Musuh Tapi Sayang

Musuh Tapi Sayang
Hah?!


__ADS_3

"Duduk!" Ujar Galih kemudian tanpa senyum di wajahnya.


Dia dingin banget persis sama seperti ruang kerjanya tapi dia sangat tampan. Batin Alma sambil melangkah pelan lalu duduk di depan meja kerjanya pengacara tampan itu.


"Dia datang ke sini........." Doni langsung menutup mulutnya saat Galih menghunus tatapan tajam kepadanya. Doni lalu bergegas berkata, "Aku akan tinggalkan kalian berdua"


Galih mengabaikan Doni dan ia kembali menatap Alma Jacob.


"Kau datang sendirian?" Tanya Galih sambil menopang dagunya dengan tangannya.


"Iya" Sahut Alma sambil melirik lengan pengacara itu.


Lengannya sangat kekar. Dia bukan hanya memiliki wajah menawan yang rupawan, dia juga memiliki tubuh ideal yang atletis. Dia idaman semua wanita. Sayangnya dia dingin dan tidak sopan. Kami baru bertemu tapi ia sudah memakai bahasa informal sama aku. Batin Alma.


"Ke mana Papa Kamu? Atau Pramono asisten pribadinya? Dia yang menghubungi aku. Kenapa mereka tidak menemani kamu saat ini?" Tanya Galih masih dengan wajah dingin sedingin es di kutub utara.


"Papa saya masuk rumah sakit dan Pak Pramono menjaga Papa saya. Jadi, saya datang sendirian ke sini" Sahut Alma.


Apa dia tidak mengenaliku? Padahal dulu waktu masih SMA dia selalu mengejar-ngejar aku dengan tanpa malu. Batin Galih sambil menautkan kedua alisnya.


"Maafkan saya, saya harus memanggil Anda apa? Tuan Lawless Lawyer?" Tanya Alma kemudian.


"Hmm" Sahut Galih sambil menurunkan kedua siku dari atas meja lalu ia membuka berkas sambil berkata, "Kau butuh aku untuk melawan Grup Baskoro"


"Iya, Tuan" Sahut Alma.

__ADS_1


Galih Kemudian mengangkat wajahnya untuk kembali menatap Alma dan bertanya, "Aku pengacara yang tidak peduli akan hukum kalau hukum itu mengkhianati aku di setiap kasus yang aku tangani tapi aku peduli akan uang. Kau akan membayarku berapa?"


Alma langsung menunduk lalu membuka ritsleting tas jinjingnya. "Ini. Saya hanya punya ini. Maafkan saya, Papa saya bangkrut dan tengah berbaring tidak sadarkan diri di rumah sakit" Alma berucap sembari meletakkan gelang berlian di atas meja kerjanya Galih.


Galih menurunkan matanya ke gelang berlian itu tanpa mengambilnya.


Melihat pengacara tampan di depannya tampak meragukan gelang berlian itu, Alma langsung berkata, "Ada suratnya"


Galih menaikkan dua bola matanya untuk kembali menatap Alma dan bertanya, "Apa? Surat apa?"


"Gelang ini ada suratnya" Alma mendorong gelang berlian peninggalan almarhum mamanya dan kembali berkata, "Terimalah gelang peninggalan Mama saya ini. Hanya ini yang saya punya dan harga gelang ini seratus juta rupiah. Saya rasa cukup untuk.........."


"Hahahahahaha!" Galih sontak bangkit berdiri dan tertawa terbahak-bahak.


Alma menarik tangannya dari atas meja dan menegakkan badannya untuk menatap Galih dengan wajah penuh tanda tanya.


Galih lalu meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja, membungkukkan badan, dan menatap Alma dengan sorot mata tajam, "Kau sudah menghinaku, Nona"


"A.....apa? Di ucapan saya yang mana yang menghina Anda, Tuan?" Alma membeliak kaget. Wajahnya seketika tampak panik karena dia takut pengacara hebat di depannya akan menolak dia dan JJ grup akan benar-benar tamat tak ada cerita. Dia, adik tirinya, dan papanya akan hidup di jalanan sebentar lagi kalau JJ grup tamat.


"Aku peduli akan uang dan aku tidak pernah kalah dalam kasus apapun. Itulah kenapa aku selalu memasang tarif di atas seratus juta rupiah. Untuk kasus kamu, aku menilainya lima ratus juta rupiah" Ucap Galih sambil menegakkan badan lalu bersedekap.


Alma bisa melihat dada atletis pria tampan.


Badannya sangat bagus. Dia tinggi, atletis, dan aku yakin di balik kemejanya ada enam tonjolan seksi, lalu........sial! Bukan saatnya kau mengagumi badannya, Alma. Batin Alma.

__ADS_1


Melihat Alma membeku, Galih kembali bertanya dengan nada suara yang lebih tinggi dari sebelumnya, "Lima ratus juta rupiah. Kau bisa membayarku sebanyak itu, Nona?"


Alma langsung menunduk dan berucap lirih, "Maafkan saya. Saya tidak punya uang sebanyak itu saat ini. Untuk membayar biaya rumah sakit Papa saya saja, saya masih kebingungan Tapi, hanya Anda yang bisa membantu saya"


Galih menyeringai senang. Lalu, dia duduk dan kembali menopang dagu di atas meja sambil berkata, "Aku punya solusinya"


Alma langsung mengangkat wajahnya dan tersenyum melihat Galih. Wanita cantik itu lalu bertanya dengan wajah penuh harapan, "Apa solusinya?"


"Aku ambil gelang berlian kamu" Galih mengambil gelang berlian dari atas meja lalu memasukkan gelang berlian itu ke dalam saku jasnya kemudian berkata, "Kamu masih harus membayarku empat ratus juta rupiah kalau kamu ingin tetap memakai jasaku untuk melawan Grup Baskoro"


Maafkan Alma, Ma. Gelang berlian Mama lepas dari tangan Alma. Batin Alma sedih.


Alma kemudian menghela napas panjang lalu berkata, "Saya sudah bilang kepada Anda, kan, kalau saya tidak memiliki uang sebanyak itu saat ini"


"Kau bisa mencicilnya selama setahun tapi tetap ada bunganya" Sahut Galih.


Sial! Dia ternyata bukan hanya dingin tapi juga mata duitan. Batin Alma kesal.


"Bagaimana?"


"Ah, emm, itu tetap tidak bisa. Gaji saya sebagai terapi anak-anak berkebutuhan khusus di sebuah klinik tidak mencukupi untuk mencicil empat ratus juta rupiah hanya dalam tempo setahun. Apa Anda tidak bis menambah tahunnya, emm, lima tahun. Saya yakin bisa melunasinya lima tahun. Kalau perusahaan Papa saya pulih dan hotel Papa saya bisa diselamatkan, dalam waktu lima tahun saya pasti bisa melunasi empat ratus juta rupiah itu"


Galih langsung menggebrak meja samb berkata, "Kau pikir aku ini KPR (Kredit Perumahan Rakyat). Lima tahun itu kelamaan, cih!"


Alma tersentak kaget dan langsung berkata, "Lalu, saya harus bagaimana?"

__ADS_1


"Solusi lainnya adalah menikah denganku sekarang juga" Galih tersenyum tipis.


"Hah?!" Alma sontak mendelik kaget.


__ADS_2