
"Tidak!!!!! Ratna!!!!! Kenapa kau pergi begitu cepat meninggalkan aku..........tidaakkkkk!!! Jangan bawa dia!!!!!! Ratna hanya tertidur pulas" Galih menahan bed yang didorong oleh dua orang perawat untuk dimasukkan ke dalam mobil ambulans.
Saat Galih hendak berlari menyusul bed itu, mamanya Ratna menahan Galih. Dengan wajah penuh air mata mamanya Ratna menampar Galih dan menatap Galih dengan sorot mata jijik bercampur amarah juga kekecewaan.
Galih terkesiap kaget, namun pemuda tampan itu hanya berdiri kaku di depan mamanya Ratna.
Mamanya Ratna lalu memukul keras dada Galih dengan dua kepalan tangan sambil berteriak, "Tega benar kamu!!!!! Tega benar kamu menghamili Ratna!!!!!!"
Galih semakin membeku dengan derai air mata menderas.
Mamanya Ratna kemudian jatuh bersimpuh di atas lantai dan melanjutkan tangisannya yang semakin memilukan, "Kalau Ratna tidak hamil, Ratna pasti masih hidup saat ini. Ratna nggak akan bunuh diri. Kau pembunuh, Galih! Kau yang sudah membunuh Ratna! Kembalikan Ratna!" Mamanya Ratna memegang erat kaki kanan Galih dan menggoyangnya, "Kembalikan Ratna!!!!!!!"
Galih bergeming dan menunduk dengan pilu.
Mamanya Ratna jatuh pingsan bertepatan dengan masuknya dokter Edy Baskoro, papanya Galih Baskoro, masuk ke ruang jenazah.
"Tante!!!!!!" Galih langsung membopong mamanya Ratna lalu merebahkan mamanya Ratna ke bed kosong yang ada di ruang jenazah dan dokter Edy Baskoro langsung memerintahkan dua orang perawat yang ada di dekatnya untuk membantunya memberikan pertolongan pertama.
Galih yang masih menangis pilu menatap mamanya Ratna dengan nanar. Ucapan mamanya Ratna terus terngiang-ngiang di telinganya.
Aku pembunuh, iya, aku pembunuh. Batin Galih sambil memukul-mukul dadanya tanpa jeda sampai ia terbatuk-batuk untuk mengusir rasa sesak yang luar biasa di dadanya.
__ADS_1
Lima menit kemudian, dokter Edy Baskoro menoleh ke Galih dan langsung menggelengkan kepalanya.
Galih mundur selangkah sambil bertanya dengan nada gemetar, "A.......apa maksud Papa?"
"Mamanya Ratna sudah meninggal dunia terkena serangan jantung. Maafkan Papa tidak bisa menyelamatkannya"
Bruk! Galih jatuh pingsan di dalam pelukan papanya.
Satu Minggu kemudian..............
Galih tersadar dari tidur panjangnya dan diijinkan pulang setelah menjalani pemeriksaan lengkap selama berjam-jam.
Dokter Edy Baskoro mengambil cuti untuk menemani Galih di rumah karena Galih baru saja bangun dari tidur panjang.
"Baik, Pa" Sahut Galih yang masih tampak linglung meskipun para dokter sudah menyatakan kondisi fisik dan kejiwaannya Galih baik-baik saja.
Galih yang terbiasa menyetel televisi saat ia tidak ada kegiatan di dalam kamar langsung membeku di tepi ranjangnya. Galih duduk tegak saat ia melihat berita di televisi. Galih mengeraskan volume karena ia melihat sosok wanita yang mirip dengan Alma dan ada foto Ratna di sisi kanan layar televisinya.
Reporter berita di salah satu Chanel televisi swasta melaporkan dengan sangat jelas, "Gadis berinisial AJ, putri dari konglomerat ternama berinisial EJ, menjadi tersangka tabrak lari yang terjadi di jalan protokol Jenderal Sudirman satu Minggu yang lalu sudah dipanggil pihak kepolisian dan ............"
Galih langsung melemparkan remote televisi ke layar televisi sambil berteriak kencang, "Arrrghhhhhhh!!!!!!!!"
__ADS_1
Layar televisi langsung retak dan menghitam lalu siaran berita seketika mati total.
Dokter Edy langsung meletakan nampan di atas nakas dan memeluk Galih yang terus berteriak histeris sambil memukuli dada.
Sejak hari itu, Galih yang belum diijinkan menengok makam Ratna dan makam mamanya Ratna dan Galih juga belum diijinkan masuk sekolah terus mengikuti perkembangan berita terkait peristiwa tabrak lari dengan tersangka berinisial AJ karena AJ adalah orang yang sudah membuat Ratna dan mamanya Ratna meninggal dunia.
Di hari keenam sejak berita itu ia ikuti, Galih tersentak kaget saat ia mendengar reporter berita di salah satu Chanel televisi swasta melaporkan, "Karena kurangnya bukti, maka tersangka tabrak lari berinisial AJ dibebaskan"
Galih langsung mematikan televisi lalu bangkit berdiri. Pemuda tampan itu berlari keluar kamar sambil menyambar kunci sepeda motor kesayangannya.
Galih melajukan motornya ke Badan Reserse Kriminal karena ia sangat yakin
tersangka berinisial AJ masih ada di sana. Galih nekat pergi ke sana karena geram dan dia ingin meminta keadilan atas Ratna. Dia tidak rela tersangka AJ dibebaskan begitu saja hanya karena kurangnya bukti.
Sesampainya di Badan Reserse Kriminal, Galih memarkirkan motor kesayangannya dengan tidak sabar dan bergegas melangkah lebar untuk bisa segera masuk karena ia ingin segera menemui salah satu petugas kepolisian di sana. Dia ingin menyampaikan protesnya. Dia juga akan meminta dipertemukan dengan tersangka AJ.
Namun, Galih justru terkesiap kaget dan mematung di bawah pohon besar saat ia melihat Alma Jacob masuk ke dalam sebuah mobil mewah dengan pengawalan kepolisian super ketat.
"Sial! Apa AJ itu singkatan dari Alma Jacob?" Gumam Galih dengan mata nanar.
Galih langsung berbalik badan dan melompat ke motor sport kesayangannya alih-alih melangkah lebar untuk masuk ke dalam Badan Reserse Kriminal. Galih memilih mengejar mobil mewah dengan pengawalan super ketat itu yang ia yakini membawa tersangka AJ pelaku tabrak lari yang sudah merenggut nyawa Ratna dan dibebaskan begitu saja.
__ADS_1
"Dia dibebaskan bukan karena kurangnya bukti. Tapi pasti karena yang dan kuasa papanya, cih! Dasar menjijikan" Gumam Gajih sambil menarik kencang gas motor sport kesayangannya.