu, ia bangkit berdiri untuk mandi.
Di saat Galih mandi, Alma membeliak kaget dan langsung bangun, "Aku di mana?" Alma mendengarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar dan langsung bergumam, "Ah, iya, aku ada di vila pria brengsek itu. Di mana dia sekarang?"
__ADS_1
"Pia brengsek itu di sini" Galih tiba-tiba muncul menjulang di depan Alma dengan bertelanjang dada dan handuk terlilit di pinggang.
"Kyaaaaaa!!!!" Alma sontak berteriak dan menutup wajahnya dengan dua telapak tangan.