
"Kamu makan makanan punyanya Doni. Nanti kamu tinggal panasin. Lagipula aku dan Doni pergi keluar nanti malam. Kamu jaga perkebunan ini!" Sahut Galih sambil bangkit berdiri lalu melangkah meninggalkan Doni dan Alma begitu saja.
Alma menatap punggung Galih yang menjauhi dengan helaan napas panjang kemudian ia menatap Doni dengan wajah penuh tanda tanya.
Doni mengusap mulutnya dengan tissue kemudian pria berwajah ganteng lokal itu memamerkan deretan gigi putihnya di depan Kiana dan berkata, "Maafkan aku. Aku terbujuk rayuannya Galih. Aku menghabiskan nasi goreng bikinan kamu, hehehehe. Habisnya Galih makan dengan ekspresi yang sangat menggoda dan ternyata nasi goreng bikinan kamu memang enak banget. Numero Uno!" Doni mengancingkan kedua ibu jarinya ke Alma.
"Tidak apa-apa. Aku bersyukur kalau kalian suka sama masakanku. Cuma aku kaget aja melihat kalian berdua mau makan masakan sesederhana itu. Mau makan nasi goreng telur dadar rumahan" Sahut Alma.
"Enak, kok. Enak banget malah. Beneran, enak banget!" Sahut Doni.
Alma tersenyum lebar dan berkata, "Terima kasih"
"Kamu nanti makan makanan yang aku beli tadi. Ada di lemari es. Tinggal kamu panasin nanti. Sekarang aku akan cuci semua perabot makanan ini dan........"
"Tinggalkan saja! Biar aku yang mencuci semuanya"
"Benarkah?"
"Hmm. Kalian harus segera pergi, kan? Bersiaplah!" Sahut Alma.
"Terima kasih, Alma" Sahut Doni.
"Iya, sama-sama" Sahut Alma dengan senyum lebar.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Galih menemukan Alma duduk di halaman belakang. Galih kemudian melangkah ke halaman belakang dan saat ia duduk di sebelahnya Alma, Galih langsung bertanya, "Apa kau punya pacar?" Galih bertanya tanpa menoleh ke Alma.
Alma menyahut tanpa menoleh ke Galih, "Aku rasa aku tidak harus menjawab pertanyaan itu?"
"Harus! Karena kau adalah Istriku. Aku harus tahu apakah kau punya pacar atau tidak. Dan kalau kau tidak mau menjawabnya, maka aku akan tambahkan ini ke daftar hutang kamu. Emm, tidak mau menjawab pertanyaan penting, aku kenakan denda satu juta rupiah" Ujar Galih dengan nada datar dan wajah santai.
Alma menoleh kaget lalu menjawab dengan berusaha memilih kata-katanya dengan hati-hati karena kesal, "Aku tidak punya pacar. Aku tidak pernah punya pacar"
"Kenapa?" Tanya Galih tanpa menoleh ke Alma. Galih terus mengarahkan pandangannya ke depan melihat rumput bergoyang indah diterpa angin petang yang mulai terasa sedikit dingin.
Alma menjawab pertanyaannya Galih sambil mengarahkan pandangannya ke depan, "Karena masalah keluargaku. Karena Pekerjaanku"
"Apa ada pria yang mendekatimu beberapa waktu belakangan ini? Atau dekat denganmu sejak dulu? Sahabat atau teman pria?"
"Siapa dia?"
"Dia kakak kelas kita waktu masih SMA. Namanya Kak Danendra. Dia sahabatku dan dia ........."
"Jangan berhubungan lagi dengannya!" Sahut Galih dengan cepat saat hatinya terasa panas karena cemburu.
"Kenapa tidak boleh? Lagian dia ada di luar negeri saat ini. Aku dan Kak Danen hanya ngobrol lewat video call dan........ hmpppttthhh!"
Alma mendelik kaget saat Galih tiba-tiba membungkam mulutnya dengan bibir.
__ADS_1
Galih menarik pagutan bibirnya dan menegakkan badan dengan cepat.
Alma masih mematung dan menatap Galih sambil sesekali mengerjapkan mata. Alma masih kaget dengan ciuman dadakan yang ia dapatkan dari Galih.
Galih menghujamkan sorot mata tajam ke Alma lalu pria tampan itu berkata, "Jangan berhubungan dengan pria itu lagi! Kalau kamu masih berhubungan dengan pria yang punya nama aneh itu, maka aku akan kirim adik tiri kamu ke tempat yang lebih jauh lagi"
Alma sontak bangkit berdiri dan berteriak, "Baiklah! Aku tidak akan berhubungan lagi dengan Kak Danen. Jangan bawa adik tiriku ke tempat yang lebih jauh lagi!"
"Bagus!"
"Lalu, kamu bagaimana?"
Galih sontak menautkan kedua alisnya dan bertanya, "Apanya yang bagaimana?"
"Kamu punya pacar tidak? Aku juga berhak bertanya seperti itu? Aku ini Istri kamu" Tanya Alma dengan nada suara menggebu-nggebu.
Galih menarik sudut bibir kanannya ke samping lalu berkata, "Kau cemburu?"
"Tidak!" Sahut Alma dengan cepat dan dengan nada tegas.
"Karena kamu tidak cemburu, maka aku tidak akan menjawabnya" Galih kemudian berbalik badan dan pergi meninggalkan Alma begitu saja.
Alma sontak mengacak-acak rambut indahnya sambil bergumam, "Lama-lama aku bisa gila meladeninya"
__ADS_1