Musuh Tapi Sayang

Musuh Tapi Sayang
Bangkrut


__ADS_3

"Kenapa kau tutup laptopnya?" Galih menepuk keras bahu Doni dengan tatapan tajam.


"Lho, udah selesai, kan?" Doni sontak menautkan kedua alisnya.


"Siapa yang bilang sudah selesai, hah?!"


Doni menghela napas panjang dan kembali membuka laptop, lalu menoleh ke Galih, "Oke, aku harus ketik apalagi sekarang?"


"Emm, apalagi ya?" Wajah Galih menyeringai senang seperti anak kecil yang tengah membayangkan mainan favoritnya.


Wah, dia memang gila. Sayangnya dia banyak uang jadi aku enggan menjauh darinya, hehehehehe. Batin Doni sambil meringis.


"Kalau Alma mau tidur setiap malam memakai lingerie yang aku belikan, maka aku akan memberi dua puluh juta rupiah per bulan"


Doni mendelik kaget, "Alma tidak punya lingerie"


"Punya" Sahut Galih singkat.


"Aku tidak pesan lingerie ke pemilik butik Ratu. Lalu, kapan kamu membeli lingerie untuk Alma? Kita berduaan terus sedari tadi, kan?"


"Jangan bilang berduaan! Cih! Kesannya aku ini pacar kamu kalau kamu bilang berduaan" Galih mendelik kesal.


"Kalau di dunia ini hanya ada kamu, aku juga nggak mau jadi pacar kamu, cih!" Gumam Doni lirih.


"Kau menggumamkan apa?"


Doni kemudian terkekeh geli dengan gumamannya sendiri, lalu ia mengibaskan tangan dan berkata, "Hehehehehe, lupakan saja, gumamanku nggak penting. Oke, aku ralat ucapanku barusan. Kamu bersama denganku terus, kan, sejak tadi, lalu, kapan kamu beli lingerie untuk Alma?"


"Setelah ini. Katanya kau dan Alma hanya bawa baju satu setel. Kau dan Alma butuh pergi ke toko baju, kan, setelah ini"


Doni hanya menganggukkan kepala dengan wajah penuh tanda tanya.


"Di saat kalian milih baju nanti, aku akan milih lingerie" Galih menyeringai penuh semangat.


"Dasar mesum!"


"Mesum sama Istri sendiri boleh, dong"


Doni menghela napas panjang lalu menyahut, "Yeeaahhh! Terserah kamu saja. Udah selesai belum? Aku tutup laptop, nih"


"Emm, itu aja. Itu udah cukup untuk membuat wanita manja itu mengerang frustasi" Galih menyeringai lebar.


Doni menutup laptop lalu membuka pintu mobil dan Galih langsung menyemburkan, "Jangan turun!"


"Aku mau merokok"


"Oh, merokok. Oke, kalau merokok boleh turun"


"Kau kira aku mau ngapain?"


"Masuk dan melihat Alma"

__ADS_1


"Aku memang mau masuk dan merokok di dalam sambil melihat Alma" Sahut Doni dengan wajah polos tanpa dosa.


Setelah Doni menutup pintu mobil, Galih bergegas keluar dari dalam mobil dan berlari mengitari mobil sambil berteriak, "Dilarang merokok di dalam!"


Doni sontak menghentikan langkahnya lalu menoleh pelan ke Galih.


Galih berdiri di sisi kirinya Doni dan langsung berkata, "Di dalam banyak anak-anak! Jangan merokok di dalam!"


"Aku merokok di taman belakang yang tadi. Alma masih di sana"


"Mau ngeyel, hah?! Aku bilang jangan masuk, ya, jangan masuk! Merokok di sini saja!" Galih mendelik kesal dan Doni langsung berbalik badan, masuk kembali ke dalam mobil, membuka pintu mobil selebar-lebarnya, lalu menyulut rokoknya di sana.


Galih berdiri melihat Doni dan Doni langsung bertanya, "Kau mau merokok juga? Nih, masih banyak" Doni menyodorkan satu bungkus rokok dengan rasa mint ke Galih.


Galih menggelengkan kepalanya.


"Tumben kau tidak ingin merokok. Padahal kau ini mirip seperti gerbong kereta api asap yang tidak pernah berhenti ngebul"


"Cih! Itu kau bukan aku" Sahut Galih kesal.


Doni memilih diam dan menghisap dalam-dalam rokok favoritnya daripada berdebat dengan Galih.


"Aku mau masuk dan melihat Alma"


"Kenapa kau boleh masuk dan aku tidak boleh?"


"Karena kau merokok dan aku tidak"


"Dan kamu tetap di sini! Jangan masuk kalau rokok kamu belum habis!"


Doni menghisap dalam-dalam rokoknya sambil mengacungkan ibu jarinya ke Galih.


Galih kemudian berbalik badan dan melangkah pelan meninggalkan Doni.


Galih duduk di bangku taman dan kembali mengamati Alma.


Waktu SMA dulu, dia menyukai aku. Dia bahkan mengejar-ngejar aku tanpa malu. Dia sombong dan suka memaksakan diri. Apa dia masih seperti itu? Apa dia masih ingin mengejar-ngejar aku? Apa dia masih menyukai aku? Batin Galih.


Galih bangkit berdiri dan nekat melangkah ke tengah taman untuk mendekati Alma saat ia melihat Alma membungkukan badan ke orangtua murid.


"Besok lusa datang lagi, ya, Arkan, Sayang" Ucap Alma sambil mengusap pucuk kepala muridnya yang bernama Arkan.


"Iya" Sahut Arkan sambil memutar-mutar Keuda bola matanya dan terus bertepuk tangan.


