
Ceklek! pintu terbuka pelan dan Alma seketika tertegun melihat pria ganteng yang berdiri di depannya dengan senyum ramah, "A......apakah kamu Doni?"
Pria yang masih berdiri di depan Alma sambil tersenyum dan memegang daun pintu itu menganggukan kepala dengan mantap.
"Ah, syukurlah!" Alma mengusap dadanya dan langsung berkata kembali, "Deg-degan di dalam dadaku langsung hilang saat tahu ternyata Lawless Lawyer adalah kamu dan......."
Doni sontak menghapus senyuman di wajah gantengnya sambil menggelengkan kepala.
"Hah?! Bukan? Kau bukan Lawless Lawyer?" Alma tersentak kaget.
"Kita belum bersalaman. Kita salaman dulu" Doni mengulurkan tangan.
Alma menyambut ukuran tangan Doni dengan senyum ramah, "Senang bertemu dengan kamu lagi, Doni. Kamu sama sekali tidak berubah" Alma lalu menarik tangannya.
Doni tersenyum lebar dan berkata, "Terima kasih untuk pujiannya. Kamu juga sama sekali tidak berubah. Masih tetap cantik dan ceria"
"Terima kasih banyak, Doni. Terima kasih untuk pujiannya"
"Masuklah!" Doni membuka lebih lebar dan pintu yang masih ia pegang.
Alma mengangguk pelan dan tersenyum lalu melangkah masuk ke dalam ruang kerja yang didominasi warna hitam dan putih.
__ADS_1
Ruangan ini sangat harum, mewah, dan elegan, namun terasa dingin. Batin Alma.
"Duduklah! Emm, pengacara kami masih rapat. Sebentar lagi selesai" Ujar Doni sambil melihat jam tangannya. Lalu, Doni menatap Alma dan sambil tersenyum ia berkata, "Aku akan buatkan kamu minum. Emm, mau apa? Kopi, teh, atau......."
"Air putih aja kalau ada. Makasih, Don" Sahut Alma dengan senyum ramahnya yang sangat cantik.
"Lho, jangan air putih dong. Aku akan bikinkan kopi untuk kamu. Kopi bikinanku sangat enak" Ujar Doni sambil berbalik badan lalu melangkah menuju ke bar mini yang berada tidak jauh dari sofa.
Kepala Alma refleks berputar ke kanan mengikuti arah perginya Doni.
"Bar yang cantik" Ucap Alma.
Doni menoleh ke belakang sambil menunggu Moca Pot (alat pembuat kopi di atas kompor listrik yang menyeduh kopi menggunakan air mendidih yang dicampur dengan kopi bubuk dan diseduh menggunakan tekanan air), memproses bubuk kopi asli yang Doni masukkan. Doni lalu berkata, "Iya. Bar mini ini sesuai dengan selera Bosku, hehehehe" Doni mengarahkan kembali pandangannya ke Moca pot sambil membatin, selera Bosku sedikit aneh, Alma. Semoga kau baik-baik saja setelah ini.
"Hanya kadang-kadang saja Bosku minum, hehehehe. Ini kopinya" Ujar Doni sambil meletakkan satu cangkir kopi bikinannya di atas meja sofa.
"Terima kasih, Don" Sahut Alma. Alma kemudian membungkuk untuk mengangkat cangkir dan menyesal kopi bikinannya Doni.
"Gimana? Enak, kan?"Doni bertanya dengan senyum ceria.
"Hmm. Krim dan gulanya, pas. Enak" Alma tersenyum ke Doni sambil meletakkan kembali cangkir berwarna putih dengan motif bunga-bunga kecil berwarna hijau di atas meja sofa.
__ADS_1
"Hehehehe, syukurlah kalau kamu suka" Doni kembali tersenyum dengan ceria.
Dia sangat cantik juga sangat lembut dan sepertinya dia wanita yang baik hatinya. Mana mungkin dia menabrak Ratna sampai mati dan meninggalkannya begitu saja. Batin Doni.
"Kau sudah datang?" Seorang pria tampan dengan wajah tampan bercambang berjalan melintasi sofa.
Doni langsung bangkit berdiri dan Alma refleks ikut bangkit berdiri. Alma menghadap ke Doni dan bertanya lirih, "Dia, Bos kamu? Pengacara dengan julukan Lawless Lawyer?"
Doni tersenyum lebar dan mengangguk mantap.
Galih duduk di kursi kerjanya lalu menatap ke depan.
"Kenapa masih berdiri di sana? Kau ingin menemuiku, kan?" Galih berkata dengan wajah dingin dan nada datar.
Alma langsung menoleh kaget ke pengacara dengan julukan Lawless Lawyer itu.
Alma kemudian tersenyum dan menghadapkan badannya ke depan lalu berkata, "Senang bertemu dengan Anda, Tuan pengacara Lawless Lawyer"
__ADS_1
Deg! Jantung Galih Baskoro langsung terhenti sepersekian detik saat ia berhadapan dengan senyum cantik wanita dengan kucir ekor kuda yang sangat menawan.
Saat jantungnya kembali berdegup normal, Galih langsung mengumpat di dalam hatinya, sial! Dia cantik banget.