
Keesokan harinya, Alma terbangun karena suara alarm ponsel. Alma langung mematikan alarm itu dan Alma dapat mendengar aktivitas Galih di kamar mandi. Pancuran dihidupkan. Alma membuka mata dalam cahaya remang kamar, tak dapat berhenti membayangkan air mengalir indah di tubuh tegapnya Galih Baskoro. Alma kemudian mengaduh lirih saat ia merasakan perih yang nikmat di antara pahanya dan ia kembali teringat perasaan campur aduk yang menyesakkan sekaligus menggelitik indah saat Galih memasuki tubuhnya lagi, lagi, dan lagi.
Alma bergairah kembali saat ia teringat kembali bagaimana Galih membalik tubuhnya dan menyatukan raga dari belakang.
Sementara Galih tengah tersenyum menatap bayangannya di cermin. Dia tersenyum karena dia yang menerima kehormatan tertinggi segel kesuciannya Alma. Galih lalu mengusap rambut dan wajahnya yang basah sambil bergumam, "Tunggu aku Alma. Setelah aku membereskan semuanya, aku akan mengumpulkan kamu dengan keluarga kamu kembali dan aku akan mencintai kamu dengan sepenuh hati. Karena aku rasa aku sudah sangat mencintai kamu"
Namun, saat ia mendengar keran air mati, Alma terlalu pengecut untuk tetap membuka matanya. Alma langsung menutup mata dan bergumam di dalam hatinya, aduh! Gimana ini? Aku harus bagaimana menghadapi Galih? Kenapa kau bodoh banget tidak bisa menahan diri semalam?
Ceklek! Galih membuka pintu kamar mandi, menutupnya dengan pelan, lalu melangkah mendekati ranjang tanpa mengeluarkan suara.
Deg! Jantung Alma seolah ingin berhenti saat ia mendengar pintu kamar mandi dibuka.
Alma tersentak kaget saat ia merasakan keningnya dicium oleh Galih. Alma membeliak dan menatap Galih dengan wajah merona malu.
Galih tersenyum dengan penuh cinta dan sorot mata sendu.
Alma langsung merosot turun dan masuk ke dalam selimut saking malunya.
Galih mengulum senyum menahan geli lalu menarik pelan selimut untuk melihat wajah Alma.
__ADS_1
Alma menahan selimut itu dan berkata, "Jangan ditarik! Aku malu"
"Kenapa harus malu? Kita melakukannya karena saling cinta. Seharusnya aku yang malu karena aku yang tidak bisa menahan diri"
Alma langsung menyembulkan wajahnya dari dalam selimut saat ia mendengar kata cinta.
Alma menatap Galih dengan wajah penuh tanda tanya dan Galih tersenyum lalu bertanya, "Ada apa?"
"Kamu bilang cinta barusan?"
Galih mengusap rambut Alma sambil tersenyum dan mengangguk pelan.
"Aku akan jujur sama kamu. Aku mencintai kamu, Alma"
"Hah?!" Alma membeliak kaget.
"Kok malah bilang hah? Apakah kamu juga mencintai aku?"
Alma menggelengkan kepala karena bingung harus berkata apa. Dia sama sekali tidak menyangka akan mendnegwr kata cinta meluncur dari mulut Galih.
__ADS_1
"Nggak?! Kamu nggak cinta sama aku? Kalau gitu, aku akan pergi........."
Alma langsung mencekal lengan Galih dan berkata, "Jangan pergi! Aku juga mencintaimu, Galih"
Galih tersenyum senang dan langsung memeluk Alma dengan penuh cinta lalu berkata, "Maafkan semua kesalahan aku. Apakah aku masih bisa dimaafkan?"
"Tentu aja aku maafkan. Aku sudah mencintai kamu" Sahut Alma sambil menatap Galih dan Galih langsung mencium Alma dengan gemas dan penuh cinta.
Beberapa jam kemudian, Alma dan Galih sampai di kediamannya Galih lalu Galih bergegas pamit, "Aku akan pergi ke luar negri agak lama. Baik-baik jaga rumah"
Alma mengecup bibir Galih dan berkata, "Kembali'dengan selamat ya, jangan sampai ada luka setitik pun di tubuh kamu"
Galih mengecup bibir Alma dan berkata, "Aku akan bawa tubuh dan seluruh jiwaku secara utuh kembali padamu nanti. Tunggu aku!"
"Hmm" Sahut Alma singkat dengan senyum dan Rina merah di wajahnya.
Galih bergegas berbalik badan karena jika ia terlalu lama memandang wajah Alma, maka dia tidak jadi pergi dan semua urusannya menjadi kacau.
Alma menatap punggung Galih yang menjauh dengan doa tulus seorang istri.
__ADS_1