Mamanya Arkan langsung menyahut, "Saya akan mendampingi Arkan mengerjakan tugas dari Miss Alma"


"Terima kasih, Ma. Kerja sama yang baik dari kita bisa membuat Arkan semakin membaik kondisinya"


"Terima kasih, Miss Alma. Emm, keponakan saya sudah pulang dari Australia. Dia ingin bertemu dengan And, Miss. Dia masih lajang dan Anda juga masih lajang, kan? Saya ingin mengenalkan Anda dengan keponakan saya. Namanya Brian dan dia..........."


Galih langsung menghunus tatapan tajam ke mamanya Arkan dan berkata, "Alma tidak boleh berkenalan dengan keponakan Ibu!"

__ADS_1


"Wah, siapa pria tampan ini, Miss Alma?"


Alma menoleh kaget ke sisi kanannya dan sebelum ia sempat menjawab pertanyaan dari mamanya Arkan, Galih menjabat tangan mamanya Arkan sambil berkata, "Saya Suaminya Alma"


Alma mendelik kaget dan saat Alma ingin meralat ucapannya Galih, Galih langsung berkata, "Maaf kalau kami tidak mengundang Anda karena Alma pemalu. Dia tidak ingin mengundang banyak orang di pernikahan kami. Tapi, tidak usah khawatir! Besok lusa saya akan bawakan bingkisan sebagai pengganti undangan pernikahan kami" Galih kemudian menarik tangannya dan menatap mamanya Arkan dengan senyum tipis.


Dia tampan sekali kalau tersenyum seperti ini. Batin Alma.


"Ah, iya. Terima kasih atas niat baik Anda. Maafkan saya kalau saya berniat mengenalkan Miss Alma dengan. keponakan saya. Saya tidak tahu kalau Miss Alma sudah menikah. Selamat untuk pernikahan kalian"


Alma hanya bisa tersenyum canggung ke mamanya Arkan dan menganggukkan kepala dengan perlahan.


Setelah mamanya Arkan dan Arkan pergi, Alma menghadapkan tubuhnya ke Galih lalu bersedekap dan menyemburkan protes, "Kenapa bilang kalau kamu itu Suamiku?"


"Aku memang Suami kamu, kan?"


"Iya, untuk sekarang ini kamu memang Suamiku. Tapi, itu hanya untuk .........."


"Untuk selamanya sampai maut memisahkan kita. Kau lupa itu?" Galih langsung memotong ucapannya Alma dengan ekspresi datar.


Alma mendengus kesal lalu berkata, "Aku tidak lupa. Tapi aku sudah bilang ke Doni kalau aku bisa membayar semua hutangku, maka aku akan pergi dari kamu. Aku tidak peduli dengan kata selamanya sampai maut memisahkan kita!" Alma mendelik garang ke Galih.


Galih terkekeh mengejek dan berkata, "Apa kau yakin bisa melunasi semua hutang kamu?"


"Yakin. Kalau kau ijinkan aku mencicilnya, maka aku yakin bisa melunasinya meskipun butuh waktu cukup lama"


"Hutang kamu sangat banyak dan semakin bertambah banyak karena Ayah kamu belum sadar dan masih dirawat di rumah sakit. Lalu, kau tahu tidak, kalau rumah kamu ternyata digadaikan oleh Ayah kamu. Aku sudah menebusnya sebanyak lima milyar. Jadi, kalau dihitung-hitung, utang kamu sekarang ini lima milyar ditambah lima ratus juta rupiah. Kau yakin mau melupakan kata selamanya sampai maut memisahkan kita?"


Alma langsung mematung di depan Galih dan menatap Galih dengan sorot mata pesimis.


Melihat Alma tampak pesimis, entah kenapa Galih merasa ridak tega dan dia langsung berbalik badan lalu melangkah pelan meninggalkan Alma.


Alma bergegas mengekor Galih saat pria itu berkata, "Kalau sudah selesai bengongnya, buruan ikut aku sebelum aku kasih hukuman!"


Alma menatap punggung Galih dan membatin, bagaimana caranya aku membayar semua hutangku padanya? Kenapa Papa akhirnya menggadaikan rumah? Padahal kata Papa, Papa nggak akan menggadaikan rumah apapun yang terjadi dan kenapa si brengsek di depanku ini bisa dengan cepatnya menebus rumah Papa?


Saat Alma mau masuk ke dalam mobil telepon genggamnya berdering dan Alma langsung mengangkatnya, "Ada apa, Pak? Pram?"


"Maafkan Pak Pram, Non, Pak Pram terpaksa menggadaikan rumah untuk membayar gaji para karyawan. Semua karyawan pabrik, toko, dan hotel belum digaji selama tiga bulan dan mereka mulai demo besar-besaran"


Alma langsung menyahut lemas, "Iya, Pak. Nggak papa. Maafkan Alma kalau Alma gagal mempertahankan Grup JJ. Maafkan Alma kalau pada akhirnya Grup JJ hancur dan bangkrut"


"Grup JJ bangkrut bukan salah Anda, Non"


"Maafkan saya kalau saya belum bisa menemui Papa dan Pak Pram"


"Saya tahu dari Pak Doni asistennya Tuan Galih Baskoro kalau Anda ada di rumahnya Tuan Galih Baskoro semalam karena Anda pingsan. Anda kenapa bisa pingsan, Non?"


"Aku hanya kecapekan, Pak Pram. Emm, aku masih belum tahu kapan aku bisa menemui Papa dan Pak Pram karena aku masih harus melakukan sesuatu. Tolong jaga Papa sementara ini, ya, Pak Pram"


"Baik, Non"

__ADS_1


Alma kemudian memasukkan telepon genggamnya ke dalam saku dressnya lalu masuk ke dalam mobil dengan wajah sedih dan tubuh lemas. Dia sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang.


__ADS_2